Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 34- Aku Bersedia Menikah Denganmu


__ADS_3

"Karena aku ingin menebus kesalahanku. Kalau kamu takut aku akan menyakitimu lagi, kita bisa membuat perjanjian dengan kamu sebagai pihak pertamanya. Dengan begitu kamu bisa menuntutku jika aku sampai melanggar.


Tapi jika kamu masih bersikeras untuk menolak, maka baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi aku mohon dengan sangat, tolong jangan berbuat nekat lagi seperti tadi. Karena nyawamu dan bayi itu terlalu berharga"


Tutur Fajar dengan penuh permohonan. Karena gadis itu tak kunjung bergeming dan menjawabnya, akhirnya dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.


"Aku terima tawaranmu. Aku bersedia menikah denganmu" Ucap Tari yang seketika langsung membuat kaki Fajar berhenti. Dia berbalik dan menatap perempuan yang tidak membalas tatapannya itu.


"Aku melakukannya demi bayi ini" Ucap Tari dengan datar sembari memegang dan menatap perutnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Eh Tuan sudah pulang? Mau saya buatkan teh atau kopi Tuan?" Sapa Bu Zaitun begitu Fajar tiba dirumahnya saat hari sudah petang.


"Tidak usah. Aku tidak haus. Nanti kalau aku haus, aku akan minta Ibu untuk membuatkannya" Tolak Fajar dengan nada hambar.


"Ya sudah kalau itu maunya Tuan" Bu Zaitun berbalik dan berjalan meninggalkan tuan mudanya itu. Begitupun dengan Fajar yang berjalan mendekati meja yang ada diruangan foyer itu. Dia terpana melihat kartu undangan yang ada diantara vas bunga diatas meja itu.


Bu Zaitun berbalik dan melihat Fajar sedang memegang undangan itu. "Itu undangan aqiqahan.... Anaknya Nyonya Zahra dan Tuan Rahul Tuan" Ucapnya dengan nada lirih dan tatapan berempati.


Bu Zaitun merasa sangat kasian melihat tuannya itu. Dia tau jika Fajar masih belum bisa move on dari wanita itu. Dan hal itu terbukti dari sikapnya yang masih terlihat dingin dan murung, seperti orang banyak pikiran. Pasti karena memikirkan Zahra.

__ADS_1


Fajar membuka dan membaca undangan itu. Dan benar saja, disana tercetak dengan jelas nama anak Rahul dan Zahra sebagai bintang utama acara itu. Fajar tersenyum kecut. Dia ikut bahagia untuk kebahagiaan keluarga kecil itu. Meskipun hatinya masih terasa sakit setiap kali mengingat mereka.


Betapa beruntungnya Rahul. Bisa menikah dan memiliki anak dari wanita yang dicintainya. Putra kecil yang lucu, hasil dari cinta mereka berdua.


Tidak seperti dirinya, yang sebentar lagi akan terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang perempuan yang tidak dicintainya akibat sebuah insiden. Perempuan yang akan memberinya anak dari hasil pemerkosaan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam kembali berganti dengan pagi. Fajar kembali ke Jakarta, kekediaman keluarga besar Dirgantara yang sedang bersuka cita merayakan acara aqiqahan jagoan kecil kesayangan mereka itu. Dia ikut menjadi salah satu tamu undangan dan saksi, dari serangkaian acara itu dengan perasaan hampa.


Dalam kesempatan itu pula, dia memberikan undangan pernikahannya pada mereka yang menanggapi kabar pernikahannya dengan bahagia yang terpancar dengan sangat jelas diwajah seluruh keluarga besar itu.


Mereka pikir dia sangat bahagia dengan pernikahan ini. Andai mereka tau, bahwa saat ini dia sedang merasakan nestapa, karena harus menikahi seorang gadis hanya demi mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bukan karena cinta.


