Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 43- Apa Yang Aku Inginkan??


__ADS_3

Rasanya sangat menyenangkan berada diposisi seperti itu. Apakah ini artinya dia mulai merasa nyaman dan senang, dengan kehadiran bayi dalam kandungannya? Apakah bayi ini mulai dia nantikan kehadirannya?


Tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Tari yang sedang termenung terkejut, saat melihat Rahul dan Zahra keluar sembari berlari-larian dan tertawa terkekeh-kekeh. Membuat Tari menatap tingkah sepasang suami istri itu dengan jengah. Ditambah lagi mereka hanya mengenakan handuk kimono.


Rahul dan Zahra pun ikut terkejut melihat kehadiran Tari dikamar mereka. Seketika mereka langsung terdiam dan menatap Tari dengan bingung.


"Tari? Kamu disini?" Dengan malu-malu Zahra mendekati Tari, lalu mengambil anaknya dari tangan wanita itu dengan lembut. Sedangkan Rahul tetap berdiri dengan gugup dan malu didepan pintu kamar mandi.


"Mmm.... Maaf Kak, tadi aku kebetulan lewat. Lalu aku dengar suara Chand menangis. Jadi aku masuk untuk menenangkannya" Tari menjelaskan dengan malu dan gugup.


"Tidak apa-apa. Terima kasih ya" Zahra tersenyum dengan manisnya.


"Kak, boleh aku bertanya sesuatu?" Tari bertanya dengan ragu.


"Kamu ingin tanya apa?"


"Apa Kak Zahra sangat menyayangi Chand? Apakah Chand adalah segala-galanya bagi Kakak?"


"Zahra tersenyum bingung mendengar pertanyaan Tari. "Apa maksudmu mengajukan pertanyaan seperti itu? Chand adalah anakku. Aku yang telah mengandung dan melahirkannya. Tentu saja aku sangat menyayangi dan mencintainya. Bagi seorang ibu, anak adalah segala-galanya. Karena dia adalah hasil dari cinta dengan pria yang sangat kita cintai"


Tuturnya yang lantas menoleh kepada Rahul seraya tersenyum penuh cinta. Tari mengerti maksud dari tatapan sepasang suami istri itu, serta penjelasan Zahra. Anak adalah segalanya. Karena dia merupakan hasil cinta dengan orang tercinta.


Lalu bagaimana dengan dirinya yang tidak mencintai ayah dari anaknya? Bahkan dia sangat membenci pria itu. Bisakah dia menganggap anak ini adalah segala-galanya? Apalagi saat ini, perasaannya dengan pria itu mulai tidak karuan dan tidak jelas.


"Memangnya ada apa? Kok kamu bertanya seperti itu" Pertanyaan Zahra membuat Tari tersentak dari pikirannya yang sedang melantur.


"Mmm.... Tidak apa-apa Kak. Aku hanya ingin tanya saja. Ya sudah kalau begitu, aku keluar dulu ya" Tari berjalan keluar dari kamar itu dengan salah tingkah. Meninggalkan Zahra dan Rahul yang menatapnya dengan kebingungan.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Usai sarapan, keluarga Dirgantara bergegas pamit untuk kembali ke Jakarta.


"Fajar, Tari, kami tinggal dulu ya. Kami harus kembali ke Jakarta. Kalian baik-baik ya disini" Ujar Helmi saat Fajar dan Tari sedang melepas kepergian keluarga besar itu diteras rumah.


"Iya Om" Jawab Fajar dengan seulas senyum hambar.


"Sekali lagi, selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga kalian selalu bahagia dan selalu rukun. Dan yang pastinya, dijauhkan dari segala masalah" Lesti menimpali.


"Terima kasih Tante" Kata Fajar yang lantas melirik Rahul dan Zahra. "Oh ya Rahul, Zahra, ini aku ada sedikit mainan untuk Chand. Semoga dia menyukainya" Fajar menyerahkan sebuah paper bag ketangan Rahul.


"Kenapa harus repot-repot sih bro? Chand mainannya banyak kok" Ucap Rahul.


"Tidak repot kok. Kan, Chand juga keponakanku. Jadi aku juga ingin memberikan sesuatu untuknya"


"Kalau begitu aku doakan, semoga kalian berdua bisa secepatnya memberikan sepupu untuk Chand. Supaya mereka bisa menjadi teman" Rahul tersenyum menggoda. Membuat Fajar dan Tari terdiam dan malu. Sedangkan yang lainnya hanya menyunggingkan senyuman menatap mereka.


