
"Ka-kamu ngapain disini? Apalagi yang sudah kamu lakukan padaku?" Seru Tari dengan heboh sembari meraba-raba tubuhnya sendiri. Detik berikutnya dia tersadar masih berpakaian lengkap. Yang mengartikan bahwa tidak terjadi apapun diantara mereka berdua.
Fajar tersenyum sinis sambil geleng-geleng kepala. "Baiklah, biar aku jelaskan ya. Semalam saat kita pulang, kamu ketiduran dalam mobil. Lalu aku membawamu kekamar ini. Tapi setelah itu, kamu malah menarik dan memeluk tanganku. Bahkan kamu juga mengigau memanggil-manggil Papamu. Jadi bukan salahku kan? kalau semalaman kita tidur berdua disini. Sudahlah aku mau mandi dulu"
Fajar bercerita dengan santainya. Kemudian dia turun dari ranjang itu dan berjalan menuju pintu keluar dari kamar.
Tari berusaha mengingat kejadian yang terjadi dialam bawah sadarnya semalam. Dia seperti bermimpi bertemu dengan papanya. Lalu papanya hendak pergi meninggalkannya. Agar hal itu tidak terjadi, dia menarik tangan dan memeluk papanya dengan erat.
Ya Tuhan.... Sepertinya bertemu papanya direstoran semalam, membuatnya sampai terbawa hingga kealam mimpi.
Karena jujur semarah apapun dia pada papanya, dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia sangat merindukan kebersamaan mereka yang dulunya penuh dengan keakraban dan kehangatan, sebelum kedatangan kedua wanita ular itu yang menghancurkan semuanya!
Dia sangat malu karena tanpa sadar sudah menjadikan Fajar sebagai pelampiasan. Bahkan semalaman dia tertidur sambil memeluk lelaki itu dengan erat?!
Tari benar-benar malu bila mengingat semua ini. Semoga saja lelaki itu tidak sampai berpikiran yang macam-macam terhadapnya. Sekalipun dia mendambakan bisa berbagi tempat tidur dengan suaminya, namun bukan dengan cara yang memalukan seperti ini.
🍁🍁🍁🍁🍁
Usai mandi dan berpakaian rapi, Tari langsung bergegas keruang makan. Disana dia melihat Fajar yang sedang duduk menyantap sarapannya. Pria itu juga sudah berpakaian rapi dan sudah bersiap-siap hendak menuju tempat kerjanya. Disana juga ada Bu Zaitu yang sedang menghidangkan makanan didepan Fajar.
Langkah kaki Tari langsung terhenti begitu melihat suaminya. Dia berdiri dengan ragu harus melanjutkan langkahnya dan ikut bergabung bersama lelaki itu dalam satu meja, atau berbalik dan enyah saja dari ruang itu.
Tiba-tiba Bu Zaitun menoleh dan melihat Tari yang sedang berdiri termenung.
"Eh Nyonya. Silahkan duduk. Sarapannya sudah siap" Bu Zaitun mempersilahkan Tari dengan sopan seraya tersenyum. Suaranya mengagetkan Tari dari lamunannya. Fajar yang sedang asik sarapan ikut menoleh, begitu menyadari kehadiran istrinya diruangan itu.
"Iya Bu, terima kasih" Ujar Tari dengan gugup dan salah tingkah.
__ADS_1
Karena tidak memiliki alasan yang tepat untuk berlalu dari ruangan itu, mau tidak mau Tari berjalan untuk duduk dikursi yang telah ditarik oleh Bu Zaitun untuknya.
Usai melaksanakan tugasnya, Bu Zaitun meninggalkan sepasang suami istri itu. Meninggalkan Tari dalam kecanggungan. Pasalnya, sejak menikah mereka belum pernah makan dalam satu meja. Tentu saja dia merasa canggung jika ini menjadi kali pertama.
Ditambah lagi dengan insiden tadi pagi yang masih membuatnya malu. Dimana semalaman dia memaksa lelaki itu untuk tidur dengannya. Rasanya dia tidak memiliki muka untuk berhadapan dengan suaminya itu.
Fajar melanjutkan sarapannya dengan lahap dan santai. Wajahnya tampak cengengesan. Sepertinya Tari sudah bisa menebak apa yang membuat pria itu bersikap demikian. Pasti karena kejadian tadi pagi. Dia benar-benar sangat malu.
