Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 79- Dia Istriku


__ADS_3

Namun Fajar dengan cepat menarik tangan istrinya, hingga wanita itu jatuh kedalam pelukannya. Pemandangan itu membuat semua orang terkejut dan tercengang.


"Hey tunggu dulu. Kenapa buru-buru? Katanya ingin lunch denganku. Dan kenapa wajahmu terlihat sedih? Ada yang menyakitimu?" Fajar menatap Tari dengan lekat dan bertanya dengan suara lembut.


"Tidak. Aku hanya kelilipan saja" Kilah Tari sambil berusaha memalingkan wajah agar terhindar dari tatapan selidik suaminya.


"Kelilipan?" Fajar menatap Tari dengan kening mengernyit. Jawaban yang diberikan istrinya membuatnya ragu dan kurang yakin. Akhirnya dia mengarahkan pandangannya pada semua orang yang ada diruangan itu.


"Apa salah satu dari kalian ada yang melakukan, atau mengatakan sesuatu hingga membuat istri saya sedih?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.


Membuat kedua resepsionis itu menundukkan wajah dengan gemetar. Mereka takut dapat SP1 atau yang lebih parahnya lagi bisa dipecat, karena sudah berani membuat istri direktur menunggu. Bahkan sampai membuatnya malu dan bersedih.


"Oh ya saya lupa. Perkenalkan wanita cantik ini adalah istri saya" Ungkap Fajar sambil merangkul pundak Tari.


Penjelasan Fajar membuat semua orang saling pandang. Mereka sadar ternyata pengakuan Tari barusan benar adanya. Dia adalah istri dari pemilik perusahaan itu. Namun mereka juga bingung kapan pernikahan itu terjadi? Karena yang mereka tau, istri dari atasan mereka sudah tiada.


Melihat kebingungan yang ada diraut wajah karyawannya, Fajar pun mencoba untuk menjelaskan.


"Mmm, maksudnya dia adalah istri kedua saya. Kami menikah beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang dia sedang mengandung anak saya. Jadi saya harap, kalian tidak melakukan apapun yang bisa melukai perasaan istri saya ini. Karena jika itu sampai terjadi, saya tidak akan segan-segan untuk bertindak tegas pada siapapun itu"


Ucap Fajar dengan nada tegas dan serius sambil mengelus-elus perut besar Tari. Perkataannya membuat semua orang semakin ketakutan.


"Pak? Pak Fajar serius? Dia ini istri Bapak?" Moza menunjuk Tari dan bertanya dengan ekspresi terkejut.


Ini benar-benar berita yang sangat mengejutkan dan membuatnya shock. Lelaki yang selama ini diincarnya ternyata adalah suami dari saudara tirinya yang sudah dia hancurkan hidupnya?! Kenapa bisa seperti ini?!

__ADS_1


Bahkan Fajar menyebut dirinya sebagai ayah dari anak yang dikandung Tari? Padahal Moza tau betul siapa yang sudah melecehkan Tari pada malam itu. Lalu kenapa sekarang anak itu bisa menjadi anaknya Fajar?!


"Iya dia istri saya. Kamu kenapa Moza? Kok kamu kelihatannya terkejut sekali?" Fajar menatap Moza dengan heran melihat pancaran kekecewaan dan keterkejutan diwajah karyawan magangnya itu.


"Kalian..... Saling mengenal?" Fajar menatap Tari dan Moza secara bergantian dengan penasaran dan bingung.


"Iya King. Dia adalah saudara tiriku. Anak dari istri kedua papaku. Dan ini Darren. Dia adalah pacarnya Moza. Sekaligus mantanku. Benarkan Darren?" Ungkap Tari dengan santainya.


Membuat Moza dan Darren menjadi tegang. Tatapan Tari seakan-akan sedang meledek mereka. Terutama Moza yang merasa gelisah mengetahui kenyataan ini. Dia takut Tari akan menceritakan yang macam-macam tentang apa yang sudah pernah terjadi diantara mereka pada Fajar yang berstatus sebagai suaminya! Jika itu sampai terjadi, bisa-bisa rencana dan usahanya untuk mendekati Fajar akan sia-sia dan kacau berantakan.


"Iy-iya" Jawab Darren antara kesal dan malu atas sikapnya yang barusan mengejek dan mempermalukan Tari sebagai penipu. Padahal semua yang dikatakannya ternyata benar.


Dan entah kenapa dia merasa tidak suka melihat mantannya itu disentuh oleh pria yang mengaku sebagai suaminya itu?


"Benarkah?" Fajar menatap Tari, Moza dan Darren dan bertanya untuk memastikan kebenaran cerita Tari.


