
Fajar menjelaskan sambil memegang pundak Tari, dan menatap istrinya dengan tatapan lembut dan dalam. Tatapan yang menembus jantung Tari, hingga membuatnya diselimuti rasa bahagia dan haru. Dia tidak menyangka bahwa suaminya telah menyiapkan kejutan yang sedemikian rupa untuknya. Dia tidak tau harus berkata apalagi.
Tiga orang pelayan yang dipimpin Bu Zaitun muncul dengan membawakan hidangan yang menggugah selera. Setelah mendapat aba-aba dari Bu Zaitun, mereka meletakkan hidangan itu diatas meja mini yang ada disana.
"Silahkan Tuan, Nyonya" Ucap Bu Zaitun seraya membungkukkan badannya dengan hormat, diikuti oleh ketiga pelayan yang berdiri dibelakangnya, sebelum mereka berlalu meninggalkan majikannya berdua saja.
Fajar mengajak Tari untuk duduk disofa putih didepan meja, yang telah tersuguh makanan lezat yang disajikan oleh pelayan. Fajar mengambil gelas berisi jus diatas meja, lalu mengajak Tari untuk bersulang gelas.
Suasana semakin syahdu dengan kehadiran tiga orang pria berpakaian hitam putih, yang membawa biola dan memainkannya dihadapan mereka berdua yang sedang menyantap hidangan lezat itu.
Alunan musik yang berasal dari biola itu membuat mereka semakin hanyut, dengan perasaan yang sedang berkembang dihati masing-masing. Perasaan cinta yang membuat hidup mereka serasa berwarna dan semarak.
"Mau dansa?" Ajak Fajar saat mereka sudah merasa kenyang setelah menyantap menu hidangan makan malam yang ada diatas meja.
"Hah? Kamu serius?" Tari terkejut mendengar ajakan suaminya. Bukan apa-apa, sekarang perutnya sudah sangat menonjol, bagaimana dia bisa berdansa dengan keadaan perutnya yang besar?
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Jawab Fajar dengan santainya.
"Tapi kan aku sedang hamil. Perutku besar seperti balon. Malu lah" Keluh Tari malu dan ragu sambil mengelus-elus dan menatap perut buncitnya.
"Seperti apapun bentuk tubuhmu, dimataku kamu tetap wanita tercantik dan terseksi didunia" Lirih Fajar jujur. Baginya, sekarang tidak ada perempuan yang lebih cantik dari istrinya. Perkataan Fajar membuat Tari menatapnya dengan terkesima.
__ADS_1
Mari ratuku" Fajar mengulurkan tangannya kedepan Tari yang memandangi tangan itu dengan malu. Dengan senyum simpul yang menghiasi wajah cantiknya, Tari menerima uluran tangan suaminya yang membimbingnya untuk bangkit dan beranjak dari sofa. Keduanya pun berdansa dengan mesra, diiringi dengan alunan musik biola yang syahdu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah puas menikmati momen romantis mereka diatas rooftop selama tiga jam lebih, akhirnya Fajar membawa Tari kekamarnya dengan kembali menggendongnya dilengannya.
Sesampainya didalam, Tari heran melihat kondisi kamar itu yang gelap gulita tanpa ada pencahayaan sedikitpun. Namun beberapa detik kemudian Fajar menekan tombol yang ada didinding kamar itu. Kondisi kamar itupun seketika menjadi terang benderang, melenyapkan kegelapan yang sebelumnya tercipta.
"Taraaa!" Seru Fajar saat Tari memandangi keadaan kamar dengan ekspresi takjub yang nyata.
Bagaimana tidak? Dia seperti sedang melihat kamar pengantin yang terpampang didepannya. Kamar itu telah didekor dengan latar berwarna putih, mulai dari bed cover hingga tirai-tirai yang menyelubungi setiap dinding serta langit kamar luas itu.
Membuat Tari merasa seperti pengantin baru yang baru saja menikah beberapa jam yang lalu. Padahal pernikahan mereka sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Entah apa maksud Fajar sampai dia mendekor kamarnya ala-ala kamar pengantin seperti ini. Apa lelaki itu ingin malam ini....?
