
Enak saja Fajar bersenang-senang bersama calon anaknya yang akan lahir sebentar lagi! Sampai kapanpun dia tidak akan pernah rela, apa yang seharusnya menjadi miliknya dinikmati oleh sibedebah itu! Bagaimanapun caranya dia harus bisa mendapatkan mereka kembali!
Apalagi bayi itu adalah satu-satunya keturunan yang dia miliki, yang akan menjadi penerusnya kelak! Dia tidak rela Fajar selalu berhasil merebut apa yang dimilikinya! Seperti dulu dia merebut papanya sehingga meninggalkannya dan mamanya. Dan sekarang, dia akan merebut putrinya juga?!
Begitu mobil suaminya sudah tidak terlihat lagi, Tari membalikkan badannya dan berjalan memasuki gedung kantor itu.
Meski merasa kesal dengan tingkah suaminya yang membuatnya malu dihadapan orang sebanyak ini, namun kekocakan dan keromantisan lelaki itu, sudah membuatnya menjadi wanita yang paling bahagia didunia.
Dulu dia pikir hidupnya sudah hancur dan nestapa. Ternyata benar kata orang, semua akan indah pada waktunya.
Gerald yang sudah tidak tahan lagi bersembunyi, memutuskan untuk keluar. Mereka pun bertemu didepan pintu masuk gedung itu. Tari terkejut saat atasannya itu tiba-tiba muncul didepannya. Sudah hampir dua minggu setelah kecelakaan itu, dia tidak pernah bertemu dengan kakak iparnya itu.
Berhadapan dengan tari dalam jarak yang sangat dekat seperti ini, membuat jantung Gerald kembali berdegub dengan kencang.
Sial! Kenapa semakin lama wanita ini semakin tampak cantik dan menggoda dimatanya?! Apakah dia menang sudah jatuh cinta pada wanita yang pernah menjadi korban pelecehannya ini? Apakah selain menginginkan anaknya, dia juga menginginkan ibunya? Ini benar-benar gila!
"Eh, selamat pagi Pak" Suara teguran Tari yang terdengar lembut, sopan dan penuh hormat mengejutkan Gerald dari lamunannya yang sedang mengagumi perempuan itu.
"Pagi. Akhirnya kamu masuk lagi. Saya pikir kamu sudah resign" Jawab Gerald datar berlagak cuek.
"Tidak kok Pak. Kan saya disini karyawan magang. Jadi mana bisa saya resign sesuka hati? Nanti, kampus yang ikut kena imbasnya. Kan saya hanya cuti. Bapak tau sendiri apa alasannya. Oh ya Pak, bicara soal kecelakaan kemarin, Bapak sendiri, terluka tidak? Maaf saya tidak sempat menjenguk Bapak. Karena saya sendiri harus bedrest, dan tidak boleh terlalu banyak beraktivitas. Karena kan saya sedang hamil" Tutur tari dengan nada santai dan ramah sambil melihat dan memegang perut bulatnya.
Meski lelaki ini selalu bersikap ketus terhadapnya, namun dia tetap harus bersikap sopan dan ramah layaknya bawahan terhadap atasannya. Lagipula menurutnya wajar saja pria ini bersikap arogan seperti itu. Dia bahkan tidak bisa bersikap baik terhadap adiknya sendiri. Jadi bagaimana mungkin bisa bersikap ramah dan hangat terhadapnya, yang hanya orang luar.?
Pertanyaan yang dilontarkan tari perihal kecelakaan tempo hari membuat Gerald tiba-tiba jadi gelagapan. Bagaimana mungkin dia bisa bilang kalau dia baik-baik saja? Sedangkan insiden itu sudah berhasil menghancurkan masa depan dan kejantanannya sebagai seorang pria!
__ADS_1
Tapi untuk berkata jujur jauh lebih tidak mungkin lagi. Karena itu sama saja dengan dia membuka kelemahan dan aibnya sendiri!
"Iya, saya baik-baik saja kok. Saya tidak terluka parah" Jawab Gerald gugup dan dingin.
Lalu dengan cepat dia berjalan masuk kembali kedalam. Meninggalkan tari yang menatapnya dengan tercengang. Sikap kakak iparnya itu membuatnya bingung dan penasaran. Kenapa tiba-tiba lelaki itu terlihat aneh? Apa dia salah bicara?