Setelah bercengkrama selama beberapa saat, akhirnya rombongan keluarga besar itu meninggalkan kediaman Fajar. Meninggalkan sepasang pengantin baru itu dalam suasana canggung.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Masuk" Seru Tari. Pintu pun terbuka. Bu Zaitun masuk bersama beberapa orang pelayan dibelakangnya.


"Maaf Nyonya, kami diperintahkan oleh Tuan Fajar untuk mengemasi semua barang-barangnya. Karena mulai malam ini dan seterusnya, Nyonya Tari akan tinggal dikamar ini. Dan Tuan Fajar akan tidur dikamar yang lain" Ucap Bu Zaitun dengan sopan.


"Kenapa bukan aku saja yang tidur dikamar lain, dan dia tetap dikamar ini? Bukankah ini kamarnya sejak dulu?" Tari bertanya dengan hambar.


"Maaf Nyonya, kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Fajar. Jika Nyonya ingin protes, Nyonya bisa tanyakan sendiri pada beliau. Permisi Nyonya" Bu Zaitun melirik kedua bawahannya. Dan memberi mereka kode melalui gerakan kepala.


Kedua pelayan itu mengangguk. Mereka mendekati lemari dan mengambil koper besar. Kemudian mereka mengeluarkan semua pakaian Fajar dari dalam lemari, dan dipindahkan kedalam koper itu dengan telaten.

__ADS_1


Tari hanya menatap aktivitas para pelayan itu dengan tertegun, sembari duduk mematung ditepi ranjang. Entah kenapa dia tidak merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh lelaki itu, dengan membuat mereka berdua tidur terpisah. Padahal semua yang dilakukan Fajar, sudah sesuai dengan keinginannya sebelum pernikahan ini terjadi.


Tapi sekarang dia malah merasa telah menjadi istri yang tidak dianggap. Padahal dia sendiri yang tidak ingin menganggap pria itu sebagai suaminya.


Mengapa sekarang perasaannya malah menjadi kacau dan tidak jelas seperti ini? Antara marah, kesal, sedih dan kecewa karena diperlukan seperti ini. Sebenarnya apa maunya? Apa yang dia inginkan dari suaminya itu? Kenapa dia jadi plin-plan seperti ini?


🍁🍁🍁🍁🍁


Fajar sedang menyantap sarapannya. Dia tampak sangat menikmati menu sarapan yang dihidangkan untuknya pagi itu. Dia yakin, bahwa itu semua adalah masakan Bu Zaitun.


Siapa lagi orang yang mengerti seleranya kalau bukan wanita paruh baya yang sudah dia anggap seperti ibunya itu? Meskipun dia sedikit heran, karena rasanya berbeda dari biasanya. Meskipun sama-sama terasa nikmat dan gurih dilidahnya.


Bu Zaitun muncul dan meletakkan piring buah-buahan didepan Fajar.


"Wah Bu, ini masakan Ibu? Enak. Tapi kok rasanya berbeda ya, dari biasanya?" Tanya Fajar dengan kening mengernyit, sembari terus menyantap sarapannya dengan lahap dan riang.


"Maaf Tuan, tapi itu bukan masakan saya. Itu masakan Nyonya Tari" Bu Zaitun menjelaskan dengan pelan.


"Tari? Lalu sekarang dia dimana? Tidak ikut sarapan?" Tanya Fajar dengan sedikit terkejut. Tidak disangka, ternyata istri barunya itu juga sangat jago dalam membuat makanan lezat.


"Mmm, tadi pagi Nyonya Tari bangun, lalu dia ikut membantu saya dan pelayan lain untuk menyiapkan sarapan. Setelah itu Nyonya kembali tidur lagi Tuan. Katanya dia mengantuk lagi. Mungkin bawaan bayinya. Apa perlu saya bangunkan?"


"Tidak perlu. Biarkan saja dia tertidur. Nanti juga bangun sendiri. Tolong Ibu jaga dia ya. Buatkan makanan apa saja yang dia inginkan. Nanti kalau dia ingin makan-makanan yang tidak ada dirumah, Ibu hubungi aku saja. Biar aku suruh anak buahku untuk mencarikannya. Satu lagi, tolong ingatkan dia juga, supaya jangan lupa minum vitaminnya"


"Baik Tuan" Bu Zaitun mengangguk paham.


"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu" Fajar bangkit lalu mengambil jas putih dokternya yang disampirkan pada sandaran kursi yang sedari tadi didudukinya.


"Iya Tuan, hati-hati"

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2