
Sebagai sesama lelaki, dia turut prihatin dan empati dengan kondisi pasiennya itu.
"Saya tidak membutuhkan support dari anda! Yang saya butuhkan adalah saya bisa sembuh! Saya bisa menjadi pria seutuhnya!" Seru Gerald yang semakin kalut, hingga dia menatap dokter itu dengan tajam.
"Saya rasa itu sulit Pak. Karena kelainan yang anda alami ini, adalah termasuk azoospermia nonobstruktif yang sulit untuk diatasi. Tapi.... Pasien dalam kondisi ini, masih tetap bisa memiliki anak, melalui program bayi tabung" Ungkap dokter dengan hati-hati.
"Apa? Bayi tabung?" Seru Gerald yang terkejut mendengar pernyataan dokter hingga dia terbelalak. Dokter itu hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan kepala.
Flashback off
PRAANG!!
Gerald kembali membanting benda-benda apa saja yang ada dihadapannya. Kemarahannya sudah tidak terkendali lagi.
"ARRGGHHH!! Ini tidak adil!! Kenapa aku harus mengalami semua ini?!! ARRGGHHH!!!" Teriaknya penuh kemarahan dan putus asa.
Tak pernah terbayangkan olehnya, bahwa hidupnya akan sehancur ini! Selama ini dia memang tidak pernah ingin punya anak, bahkan hingga saat ini.
Tapi kalau seperti ini ceritanya, jelas dia tidak bisa terima! Karena suatu saat nanti, dia pasti akan membutuhkan seorang anak untuk menjadi penerusnya. Apalagi Omanya selalu mengoceh, menuntutnya untuk menikah dan memiliki anak.
Dan sekarang dia hanya memiliki kesempatan untuk mendapatkan anak melalui program bayi tabung?! Itu sangat memalukan! Citranya sebagai seorang pria sejati bisa rusak!
Gerald mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Apa yang harus dilakukannya sekarang?! Bagaimana jika Oma dan mamanya sampai mengetahui permasalahannya? Apa yang akan mereka lakukan nantinya?!
Ditengah-tengah kekalutannya, Gerald teringat pada Tari. Satu-satunya wanita yang pernah dia jamah secara paksa. Dan sekarang sedang mengandung anaknya. Hanya tinggal empat bulan lagi anak itu akan lahir. Dan otomatis dia akan menyandang status sebagai seorang ayah.
__ADS_1
Namun tidak ada satu orang pun yang akan mengetahui statusnya itu. Karena status itu pasti akan disematkan pada Fajar, yang sebenarnya bukan siapa-siapa anak itu!
Apakah ini hukuman untuknya, karena dia sudah merenggut keperawanan Tari, dan melempar tanggung jawabnya pada orang lain, hanya demi balas dendam? Apakah ini hukumannya karena dia sudah menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri?!
Gerald mengingat kembali insiden kecelakaan yang merenggut keperkasaannya. Padahal Tari juga ikut menjadi korban dalam peristiwa naas itu. Tapi dia, dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Tidak mengalami cedera sedikitpun. Kenapa hanya dia saja yang mengalami cedera?
Apakah ini pertanda atau petunjuk, bahwa kedua orang itu memang ditakdirkan untuk melengkapi hidupnya? Tapi karena kebodohannya, sekarang dia kehilangan semuanya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sudah satu minggu Tari berdiam diri dirumah pasca keluar dari rumah sakit. Semakin lama dia semakin bosan. Dia ingin keluar hanya untuk sekedar menghirup udara segar.
Seketika dia menjadi sangat merindukan suaminya. Sebuah ide melintas dibenaknya. Selama ini dia belum pernah berkunjung ketempat kerja suaminya. Dia berencana ingin memberi kejutan pada suaminya itu.
Jam menunjukkan pukul 11.21 WIB. Tari berpikir sepertinya ini waktu yang tepat. Karena sebentar lagi jam makan siang. Mereka bisa makan siang bersama sambil memadu kasih. Hehe....
Tari bergegas menuju dapur untuk menyiapkan bekal yang akan dia bawakan untuk suaminya. Dengan riang dan antusiasnya dia membuat spaghetti, risotto, polenta, zupa toscana dan panini.
