Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 32- Tari Kabur


__ADS_3

"Apa? Kamu serius? Mereka berdua akan menikah?" Suara Gerald terdengar terkejut.


"Mereka? Kamu kenal pria itu? Jadi benar ini semua bagian dari rencanamu?"


"Iya atau tidak, sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur. Lagipula ini tidak ada hubungannya denganmu. Yang penting posisimu aman. Jadi aku minta kamu diam saja, dan jangan pernah membahas masalah ini lagi, kalau kamu tidak mau berada dalam masalah besar. Kamu tidak maukan jika kita berdua sampai masuk penjara, karena sudah merencanakan sebuah pemerkosaan? Oke, kamu pahamkan maksudku? See you" Jawab Gerald dengan santainya.


"Gerald tapi....." Moza yang masih belum merasa puas dengan jawaban yang diberikan Gerald pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena pria itu sudah terlanjur mematikan ponselnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Tidak Ran! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi menikah dengan lelaki bejad itu! Kenapa kamu tidak mengerti?! Jangankan untuk menikah dan menjadikan dia sebagai suamiku, melihat wajahnya saja sudah membuat hatiku sakit!


Meskipun pada malam itu aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi tetap saja dia pelakunya! Dia yang sudah merenggut keperawananku secara paksa! Dia yang sudah membuat janin ini hadir dalam perutku!! Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengannya seumur hidupku?!!"


Seru Tari yang bersikeras menolak pernikahan dengan lelaki brengsek yang telah menodainya itu. Wajahnya basah dengan linangan air mata dan keringat yang bercucuran diwajahnya.


"Aku tau dia bersalah. Dan kalau aku ada diposisimu, aku juga tidak akan bisa dengan begitu mudah memaafkannya. Tapi bukankah setiap manusia berhak untuk mendapatkan maaf. Tuhan saja maha pemaaf, lalu kenapa kita tidak? Setidaknya dia sudah menunjukkan itikad baiknya, untuk datang padamu setelah apa yang sudah dia lakukan.


Dia juga rela memasang badan untuk membelamu dari amukan warga. Dan dia juga bersedia untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Coba pikirkan tawarannya baik-baik Tar. Pikirkan dengan kepala jernih dan dingin. Jangan gunakan emosi yang hanya akan membuatmu menyesal. Menurutku ini adalah solusi terbaik untuk bayi dalam kandunganmu.


Daripada kamu harus menggugurkannya. Memangnya kamu sanggup melakukan hal itu, pada darah dagingmu sendiri? Kamu bersedia, menanggung dosa seumur hidupmu? Aku tau kamu tidak sekejam itu Tar. Aku tau hatimu baik. Jangankan untuk menyakiti anakmu sendiri. Untuk menyakiti hewan saja kamu tidak akan tega"


Ranty berusaha membujuk Tari dengan suara yang selembut mungkin. Masalah kehamilan Tari yang semakin runyam membuatnya iba dan tidak tega, melihat sahabatnya harus menanggung semua ini sendirian. Dihina dan dipandang murahan oleh semua orang.


Setidaknya dengan pernikahan itu, hinaan dan hujatan yang diterima Tari bisa sedikit berkurang.

__ADS_1


"Tolong tinggalkan aku sendiri Ran. Tolong beri aku waktu untuk berpikir" Pinta Tari yang masih berdiri membelakangi Ranty. Dia berusaha menahan diri agar tangisnya tidak kembali pecah. Sekalipun dia tidak bisa menahan linangan air mata yang terus berjatuhan dari kedua pelupuk matanya.


Ranty tersenyum lega, karena akhirnya Tari mau mempertimbangkan nasehatnya. "Baiklah, aku akan keluar. Aku harap kamu bisa berpikir dengan jernih, dan mengambil keputusan yang terbaik untuk bayimu. Selamat istirahat ya"


Akhirnya Ranty keluar dari kamar itu. Membiarkan Tari beristirahat supaya dia bisa merenung dan berpikir dengan tenang.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Tari. Kita sarapan dulu yuk. Dari semalam lho, kamu belum makan. Kasian bayimu. Dia butuh asupan nutrisi untuk pertumbuhannya. Tar, kamu dengar aku kan?" Ranty mengetuk-ngetuk pintu kamar seraya memanggil-manggil Tari.