"Ya sudah King. Apakah perkenalannya sudah cukup? Bisa kita makan sekarang? Aku sudah sangat lapar" Ucap Tari merengek sambil menggandeng lengan suaminya.


"Iya baiklah. Ayo, kita keruanganku saja" Fajar menuntun Tari untuk meninggalkan ruang resepsionis itu.


Meninggalkan orang-orang yang menatap mereka dengan Tatapan melongo. Moza rasanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perasaan cemburu dan emosi melandanya, mengetahui pria yang sudah membuatnya benar-benar merasakan jatuh cinta, ternyata sudah lebih dulu menjadi milik Tari!


Lagi-lagi dia kalah dari saudara tirinya itu?! Kenapa Tari selalu mendapatkan apa yang diinginkannya?! Dan dia selalu saja kebagian bekasnya!


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Fajar dan Tari sedang menyantap makan siang mereka diruangan Fajar. Fajar tampak sangat menikmati masakan istrinya dengan lahap. Masakan yang sudah sangat melekat dilidahnya dan membuatnya ketagihan. Sesekali dia menyuapi Tari dengan penuh cinta sambil bercengkrama ria.


"Jadi.... Moza itu saudara tirimu? Orang yang dulu pernah kamu ceritakan sebagai penyebab....?" Tanya Fajar memastikan dengan pelan dan ragu.


Dia masih ingat betul seperti apa cerita Tari tentang keluarganya, saat mereka berbagi cerita dipantai dulu. Namun dia tidak menyangka kalau saudara tiri yang dimaksud oleh istrinya itu adalah Moza. Karyawan magangnya sendiri.


Tari mengangguk sendu. "Iya, dia orangnya. Kamu sendiri, kapan mengenalnya? Kok dia bisa menjadi karyawan magang diperusahaanmu?" Tari menatap Fajar dengan tatapan menyelidik.


Dia kembali teringat insiden pelecehan yang dulu dilakukan Fajar terhadapnya. Dimana dia merasa dijebak oleh Moza yang menghubunginya, dan mengajaknya bertemu dicafe malam itu.


Namun tiba-tiba dia dibekap dari belakang oleh pria yang tak lain adalah Fajar. Dan saat itu dia sempat melihat Moza tersenyum menyaksikan dirinya diseret.


Dan hari ini dia mengetahui bahwa suaminya memang mengenal Moza. Bahkan mereka berstatus sebagai atasan dan bawahan?


Sekarang Tari jadi merasa takut kalau tuduhannya terhadap Fajar yang bekerja sama dengan Moza memang benar adanya. Dan yang lebih membuatnya takut lagi adalah, bagaimana kalau mereka memiliki hubungan yang lebih jauh lagi? Dan selama ini mereka bersekongkol untuk menjebaknya.


Pikiran-pikiran semrawut itu membuat Tari sangat takut dan gelisah. Dia baru saja merasakan kebahagiaan menjalani pernikahannya bersama Fajar, sang suami tercinta. Dan dia takut jika cinta dan kebahagiaan yang dirasakannya selama ini adalah semu dan palsu, yang cepat atau lambat akan terenggut darinya.


Fajar mengangguk. "Ya sejak dia magang disini. Kan itu sesuai rekomendasi dari universitasnya. Kenapa? Kamu masih berpikir kalau, aku sudah mengenalnya sebelum kita menikah? Dan aku bekerja sama dengannya untuk melecehkanmu pada malam itu?" Tanya Fajar seraya menatap Tari dengan intens, karena dia seakan mengerti isi pikiran istrinya.


Karena dia masih ingat dulu Tari pernah menuduhnya bersekongkol dengan Moza untuk melecehkannya malam itu.


Tari tidak menjawab. Dia hanya menundukkan wajahnya yang tampak sedih dan ragu. Berusaha menimbang antara harus mempercayai suaminya atau tidak. Melihat hal itu Fajar merangkum wajah Tari, dan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


"Queen, aku berani bersumpah atas nama almarhum kedua orang tuaku. Aku tidak tau apapun tentang kejadian malam itu. Aku kenal Moza, karena dia magang disini. Dan jujur, sampai saat ini aku masih belum bisa mengingat apapun tentang malam itu. Jadi kalaupun benar saat itu dia menjebakmu, aku benar-benar tidak tau apapun. Kamu percaya kan padaku?" Lirih Fajar, berusaha meyakinkan istrinya dengan tatapan dalam.

__ADS_1


Tari memutuskan untuk mempercayai pengakuan suaminya, karena dia bisa melihat kejujuran dan kesungguhan melalui mata lelaki itu.


__ADS_2