Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 30- Aku Tidak Sudi Menikah Denganmu!!


__ADS_3

"Tapi aku sangat yakin, jika anda tidak akan pernah mempercayai hal itu. Dan itu hak anda. Aku tidak bisa apa-apa untuk itu. Dan jika anda merasa malu dengan keadaanku saat ini, maka caranya sangatlah mudah.


Anggap saja jika anda tidak pernah memiliki putri yang bernama Mentari. Atau anda juga bisa menganggapnya sudah mati. Dan aku juga akan mengganggap, bahwa diriku adalah yatim piatu yang sudah tidak memiliki orang tua lagi"


Tutur Tari dengan nada tegas. Matanya tampak memerah, berusaha menahan tangis dan rasa kecewanya. Berusaha untuk tegar dan tidak lemah.


"Tari!!!" Pekik Tristan sembari mengangkat tangannya. Ucapan yang dilontarkan Tari terdengar sangat pedas ditelinganya, hingga membuatnya kembali naik pitam berhadapan dengan putri semata wayangnya itu.


"Tuan tenang" Fajar menahan tangan Tristan sebelum sampai mendarat dengan keras diwajah Tari.


"Tolong jangan ikut campur! Ini urusan saya dengan anak saya! Kamu bukan siapa-siapa disini! Jadi tidak perlu berlagak seakan-akan kamu bagian dari kami!" Tristan menatap Fajar dengan sorot mata menahan emosi, mengetahui kenyataan bahwa pria itulah yang telah menjerumuskan putrinya, hingga dia hamil seperti sekarang.


"Maaf Tuan, tapi aku adalah calon suaminya. Dan aku juga ayah dari bayi yang dikandungnya. Jadi aku tidak bisa membiarkan siapapun menyakiti Tari termasuk anda. Sekalipun dia adalah putri anda. Tapi dia juga ibu dari calon anakku. Aku benar-benar minta maaf"


Sanggah Fajar dengan suara rendah dan ekspresi yang masih datar. Sikap kedua orang itu membuat Tristan semakin merasa geram. Dia kembali melirik Tari.


"Dengar Tari, kamu mungkin bisa menyangkal, atau mengatakan pada seluruh dunia bahwa kita ini bukan siapa-siapa. Tapi ingatlah satu hal ini, darah yang mengalir dalam tubuhmu itu adalah darah Papa. Dan sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan itu, sekalipun kamu sangat menginginkannya...." Tristan memperingatkan dengan suara rendah. Mulai merasa kualahan dengan perdebatan itu.


"Kalau begitu silahkan kuras saja semua darah anda yang ada dalam tubuh saya! Supaya tidak ada hubungan apapun lagi diantara kita, termasuk hubungan darah! Karena saya juga sudah lelah berurusan dengan istri dan anak tiri anda yang licik itu! Hidup saya sudah hancur karena kelicikan mereka!


Dan sebagai satu-satunya orang tua yang masih saya miliki, anda juga tidak bisa saya harapkan saat ini! Karena anda jauh lebih memilih mereka ketimbang saya! Orang yang anda sebut didalam tubuhnya mengalir darah anda!

__ADS_1


Jadi sebaiknya kita akhiri saja hubungan apapun yang ada diantara kita! Mungkin jika kita menjauh, mereka akan senang dan akan membiarkan saya untuk hidup tenang!" Seru Tari dengan berkobar-kobar dan mata yang berkaca-kaca. Tangisnya sudah hampir pecah.


"Tari tenang, jangan emosi. Ingat kamu sedang hamil" Ranty merangkul Tari dan menggusuk-gusuk punggungnya dengan lembut. Berusaha menenangkan sahabatnya. Kemudian dia melirik Tristan.


"Maaf Om kalau saya lancang, tapi saya mohon tolong Om tinggalkan tempat ini. Tolong jangan terus-terusan menghakimi dan mengejatj Tari. Biar bagaimanapun juga, saat ini dia sedang mengandung cucu Om. Darah daging Om Tristan juga"


Pinta Ranty dengan nada sopan dan penuh permohonan. Jujur dia merasa tidak enak, karena harus turut campur dalam urusan ayah dan anak itu. Namun dia tidak ada pilihan lain, selain harus segera menghentikan keributan berantai itu, demi menjaga kondisi emosi Tari yang sedang berbadan dua.


