
"Iya saya serius. Saya sudah bilangkan, kalau saya akan bertanggung jawab? Dan saya bukan tipikal orang yang suka bermain-main dengan ucapan saya. Apalagi dengan permasalahan yang serumit dan seserius ini" Jawab Fajar tegas dan tanpa menatap lawan bicaranya. Raut wajahnya masih tampak datar dan murung.
"Terima kasih banyak atas itikad baik anda. Saya sebagai sahabat Tari sangat menghargainya. Dan saya rasa, ini memang solusi terbaik untuk masalah ini. Semuanya demi bayi yang tidak berdosa, yang sudah terlanjur hadir dalam rahim Tari"
"Tapi kamu lihat sendirikan, bagaimana sikap Tari terhadap saya? Bagaimana mungkin kami berdua bisa menikah, jika dia sendiri menolaknya? Bahkan dia sangat membenci saya"
Perkataan Fajar membuat Ranty terdiam Apa yang dikatakan oleh pria itu ada benarnya. Tari dengan keras sudah menolak pernikahan itu, saking bencinya dia pada lelaki yang telah menghamilinya. Bagaimana mungkin mereka bisa jika situasinya seperti ini?
Padahal menurutnya, pernikahan ini adalah satu-satunya jalan keluar yang terbaik, supaya status Tari dan bayi dalam kandungannya jelas dan terjamin. Karena pria ini adalah ayah dari bayinya.
"Anda jangan khawatir. Saya akan berusaha untuk bicara dengan Tari, supaya dia mau menikah dengan anda. Yang saya butuhkan sekarang hanyalah waktu dan kesabaran anda. Sampai saya bisa membujuk dan meyakinkan Tari untuk menyetujui pernikahan itu."
Fajar tampak berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban. "Baiklah, saya akan menunggu sampai dia siap" Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti sebuah kartu, dan menyodorkannya pada Ranty.
"Ini kartu nama saya. Kamu bisa menghubungi saya kalau ada apa-apa"
"Iya, terima kasih" Ranty menerima kartu nama itu dari Fajar.
"Kalau begitu, saya permisi dulu"
"Iya"
🍁🍁🍁🍁🍁
"Keterlaluan!! Anak tidak tau diri!! Papa pikir dia bisa berubah setelah dia hidup diluar!! Tapi ternyata dia malah semakin menjadi-jadi!! Bahkan sekarang dia sampai hamil dan menambah kotoran yang telah dia lempar kemuka Papa!!"
Tristan sampai dirumahnya dengan kemarahan yang meledak-ledak. Hingga dia terus marah-marah dan mengumpat anaknya sendiri.
"Arrgghhh!!!"
PRAANG!!
__ADS_1
Bahkan saking emosinya dia sampai menepis semua benda yang ada diatas meja. Membuat semua benda itu jatuh dan hancur berkeping-keping, hingga berserakan dilantai.
"Pa udah cukup. Papa jangan marah-marah terus dong. Tenang ya. Jangan emosi, nanti Papa bisa sakit" Claudia yang sedari tadi mengekor dibelakang suaminya menarik Tristan. Mencoba menenangkan emosi suaminya, agar dia tidak terus dia lampiaskan pada benda mati yang mahal-mahal itu.
Jujur dia sudah merasa bosan dan jengah dengan drama antara suami dan putri sambungnya itu.
Namun ya sudahlah, semua yang terjadi justru malah menguntungkannya dan Moza. Mereka jadi tidak perlu lagi bersusah payah mencemarkan nama baik Tari. Karena Tuhan sudah turut membantunya, dengan menghadirkan janin h*r*m dalam rahim gadis malang itu.
"Ma, Pa, ini ada apa sih ribut-ribut? Sampai kedengaran tau kekamarku. Terus tadi aku dengar Papa bilang hamil. Memangnya siapa yang hamil Pa?" Gerutu Moza dengan enggannya.
Gadis itu tiba-tiba muncul, dan mendapati Mama dan Papa sambungnya sedang memainkan drama perang dunia diruang tamu. Hingga ruangan itu seperti kapal pecah.
Meskipun dia baru menunjukkan batang hidungnya dihadapan kedua orang itu, namun sebelumnya sayup-sayup dia mendengar mereka menyebut-nyebut kata hamil. Hingga membuatnya penasaran dan ingin mengetahuinya lebih jelas.
"Tari, dia sedang hamil" Jawab Claudia. Sedangkan Tristan sedang berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat terlalu emosi.
