Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 29- Aku Akan Menikahinya


__ADS_3

"Setuju!!!"


Warga tetap bersikeras dengan pendiriannya, tanpa mau mempedulikan penjelasan kedua gadis itu. Mereka dengan kompak dan lantang menyorakkan keputusannya, yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


"Permisi-permisi, maaf ini ada apa ya ribut-ribut seperti ini?" Seru Tristan sembari menerobos kerumunan manusia itu, diikuti oleh Claudia.


Tari sedikit terkejut melihat kehadiran Papanya bersama istrinya dikosan itu. Kenapa mereka bisa ada disini? Mau apalagi mereka menemuinya? Apakah untuk menambah hinaan dan penderitaannya?!


Kenapa mereka harus datang disaat seperti ini?! Dia sudah sangat lelah berurusan dengan keluarganya yang tidak bisa diandalkan.


"Bapak dan Ibu ini siapa ya? Tolong ya jangan ikut campur, apalagi membela perempuan murahan seperti dia!" Seru salah satu dari mereka dengan mencibir Tari.


"Perempuan murahan? Maksudnya?" Tristan bertanya dengan kening mengernyit menatap Tari. Sementara Tari membuang mukanya. Raut wajahnya yang sebelumnya terlihat takut dan tegang, kini berubah menjadi dingin dan datar setelah kehadiran kedua orang itu.


"Lalu sebutan apalagi yang pantas untuk perempuan yang belum punya suami, tapi sudah hamil duluan, kalau bukan murahan atau pelacur namanya?!"


"Apa?! Hamil?!" Tristan terkesiap mendengar penjelasan salah satu warga. Dia menatap Tari dengan tatapan penuh tanya. Ekspresinya terlihat memendam rasa kesal dan amarah.


Tari tetap tidak terpengaruh ataupun merasa gentar, dengan tatapan tajam yang diberikan oleh Papanya.


"Sudah-sudah, tidak perlu buang-buang waktu lagi. Ayo sekarang juga cepat kamu angkat kaki dari kos-kosan saya!" Warga secara kompak mendekati Tari dan mulai kembali menyeretnya dengan kasar.


"Lepaskan, saya bisa jelaskan semuanya" Seru Tari yang berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman orang-orang itu. Namun mereka tidak mengindahkan, dan tetap pada pendiriannya untuk mengusir gadis itu.

__ADS_1


Ranty dan Tristan hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dengan ekspresi sedih dan prihatin. Mereka bingung harus bagaimana untuk menghentikan kebrutalan orang-orang itu terhadap Tari.


Sedangkan Claudia hanya menyunggingkan senyum tak peduli. Tidak sedikitpun ada rasa cemas dan iba dihatinya, melihat perlakuan brutal yang sedang dihadapi oleh putri sambungnya itu.


"Berhenti semuanya! Tolong tenang dulu!" Sebuah suara yang terdengar tiba-tiba membuat mereka semua terkejut. Spontan semua orang menoleh kearah sumber suara, yang telah mengacaukan aktivitas brutal mereka.


Mereka semua terpana melihat sosok pria muda, tampan dan rapi yang berdiri dihadapan mereka. Semua mata memandang lelaki asing itu dengan tatapan bertanya-tanya. Karena mereka merasa jika pria tampan itu, bukan bagian dari warga disekitar tempat tinggal mereka.


Kecuali Tari yang masih ingat betul wajah lelaki itu. Lelaki bejad yang telah merampas masa depannya! Membuatnya berada dalam situasi sulit seperti sekarang! Lelaki yang sangat dibencinya!


"Anda ini siapa lagi? Tolong jangan ikut-ikutan mencampuri urusan kami dengan wanita pelacur ini!" Warga kembali melanjutkan aktivitasnya. Mencengkeram Tari dan hendak menyeretnya lagi seperti tadi.


"Stop!!" Fajar kembali bersuara dengan nyaring. Dan lagi-lagi suaranya mampu menghentikan kebrutalan orang-orang itu.


"Sebelumnya saya minta maaf atas segala kekacauan ini. Saya lah lelaki yang telah melakukan pelecehan terhadapnya, hingga dia hamil seperti sekarang. Semua terjadi karena kesalahan saya. Karena pada malam itu, saya sedang mabuk berat, sehingga tanpa sadar saya meruda paksa wanita itu.