Dia tau kalau suaminya juga menyukai masakan Italia. Karena itulah dia membuatkannya dengan penuh cinta. Seperti biasanya, dia melarang Bu Zaitun dan pelayan lainnya untuk membantunya.
Usai mempersiapkan semua makanan itu, Tari kembali kekamar untuk berganti pakaian. Dia mengenakan Sabrina dress kerut berwarna hijau botol. Dan memoles wajahnya dengan riasan yang natural. Dia tau hari itu Fajar sedang ada jadwal dikantornya, bukan dirumah sakit. Tari menuju perusahaan suaminya dengan diantar supir.
Sesampainya didepan gedung perusahaan yang megah dan menjulang tinggi itu, Tari langsung berjalan untuk masuk kedalam. Sedangkan supir memarkirkan mobil terlebih dulu.
Namun saat hendak memasuki gedung itu, tiba-tiba dia dibuat tercengang saat melihat sosok pria yang sangat familiar dimatanya, yang kebetulan berpapasan dengannya. Pria itu pun tampak sedikit terkejut ketika melihatnya.
__ADS_1
"Tari?"
"Darren?"
Darren mengamati Tari dari bawah sampai keatas dengan tatapan menilai. Tatapan sinis terpancar diwajahnya saat melihat tonjolan dibagian perut perempuan itu.
"Wow. Perutmu sudah kembung saja ya. Ayahnya yang mana nih? Masih ingatkan siapa? Jangan sampai lupa ya, saking banyaknya pria yang kamu tiduri. Kasian nanti anakmu. Bisa-bisa dia malu, terlahir dari rahim seorang wanita yang tidak benar. Oh ya"
Celetuk Darren sembari menyunggingkan senyum sinis. Kemudian menatap kesekelilingnya, terakhir pandangannya jatuh pada gedung megah yang ada dihadapannya.
"By the way, kamu janjian dengan pria mana lagi disini? Ada kencan malam ini? Dihotel mana? Bayarannya fantastis kan sekali tidur?" Tanpa ampun, Darren habis habisan menghujani Tari dengan hinaan seakan-akan wanita itu adalah kupu-kupu malam, yang datang kesini untuk melakukan pekerjaannya yang kotor itu.
Tari mengepalkan tangannya dan menatap lelaki yang berstatus sebagai mantan kekasihnya itu, dengan sorot mata penuh kemarahan. Semua perkataan lelaki itu tentu saja sangat menghina dan menjatuhkan harga dirinya.
Dia benar-benar merutuki kebodohannya sendiri! Bagaimana bisa dulu dia pernah mencintai lelaki bermulut lemes seperti ini?! Bahkan sampai empat tahun dia menjadikan pria songong ini sebagai pujaan hatinya!
Ternyata benar kata orang, dibalik musibah pasti ada hikmahnya. Mungkin lelaki seperti dia memang lebih pantas bersanding dengan wanita licik dan penuh tipu muslihat seperti Moza!
Ingin rasanya dia mengarahkan kepalan tangannya kawajah lelaki itu dengan sangat keras! Bahkan kalau perlu sampai babak belur sekalian!
Namun dia tidak menemukan manfaat dari melakukan semua itu. Lagipula sekarang dia juga sedang mengandung.
Tari berusaha meredam amarahnya yang membara, hingga akhirnya dia berhasil mengembangkan senyuman diwajahnya. Meski terdapat pijaran geram dalam senyuman manis itu.
"Sudah puas? Setelah bertahun-tahun kita menjalin hubungan, aku baru tau, ternyata mulutmu melebihi wanita. Bahkan lebih parah lemesnya. Kenapa? Sudah bosan menjadi lelaki? Ingin ganti kelamin menjadi wanita? Atau.... Kamu masih perlu latihan? Aku punya banyak rok. Kamu bisa pilih ingin mencoba yang mana. Oh ya satu lagi, aku bisa saja menamparmu saat ini juga. Tapi sayangnya, sekarang aku sedang hamil. Aku takut jika nanti anak dalam kandunganku ini akan mirip denganmu, saking bencinya aku padamu. Tentu saja aku tidak sudi, jika aku sampai memiliki anak yang mirip dengan lelaki br*ngs*k sepertimu" Ucap Tari dengan sinis.
__ADS_1