"Ayo Ma, tidak ada gunanya kita tetap berada disini. Lebih baik kita pergi saja" Ajak Tristan dengan geram. Dia mengajak istrinya, namun tatapannya masih dengan tajam tertuju pada Tari. Sedangkan Tari tampak termenung dengan tatapan kosong.


"Iya Pa" Claudia mengangguk dan mengikuti suaminya, meninggalkan pekarangan kosan itu. Tari menatap kepergian dua orang itu dengan hampa.


"Ayo Ran kita masuk" Ajak Tari dengan ekspresi datar, tanpa menghiraukan keberadaan Fajar, dan tanpa menoleh pada Ranty yang berdiri disampingnya.


"Tunggu, tunggu dulu"


"Mau apalagi?! Kamu masih belum puas sudah menghancurkan hidup dan masa depanku?! Sudah membuatku dicap sebagai wanita kotor dan murahan oleh semua orang, termasuk keluargaku sendiri?! Untuk apa sekarang kamu masih menunjukkan wajahmu didepanku?!" Tanya Tari dengan emosi yang belum sepenuhnya reda.


"Aku tau semua ini terjadi karena kesalahanku. Aku tau jika aku sudah menghancurkan masa depanmu. Aku sadar jika permintaan maafku tidak akan pernah cukup untuk menebus kesalahanku padamu. Kamu berhak menyebutku sebagai lelaki bajingan atau brengs*k, terserah kamu.


Tapi tolong percayalah, aku tidak pernah bermaksud untuk melecehkanmu pada malam itu. Semua terjadi karena saat itu aku sedang mabuk berat. Aku bahkan sama sekali tidak ingat, apa yang sudah aku lakukan hingga saat ini.

__ADS_1


Dan aku benar-benar ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku padamu. Aku ingin menikahimu. Supaya bayi itu bisa memiliki ayah, dan status yang jelas. Jadi tolong pikirkan tawaranku baik-baik...."


Tutur Fajar lirih dan penuh penyesalan. Guratan rasa bersalah sangat terlihat jelas dari raut wajah tampannya.


PLAK!


Penjelasan Fajar malah membuat Tari semakin berang. Hingga dia melayangkan tamparan keras kewajah lelaki itu.


"Tari! Apa yang kamu lakukan?" Seru Ranty yang terkesiap melihat tindakan kasar sahabatnya.


"Gampang sekali ya kamu bilang tidak mengingat apapun setelah apa yang sudah kamu lakukan! Hingga saat ini aku masih mengingatnya dengan sangat jelas! Bagaimana tubuh dan tangan kotormu menjamah setiap inci tubuhku dengan sangat brutal layaknya hewan.


Meskipun saat itu kamu menutup mataku hingga aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas, tapi sentuhanmu masih aku ingat hingga saat ini! Masih terngiang-ngiang dan membekas dalam ingatanku sampai detik ini, dan membuatku begitu trauma! Dan sekarang kamu datang dengan seenaknya dan mengajakku untuk menikah?!


Kamu pikir masalahnya bisa selesai dengan mudah karena pernikahan?! Kamu pikir aku sudi, menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai?! Lelaki yang sudah menghancurkan hidupku?! Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sekarang silahkan kamu pergi dari sini, karena aku sudah tidak ingin berurusan lagi denganmu!"


Teriak Tari dengan penuh luapan emosi dan deraian air mata yang sedari tadi ditahannya. Puas memaki-maki pria itu, dia berlari masuk kedalam kosan dengan perasaan kalut.


"Tari tunggu!" Seru Ranty namun tak diindahkan


oleh gadis itu. Ranty menoleh dan menatap Fajar.

__ADS_1


"Mmm, maaf ya Mas. Saya rasa Tari sedang butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan pikirannya. Masalah ini benar-benar membuatnya sangat terguncang. Ditambah lagi dengan insiden yang baru saja terjadi. Tentu membuat dia semakin tertekan.


Saya harap anda bisa memberinya waktu sebentar untuk berpikir dengan jernih. Tapi sebelumnya saya ingin bertanya, apa anda benar-benar serius dengan ucapan anda? Apa anda yakin, akan mempertanggung jawabkan perbuatan anda dengan menikahi Tari?" Tanya Ranty dengan ragu.


__ADS_2