Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 42- Perasaan Cemburu


__ADS_3

"Aku mencintaimu.... Hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku move on dari istriku yang sudah tiada. Tapi sekarang, siapa yang akan membuatku move on darimu? Zahra..."


Fajar terus mengigau dengan suara yang terdengar sangat menyedihkan. Seperti orang yang sedang putus asa dan frustasi. Membuat Tari merasa iba melihatnya.


Namun entah kenapa hatinya juga terasa ngilu, mendengar lelaki itu meracau menyebut nama wanita lain. Apakah karena sekarang pria itu sudah menjadi suaminya? Sehingga dia tidak rela jika ada wanita lain dalam rumah tangganya? Atau.... Karena hatinya yang sudah mulai berubah?


Tak tahan melihat suaminya yang terus mengigau seperti itu, akhirnya Tari mencoba untuk menenangkannya. Dia menggenggam tangan Fajar dan mengelus-elus wajahnya.


Dilihat dari dekat seperti ini, wajah lelaki itu tampak sangat tampan bak pangeran. Membuat dada Tari serasa berdebar-debar. Jantungnya pun ikut berdegup kencang. Dia tidak mengerti bagaimana dia bisa merasakan hal seperti ini.


Padahal baru beberapa hari yang lalu dia sangat membenci lelaki ini. Tapi kenapa sekarang wajah lelaki itu jadi tampak sangat menarik baginya? Membuatnya merasa ingin sekali mengecup wajahnya.


Tari menggelengkan kepalanya. Berusaha membuang segala bentuk pikiran liar yang mulai merasukinya.


Setelah memastikan bahwa Fajar sudah tenang dan tidak lagi meracau, Tari pun beranjak kekamar mandi. Usai mandi dan melaksanakan sholat subuh, dia mulai berpakaian rapi dan merias diri ala kadarnya.


Setelah itu dia langsung meninggalkan kamar dan Fajar yang masih tertidur pulas diatas sofa menuju kedapur. Meski masih merasa asing dan masih belum sepenuhnya hafal setiap sudut ruangan dirumah itu, namun Tari tetap bisa menemukan dapur.


"Nyonya, seharusnya Nyonya tidak perlu repot-repot membantu kami. Seharusnya Nyonya istirahat saja. Atau mengurus Chand. Bagaimana nanti kalau dia bangun dan rewel?"


"Tidak apa-apa kok Bu. Kan ada Papanya. Rahul juga bisa kok menenangkannya"


Begitu sampai didepan pintu dapur, Tari sudah mendengar suara beberapa wanita yang terasa tidak asing ditelinganya sedang berbincang-bincang didalam sana.


Tari tetap meneruskan langkahnya memasuki dapur. Dan benar saja dugaannya, didalam dia langsung menemukan beberapa orang pelayan yang tampak sedang berkumpul, untuk mengerjakan tugas mereka dalam menyiapkan sarapan.


Zahra juga menjadi bagian dari mereka. Perempuan itu tampak begitu asik bercengkrama dengan para pelayan sembari memasak. Tari menatap perempuan cantik itu dengan tatapan cemburu.

__ADS_1


Kembali terngiang-ngiang dibenaknya, bagaimana suaminya mengigau menyebut nama perempuan itu. Hatinya kembali bertanya-tanya, ada hubungan apa diantara mereka sebenarnya?


Apalagi bila melihat Zahra yang sudah begitu akrabnya dengan semua pelayan dirumah ini. Membuatnya berpikir, apakah wanita itu pernah tinggal dirumah ini bersama mereka? Atau mungkin, itu karena keluarga mereka sudah sangat dekat? Entahlah.


"Eh, Nyonya Tari" Bu Zaitun yang baru menyadari keberadaan Tari ditempat itu langsung menegurnya dengan suara lembut dan sopan. Spontan Zahra dan pelayan lainnya langsung ikut menoleh kearah Tari.


"Eh pengantin baru. Sudah bangun?" Zahra menimpali dengan ramah dan riangnya.


"Iya Kak" Tari tersenyum kaku menanggapi sikap luwes wanita itu terhadapnya.


"Nyonya butuh sesuatu? Biar saya siapkan" Tanya Bu Zaitun.


"Mmm, tidak usah Bu. Aku kesini hanya ingin ikutan masak dengan kalian kok" Jawab Tari dengan sedikit malu lantaran dia masih belum dekat dan belum pernah bergabung dengan mereka seperti ini.


