
Fajar mengantar Tari kekampusnya. Setelah mengemudikan mobilnya selama beberapa menit, mereka akhirnya tiba didepan sebuah gedung universitas yang megah dan luas. Fajar keluar dari mobil, dan membukakan pintu untuk istrinya.
"Sudah sampai dikampusmu yang baru. Semoga kamu betah ya, kuliah disini" Ucap Fajar dengan lembut dan seulas senyum.
"Terima kasih banyak untuk semuanya" Tari tersenyum simpul.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku hanya melakukan tugasku sebagai suami. Sekarang masuklah. Nanti telat lagi"
"Iya, aku duluan. Hati-hati dijalan" Ujar Tari dengan sedikit gugup. Sejak menikah, baru kali ini mereka saling berpamitan saat hendak pergi. Dan hal seperti ini belum terbiasa baginya, hingga dia merasa canggung.
"Kamu juga, baik-baik disini" Ucap Fajar yang kemudian menunduk dan memegang perut Tari dengan lembut. "Little, jangan nakal ya. Jadi anak baik. Ingat, jangan sampai membuat mamamu sakit. Papa pergi dulu. Sampai ketemu lagi nanti"
Fajar berbicara sambil menatap dan mengelus-elus perut Tari yang masih rata, lantaran usia kehamilannya yang baru menginjak bulan ketiga.
Dia berbicara seakan-akan sedang berbicara dengan anaknya yang belum lahir, namun sudah sangat dia sayangi. Karena kehadiran anak inilah yang membuatnya seakan menemukan kembali harapan hidupnya yang telah sirna.
Sedangkan Tari seketika menjadi tegang dengan tindakan suaminya. Tubuhnya terasa kaku. Jantungnya kembali berdegup tak beraturan. Perasaan hangat dan nyaman menyelimutinya.
Setelah beberapa menit mengelus-elus perut istrinya dan membuat hati wanita itu seakan dah dig dug, akhirnya Fajar melepaskannya dan kembali berdiri dengan tegak.
"Sana masuk. Tunggu apalagi?" Ucap Fajar yang membuat Tari tersentak dari perasaannya yang seakan sedang terbang entah kemana, menikmati sentuhan lembut dan hangat yang dilakukan pria itu pada perutnya.
"Iy-iya" Tari tampak salah tingkah saat berjalan menjauhi suaminya yang memandanginya dengan senyum lucu seraya geleng-geleng kepala, sebelum dia kembali masuk kedalam mobilnya, yang langsung melaju meninggalkan lingkungan kampus elit itu.
Tari berjalan memasuki pekarangan kampus barunya dengan langkah pelan. Matanya tampak bergerilya menatap kesekelilingnya. Suasana ditempat itu masih terasa baru dan asing baginya. Tidak ada satupun orang yang dikenalnya.
Namun dia tetap melempar senyum ramah pada setiap mahasiswa yang lewat dan berlalu lalang dihadapannya, demi formalitas dan menimbulkan kesan sopan.
__ADS_1
"Tari!" Tiba-tiba saja terdengar suara nyaring seorang wanita yang memanggil namanya.
Spontan dia langsung menoleh untuk melihat sipemilik suara itu. Mata Tari seketika terbelalak melihat seorang gadis yang sangat dikenalnya sedang berlari-lari menghampirinya. Senyum lebar merekah diwajah gadis itu.
"Ranty" Seru Tari dengan sumringahnya melihat kehadiran sahabatnya ditempat itu.
"Tari!!" Ranty menghambur memeluk Tari yang langsung membalasnya dengan erat. Kedua gadis itu saling berpelukan didepan pekarangan kampus yang ramai, oleh lautan mahasiswa yang hilir mudik disekeliling mereka. Saling melepaskan kerinduan satu sama lain.
"Heum.... Tar, aku kangen" Celetuk Ranty dengan manjanya begitu melepaskan pelukannya.
"Sama aku juga"
"Eh, bagaimana keadaanmu? Baby sehat-sehat saja kan?" Tanya Ranty sembari mengelus-elus perut Tari selama beberapa detik.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok, bayinya juga" Jawab Tari yang juga ikut mengelus-elus perutnya dengan wajah berseri-seri.
