Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 60- Magang


__ADS_3

"Oh ya sudah kalau begitu, kamu serahkan saja dulu pada saya. Biar nanti saya yang menyerahkannya pada Pak Fajar. Jadi kamu bisa mengerjakan tugas yang lain" Ucap Rima dengan seulas senyuman.


"Iya Bu. Oh ya Bu, Bu Rima sudah lama ya, bekerja disini sebagai sekretaris Pak Fajar?"


"Ya.... Kurang lebih sudah sekitar.... Satu tahunanlah. Memangnya kenapa ya?"


"Mmm.... Tidak Bu, aku hanya kepo saja. Ya.... Meskipun hanya karyawan magang, tapikan tidak ada salahnya aku ikut mengenal atasanku lebih dekat. Oh ya Bu, by the way, Pak Fajar itu sudah berkeluarga atau belum ya? Kalau beliau sudah punya anak, pasti anaknya sangat lucu kan? Apalagi kalau anaknya lelaki, pasti sangat tampan seperti papanya. Iya kan Bu?"


Celoteh Moza dengan memasang wajah polos dan senyum manisnya. Dia mencoba berkilah agar tidak terlalu menunjukkan keingin tahuannya tentang kehidupan Fajar.


"Iya sih kamu benar, tapi sayang...." Ucap Rima dengan lirih.


"Sayang kenapa Bu? Memangnya ada masalah apa?" Ucapan Rima yang menggantung membuat Moza menjadi begitu penasaran hingga dia sangat ingin tau kelanjutan ceritanya.


"Jadi begini, menurut yang saya dengar, dulu Pak Fajar itu pernah menikah. Tapi naasnya, istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dan saat itu dia sedang mengandung anaknya Pak Fajar. Pak Fajar sangat sedih dan terpuruk dengan musibah itu, karena beliau sangat mencintai istrinya" Rima bercerita dengan ekspresi yang terlihat sedih dan prihatin, atas kisah pilu yang dialami oleh atasannya.


"Jadi.... Pak Fajar itu duda?" Tanya Moza memastikan.


"Iya"


Moza tersenyum lega mendengar jawaban wanita itu. Berarti tidak ada masalah. Dia bisa bebas mendekati pak Fajar, tanpa ada batu sandungan yang akan merintanginya untuk memiliki lelaki pujaan hatinya itu.


Sekalipun dia tidak pernah peduli mau pria itu duda atau masih beristri. Karena jika dia sudah ingin memiliki sesuatu, maka dia akan merebutnya dengan cara apapun dan dari siapapun.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sudah hampir dua bulan Tari sibuk dengan aktivitas kuliahnya. Dan dia sangat menikmati masa-masa ini. Terlebih Fajar, sang suami tercinta yang selalu mendukungnya.


Meskipun Tari yang masih belum bisa terbuka dengan perasaannya terhadap suaminya, begitupun dengan Fajar yang masih belum menyadari perasaannya terhadap istrinya, namun sekarang mereka sudah tidak lagi merasa canggung. Mereka sudah saling terbuka dan berbagi dalam segala hal.


Seperti malam ini, saat mereka sedang berkumpul diruang makan untuk menyantap makan malam. Tari dengan antusias bercerita pada suaminya tentang masa magang yang sebentar lagi harus ditempuhnya. Fajar sangat tertarik dan mendengarkannya dengan baik.

__ADS_1


"Jadi.... Sekarang kamu sudah bisa mengambil mata kuliah magang?" Tanya Fajar sambil menyendok dan mengunyah makanannya.


"Iya" Jawab Tari dengan cerianya sambil mengaduk-aduk makanan dalam piringnya dengan sendok dan garpu.


"Ya sudah, nanti aku akan carikan tempat magang untukmu" Ujar Fajar dengan santainya.


"Tidak perlu. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku. Untuk kali ini, biar aku berusaha sendiri. Aku juga tidak ingin nantinya akan diistimewakan ditempat magang, karena aku adalah istrimu" Sanggah Tari.


"Kamu yakin, tidak perlu bantuan?" Tanya Fajar menatap istrinya dengan lekat.


"Iya aku yakin kok. Nanti kalau butuh bantuan, aku pasti akan bilang padamu" Jawab Tari dengan tegas.


"Ya sudah kalau itu maumu. Semoga sukses" Ucap Fajar dengan seulas senyum hangat, lalu kembali menyantap makanannya.


