Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 38- Nenek Arogan


__ADS_3

Tari menjawab dan membalas semua perkataan dan senyum mencemooh yang dilontarkan Oma Violet terhadapnya, tanpa merasa takut atau malu sedikitpun. Ekspresinya yang sebelumnya terlihat


gugup kini terlihat menantang dan mengejek.


Membuat Gerald dan Astrid ikut malu dan naik pitam, dengan kata-kata kurang ajar yang dilontarkan wanita rendahan itu. Ingin rasanya mereka menampar wajah wanita itu, dan menyingkirkan senyum mengejek yang menghiasi wajahnya.


Sepertinya pelajaran yang dia berikan dulu, masih belum cukup untuk membungkam mulut perempuan itu! Pikir Gerald dengan gusar.


Sedangkan Fajar dan yang lain, yang mulai mengerti permasalahan yang terjadi diantara keempat orang itu berusaha menyembunyikan senyum mereka.


"Hallo Helmi, Lesti. Apa kabar? Sudah lama ya, kita tidak bertemu" Oma Violet menyapa Helmi dan Lesti dengan ramahnya. Bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan dari Tari.


"Iya Tante. Alhamdulillah, kami sekeluarga baik-baik saja. Tante sendiri apa kabar? Saya dengar selama ini kalian semua tinggal di Swiss ya?" Helmi membalas sapaan perempuan sepuh itu dengan seulas senyum ramah.


"Iya, sejak anak saya memutuskan untuk meninggalkan Astrid demi baby sitter itu, saya juga memutuskan untuk membawa menantu dan cucu saya menetap diluar negeri. Karena saya tidak mau terus bersedih atas perlakuan Andre terhadap mereka" Oma Violet kembali berceloteh dengan sembarangan.


Tanpa memikirkan perasaan Fajar yang merasa tersinggung, dan marah mendengar hinaan yang kembali ditujukan untuk orang tuanya.


Tari kembali menatap Fajar dengan bingung melihat mimik wajah pria itu, yang terlihat sedang menahan amarah mendengar ucapan Omanya sendiri. Sebenarnya permasalahan apa yang membuat keluarga itu sampai tidak rukun? Dan siapa baby sitter yang dimaksud? Dia jadi penasaran.


"Maaf Tante, tapi kalau menurut saya, tidak baik mengungkit-ungkit tentang masa lalu. Apalagi disaat-saat seperti ini. Tidak enak kalau sampai didengar oleh tamu yang lain. Ini adalah hari bahagia untuk Fajar. Cucu Tante sendiri" Lesti menyela dan mencoba menasehati dengan suara lembut dan bijaknya. Dia juga menatap Fajar dengan perasaan kasian dan tidak enak.

__ADS_1


Oma Violet memutar bola matanya dengan malas sembari bersungut-sungut.


"Hey, ini siapa? Lucu sekali. Cucu kalian?" Oma Violet meraih baby Chand dari tangan Zahra dengan gemasnya melihat bocah lelaki tampan itu.


"Iya Tante, ini Chand, putranya Rahul. Cucu kesayangan kami" Dengan sumringahnya Helmi memperkenalkan cucu kesayangannya.


"Hai Rahul. Kamu sudah besar ya sekarang. Sudah punya anak yang lucu lagi. Ini istrimu?" Oma Violet menyapa Rahul dengan ramahnya. Kemudian dia melirik Zahra yang berdiri disamping suaminya.


"Iya Oma. Kenalkan ini Zahra, istriku" Rahul merangkul istrinya dengan lembut dan tatapan penuh cinta.


"Hallo cantik. Apa kabar? Senang bertemu denganmu" Oma Violet mengulurkan tangannya pada Zahra.


"Oh ya, Oma jadi penasaran dengan awal mula pertemuan dan kisah cinta kalian. Apalagi dengan acara pernikahannya. Pasti acara pernikahan kalian digelar secara besar-besaran dan mewahkan? Secara kan, kamu satu-satunya putra mahkota Dirgantara group. Jadi semua yang dimiliki oleh orang tuamu, tentunya milikmu" Oma Violet melirik Rahul dan kembali berceloteh, sesuai dengan penilaian dan sudut pandangnya sendiri.


Membuat Rahul dan Zahra terdiam dan saling pandang. Karena apa yang dikatakan oleh wanita itu sangat berbanding terbalik dengan kenyataannya. Pernikahan mereka digelar secara sederhana, dan itupun tanpa sepengetahuan keluarga saat Rahul masih terdampar didesanya dulu.


