Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 22- Kekhawatiran Claudia


__ADS_3

Tari tidak bergeming dengan kehadiran Ranty dan sentuhan lembut dipundaknya. Tatapannya masih kosong.


"Tar, kamu kenapa? Kok seperti habis nangis gitu? Katakan padaku, apalagi yang dilakukan Moza kali ini? Apa dia kembali mencurangimu? Membuat hubunganmu dan Papamu semakin kisruh? Ceritalah Tar. Aku ingin tau?" Ranty mencoba bertanya dengan lembut dan penuh perhatian.


"Ran" Ujar Tari lirih tanpa menoleh. Wajah Ranty tampak berbinar-binar. Dia mengira jika Tari akan menceritakan apa yang terjadi padanya. Namun ternyata perkiraannya meleset.


"Aku lelah sekali. Aku juga sangat mengantuk. Aku ingin tidur. Tolong jangan menggangguku ya. Aku tidak ingin bicara apapun untuk saat ini. Aku butuh istirahat. Selamat malam" Lanjut Tari dengan sendu.


Lalu dia merebahkan tubuhnya diatas kasur minimalis itu, dengan posisi tubuh yang meringkuk membelakangi Ranty yang melihatnya dengan tatapan kebingungan dan penuh tanda tanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Moza tiba dirumahnya dengan perasaan sumringah. Dia yakin sekarang Gerald pasti sedang bersenang-senang dengan Tari. Entah mereka sudah menghabiskan berapa ronde.


Sekarang dia benar-benar merasa sangat puas karena telah menghancurkan kehidupan Tari dengan telak, tanpa menyisakan apapun. Termasuk harga dirinya.


Apalagi jika seandainya dia sampai hamil. Papa pasti akan marah besar. Dan Papa pasti tidak akan pernah ragu lagi jika Tari memang bukan wanita baik-baik. Karena wanita baik-baik tidak mungkin bisa hamil diluar nikah bukan?


Moza tersenyum licik membayangkan kemungkinan itu. Dia berharap hal itu memang akan terjadi. Dan dia juga yakin jika Gerald tidak akan pernah mau untuk bertanggung jawab.


"Sayang"


Moza menoleh dan melihat Mamanya yang baru masuk dan sedang menutup pintu kamarnya.


"Eh Mama" Moza menjawab teguran Mamanya dengan senyum ceria. Claudia berjalan mendekati Moza, kemudian dia duduk dipinggir ranjang disamping putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kok pulang-pulang, wajahmu terlihat sangat ceria? Sebenarnya kamu habis darimana sih?" Claudia mencecar Moza dengan alis bertaut penasaran.


"Aku habis menyelamatkan strategi kita" Moza menjawab dengan santainya disertai seulas senyuman licik.


"Maksudmu?" Claudia bertanya dengan bingung.


"Pokoknya Mama tenang saja. Setelah ini aku yakin, Papa Tristan tidak akan pernah bisa luluh lagi terhadap Tari. Dia pasti akan sangat membencinya. Dan, semua rencana kita selama ini akan selamanya aman. Karena setelah ini, Tari tidak akan bisa lagi membela dirinya. Atau berlagak sok suci lagi" Moza menjawab dengan yakinnya seraya tersenyum cerah.


"Memangnya kamu habis ngapain? Kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan? Pokoknya Mama tidak mau ya, kamu sampai bertindak ceroboh yang akan membuatmu berada dalam masalah besar" Claudia mewanti-wanti dengan penuh penekanan. Perasaannya mulai was-was, karena takut anaknya akan melakukan hal-hal yang bisa berakibat fatal.


"Aduh Ma.... Udahlah, Mama tidak perlu parno seperti itu. Justru aku itu habis menyelamatkan kita dari masalah besar" Moza tetap bersikeras.


"Ya sudah kalau begitu, cerita sama Mama, kamu habis apakan Tari?" Desak Claudia dengan nada tegas.


Akhirnya Moza menceritakan semuanya pada wanita yang telah melahirkannya itu, apa saja yang sudah dia lakukan pada Tari. Bagaimana dia bekerja sama dengan Gerald untuk menjebak Tari, hingga akhirnya Gerald menangkap dan memperkosanya.


"Aduh Ma, bicaranya jangan keras-keras. Nanti kalau Papa sampai dengar bagaimana?