"Apa?! Tari hamil?! Pa, ini serius?" Moza terkejut bukan main mendengar jawaban Mamanya. Dia melirik Tristan untuk memastikan kebenarannya.
"Papa capek" Tristan menjawab dengan ketus. Kemudian dia berlalu dari ruangan itu dengan kemarahan yang masih belum mereda.
"Ma, apa yang terjadi? Kok Papa sampai mengamuk seperti itu? Terus, kok kalian bisa tau kalau Tari sedang hamil? Memangnya kalian bertemu Tari? Ketemu dimana?"
"Ya dimana lagi kalau bukan dikosan sahabat sejatinya itu?" Claudia memutar bola matanya dengan malas.
"Ranty?" Tanya Moza memastikan.
"Ya terserahlah siapa namanya. Yang jelas drama yang terjadi disana, sudah melebihi drama India dan Korea" Gerutu Claudia.
"Memangnya apa yang terjadi Ma? Beneran Tari hamil?"
"Ayo kita bicara dikamar saja. Disini terlalu beresiko" Desis Claudia sembari menarik lengan putrinya. Dengan kepala celingukan, dia mengajak Moza menuju kamarnya.
__ADS_1
Sesampainya didalam kamar, Claudia menceritakan semuanya. Mulai dari tindakan Tristan yang mengutus bawahannya untuk mencari keberadaan Tari.
Lalu kedatangan mereka kekos-kosan kumuh itu, dan berhadapan dengan puluhan warga yang bersikap bar-bar terhadap Tari, lantaran mengetahui kehamilan wanita itu yang terjadi diluar nikah.
Hingga kedatangan seorang pria muda dan tampan yang tampaknya berasal dari kalangan atas, yang mengaku sebagai ayah dari bayi yang dikandung oleh Tari, dan berjanji akan menikahi perempuan itu dalam waktu dekat.
"Apa?! Jadi ada seorang pria yang mengaku sebagai ayah dari bayi yang dikandung Tari, dan dia berjanji akan menikahi Tari dalam waktu satu minggu lagi?" Moza sangat terkejut mendengar cerita Mamanya. Dia tidak menyangka jika alurnya akan menjadi seperti ini.
Dia pikir Gerald hanya ingin bersenang-senang saja dengan Tari. Sekaligus melampiaskan dendamnya akibat insiden dipesta tempo hari. Dia pikir Gerald bukan tipikal pria yang bertanggung jawab dan serius.
Ternyata dia salah menilai. Pria itu bahkan bersedia menikahi Tari?
"Siapa lelaki itu Ma, Gerald?" Moza kembali bertanya untuk memastikan dugaannya.
"Ya bukanlah sayang. Mama juga tidak mengenalnya. Kalau Gerald kan Mama sudah pernah bertemu, dan Mama hafal betul seperti apa wajahnya"
Moza mengernyitkan keningnya dengan mulut yang terbuka saking bingungnya. "Kok bisa seperti ini ya Ma. Padahalkan yang memperkosa Tari adalah Gerald. Tapi kenapa malah lelaki lain yang mengaku-ngaku?"
"Nah, itu juga yang membuat Mama bingung. Apa mungkin ini bagian dari rencana Gerald ya? Jangan-jangan pria itu juga orang suruhan dia lagi" Terka Claudia antara yakin dan ragu. Moza meraih ponselnya dan mulai memainkannya.
"Kamu mau telpon siapa?" Tanya Claudia.
"Gerald" Jawab Moza dengan mata yang fokus memandangi layar ponselnya. Sedangkan tangannya sedang sibuk memutar kontak yang ada didalam benda pipih itu, lalu menempelkannya didaun telinganya.
"Mau ngapain lagi kamu hubungi aku? Bukankah urusan kita sudah selesai setelah malam itu?" Tanya Gerald diseberang sana.
"Justru maksud aku menghubungimu adalah karena ada hubungannya dengan insiden malam itu?" Jawab Moza dengan ketus.
"Memangnya ada masalah apa lagi?" Gerald kembali bertanya dengan nada suara yang terdengar malas.
"Sebenarnya apalagi rencanamu kali ini?"
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Kenapa Mamaku bilang ada lelaki lain yang mengaku sebagai orang yang sudah memperkosa Tari? Bahkan berjanji akan menikahinya dalam waktu satu minggu lagi? Bukankah yang memperkosa Tari pada malam itu adalah kamu?"