"Bagaimana mungkin tidak sehat? Kalau suasana hati mamanya dibuat senang terus oleh papa gantengnya" Ranty menatap Tari dengan seulas senyum menggoda. Sikap reseknya yang mulai kembali muncul membuat Tari menghela nafas kesal, dan menatapnya dengan tajam.
"Pakai ditanya lagi. Kalau aku disini, itu artinya aku juga salah satu mahasiswi disini. Masak itu saja tidak paham dan harus dijelaskan. Memangnya mau ngapain lagi aku disini, mau wisata?" Kicau Ranty.
"Hah? Kamu kuliah disini juga? Sejak kapan kamu pindah kampus?" Tari sedikit terkejut mendengar pengakuan sahabatnya.
"Ya sejak hari inilah, sama sepertimu. Jadi kita berdua sama-sama mahasiswi baru disini"
"Memangnya kamu ada masalah apa dikampus kita yang dulu? Kok sampai pindah segala?" Tari bertanya dengan heran.
"Tidak ada masalah apa-apa. Aku baik-baik saja disana. Kalau kamu ingin tau apa masalahnya, tanyakan saja pada suamimu, kenapa dia sampai memindahkanku kesini"
__ADS_1
"Apa? Jadi Fajar yang membuatmu kuliah disini juga?" Tari semakin terkejut mendengar mendengar keterlibatan suaminya dalam kepindahan Ranty kekampus itu.
"Sepertinya itu adalah salah satu bentuk perhatiannya terhadap istri tercintanya. Dia tau kalau kita adalah sahabat karib. Oleh karena itu, dia sengaja membuat kita satu kampus lagi. Dia berjanji akan mengusahakan beasiswa supaya aku bisa terus kuliah disini hingga lulus. Terus dia juga berpesan, selama disini aku harus menjagamu. Karenakan kamu sedang hamil anaknya. Romantis sekali kan.... Suamimu itu? Kapan ya aku bisa punya suami seperti dia?"
Celoteh Ranty yang lantas tersenyum dengan tatapan menerawang dan berhalu.
"Dia bilang begitu?" Tari bertanya memastikan, karena seakan-akan dia masih belum percaya jika suaminya akan melakukan semua ini untuknya.
"He em?" Ranty mengangguk dengan sikap menyebalkan.
Tari termangu memikirkan celotehan sahabatnya. Semakin hari Fajar semakin menunjukkan perhatian terhadapnya. Apakah sikap pria itu dipicu lantaran dia mulai memiliki rasa untuknya, sama seperti dirinya yang sudah memiliki rasa untuk lelaki itu? Atau.... Itu hanya sebatas bentuk tanggung jawab seorang suami terhadap istri dan ibu dari anaknya?
Entahlah, yang jelas dia sangat bahagia untuk semua perhatian yang diterimanya dari suaminya itu. Dia sangat berharap situasi membahagiakan ini akan berlangsung untuk selamanya, dan tidak akan pernah berakhir. Tari mengelus-elus perutnya dengan senang.
"Kenapa? Semakin meleleh ya, membayangkan suaminya?" Desis Ranty yang kembali menggodanya yang membuat Tari tersentak dan kembali menatap sahabatnya dengan kesal.
"Apaan sih? Sudah ayo masuk" Ketus Tari seraya menarik tangan Ranty memasuki gedung universitas mewah dan menjulang tinggi itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Moza mendekati sekretaris Rima yang sedang sibuk dengan pekerjaannya dimejanya.
"Bu Rima" Tegurnya dengan sopan dan ramah. Rima yang sedang berkutat dengan laptopnya langsung menoleh dan menengadah untuk melihat gadis menyapanya.
"Iya ada apa Moza? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rima dengan suara yang tak kalah ramahnya.
"Mmm.... Pak Fajar belum datang ya Bu?" Tanya Moza dengan sedikit gugup dan malu.
__ADS_1
"Sepertinya beliau datangnya agak siangan. Karena menurut asistennya, hari ini ada jadwal dirumah sakitnya. Kamu ada perlu dengan Pak Fajar?" Ujar Rima dengan nada bicara yang lembut dan bersahabat.
"Iy-ya. Saya ingin menyerahkan hasil laporan yang kemarin" Jawab Moza yang padahal itu hanya alasannya saja. Karena sebenarnya dia ingin melihat dan bertemu dengan atasan tampannya, yang telah membuatnya betah magang ditempat itu.