Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 71- Ada Apa Dengan Gerald??


__ADS_3

"Tidak bisakah sekali saja, kamu tidak membawa atau menghina ibuku dalam perdebatan kita? Aku datang kesini bukan untuk mencari ribut denganmu...."


Pinta Fajar yang mulai merasa kesal, melihat sikap kakak tirinya yang keras kepala dan sulit diajak bicara baik-baik. Padahal dia sudah berusaha keras untuk sabar. Ternyata sangat sulit untuk mempertahankan kesabaran yang ada batasannya, apalagi saat lelaki ini mulai membawa-bawa ibunya yang sudah tiada.


"Lalu kamu mau apa sekarang? Mau menghajarku karena aku sudah menghina ibumu? Ayo silahkan, kamu pikir aku takut?" Ucap Gerald dengan tatapan menantang.


"Ngapain kamu disini?" Baik Fajar maupun Gerald sama-sama tersentak mendengar suara nyaring perempuan yang sangat familiar mengganggu perdebatan mereka.


Keduanya langsung menoleh dan melihat Oma Violet bersama Astrid berjalan menghampiri mereka, dengan tatapan tajam yang terus mereka tujukan pada Fajar.


"Apa yang kamu lakukan disini terhadap cucu saya?" Sentak Oma Violet menuduh Fajar. Wanita sepuh itu menatap Fajar dengan tatapan penuh kebencian, seakan-akan pria itu adalah musuh bebuyutannya. Padahal dia juga cucu kandungnya sendiri.


"Kamu mau ngapain lagi sih? Belum cukup, sudah membuat keributan semalam? Saya peringatkan ya sama kamu, jangan pernah coba-coba kamu berani mengganggu anak saya, atau kamu tau sendiri akibatnya. Sekarang juga saya minta kamu keluar dari sini, sebelum saya suruh security untuk mengusirmu" Astrid menimpali dan sedikit mengancam Fajar dengan suara nyaring.


"Tidak usah mengancam atau bicara pakai urat Tante. Santai saja. Nanti darah tinggi Tante kumat. Lagipula saya juga sudah mau keluar kok. Saya kesini hanya ingin menjenguk Gerald. Biar bagaimanapun juga, saya masih tetap menganggap dia kakak, sekalipun dia tidak pernah menganggap saya adik" Fajar menjawab ucapan ketus Astrid dengan santai, kemudian dia kembali melirik Gerald.


"Saya juga berterima kasih karena semalam kamu sudah mau repot-repot mengantar istri saya pulang. Tapi lain kali, kamu tidak perlu repot-repot. Karena dia adalah istri saya. Dan dia tanggung jawab saya. Oh ya satu lagi, saya rasa selama beberapa hari kedepan, istri saya tidak bisa masuk kantor dulu. Karena dokter bilang, kalau dia harus bedrest selama beberapa hari sampai kondisinya stabil. Karena sekarang dia dalam keadaan hamil. Jadi saya harap, kamu bersedia memberinya ijin untuk cuti. Biar bagaimanapun juga, dia mengalami kecelakaan bersamamu. Baiklah, urusanku sudah selesai disini. Aku permisi, selamat siang"


Selesai bicara panjang lebar tentang kondisi istrinya, Fajar melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Gerald. Dia berharap pria itu akan memaklumi kondisi istrinya.

__ADS_1


Karena percuma saja dia berlama-lama berada dalam ruangan itu, kalau hanya untuk melihat tatapa-tatapan kebencian dari ketiga orang itu, yang akhirnya hanya akan memicu terjadinya keributan seperti biasa.


Yang penting sekarang dia sudah tau kondisi kakaknya baik-baik saja, meski dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada lelaki itu hingga membuatnya sepeeti tertekan. Tapi ya sudahlah, dia tidak perlu ikut campur. Toh Gerald juga sudah dewasa dan bisa mengatasi masalahnya sendiri.


"Gerald, sebenarnya dia ngapain sih kesini? Dan dia udah ngomong apa aja sama kamu? Kok kamu keliatannya kesal dan marah sekali? Anak pelakor itu tidak bicara macam-macamkan....?" Astrid bertanya pada Gerald dengan penasaran.