Tari menggidikkan bahunya dan memasang sikap masa bodo. Lalu dia juga ikut masuk kedalam. Dia tidak mau ambil pusing dengan sesuatu hal yang bukan urusannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tari sedang berkutat dengan laptop diatas meja kerjanya. Berkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tiba-tiba saja dia ingin sekali makan sop buah. Bahkan keinginan itu terasa sangat kuat dan tidak mampu ditahannya.
Begitu satu pekerjaannya selesai, dia segera mematikan laptopnya. Lalu menatap perutnya yang semakin besar.
"Anak Mommy ingin makan sop buah ya? Sebentar ya sayang, Mommy belikan dulu didepan sana" Tari tersenyum lembut sembari mengelus-elus perutnya.
Sesampainya didepan pekarangan gedung perusahaan itu, Tari tampak celingukan. Mengamati gerobak-gerobak pedagang kaki lima yang berjejeran dipinggir halaman.
Dia mengamati gerobak itu satu persatu. Ada gerobak berisi bakso, batagor, ketoprak dan lainnya. Namun dia tidak bisa menemukan gerobak berisi sop buah yang diinginkannya.
Pihak perusahaan memang memberi wewenang bagi para pedagang kaki lima untuk mangkal dan jualan didepan gedung itu, asalkan mereka rutin membayar pajak dan bisa menjaga ketertiban. Serta tidak mengganggu kenyamanan para karyawan serta penghuni gedung perusahaan itu.
"Baksonya Bu?" Seorang pria paruh baya dengan gerobak baksonya menawarkan dagangannya pada dengan ramah, saat melihat tari mendekati gerobaknya.
Pada saat itu pula, Gerald terlihat sedang berjalan keluar melewati pintu gedung kantor itu sembari bertelepon. Namun tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada Tari yang sedang berbincang dengan pedagang itu.
__ADS_1
"Mmm, tidak Pak, terima kasih. Sepertinya saya sedang ngidam ingin makan sop buah. Tapi kok, tukangnya gak ada ya? Biasanya saya lihat sering mangkal disini juga?" Tanya Tari dengan mata yang bergerilya kesekelilingnya.
"Saya dengar sih tukang sop buahnya sedang sakit. Jadi tidak bisa ikut jualan disini"
"Oh, begitu ya Pak? Kira-kira, ada tukang sop buah lain tidak ya disekitar sini?" Tanya Tari penuh harap.
"Kalau disekitar sini sih, setau saya tidak ada Bu. Kalaupun ada, biasanya dialun-alun kota. Jaraknya juga lumayan jauh dari sini. Bisa sekitar puluhan kilometer"
Jawaban pedagang itu membuat Tari menghela nafas dengan kecewa. Padahal seleranya pada sop buah sedang meningkat dan tidak bisa ditahan, akibat pengaruh bayinya. Namun dia tidak bisa mendapatkannya dengan mudah.
"Ya sudah terima kasih ya Pak infonya"
"Iya Bu, sama-sama" Pria itu manggut-manggut. Lalu kembali fokus pada dagangannya.
Gerald memperhatikan Tari yang mengelus-elus perutnya dengan wajah yang tampak kecewa, karena tidak mendapatkan makanan yang diinginkannya.
"Kamu ingin sekali sop buah ya sayang? Sabar ya. Kita hubungi Daddy dulu" Tari mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya.
Namun berkali-kali dia mencicit kesal karena ponsel Fajar tidak bisa dihubungi. Dia bingung harus bagaimana. Disatu sisi lidahnya sudah tidak tahan lagi, ingin mencicipi minuman yang dicampur dengan buah-buahan itu.
Namun dia tidak mungkin meninggalkan kantor ini, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Apalagi ini masih siang. Belum waktunya dia untuk meninggalkan tempat itu.
Melihat hal itu sebuah ide terbesit dipikiran Gerald. Dia tau wanita itu sedang ngidam. Dan itu karena pengaruh anaknya.
Mungkin ini kesempatannya untuk menunjukkan perhatiannya pada darah dagingnya. Dia juga ingin anaknya bisa merasakan perhatian dan kasih sayang darinya, ayah kandungnya. Bukan terus-terusan dari ayah palsunya itu!
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