
Biar bagaimanapun juga, lelaki arogan ini tetaplah atasannya yang harus dihormati.
"Santi, kamu boleh keluar sekarang" Gerald melirik sekretarisnya.
"Baik Pak, saya permisi" Sekretaris Santi membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan itu. Kini hanya tinggal Tari berdua saja dengan lelaki itu.
Tari begitu gugup dan canggung. Dia bingung harus bersikap seperti apa. Entah apa yang akan dikatakan atau dilakukan oleh kakak iparnya ini. Namun dia harus tetap bersikap tenang. Tari mengelus-elus perut buncitnya. Seakan mencoba meminta kekuatan dari bayi dalam kandungannya.
"Oke, siapa nama kamu tadi? Mentari?" Gerald mengernyitkan keningnya dan menunjuk Tari dengan jari telunjuknya.
"Iya Pak" Tari mengangguk dengan hormat.
"Saya tidak menyangka, kalau saya akan kembali bertemu dengan adik ipar saya. Kamu pasti masih ingatkan, saya pernah datang waktu acara pernikahan kamu dan adik tiri saya bersama mama dan Oma saya?" Gerald berjalan dengan langkah pelan, lalu dia berdiri dibelakang Tari dan menatap punggung wanita itu dengan sinis.
"Iya Pak, tentu saja saya masih ingat" Tari mengangguk dan menjawab dengan datar.
"Lalu, apa kamu sudah lupa, dengan pertemuan pertama kita dalam insiden dihotel pada malam itu? Bagaimana sikap kamu terhadap saya dan keluarga saya saat itu? Atau.... Kamu berlagak lupa?" Gerald berjalan dua langkah dan berdiri disamping Tari. Dia masih berkata dan menatap wanita itu dengan sinis.
"Tidak Pak, saya masih sangat mengingatnya kok. Saya belum pikun"
"Lalu, apa kamu tidak ada niat untuk meminta maaf pada saya, atas apa yang sudah kamu lakukan, pada saya dihadapan ribuan orang?" Tanya Gerald yang mencoba mengungkit insiden pertikaian mereka saat dihotel dulu.
"Maaf sebelumnya Pak, tapi meminta maaf adalah tindakan yang dilakukan oleh orang yang melakukan kesalahan dan menyesalinya. Dan disini, saya tidak pernah merasa melakukan kesalahan apapun pada saat itu. Karena apa yang saya lakukan, hanya membela dan melindungi sahabat saya dari perlakuan kasar, yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang terhormat dan berpendidikan tinggi seperti anda.
__ADS_1
Jika sekarang saya minta maaf atas tindakan saya pada malam itu, artinya saya membenarkan perbuatan kasar anda terhadap sahabat saya. Dan saya menyesali perbuatan saya yang membelanya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya Pak, sampai kapanpun saya tidak bisa menerima apalagi membenarkan perbuatan arogan dan angkuh anda terhadap Ranty" Tutur Tari dengan tegas dan tanpa menatap pria itu.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu pada saya. Kamu lupa apa statusmu disini, dan siapa saya? Kalau saya mau, sekarang juga saya bisa mengeluarkanmu dari perusahaan ini. Dan membuatmu mendapatkan nilai IPK yang buruk...." Gerald tersenyum sinis dan berkata dengan suara rendah, namun terselip nada ancaman didalamnya.
"Jika memang itu keputusan Bapak, dan itu juga merupakan cara anda untuk menekan saya, silahkan lakukan saja Pak. Dan saya akan menerimanya dengan lapang dada. Daripada saya harus membenarkan hal yang salah dan tidak sesuai dengan hati nurani saya. Jika pembicaraan kita sudah selesai, saya permisi. Selamat siang"
Tari menanggapi ancaman lelaki itu dengan santai dan tanpa merasa gentar sedikitpun. Dia membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk hormat, sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Meninggalkan Gerald dengan dada bergemuruh menahan amarah yang membuncah. Berani-beraninya wanita itu bicara seperti itu padanya!! Rupanya dia masih belum kapok juga mencari perkara dengannya?! Wanita itu masih belum sadar juga, apa yang bisa dia lakukan pada orang yang berani menantangnya?!!