"Oh ya Zahra, keluargamu mana? Tidak ikut?" Tanya Oma Violet.


"Mmm.... Orang tuaku sudah meninggal Oma" Zahra menjawab dengan lirih dan raut wajah yang terlihat sedih.


"Oh begitu? Maaf ya, Oma tidak tau. Oh ya, kalau Oma boleh tau, orang tuamu pengusaha apa? Pasti kamu berasal dari kalangan atas kan, makanya kamu mampu memikat putra Dirgantara group? Dan.... Kamu sendiri lulusan mana? Luar negeri juga? Fakultas apa?"

__ADS_1


Oma Violet mencecar Zahra dengan antusiasnya. Membuat perempuan itu terdiam, dan ekspresinya seketika berubah menjadi muram dan gugup.


"Mmm.... Tidak Oma. Aku berasal dari keluarga sederhana. Dulu bapakku bekerja sebagai buruh pabrik. Sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, yang ikut membantu perekonomian keluarga dengan menjual kue. Dan aku sendiri.... Dulu aku bekerja sebagai perawat, sebelum aku menikah dengan Rahul" Zahra menjawab dengan jujur dan wajah yang menunduk. Ekspektasi Oma Violet tampaknya berhasil membuatnya merasa malu dan minder.


"Rahul, jika Oma bisa memberi saran, kamu inikan tampan, kaya, dan tentunya satu-satunya pewaris Dirgantara group. Sebenarnya kamu masih bisa lho, mendapatkan wanita yang jauh lebih baik, lebih cantik. Dan pastinya.... Setara denganmu. Ibaratnya, kamu masih bisa mendapatkan berlian manapun yang kamu mau. Tapi kenapa kamu malah lebih memilih kerikil?" Oma Violet mencoba memprovokasi Rahul dengan arogannya. Dan dia menatap Zahra dengan tatapan sinis dan merendahkan.


Gerald dan Astrid hanya menggelengkan kepala dengan sinisnya. Sedangkan yang lainnya menatap Oma Violet dengan tatapan kesal, dengan sifat arogan perempuan sepuh itu yang terang-terangan menghina dan merendahkan Zahra.


Termasuk Tari. Sebagai sesama wanita, dia juga ikut merasa geram melihat wanita lainnya direndahkan seperti itu dihadapannya, hanya karena dia berasal dari kalangan bawah. Tari jadi berpikir, pantas saja Fajar tidak akur dengan keluarganya. Ternyata Omanya saja modelannya seperti itu. Terlalu arogan, angkuh dan tinggi hati.


Semua hal diukur dengan materi, kasta dan kedudukan! Bahkan tidak segan-segan menghina orang lain yang memiliki kasta sangat jauh dibawahnya. Seperti yang sudah beliau lakukan padanya sebelumnya. Dasar nenek-nenek arogan. Pikirnya dengan geram.


Dan orang yang sangat sakit hati, serta emosi mendengar hinaan yang dilontarkan Oma Violet terhadap Zahra tentu saja adalah Rahul. Suaminya sendiri. Hingga pria itu menautkan giginya dan mengepalkan tangannya, saking emosinya.


Zahra memegang tangan Rahul dengan lembut. Dia menatap mata suaminya dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Tampaknya perempuan itu sedang mencoba untuk menenangkan suaminya, dan memberinya isyarat untuk tidak terpancing emosi dan melakukan tindakan yang anarkis, terhadap hinaan wanita tua itu yang dilontarkan untuknya barusan. Rahul menatap istrinya dan menghela nafas berat.


"Maaf Oma, tapi aku sangat tersinggung dengan ucapan Oma. Bagiku istriku ini adalah berlian yang sangat berharga. Aku sangat mencintainya, begitupun sebaliknya. Dan aku sangat bahagia dengan pernikahan kami. Lagipula dia juga ibu yang baik untuk anakku. Menantu yang baik untuk keluargaku. Jadi aku rasa itu sudah cukup.


Dan aku tidak butuh penilaian orang lain tentang istriku. Karena hidupku, aku sendiri yang menentukan. Bukan orang lain. Dan aku sangat bahagia dengan hidupku sekarang. Jadi kenapa orang lain yang harus merasa risih?" Rahul tersenyum dengan geramnya menatap Oma Violet.

__ADS_1


__ADS_2