Andai mereka semua tau, jika saat ini dia sedang berusaha menahan rasa sakit hati, karena harus melihat dan merelakan perempuan yang dicintainya, untuk hidup bahagia bersama suami tercintanya. Dan dia juga harus melihat senyum bahagia perempuan itu mendengar kabar pernikahannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah tiga hari dirawat dirumah sakit, akhirnya Tari sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya yang sudah stabil. Fajar memerintahkan para bodyguardnya untuk menjemput gadis itu bersama sahabatnya, Ranty yang dengan setia menemani Tari selama dia dirawat dirumah sakit.


Fajar menyuruh mereka untuk membawa kedua gadis itu kesebuah hotel bintang lima yang ada dikota itu. Karena dia sudah membooking kamar presidential suite disana, sebagai tempat tinggal Tari untuk sementara waktu hingga hari pernikahan mereka tiba.

__ADS_1


Karena Fajar merasa khawatir jika gadis itu kembali lagi kekosan dan harus kembali menghadapi para warga bar-bar, yang mungkin saja masih mencibir dan menggunjingkannya. Dia takut hal itu akan membuat Tari kembali beban pikiran. Dan akhirnya berbuat nekat lagi seperti waktu dijembatan tempo hari.


"Untuk sementara waktu hingga hari pernikahan tiba, Nona Tari akan tinggal disini. Karena Tuan Fajar merasa khawatir jika anda kembali lagi kekos-kosan, dan menjadi bahan gunjingan orang-orang disekitar tempat itu lagi. Nanti juga akan ada seorang ART yang akan menemani Nona disini. Oh ya, ini titipan dari Tuan Fajar untuk anda"


Salah seorang bodyguard menjelaskan panjang lebar. Kemudian menyodorkan sebuah kartu black card pada Tari yang melihatnya dengan tatapan hampa.


"Tolong sampaikan pada tuanmu, kalau saya sangat berterima kasih karena dia sudah menampung saya disini. Tapi maaf, saya sama sekali tidak membutuhkan ini" Tari mendorong tangan bodyguard yang memegang kartu itu dengan lembut dan pelan.


"Begitupun dengan ART yang akan kalian kirimkan. Saya bisa kok melakukan semuanya sendiri. Saya bukan gadis manja yang tidak bisa menjaga diri saya sendiri. Lagipula disini juga ada Ranty yang akan selalu menemani saya. Jadi saya rasa, saya tidak membutuhkan kehadiran orang lain lagi" Sambungnya dengan datar.


"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Fajar. Sebaiknya Nona terima saja kartu ini. Selama seminggu disini, tentunya Nona juga membutuhkan biaya untuk hidup. Jika Nona tidak mau menggunakannya untuk keperluan anda sendiri, anda bisa menggunakannya untuk keperluan bayi anda.


Entah itu untuk cek kandungan, beli vitamin atau susu ibu hamil. Terserah, yang penting Nona dan bayi itu terjamin kebutuhannya. Lagipula Nona Ranty juga kan bekerja. Tidak bisa setiap saat menemani anda disini. Jadi lebih baik ada orang lain yang menemani anda, selama Nona Ranty tidak ada"


Sanggah bodyguard itu yang tetap bersikeras menyematkan kartu black card itu ketangan Tari.


"Sudah Tar terima saja. Kan kamu dan bayimu juga butuh biaya untuk hidup. Mungkin ini salah satu bentuk pertanggung jawaban Dokter Fajar terhadapmu. Lagipula benar juga apa katanya. Aku kan harus kerja. Tidak bisa setiap saat menemanimu. Jadi biarkan saja ART itu menemanimu disini selama aku pergi. Oke?" Bisik Ranty.


"Ya sudah kalau begitu kami permisi keluar dulu. Sesuai dengan perintah Tuan Fajar, kami akan berjaga diluar. Ayo" Kelima bodyguard utusan Fajar keluar, dan meninggalkan kedua gadis itu dikamar yang super besar dan mewah, dengan segala ruangan dan fasilitas yang lengkap dan elegan.


Setiap ruangan dan properti yang ada ditempat itu didominasi dengan desain bernuansa putih dan krem keemasan. Tari dan Ranty memilih beristirahat sambil bercengkrama diruang santai yang nyaman.

__ADS_1


__ADS_2