
"Tapi solusinya apa Ran? Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana sekarang" Ujar Tari dengan putus asa.
Ranty hanya terdiam. Dia tidak tau harus menjawab apa. Karena dia sendiri pun bingung solusi apa yang bisa dia berikan, untuk mengatasi masalah besar yang sedang dialami oleh sahabatnya itu.
Tiba-tiba saja Tari merasa menemukan solusi yang tepat. "Apa sebaiknya aku gugurkan saja ya, kandungan ini? Kalau aku tidak hamil, mungkin masalahnya akan selesai" Tari memegang perutnya yang masih rata. Ide yang disampaikannya membuat Ranty tersentak, hingga dia langsung bangkit berdiri.
Tanpa mereka sadari, salah seorang tetangga mereka yang hendak berkunjung kekosan dan menemui mereka karena ada suatu keperluan, langsung mengurungkan niatnya saat tiba-tiba wanita paruh baya berusia sekitar 40 tahunan itu, dikejutkan oleh suara lantang Ranty yang sedang memarahi Tari.
"Tari!! Hati-hati dengan ucapanmu!! Kamu pikir semudah itu menggugurkan kandungan?! Bagaimana jika nyawamu sampai ikut melayang saat kamu melakukannya?! Dan kalaupun kamu selamat, apa kamu bersedia menanggung dosa dan perasaan bersalah seumur hidup, karena sudah tega membunuh janin yang tidak berdosa?"
Tari ikut berdiri. "Lalu aku harus bagaimana Ran?! Mempertahankannya tanpa didampingi suami?! Kamu pikir mudah melakukannya?! Apa kata orang? Aku yakin hinaan dan hujatan pasti akan mereka berikan padaku tanpa ampun!
Aku sudah lelah Ran! Aku lelah dipandang sebagai perempuan murahan yang tidak punya harga diri! Apalagi jika mereka semua tau aku hamil diluar nikah seperti ini!! Jika Papaku sendiri saja bisa berpikiran rendah tentangku, apalagi orang lain!!"
Dia juga berucap dengan suara lantang, mengungkapkan uneg-uneg dan kegelisahan yang dirasakannya. Tangisannya pun kembali pecah.
Membuat Ranty jadi merasa bersalah karena telah bersikap terlalu keras padanya. Seharusnya dia bisa lebih peka jika saat ini Tari pasti sedang labil. Sehingga dia tidak mungkin bisa berpikir dengan jernih.
Ranty kembali menggenggam tangan Tari dengan lembut. "Aku minta maaf ya. Aku tidak bermaksud untuk bicara kasar padamu. Aku memang tidak pernah merasakan berada diposisimu. Tapi aku sangat memahami perasanmu. Aku tau saat ini kamu sedang hancur dan kalut.
Sedang berada dalam kebimbangan menghadapi masalah seberat ini.
Kamu bingung bagaimana menghadapinya. Tapi aku mohon tenanglah. Pikirkan dengan kepala jernih, bukan dengan emosi. Jangan sampai kamu melampiaskan kemarahan dan kebencianmu pada bayi yang tidak bersalah.
__ADS_1
Biar bagaimanapun juga dia adalah darah dagingmu sendiri. Apa kamu tega melenyapkannya? Karena semua ini bukanlah kesalahannya. Aku yakin jika dia bisa memilih, dia juga tidak pernah ingin hadir kedunia ini, dengan cara seperti ini"
Ranty berusaha berbicara selembut mungkin. Dia berharap Tari bisa menerima nasehatnya, dan dia bisa berpikir dengan jernih. Dan dia akan mengurungkan niatnya, untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Tari termangu. Dia berusaha mencerna perkataan sahabatnya itu. Semua yang dikatakan Ranty memang benar. Anak ini tidak berdosa. Sekalipun dia adalah benih dari lelaki brengsek itu, namun tetap saja itu bukan kesalahannya.
Rasanya tidak adil, jika dia sampai melampiaskan kemarahan dan kebenciannya pada janin yang tidak berdosa. Dan dia juga tidak memiliki hati sekejam itu. Yang tega menyakiti orang yang tidak bersalah. Apalagi orang itu adalah darah dagingnya sendiri.