Dari kemarin gadis itu tidak keluar kamar. Bahkan dia juga belum makan apa-apa sampai sekarang. Tentu saja hal itu membuat Ranty tidak bisa tenang. Berkali-kali Ranty memanggil-manggil dan mengetuk pintu. Namun dia tak kunjung mendengar ada suara sahutan dari dalam.


Apa Tari sedang tertidur? Tapi tidak mungkinkan tidurnya bisa selelap itu, hingga tidak bisa mendengarnya serdari tadi. Apa mungkin dia terlalu kelelahan akibat insiden kemarin?


"Tari. Tari, kamu dimana?" Dia memindai setiap sisi kamar sederhana yang sempit itu. Berbagai pikiran negatif mulai singgah dan membuatnya gelisah.


Namun dia masih tetap berusaha untuk tenang, dan menepis segala pikiran buruk yang berkecamuk dipikirannya. Mungkin saja Tari sedang berada dikamar mandi.


Dia menuju kamar mandi dan memeriksa kedalamnya. Namun tetap saja dia tidak bisa menemukan Tari. Perasaan cemasnya semakin membesar.


"Tari! Tari!" Dia berlari keluar untuk mencari keberadaan sahabatnya disekitaran kos. Bertanya-tanya pada setiap orang yang berlalu lalang dihadapannya.


Namun tak ada satupun dari mereka yang mengaku sempat melihat gadis itu. Dia juga berusaha menghubungi ponsel Tari. Namun nihil, ponselnya pun tidak aktif.


"Tari, kamu dimana sih? Kenapa kamu nekat melakukan ini?" Ranty bermonolog dengan perasaan kalut. Dia bingung kemana lagi harus mencari Tari. Dia berusaha menghibur dirinya sendiri, supaya bisa berpikir dengan tenang agar mendapatkan solusi.

__ADS_1


Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Karena tak kunjung berhasil menemukan Tari, dan juga tidak mungkin bisa mencarinya seorang diri, akhirnya dia kembali berlari kedalam kosannya. Dia mengambil kartu nama yang kemarin diberikan oleh lelaki itu, dan mulai menghubungi nomor yang tertera disana.


"Hallo selamat pagi. Maaf ini siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?" Suara Fajar diseberang sana.


"Selamat pagi. Maaf apa benar ini dengan dokter Fajar Lazuardi?" Ranty bertanya memastikan dengan ragu, dan nada suara yang agak gemetar.


"Iya benar saya sendiri. Tapi ini dengan siapa ya?"


"Mmm.... Saya Ranty Dok, temannya Mentari yang yang kemarin bertemu dengan anda dikosan. Anda juga yang memberi saya kartu nama. Anda masih ingatkan?"


"Oh iya-iya saya ingat. Ada apa ya kamu menghubungi saya? Apa Nona Mentari sudah mengambil keputusan?" Fajar bertanya dengan perasaan deg-degan.


Meskipun dia sendiri yang menawarkan pernikahan itu, karena dia ingin menjadi pria yang bertanggung jawab. Dan dia juga yakin dengan keputusannya. Namun rasanya hatinya masih belum siap untuk memperistri wanita itu. Karena hingga saat ini, hatinya masih terpaut pada Zahra.


"Maaf Dok sebelumnya, tapi bukan itu tujuan saya menghubungi anda?"


"Lalu?"


"Jadi begini, Tari kabur dari kos-kosan"


"Apa?! Kabur?! Kok bisa? Kabur kemana?" Cecar Fajar dengan terkejut.


"Saya juga tidak tau Dok. Semalam dia masih ada. Tapi tadi pagi tiba-tiba saja dia menghilang. Saya sudah mencarinya disekitar sini. Saya juga sudah bertanya pada orang-orang, tapi tidak ada yang melihat ataupun mengetahui keberadaannya. Saya juga sudah menghubunginya. Tapi ponselnya tidak aktif.


Saya sangat cemas memikirkan keadaan Tari Dok. Dokter tau kan kalau dia sedang hamil? Saya takut terjadi sesuatu padanya. Apalagi saat ini dia stress dan kalut. Saya takut jika dia akan berbuat nekad diluar sana" Ranty berceloteh panjang lebar. Fajar bisa merasakan nada kekhawatiran dalam setiap kata-kata gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2