Jadi saya mohon, tolong jangan salahkan dia. Karena saya lah yang bersalah disini. Dan kalian tenang saja, karena saya tidak akan lari dari tanggung jawab saya. Saya akan segera menikahi dia" Tutur Fajar menjelaskan dengan datar dan berat hati.


"Anda serius, akan menikahi perempuan ini?" Tanya salah seorang warga dengan tegas memastikan.


"Iya saya serius. Dan saya tidak pernah bermain-main dengan ucapan saya. Beri kami waktu sekitar satu minggu untuk mempersiapkan pernikahan kami. Dan selama itu, tolong biarkan mereka berdua untuk tetap tinggal disini, hingga hari pernikahan tiba"


Dengan ekspresinya yang datar namun terdapat aura kesungguhan dalam setiap kata-kata yang dilontarkannya, Fajar mencoba bernegosiasi.

__ADS_1


Warga yang sebelumnya heboh dan riuh, seketika terdiam. Mereka kembali saling pandang dan berbisik. Tampaknya sedang mencoba menimbang-nimbang dan berdiskusi, untuk memutuskan permintaan Fajar.


"Baiklah, kami pegang ucapan anda. Kami akan biarkan wanita ini untuk tetap tinggal disini sampai kalian menikah. Tapi ingat ya, jika kalian sampai berbohong dan mempermaikan kami, maka bukan hanya perempuan ini yang akan kami usir dari sini, tapi kamu juga Ranty, harus ikut angkat kaki dari sini"


Ujar salah satu wanita yang akhirnya menyetujui permintaan Fajar. Namun juga ikut melontarkan kata-kata ancaman dengan nada tegas dan serius.


"Iya, saya janji. Kalian bisa pegang ucapan saya. Saya anggap masalah ini sudah selesai. Sekarang saya mohon dengan sangat, tolong kalian semua bubar, dan jangan lagi membuat keributan dengan mereka"


Sembari menyoraki, perlahan-lahan warga mulai bubar dan berlalu dari kosan kumuh itu. Membuat suasana kini menjadi hening, karena hanya tinggal mereka berlima saja ditempat itu. Tristan mendekati Tari dengan dengan tatapan marah dan kecewa. Tari membalasnya dengan tatapan dingin.


"Jadi benar, seperti ini kelakuanmu selama ini?! Papa pikir dengan kamu hidup diluar, kamu bisa introspeksi diri dan belajar dari kesalahanmu. Ternyata, kamu jauh lebih parah dari sebelumnya. Mau sampai kapan kamu hidup seperti ini terus?! Kamu tau, tadinya Papa hampir saja terpengaruh dengan alasanmu?


Hampir saja Papa mencurigai Mama Claudia dan Moza, seperti yang kamu katakan waktu itu. Tapi ternyata, ini memang murni kesalahanmu sendiri. Tidak ada hubungannya dengan siapapun! Kamu yang tidak bisa menjaga diri dan kehormatanmu sebagai wanita!


Sekarang alasan apalagi yang akan kamu berikan untuk membela dirimu, saat semua orang tau tentang kehamilanmu?! Kamu masih mau bilang, kalau Moza dan Mama Claudia yang memfitnah dan menjebakmu lagi?! Apakah itu jawabanmu lagi kali ini?!"


Tristan mencecar dan memaki-maki putrinya dengan menggebu-gebu. Hatinya yang sudah mulai melunak, kini kembali mengeras pasca insiden barusan, yang membuatnya kembali merasa malu mengakui gadis itu sebagai putrinya.


Tari mengatupkan mulutnya dengan geram. Kata-kata yang dilontarkan Papanya bernada rendah, namun terdengar sangat menusuk hingga keulu hatinya! Dia sudah menduga jika ayahnya memang tidak bisa dia andalkan saat ini. Karena pengaruh istri dan anak tirinya sangat kuat!


Rasanya percuma saja dia membela dirinya sekarang. Dia yakin tidak akan ada pengaruh apapun untuk lelaki itu.


"Aku rasa aku tidak perlu memberikan jawaban apapun, pada orang yang tidak ingin mendengarnya. Orang yang sudah menutup telinganya rapat-rapat untuk mendengarkan suaraku. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang anda pikirkan tentang aku. Yang jelas jawabanku masih tetap sama. Anak tiri kesayanganmu itulah yang sudah menjebakku, hingga semua ini terjadi padaku"

__ADS_1


__ADS_2