Mama mau dia marah?" Moza memperingatkan dengan suara pelan dan sedikit menekan, sembari menatap sekilas kearah pintu dengan cemas.


"Kamu itu sudah gila apa ya? Kamu kerjasama dengan Gerald, dan membuat dia memperkosa Tari? Ya Tuhan Moza.... Masalah foto dan video kemarin saja, sampai sekarang masih membuat Mama was-was dan tegang takut sewaktu-waktu ketahuan Papa. Dan sekarang kamu tambah lagi dengan masalah yang baru"


Claudia mengomeli Moza dengan kesal saking khawatirnya jika apa yang dilakukan oleh putrinya itu, justru akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri dikemudian hari.


"Ya.... Kan kemarin Mama sendiri yang menyuruhku untuk mencari cara, supaya Papa tetap marah dan berpikiran buruk tentang Tari. Agar Papa jangan sampai mengijinkan dia untuk kembali lagi kerumah ini. Dan satu-satunya ide yang melintas dikepalaku hanya itu. Dengan membuat Tari kehilangan keperawanannya.

__ADS_1


Coba deh Mama pikirkan, jika sampai pemerkosaan itu membuahkan hasil hingga Tari hamil, apa yang akan Papa pikirkan tentang Tari? Dia pasti akan beranggapan bahwa Tari memang wanita murahan, yang sudah sering tidur dengan lelaki makanya dia bisa hamil.


Dan siapa yang paling diuntungkan dengan kejadian ini? Ya kita lah Ma. Karena foto dan video palsu hasil rekayasa kita akan tetap aman"


"Iya. Tapi kalau sampai ketahuan bagaimana? Kamu mikir tidak sih? Ini itu kasus pemerkosaan. Dengan kata lain tindakan kriminal. Kalau Tari sampai nekat melaporkan Gerald kepolisi bagaimana? Sudah pasti dia juga akan mengatakan tentang keterlibatanmu dalam hal ini. Apalagi kamu kan, yang membuat Tari datang ketempat itu?"


Claudia memperingatkan dan menjelaskan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, akibat dari tindakan mereka itu. Meskipun sedikit banyak dia sendiri mengakui, bahwa rencana itu akan membuat rahasia mereka aman.


Tapi bagaimana jika Tari sampai nekat melibatkan polisi dalam masalah ini? Yang ada bencana besar yang akan menimpa mereka.


"Mama tenang saja oke. Gerald itu bukan orang sembarangan. Dia sudah mengatur semua ini dengan serapi mungkin. Karena dia juga ingin melampiaskan dendamnya terhadap Tari yang sudah menghina dan mempermalukannya dalam acara pesta tempo hari. Jadi aku sangat yakin, bahwa dia juga tidak akan membiarkan dirinya sampai berurusan dengan polisi hanya karena wanita yang dia benci"


Moza masih tetap bersikukuh jika semuanya akan baik-baik saja. Meski dalam hatinya dia mulai merasa sedikit cemas dengan kemungkinan buruk itu.


"Pokoknya Mama tidak mau tau ya, kamu harus bisa memastikan jika masalah ini akan tetap aman. Sekarang juga kamu hubungi Gerald. Karena Mama ingin dengar langsung dari mulutnya, kalau dia tidak akan pernah membuatmu berada dalam masalah atas apa yang sudah dia lakukan pada Tari" Titah Claudia dengan nada tegas dan serius.


"Iya-iya, aku hubungi dia sekarang" Moza mengalah dan mengambil ponselnya, lalu menghubungi Gerald seperti perintah Mamanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Good night Mama, Oma. Muah" Gerald tiba dirumahnya. Dengan perasaan sumringah, dia mencium Mama dan Omanya yang sedang asik menonton televisi diruang keluarga.


"Good night sayang. Kamu habis darimana? Kok pulang-pulang kelihatan happy sekali?" Astrid ikut merasa senang, namun penasaran melihat sikap putranya yang tak seperti biasanya.


"Biasalah Ma, urusan anak muda..." Celetuk Gerald disertai dengan senyum misterius.

__ADS_1


"Anak muda? Kamu sadar tidak sih? Kamu itu bukan anak muda lagi. Usiamu sudah 31 tahun. Kamu itu sudah dewasa. Seharusnya kamu sudah menikah dan memberikan Oma cicit yang akan menjadi penerus Lazuardi group" Timpal Oma Violet mengomel.


__ADS_2