"Kalau menurutku, sebaiknya kamu temani Fajar saja lagi. Kan kalian masih pengantin baru. Dan ini adalah malam pertama kalian. Bagaimana jika nanti suamimu terbangun, lalu mempelainya sudah tidak ada disampingnya?" Zahra ikut nimbrung kemudian berbisik dengan usilnya. "Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana semalam?"


"Ya tentu saja malam pertama kalian semalam. Menyenangkan tidak, bersama suami tercinta?" Zahra tersenyum menggoda sembari mengerlingkan matanya.


"Nyonya, untuk apa ditanya lagi? Tentu saja sangat menyenangkan. Nyonya Zahra sendiri bagaimana, saat malam pertama dengan Tuan Rahul dulu?" Fina ikut nimbrung dan menggoda Zahra, hingga membuat wanita itu tersipu malu.


"Ya ampun Fina, akukan ingin menggoda dan membuat pengantin baru kita tersipu malu. Kok malah aku yang digoda kembali? Akukan jadi malu bila mengingat masa-masa itu hehehehe!"


Zahra terkekeh mengenang momen malam pertamanya dulu. Membuat yang lainnya saling pandang sembari cekikikan karena malu. Kecuali Tari dan Bu Zaitun yang hanya terdiam menyaksikan tingkah orang-orang itu.


Ueek..... Ueeek.... Ueek....


Tiba-tiba saja serangan mual melanda Tari, akibat bau makanan yang menyengat indra penciumannya. Spontan semua orang terkejut dan menatapnya dengan kebingungan.

__ADS_1


"Tari, kamu kenapa? Kamu sakit?" Zahra mendekati Tari dan memegang pundaknya dengan khawatir. Mencoba memastikan kondisi perempuan itu.


"Tidak Kak, aku hanya tidak enak badan saja sedikit. Mungkin... Akibat terlalu kelelahan" Kilah Tari seraya menutup mulutnya dengan tangan.


Karena tak tahan lagi dengan rasa mual dan perutnya yang bergejolak, akhirnya Tari berlari meninggalkan dapur. Membuat para wanita itu menatapnya dengan heran.


"Nyonya Tari kenapa ya? Kok bisa mual-mual begitu?" Rita berbisik seraya menatap kepergian Tari dengan bingung.


"Iya Rit. Kok seperti orang hamil ya?" Desis Fina dengan ekspresi yang sama dengan temannya.


Zahra mendekati Bu Zaitun dan bertanya dengan ragu dan bingung. "Bu, apa dia baik-baik saja"


"Saya kurang tau Nyonya. Mungkin Nyonya Tari... Kelelahan setelah acara pernikahan kemarin" Jawab Bu Zaitun dengan gugup, dan tanpa berani menatap Zahra yang menatapnya dengan menyelidik.


🍁🍁🍁🍁🍁


Tari yang sedang berjalan menuju kamarnya tiba-tiba saja mendengar suara tangisan bayi. Dia yakin bahwa itu adalah anaknya Rahul dan Zahra. Karena hanya mereka saja dirumah ini yang memiliki anak. Tampaknya dia sedang berada didepan pintu kamar sepasang suami istri itu.


Karena tangisan bayi itu tak kunjung berhenti, akhirnya Tari mendekati pintu kamar itu dan membukanya secara perlahan-lahan. Setelah terbuka, dia mencoba mengintip kedalam. Memandangi setiap sudut kamar besar itu.


Hingga akhirnya, tatapannya berhenti pada sosok kecil yang terbaring diatas ranjang sembari menangis. Namun dia tidak menemukan sosok kedua orang tua bayi lelaki itu disana. Entah kemana mereka. Meninggalkan bayinya sendirian hingga menangis seperti itu.


Karena tak tega, Tari masuk kedalam dan menggantikan tugas orang tua bayi itu untuk menenangkannya.


"Sayang. Cup cup cup. Diam ya. Ada Tante disini?" Tari berkata dan tersenyum lembut, sembari menggendong dan menimang-nimang bayi tampan itu. Sikap dan perkataannya yang lembut berhasil membuat bayi itu tenang dan diam.


Tari menatap bayi mungil itu dengan dengan perasaan hangat. Hatinya terasa tenang. Seperti inikah rasanya menjadi seorang ibu?

__ADS_1


Dia membayangkan dirinya yang beberapa bulan lagi akan melahirkan dan menjadi ibu. Apakah nantinya dia akan melahirkan bayi selucu dan semenggemaskan ini, yang akan menjadi tumpuan kasih sayangnya?


__ADS_2