Lalu apa yang harus dia lakukan? Mempertahankan janin inipun bukan hal yang mudah baginya. Karena janin ini hadir dari hasil perbuatan diluar nikah. Tentu hal itu akan menjadi aib baginya.
Dia yakin berbagai hinaan, hujatan serta bullyan pasti akan diterimanya habis-habisan. Cap sebagai perempuan murahan pasti akan disandangnya dengan nyata. Sanggupkah dia menerima semua itu nantinya?
Sementara itu wanita paruh baya bernama Leha, yang sedari tadi berdiri diteras dan menguping pembicaraan mereka, sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.
Mpok Leha meninggalkan kosan itu secara diam-diam, dan tanpa diketahui oleh penghuninya, yang masih larut dalam pembicaraan serius mereka.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Terima kasih, kamu boleh keluar sekarang" Titah Tristan pada ketiga pria berbadan tinggi dan kekar, yang sepertinya adalah anak buahnya.
"Baik, permisi Pak" Ketiga pria itu membungkukkan badannya dengan hormat. Kemudian mereka berjalan menuju pintu keluar dan membukanya.
Mereka berpapasan dengan Claudia yang baru saja masuk keruangan suaminya. Setelah membungkukkan badannya dengan hormat pada Claudia, ketiga pria itu enyah dari ruangan itu.
__ADS_1
Claudia menatap mereka dengan tatapan bertanya-tanya. Setelah menutup pintu, Claudia berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk diatas kursi putarnya.
"Pa, itu siapa? Kok Mama baru lihat? Sepertinya mereka bukan karyawan disini" Claudia menunjuk kearah pintu dengan bingung.
"Mereka adalah orang-orang suruhan Papa Ma. Papa meminta bantuan mereka untuk mencari keberadaan Tari. Karena Papa sudah memiliki rencana untuk membawanya kembali pulang kerumah"
"Apa?! Papa serius?!" Penjelasan Tristan berhasil membuat Claudia terkejut, hingga tanpa sadar dia sampai bersuara dengan lantang.
Tristan tertegun melihat reaksi istrinya saat mendengar rencananya terhadap Tari.
"Papa tau, Tari memang sudah bersikap buruk terhadap Mama dan Moza. Dia juga sudah mengecewakan Papa dan kita semua. Tapi biar bagaimanapun juga, dia tetap anak Papa. Satu-satunya putri yang Papa miliki. Selain itu, Papa juga sudah berjanji pada almarhumah Mamanya, kalau Papa akan selalu menjaga Tari.
Sekarang.... Papa selalu merasa bersalah terhadap almarhumah Mamanya Tari, karena Papa sudah mengusir dia dari rumah, tanpa memberinya kesempatan untuk membela dirinya. Mungkin apa yang kita lihat dan dengar, belum tentu sesuai dengan kenyataannya" Tristan berkata dengan lirih. Berusaha memberi pengertian pada istrinya.
Sedangkan Claudia terdiam dan berpikir dengan keras. Perasaannya mulai resah, melihat suaminya yang mulai luluh dan melunak terhadap Tari. Sepertinya sedikit banyak Tristan sudah mulai mempercayai putrinya itu.
Bahaya jika Tari sampai berhasil kembali lagi kerumah. Takutnya nanti anak itu malah berhasil meyakinkan Papanya, soal rekayasa video yang dilakukannya bersama Moza untuk menjebaknya.
"Mama tidak keberatankan, jika Tari kembali lagi kerumah dan tinggal bersama kita seperti dulu?" Tristan bertanya dengan nada lembut. Dia sangat berharap agar istrinya bisa sependapat dengannya.
Suara Tristan membuat Claudia tersentak hingga lamunannya buyar. "Kok Papa bertanya seperti itu? Tentu saja Mama tidak keberatan. Kan memang sejak awal Mama tidak pernah setuju dengan keputusan Papa yang mengusir Tari dari rumah. Dan.... Kalau sekarang Papa memiliki rencana untuk membawanya kembali kerumah, tentu saja Mama sangat senang.
Kan Papa tau sendiri, Mama juga sudah menganggap Tari seperti putri Mama sendiri. Mama sangat sedih karena dia harus tinggal diluar sana, dan bekerja sebagai pelayan katering. Bahkan.... Harus putus kuliah" Claudia kembali memasang wajah sedihnya.
__ADS_1