PRAANG!!!
Gerald melampiaskan kemarahannya dengan menghempaskan benda-benda yang ada dimejanya, hingga jatuh berserakan dilantai.
🍁🍁🍁🍁🍁
Berusaha menenangkan emosinya agar tidak mempengaruhi bayi yang dikandungnya. Dengan lembut Tari mengelus-elus perut buncitnya. Kehamilannya sudah menginjak bulan kelima. Sehingga perutnya sudah tampak membulat dan lebih menonjol dari sebelumnya.
Tiba-tiba ponsel Tari berdering. Senyum sumringah merekah diwajah cantiknya, melihat panggilan video dari suaminya. Dengan antusiasnya dia mengangkat panggilan itu.
"Hai"
"Hai, apa kabar? Bagaimana magangmu? Kamu senang? Kamu betahkan magang ditempat itu?" Fajar tersenyum dengan hangat.
__ADS_1
Wajah tampannya mendominasi layar ponsel Tari. Membuatnya berpikiran kotor hingga ingin mencium layar ponselnya. Dengan kata lain, mencium wajah tampan suaminya yang selalu mampu membuat hari-harinya menjadi penuh dengan semangat.
Namun pertanyaan yang diajukan oleh lelaki itu membuat Tari menjadi gugup dan tegang. Dia bingung harus menjawab apa. Haruskah dia bercerita pada suaminya, bahwa perusahaan yang menjadi tempat magangnya adalah milik kakak tirinya, yang selama ini tidak pernah akur dengannya? Atau dia diam saja, dan tidak perlu membahas masalah ini?
"Tari? Kok diam? Ada apa? Kok tiba-tiba wajahmu terlihat tegang? Kamu baik-baik saja kan? Atau ada masalah disana? Katakan padaku" Fajar bertanya dengan heran melihat sikap istrinya yang tiba-tiba tampak tegang, dan tak kunjung menjawab pertanyaannya. Bahkan wanita itu terlihat melamun. Hal itu membuat Fajar menjadi sedikit cemas.
"Kalau bertanya itu pelan-pelan. Bagaimana aku bisa menjawab, kalau kamu nyerocos terus" Tari mencoba bercanda untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya sedang tegang dan bimbang.
Fajar tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala mendengar celetukan istrinya. "Kamu tu bisa aja. Namanya juga orang khawatir. Ya pastinya akan bertanya terus. Kan salahmu sendiri, ditanya malah memasang wajah tegang. Akukan jadi berasumsi yang macam-macam. Memangnya ada apa sih? Kamu baik-baik saja kan?"
Disaat mereka sedang larut dalam pembicaraan yang menyenangkan, tiba-tiba Gerald lewat dan mendengarkan percakapan mereka berdua yang dipenuhi dengan canda dan tawa. Seketika langkahnya terhenti melihat pemandangan itu.
"Iy-ya, aku baik-baik saja kok. Aku hanya kecapekan saja. Mungkin bawaan bayi" Kilah Tari sambil mengelus-elus perut bulatnya.
"Oh ya, bagaimana keadaan little? Baik-baik saja kan? Dia tidak nakal dan membuatmu sampai muntahkan?" Fajar bertanya dengan lembut dan perhatian saat mendengar nama bayi disebut-sebut.
"Tidak kok, dia adalah anak yang sangat baik. Dia tau kalau sekarang mamanya sedang menimba ilmu. Jadi dia tidak berbuat ulah yang membuat mamanya kerepotan" Tutur Tari dengan cerianya sambil kembali mengelus-elus perutnya.
"Syukurlah kalau begitu...." Fajar tersenyum lega.
"Aauw!" Pekik Tari yang membuat Fajar terkejut.
"Tari? Ada apa? Kamu kenapa?" Seru Fajar dengan cemas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa seperti, bayinya sedang menendang" Ucap Tari yang langsung menghilangkan kecemasan Fajar. Bahkan dia sampai tertawa saking senangnya.
"Hehe benarkah? Itu artinya dia semakin aktif dan lincah. Sayang sekali aku tidak ada disana. Padahal aku ingin sekali merasakan tendangannya"