Andai disini ada lubang semut, pasti dia sudah masuk kedalam sana sampai rasa malunya menghilang. Tapi kenapa Fajar bisa sesantai ini? Ah, mungkin apa yang terjadi tadi pagi terasa lucu baginya.
"Oh ya, aku ada sesuatu untukmu" Ucap Fajar yang seketika memecah keheningan diantara mereka.
"Apa?"
"Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahunmu. Sebenarnya semalam aku sudah menyiapkan kejutan direstoran itu. Tapi karena acara makan malam kita saat itu batal, jadi sekarang aku berinisiatif untuk menggantikannya. Ini" Fajar mengeluarkan amplop putih dari dalam saku celananya, dan meletakkannya diatas meja didepan Tari.
"Buka saja. Dan lihat sendiri isinya" Fajar tersenyum santai.
Tari membuka amplop itu dan mengeluarkan kertas putih yang menjadi isinya, untuk kemudian dibaca. "Surat rekomendasi kampus baru? Kamu sudah mendaftarkan kuliahku?" Dia menatap Fajar dengan terkejut. Dia tidak menyangka jika suaminya akan memberinya hadiah ulang tahun dengan cara seperti ini.
"Iya"
"Untuk apa kamu melakukan ini semua?"
"Ya.... Untuk sedikit mengisi waktu luangmu. Supaya kamu punya kesibukan dan tidak bosan, sampai mencari kesibukan dengan membersihkan rumah seperti kemarin. Kan statusmu disini sebagai istriku, bukan pelayanku"
"Sebelumnya terima kasih banyak untuk semua ini. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya" Tari melipat kembali surat itu dan memasukkannya kedalam amplop, lalu meletakkannya didepan Fajar.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya kamu ingin sekali, melanjutkan pendidikanmu lagi?" Fajar bertanya dengan bingung.
"Iya aku memang sangat ingin bisa melanjutkan kuliahku lagi. Tapi aku sudah bertekad akan melakukannya dengan uang dari hasil jerih payahku sendiri. Bukan dengan uangmu. Jika seperti ini, aku takut nanti orang-orang akan beranggapan kalau aku hanya memanfaatkanmu saja. Menikahimu karena ingin hidup enak" Tutur Tari dengan tegas.
"Siapa yang akan berpikir seperti itu? Bukankah kita ini sudah menjadi suami istri? Itu artinya, aku punya tanggung jawab penuh terhadapmu. Dan apapun yang aku lakukan, itu memang sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku sebagai suamimu. Dan orang lain tidak berhak untuk ikut campur. Karena itu urusan rumah tangga kita. Lagipula apa yang kita lakukan juga tidak mengganggu orang lain kan?" Tutur Fajar yang membuat Tari terdiam dan tidak bisa membantah lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hari ini merupakan hari pertama Tari kembali melanjutkan kuliahnya dikampus yang baru. Dia tampak begitu antusias mempersiapkan dirinya.
Dia mengenakan pakaian casual dengan plain shirt berwarna putih dengan lengan terbuka, dipadukan dengan skynni pants. Rambut panjangnya digerai dengan sedikit dibagian depan sebelah kiri diputar dan dijepit.
Dibalik pintu yang dibiarkan sedikit terbuka, Fajar mengintip aktivitas istrinya yang sedang berdandan. Senyum takjub tersungging dibibirnya melihat kecantikan istrinya. Lama-lama dia bisa jatuh cinta pada perempuan itu kalau begini.
Tari yang masih asik dengan dandanannya terkejut, saat menyadari kehadiran Fajar yang mengamatinya secara diam-diam. Entah sejak kapan pria itu berada didepan pintu kamarnya.
"Ka-kamu ngapain disini?"
"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh, melihat istriku sudah siap atau belum" Celetuk Fajar dengan sedikit menggombal. "Kamu cantik" Lanjutnya seraya memandangi Tari dengan terpesona. Membuat wanita itu tersipu malu.
"Terima kasih" Tari menundukkan wajahnya dengan salah tingkah.
"Ayo, aku akan mengantarmu" Ajak Fajar yang lantas menggandeng tangan Tari dan berjalan keluar dari kamar itu, tanpa menunggu jawaban persetujuan maupun penolakan dari istrinya.
Dengan gugup dan deg degan, Tari pasrah mengikuti ajakan suaminya yang menurutnya begitu mesra dan membuatnya terlena.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1