Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 81- Seharusnya Aku Yang Disana


__ADS_3

"Moza sudah. Saya tidak ingin membahas apapun mengenai keluarga kalian. Karena saya rasa, saya masih belum memiliki wewenang untuk ikut terlalu jauh dalam urusan keluarga kalian. Karena sampai saat ini, saya hanya berstatus sebagai suaminya Tari. Tapi pernikahan kami masih belum diterima oleh keluarga besar kalian. Dan semua itu terjadi, akibat merenggangkannya hubungan istri saya dengan papanya sendiri. Dan saya rasa kamu tau betul apa penyebabnya"


Tukas Fajar yang masih mempertahankan Tatapan, serta tuduhannya terhadap gadis itu secara halus. Sandiwara Moza tampaknya kali ini tidak mempan pada lelaki itu.


"Jujur saya kecewa mengetahui semua ini. Karena selama ini saya pikir, kamu adalah gadis yang baik dan berhati lembut. Saya tidak tau apa alasan kamu, sehingga kamu bisa setega itu pada saudara tirimu sendiri. Saya hanya ingin mengingatkan, sebaiknya perbaiki kesalahan kamu, sebelum semua yang kamu lakukan itu berbalik menyerang dirimu sendiri. Mungkin saat ini kamu merasa menang. Kamu merasa sudah berhasil mencapa tujuanmu. Tapi percayalah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan terjatuh juga. Dan saat itu, mungkin kamu akan merasakan lebih, dari apa yang Tari rasakan selama ini. Dan satu lagi, saya sangat mencintai istri saya. Jadi saya harap, mulai sekarang kamu jangan pernah mengganggunya lagi. Karena sebagai suami, saya akan melindungi istri saya dari siapapun. Permisi"


Fajar berlalu setelah memberikan wejangan dan peringatan panjang lebar, yang membuat dada Moza serasa tertusuk. Sikap dan perkataan Fajar benar-benar telah menginjak dan melukai harga dirinya. Membuat kebenciannya terhadap Tari mencuat kembali.


Sudah lama dia hidup tenang tanpa dibayang-bayangi lagi oleh Tari.


Tapi sekarang wanita itu kembali muncul dan merebut pria yang dicintainya. Bahkan dia berhasil membuat pria itu membencinya!


Mungkin saat ini Tari berpikir sudah menang darinya. Tapi lihat saja, dia akan membuat perempuan itu kembali kehilangan semua yang dimilikinya seperti dulu! Bahkan lebih dari yang dulu dia lakukan!


Karena sampai mati pun, dia tidak akan pernah rela, saudara tirinya itu memiliki Fajar! Lelaki yang diincarnya! Apalagi sampai hidup bahagia, setelah menghancurkan hubungan baiknya dengan lelaki itu!


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah dua minggu bedrest dan harus cuti dari pekerjaannya, akhirnya hari ini Tari kembali keperusahaan untuk melanjutkan magangnya, setelah berkonsultasi dan mendapat lampu hijau dari dokter obgynnya. Pagi itu sekalian menuju rumah sakit, Fajar sekalian mengantar istrinya keperusahaan milik kakak tirinya itu.


"Queen, kamu yakin, sudah siap magang lagi?" Tanya Fajar begitu mereka turun dari mobil. Rasanya dia masih berat hati membiarkan istrinya untuk melanjutkan aktivitas magangnya. Dia takut istrinya akan kembali celaka bila jauh darinya, dan orang-orang kepercayaannya.

__ADS_1


"Iya King, aku yakin. Kan dokter kemarin juga sudah bilang, kalau kondisiku sudah pulih kembali. Jadi aku tidak perlu bedrest lagi. Tempo hari saja aku keperusahaanmu, dan aku baik-baik saja kan. Sudahlah, jangan paranoid begitu" Jawab Tari meyakinkan suaminya.


"Ya aku merasa cemas saja, setelah aku tau kalau atasanmu adalah Gerald" Lirih Fajar dengan wajah muram.


"Kamu cemburu, pada kakak tirimu sendiri?" Tanya Tari dengan seulas senyum menggoda.


Tanpa mereka sadari, Gerald yang baru saja muncul diam-diam berdiri dibalik kaca jendela, dan menyaksikan sepasang suami istri itu yang sedang bercengkrama dengan ria dan mesranya.


"Jangan GR dulu Queen. Aku tau kamu hanya mencintaiku. Jadi untuk apa cemburu?" Jawab Fajar dengan percaya dirinya.


