Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 78- Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Ucap Tari dengan sinis. Nada suaranya santai dan pelan, namun terdengar sangat menusuk bagi Darren, hingga membuatnya mendelik marah.


"Kamu....?!" Seru Darren menunjuk Tari dengan wajah memerah karena amarah.


Namun Tari tidak sedikitpun terlihat gentar melihat kemarahan mantan kekasihnya itu. Malah dia merasa puas karena berhasil membalas segala hinaan dan kata-kata kotor yang dilontarkan lelaki itu terhadapnya.


"Kenapa? Ada yang salah dari ucapanku? Kamu menudingku sehina itu, seakan-akan kamu adalah pria yang paling suci. Tapi ya sudahlah, aku tidak ada waktu untuk meladenimu lebih lama lagi. Oh ya satu lagi, apapun yang aku lakukan disini, dan siapapun yang ingin aku temui, aku rasa aku tidak perlu melapor pada siapapun apa tujuanku datang keperusahaan suamiku sendiri. Permisi"


Ucap Tari sinis dan penuh penekanan diakhir kalimatnya, sebelum dia berbalik dan melangkahkan kakinya, berjalan dengan anggun memasuki gedung perusahaan milik suaminya itu. Tanpa memikirkan ekspresi terkejut dan melongo Darren karena mendengar pengakuannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sesampainya didalam, Tari menyapa dua orang wanita yang ada dimeja resepsionis.


"Permisi"


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" Ucap salah satu dari wanita itu dengan ramah.


"Saya ingin bertemu dengan Pak Fajar Lazuardi"


"Yang ibu maksud, Pak Fajar Lazuardi pemilik perusahaan ini?" Tanya resepsionis satunya lagi.


"Iya benar" Tari mengangguk dengan antusias.


"Maaf, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"


"Tidak Mbak, tapi saya membawakannya makan siang" Tari menunjuk rantang yang ada ditangannya.


"Makan siang? Maaf, memangnya anda ini ada hubungan apa ya dengan Pak Fajar?" Tanya resepsionis itu dengan bingung dan penasaran.

__ADS_1


"Saya istrinya"


"Hah, istri?" Seru kedua wanita itu secara serempak saking terkejutnya mendengar pengakuan Tari.


"Kenapa ya Mbak?" Tanya Tari bingung melihat ekspresi kedua wanita itu.


"Maaf Bu sebelumnya, tapi setau saya Pak Fajar itu adalah seorang duda. Istrinya memang sedang hamil, tapi dia sudah meninggal satu tahun yang lalu. Lalu anda ini....?"


Darren yang mengekori Tari dan sedari tadi berdiri dibelakang wanita itu yang sedang berbicara dengan resepsionis, menyunggingkan senyum sinis dan geleng-geleng kepala sambil menopang sikunya pada meja resepsionis dengan santainya.


Mendengar perkataan resepsionis itu membuatnya yakin, kalau Tari hanya membual saja dengan mengaku-ngaku sebagai istri dari pemilik perusahaan itu.


"Wow. Ternyata selain berbakat sebagai perempuan malam, kamu juga berbakat menjadi penipu ya. Sampai berani mengaku sebagai istri dari pemilik perusahaan ini. Pantas saja Om Tristan yang sangat menyayangi putri semata wayangnya ini, sampai tega mengusirmu dari rumah. Mungkin dia malu dan menyesal memiliki anak, yang hanya bisa mencoreng nama baik keluarganya. Aku juga seandainya berada diposisi Om Tristan, pasti akan melakukan hal yang sama. Sekarang saja aku sudah sangat malu dan menyesal, karena pernah menjadikanmu sebagai kekasihku selama bertahun-tahun"


Cemooh Darren dengan seenaknya. Membuat Tari kembali berang mendengarnya. Dia mengepalkan tangannya dan ingin sekali kepalan itu dia layangkan pada wajah lelaki yang berdiri dibelakangnya itu.


Dia kembali mengalihkan perhatiannya pada resepsionis, dan mencoba untuk membujuk mereka agar diperbolehkan untuk bertemu suaminya.


"Mbak, apa anda tidak bisa menghubungi Pak Fajar? Katakan saja kalau istrinya datang dan ingin bertemu. Saya yakin, dia pasti akan mengijinkan saya untuk menemuinya. Karena saya tidak bohong. Saya benar-benar istrinya. Dan saya sedang mengandung anaknya" Bujuknya dengan wajah dan nada memelas sambil mengelus-elus perut buncitnya.