"I-ini...? Kamu juga sudah menyiapkan kamar ini untuk....?" Tari bertanya terbata-bata dengan wajah melongo. Jantungnya terasa berdebar-debar membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya malam ini.
Selama menikah, mereka bahkan tidak pernah tidur sekamar apalagi seranjang. Dan malam ini mereka akan melakukannya? Entah dia harus merasa senang atau takut, bila mengingat bagaimana insiden mengerikan yang dulu dialaminya, hingga dia hamil lebih dulu sebelum menikah dengan Fajar.
"Untuk malam pertama kita yang tertunda. Sekarang kita sudah tidak perlu lagi kan, tidur terpisah? Bukankah kita sudah menjadi pasangan suami istri yang seutuhnya? Jadi sekarang, kita sudah bisa tidur disini bertiga kan? Menjalani malam-malam panjang layaknya pasangan suami istri pada umumnya?" Ucap Fajar penuh harap dengan mengerlingkan matanya.
Melihat tatapan suaminya yang begitu teduh dan menggetarkan hatinya, membuat Tari terenyuh. Jiwa penolakan lenyap dalam hatinya. Dia merasa seperti sedang menjadi seorang ratu yang sangat dimanjakan. Rasanya dia tidak sanggup menolak kenikmatan surga dunia yang ditawarkan, dan dirancang sedemikian rupa oleh suami tercintanya.
__ADS_1
Toh sekarang mereka juga sudah menjadi suami istri yang sah. Jadi tidak masalah mau melakukan apapun. Apalagi dia juga sudah lama mengharapkan hubungan yang harmonis dan romantis dari suaminya itu. Bukan hanya sebatas hubungan tanggung jawab saja.
"Kok bertiga? Kan kita berdua?" Tanya Tari bingung.
"Kamu lupa, princess kesayangan kita?" Fajar mengangkat alisnya dan melirik perut besar Tari. Membuat wanita itu tersenyum dan mengangguk paham.
Setelah mendapat persetujuan dari istrinya, Fajar menutup pintu kamar. Lalu dia berjalan mendekati ranjang. Tari yang sedari tadi digendong dilengannya, dia baringkan diatas king size yang terbalut bed cover berwarna putih.
Fajar menatap wajah cantik istrinya yang dihiasi dengan mata bulat yang indah dan sayu. Perlahan-lahan dia mendaratkan bibirnya pada bibir seksi perempuan itu dengan penuh kelembutan. Sedangkan tangannya mulai menjelajah, membuka dan menanggalkan pakaian yang menutupi tubuh istrinya sintal.
Bibirnya masih bermain-main pada bibir istrinya yang perlahan-lahan mulai membalas ciumannya. Tari memang masih belum berpengalaman dalam hal ini. Atau bisa dibilang dia masih polos. Karena selama ini dia selalu menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita, dari perbuatan yang nyeleneh.
Meski dia sudah pernah beberapa kali menjalin hubungan asmara dengan beberapa pria sejak SMP hingga kuliah, namun dia selalu mampu menjaga batasan.
Meski sekarang citra baiknya sudah jatuh dimata semua orang, terutama dimata keluarga dan orang-orang yang mengenalnya sebagai perempuan baik-baik, karena fitnah. Ditambah dengan kecelakaan yang mengakibatkan dirinya hamil sebelum menikah.
Baru kali ini dia berciuman dengan seorang pria dengan sukarela dan tanpa paksaan. Tindakan Fajar yang sangat lembut dan menggoda membuat Tari terangsang untuk terus membalas ciuman lelaki itu, yang terasa begitu nikmat dan menghanyutkan.
Tari sudah pernah merasakan bibir suaminya saat dulu lelaki itu meruda paksa dirinya. Dan dia masih ingat betul bagaimana brutalnya lelaki itu menjamah setiap inci tubuhnya saat itu. Namun entah kenapa sentuhan bibir Fajar kali ini, rasanya sangat berbeda dengan yang dulu. Seperti dilakukan oleh dua orang yang berbeda.
Apa mungkin karena saat itu Fajar melakukannya secara paksa? Dan dia juga sangat membenci orang yang melecehkannya saat itu? Dan kali ini Fajar melakukannya dengan penuh cinta dan kelembutan?
__ADS_1