"Narsis" Sungut Tari.


"Aku serius Queen. Aku hanya tidak tenang saja, kamu berada diperusahaan kakak tiriku. Kamukan tau sendiri, sejak dulu tidak ada satupun dari mereka yang menyukaiku. Bagaimana jika nanti mereka melampiaskannya padamu? Aku tidak rela jika kamu dan princess sampai dalam masalah. Apalagi karena keluargaku sendiri"


Perkataan suaminya membuat Tari terenyuh dan terharu. Dengan lembut dia memegang tangan suaminya, dan meletakkannya ditelapak tangannya.


"Aku mengerti kecemasanmu King. Dan aku sangat senang juga terharu, karena memiliki raja yang sangat baik dan penuh perhatian sepertimu. Dan aku yakin, princess juga pasti sangat senang, diberi perhatian sebesar itu oleh Dadynya. Tapi kamu tenang saja, kami berdua tidak selemah itu kok. Tidak ada yang bisa menyakiti aku ataupun princess, selama ada kamu disisi kami, yang selalu melindungi kami berdua" Tari tersenyum dengan manisnya untuk meyakinkan suaminya. Perkataan istrinya membuat Fajar tenang dan mengalah.


"Baiklah. Tapi berikan aku morning kiss dulu, supaya aku bisa tenang meninggalkanmu" Pinta Fajar yang mulai mengambil kesempatan untuk modus, dengan mengarahkan pipinya kedepan wajah Tari untuk mendapatkan ciuman.


"Dasar modus" Sungut Tari.

__ADS_1


"Ini hanya sebagai bekal Queen, supaya aku semangat kerjanya. Ayolah" Rengek Fajar memberi alasan.


"Gak ah. Malu tau" Tolak Tari dengan tegas sembari memandangi kesekelilingnya, dimana banyak orang berpakaian rapi yang berlalu lalang didepan gedung kantor itu. Betapa memalukannya melakukan adegan ciuman didepan umum seperti ini.


"Malu itu kalau yang dicium suami orang. Kalau suami sendiri, ngapain malu? Kan tidak ada undang-undangnya, dilarang mencium suami sendiri. Yang dilarang itu mencium lelaki lain" Seloroh Fajar.


"Ah.... Ya sudahlah terserah" Sela Tari yang lantas berbalik karena enggan meladeni banyolan suaminya lagi.


"Eits" Dengan cepat Fajar menarik tangan Tari, sehingga pandangan mereka kembali bertemu.


"Baiklah. Muach" Karena Tari menolak, akhirnya Fajar yang mencium bibir Tari tanpa malu dihadapan ribuan penghuni gedung yang hilir mudik, dan mau tidak mau harus menyaksikan adegan itu dengan senyum sambil geleng-geleng kepala.


Melihat perut Tari yang besar sudah membuat mereka bisa menebak, jika kedua orang itu memang pasangan suami istri yang wajar saja berciuman. Namun mereka melakukannya tanpa tau tempat. Dan hal itulah yang membuat mereka sedikit risih melihatnya.


"Princess, Daddy pergi dulu ya. Jangan nakal. Dan jangan membuat mommymu kerepotan karenamu. Oke" Fajar membungkuk dan mengelus-elus perut buncit Tari, sambil berbicara dengan penghuni didalam perut itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan tatapa-tatapan orang disekitarnya. Dia hanya fokus dan istri dan calon putrinya saja.


Berbeda dengan tari yang merasa malu dan jengah dengan sikap suaminya, yang telah sukses mengundang perhatian semua orang.


Setelah puas bicara dengan calon bayinya, Fajar mengecup perut Tari, sebelum dia berlari kedalam mobilnya dengan senyum penuh kemenangan. Meninggalkan istrinya yang harus menghadapi tatapan serta senyum-senyum penuh godaan, dari para penghuni gedung yang berlalu lalang.


Sedangkan Gerald yang sedari tadi mengamati kemesraan mereka secara diam-diam, hanya bisa mengepalkan tangannya dengan hati yang serasa berapi-api bak dilalap si jago merah. Dia benar-benar tidak rela menyaksikan semua itu!

__ADS_1


Seharusnya dialah yang berada disana. Mencium tari dan perut besarnya yang berisi darah dagingnya! Bukan Fajar, adik tiri yang dibencinya seumur hidupnya!


__ADS_2