Pikiran negatifnya tentang anak tirinya masih belum bisa dia singkirkan, melihat raut kemarahan diwajah anaknya, membuatnya yakin bahwa telah terjadi sesuatu antara anak kandung dan anak tirinya itu. Dan dia yakin pasti anak pelakor itu yang memulai mengganggu anaknya.


Oma Violet yang selalu sependapat dengan menantunya mengangguk dan menatap Gerald dengan intens, penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh cucunya yang dia yakin sesuai dengan tuduhan mereka.


Namun Gerald sedang tidak berselera membahas adik tirinya yang tidak penting itu. Pikirannya sudah terlalu kalut dan kacau memikirkan kondisi dan masa depannya yang terancam suram.


"Gerald, kok kamu begitu sih? Oma dan mamamu baru saja datang, masak harus pulang lagi?" Keluh Oma Violet yang kecewa mendengar jawaban cucu kesayangannya.


"Ya sudah terserah kalian saja mau ngapain. Tapi sekarang moodku sedang memburuk. Dan aku butuh sendiri. Tolong tinggalkan aku untuk istirahat" Pungkas Gerald yang tidak ingin dibantah dan malas berdebat.


Dia membetulkan posisi bantalnya supaya dia bisa berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Dia tidur menyamping membelakangi Mama dan Omanya yang berdiri menatap punggungnya dengan wajah penuh kebingungan. Sikap Gerald yang tidak biasa itu membuat mereka saling pandang dengan kening mengernyit.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Akhirnya Gerald menemukan keberadaan Tari. Meski agak sulit untuk menemukannya lantaran pihak rumah sakit tidak sembarangan memberikan data pasien kepada orang asing, namun dia berhasil menyuap staf resepsionis dengan sejumlah uang, sehingga dia mendapatkan informasi yang diinginkannya.


Dengan masih mengenakan baju pasien karena memang dia masih menjalani masa opnamenya dirumah sakit itu, Gerald berjalan dengan langkah lebar menuju kamar dimana wanita yang sedang mengandung anaknya itu diopname.


Begitu sampai dia membuka pintu kamar itu dengan perlahan-lahan. Entah kenapa dia merasa gugup dan salah tingkah membayangkan akan bertemu Tari.


Dengan pintu yang masih belum terbuka lebar, Gerald melongokkan kepalanya kedalam, mencoba melihat situasi didalam kamar itu sebelum memasukinya. Namun pemandangan yang ada dalam kamar itu membuatnya terpana.


Dia melihat Tari sedang berbaring diatas tempat tidur, dan perempuan itu tampak begitu sumringah berbincang-bincang bersama seorang dokter wanita, yang berdiri disamping ranjang disebelah kirinya dan sedang menggerak-gerakkan alat phobe diatas perut buncit Tari, bersama Fajar juga yang berdiri disamping sebelah kanannya. Ternyata mereka sedang berkumpul untuk melakukan USG terhadap bayinya Tari.


"Jadi bagaimana Dok, kondisi bayinya?" Tanya Fajar dengan wajah berbinar-binar. Dia sengaja meminta dokter obgyn untuk membawa serta alat-alat USG kekamar Tari, karena dia masih belum merasa tenang sebelum memastikan kondisi dan perkembangan bayinya setelah kecelakaan kemarin.


"Kondisi bayinya sehat-sehat saja Pak. Ini suatu keajaiban. Kecelakaan yang dialami ibu Tari sama sekali tidak mempengaruhi kondisi janinnya. Gerakannya juga masih sangat aktif"


Dokter berhijab itu menjelaskan dengan senyum lembut dan ramah. Dia juga ikut merasakan perasaan lega dan bahagia yang dirasakan oleh pasiennya, atas keajaiban yang mereka alami tentang sibuah hati.


"Lalu bagaimana dengan jenis kelaminnya Dok? Bayi kami lelaki atau perempuan?" Fajar kembali bertanya dengan antusiasnya, untuk melepaskan rasa penasarannya.


Jujur dia tidak pernah mempermasalahkan anaknya akan berjenis kelamin apa. Karena apapun itu dia akan tetap bahagia, karena anak itu akan memberikannya kebahagiaan yang tiada tara sebagai seorang ayah.

__ADS_1


__ADS_2