"Maaf Bu, Pak Fajar hanya bisa ditemui oleh orang yang sudah membuat janji terlebih dahulu. Karena beliau sangat sibuk dan tidak bisa menemui orang sembarangan" Sanggah salah seorang resepsionis itu dengan berat hati.


Membuat Tari kecewa hingga dia hampir menangis. Ternyata statusnya sebagai istri Fajar masih belum diekspos, bahkan dihadapan karyawannya. Apa lelaki itu malu mengakuinya didepan umum? Tari mengambil ponselnya dan hendak menghubungi suaminya


"Tari, Darren?"


Sebuah suara yang terdengar familiar tiba-tiba saja menegurnya. Hingga membuat keduanya menoleh.


"Moza?" Tari terkejut dan tercengang melihat kehadiran Moza ditempat itu. Sama seperti Moza yang juga terkejut melihatnya.

__ADS_1


Tari menatap saudara tirinya itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan orang yang menjadi biang kehancuran dalam hidupnya itu. Dan sekarang mereka bertemu disini? Diperusahaan suaminya? Dia tidak mengerti apa yang dilakukan perempuan itu disini? Apa Moza mengenal Fajar?


Darren mendekati Moza dan memeluknya dengan mesra. Selain untuk melepas kerinduan pada kekasih yang sudah beberapa hari belakangan ini mencuekinya, dia juga ingin pamer kemesraan dihadapan Tari.


"Hai sayang. Akhirnya kamu keluar juga. Aku sangat merindukanmu. Kamu baik-baik saja kan? Kenapa sih sekarang kamu jarang mengangkat ponsel dariku? Aku tau kamu sedang sibuk dengan magangmu. Tapi masak tidak ada waktu hanya untuk sekedar mengangkat telpon dari pacarmu saja?" Keluh Darren.


Moza melepas pelukan Darren dengan risih dan jengah.


"Tunggu-tunggu. Kamu ngapain disini, dan.... Bersama Tari?" Moza bertanya pada Darren dan menunjuk Tari dengan penuh kebingungan.


"Moza? Kamu magang disini?" Tanya Tari yang sama bingungnya dengan Moza.


"Iya, aku magang disini. Kamu sendiri ngapain disini?" Moza balik bertanya.


"Aku...." Tari hendak menjawab, namun Darren sudah lebih dulu mengoceh.


"Sayang, tolong kamu jangan salah paham dulu ya. Aku tidak ada hubungan apa-apa kok dengan Tari. Kamu taukan kalau kita sudah putus? Tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya dihalaman depan. Kamu tau? Aku rasa selain menjadi wanita penggoda, saudara tirimu ini juga juga sudah menjadi wanita penipu. Masak dia mengaku-ngaku sebagai istri dari pemilik perusahaan ini. Lucu ya. Padahal resepsionisnya saja mengatakan, kalau istri atasanmu itu sudah meninggal setahun yang lalu...." Darren tertawa mencemooh Tari.


Membuat Tari merasa jengah, kesal dan sedih. Meski rasanya dia ingin sekali membunuh Darren karena sudah bersikap sangat keterlaluan terhadapnya, namun dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan lelaki itu atau orang-orang yang ada disana, jika mereka tidak ada yang mengenalinya sebagai istri Fajar.


Namun Moza menanggapi banyolan Darren dengan serius.


"Apa? Dia bilang kalau dia istrinya Pak Fajar?" Seru Moza yang tampak terkejut. Dia menatap Darren dan Tari dengan tatapan lekat. Seolah-olah meminta penjelasan.


"Ada apa ini ramai-ramai?" Suara bariton itu tiba-tiba saja datang dan mengejutkan mereka yang sedang bersitegang. Kedua resepsionis langsung membungkukkan badan dengan hormat begitu melihat atasan mereka.


"Queen? Kamu disini?" Fajar sedikit terkejut melihat kehadiran istrinya. Namun raut wajahnya tampak sumringah.


"Iya, aku membawakan makan siang untukmu. Tadinya aku berencana ingin lunch denganmu. Tapi sepertinya.... Kamu sedang sibuk. Jadi sebaiknya aku pergi saja"

__ADS_1


__ADS_2