"Terima kasih" Tari membalasnya dengan senyum cerah.


Keduanya pun kembali melanjutkan makan mereka dalam suasana hati yang ringan dan riang. Tari sangat bahagia dan bersyukur memiliki suami yang sangat perhatian dan selalu mendukungnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Ini ide-ide yang dikembangkan dalam laporan ini sangat menarik lho. Mulai dari riset, saran seputar desain, pemasaran dan pengemasan produk agar laku dipasaran. Hebat. Jadi ini hasil kerja karyawan magang itu"


Gerald mengamati dan membaca berkas dimejanya dengan puas dan terkesan. Dengan antusiasnya dia bertanya pada sekretarisnya yang berdiri disebelah mejanya.


"Iya Pak benar" Sekretaris bernama Santi itu mengangguk disertai seulas senyum.


Tok tok tok


Pembicaraan mereka terjeda oleh suara ketukan pintu dari luar.


"Sebentar Pak" Ujar Santi dengan sopan.

__ADS_1


Begitu mendapat anggukan kepala sebagai tanda ijin dari atasannya, wanita itu langsung berjalan dengan anggun mendekati pintu lalu membukanya.


Sedangkan Gerald yang masih duduk santai dikursi kebesarannya, kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan sekretarisnya dan sipengetuk pintu ruangannya itu.


"Eh Nona Tari" Santi menyambut orang yang masih berdiri diambang pintu dengan ramah.


"Maaf Bu, saya ingin menyerahkan hasil laporan saya hari ini" Gerald mendengar suara lembut seorang wanita muda yang berbicara dengan kalem.


"Oh ya silahkan masuk. Kebetulan Pak Gerald juga sedang berada ditempat" Santi mempersilahkan wanita itu untuk masuk kedalam.


"Terima kasih Bu"


Santi berjalan kembali mendekati meja atasannya. "Pak, perkenalkan ini Nona Mentari, karyawan magang yang tadi kita bicarakan" Ujar Santi menunjuk wanita yang berdiri dibelakangnya.


"Oh iya" Gerald menoleh dan menengadah untuk melihat kedua wanita yang berada dihadapannya. Dia tercengang melihat wanita muda yang perlahan-lahan melangkah dan berdiri disamping sekretarisnya.


Wanita itu mengenakan flatshoes berwarna hitam, baju terusan dengan warna senada yang dipadukan dengan blazer berwarna putih dan bermotif. Sedangkan bagian perutnya terlihat buncit dan bulat. Rambutnya dicepol setelah dikepang terlebih dulu.


Gerald terkejut bukan main saat melihat wajah wanita itu yang sangat familiar baginya. Itu adalah wanita yang pernah dinodainya. Yang sekarang menjadi istri dari adik tiri yang sangat dibencinya. Ternyata sekarang wanita itu menjadi karyawan magang diperusahaannya?!


Ya Tuhan, ternyata benar kata orang, dunia ini memang sempit. Kenapa lagi-lagi dia harus berurusan dengan wanita ini? Padahal dia sudah menyerahkan tanggung jawabnya pada Fajar.


Bukan hanya Gerald, Tari pun sama terkejutnya melihat direktur utama pemilik perusahaan tempatnya magang, tak lain adalah lelaki yang dulu pernah terlibat perseteruan dengannya, dan sekarang berstatus sebagai kakak iparnya sendiri.


Kenapa harus lelaki ini? Membuatnya bingung saja harus bersikap seperti apa. Disatu sisi, lelaki ini adalah atasan yang harus dihormatinya. Orang yang sangat berpengaruh dengan masa magangnya.


Disisi lain, dia masih merasa kesal dan naik darah, bila mengingat sifat arogan dan semena-mena lelaki itu terhadap Ranty ketika dihotel dulu.


"Kamu?" Gerald bangkit berdiri dan menatap Tari dengan lekat.


"Perkenalkan Pak, nama saya Mentari Senja Pratama. Saya adalah karyawan magang dari fakultas ekonomi diuniversitas xxxx" Tari berusaha berbicara dan bersikap sesopan dan sehormat mungkin.

__ADS_1


Apapun masalah yang pernah terjadi diantara mereka sebelumnya, dia harus tetap bersikap profesional, dengan tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.


__ADS_2