
"Gerald, Moza?" Tegur Tristan sembari bangkit berdiri dari kursi yang sedari tadi didudukinya. Begitupun dengan Tari yang juga ikut berdiri, dan menatap kedua orang yang dikenalnya itu dengan heran.
Rasa penasaran menerjangnya. Apa yang dilakukan oleh kedua orang itu ditempat ini? Apa mereka memiliki hubungan khusus? Atau hanya sebatas hubungan pekerjaan saja?
Tapi bukankah saat ini Moza sedang magang diperusahaan suaminya? Bukan bersama Gerald. Lalu sedang apa mereka berdua?
"Om Tristan? Tari?" Gerald pun ikut terkejut melihat keberadaan Tari dan Tristan ditempat itu. Begitu juga dengan Moza. Keduanya langsung menghentikan langkah mereka yang sedang kejar-kejaran, saat sudah berada didekat meja Tari dan Tristan.
"Kalian berdua sedang apa disini?" Tanya Tristan penasaran.
"Om sendiri, sedang apa disini? Dan bersama Tari?" Gerald balik bertanya karena takut akan ketahuan, bahwa mereka bekerja sama menjebak Tari dulu. Gerald menatap Tristan dan Tari dengan bingung.
Tristan menatap Tari sejenak sebelum berkata dengan lirih. "Om, mengajak Tari kesini untuk bicara, dan menyelesaikan permasalahan kami secara empat mata"
"Memangnya, kalian berdua ada masalah apa?" Tanya Gerald.
"Ini adalah, permasalahan antara ayah dan anak perempuannya" Ucap Tristan yang membuat Gerald dan Moza terkejut dan terbelalak.
Khususnya Tari yang menatap papanya dengan tertegun. Ini adalah ucapan yang tidak disangka akan didengarnya hari ini. Dimana papanya mengakuinya sebagai anak dihadapan orang lain.
"Ayah dan anak? Tunggu dulu. Maksudnya, Tari ini anaknya Om?" Dengan kening mengernyit, Gerald bertanya untuk memastikan dan memperjelas pendengarannya sambil menunjuk Tari.
"Iya, kamu benar" Jawab Tristan cepat.
Sedangkan Moza mulai kesal dengan pengakuan ayah tirinya itu. Untuk apa dia mengakui Tari sebagai anaknya dihadapan orang lain? Apa lelaki itu lupa apa yang sudah dilakukan perempuan itu? Meskipun semua itu hanya rekayasa dan manipulasinya saja, untuk menjatuhkan Tari.
Tapi seharusnya yang dia lakukan itu sudah cukup untuk membuat papa Tristan malu memiliki anak seperti Tari.
__ADS_1
Ternyata benar yang dikatakan mamanya. Ayah tirinya sudah mulai luluh dengan Tari. Dan ini sangat mengancam posisinya. Jika nanti lelaki itu sampai percaya pada pengakuan Tari, yang mengatakan bahwa dirinya dijebak dan difitnah olehnya dan mamanya.
"Om serius? Bukannya putri Om itu hanya Moza? Kok selama ini aku dan keluargaku tidak ada yang tau, kalau Tari ini adalah putri Om juga? Berarti, mereka berdua ini adalah bersaudara?" Gerald sangat terkejut mendengar pengakuan Tristan yang menyebut Tari sebagai putrinya.
Entah drama apa yang sedang terjadi dalam keluarga ini. Sehingga selama ini hal ini tidak pernah diketahuinya dan keluarganya.
"Tidak. Dia bukan saudara saya. Saya adalah anak tunggal. Dan saya tidak punya kakak ataupun adik" Sanggah Tari menekankan dengan tegas. Lalu dia menatap Moza dengan tajam. Membuat gadis itu mendelik.
Perkataan Tari membuat Gerald semakin bingung. Jika dia dan Moza bukan saudara, lalu apa hubungan mereka? Padahal keduanya sama-sama putri dari Tristan.
"Mmm.... Tari ini adalah putri Om dan istri pertama Om yang sudah lama tiada. Dan Moza ini adalah, putri dari istri kedua Om bersama mantan suaminya, yang juga sudah meninggal" Papar Tristan menjelaskan secara detail.
"Oh.... Jadi Moza ini, anak tiri Om?" Gerald manggut-manggut dan diam-diam menatap Moza dengan sinis.
Sepertinya dia sudah mulai memahami apa yang terjadi. Ada persaingan sengit antara saudara tiri itu, hingga Moza sampai menjebak saudara tirinya sendiri untuk menjadi korban pelecehannya. Entah bagaimana reaksi Tristan nantinya, jika dia sampai mengetahui perbuatan keji putri sambung pada putri kandungnya sendiri.
Moza mendelik marah melihat tatapan Gerald yang dia ketahui sedang meledeknya. Meski Tari dan papanya tidak menyadari hal itu, namun dia sangat menyadarinya.
"Moza" Seru Tristan yang tidak mampu menghentikan Moza.
Dia sangat marah atas sikap ketiga orang itu yang telah sukses mempermalukannya. Terutama Tristan yang dengan teganya mengakuinya sebagai anak tiri.
Padahal selama ini dia selalu berusaha menjadi gadis yang baik dihadapan lelaki itu. Dan membuat Tari terlihat buruk. Tapi tetap saja dia lebih memilih putri kandungnya. Sial!!
🍁🍁🍁🍁🍁
Sejak kejadian direstoran hari itu, Tari tidak pernah berhenti memikirkan sikap papanya yang membuatnya terharu. Dia senang karena papanya membela dan mengakuinya.
__ADS_1
Namun dia juga bimbang, akan seperti apa hubungan mereka setelah ini. Dia juga takut kalau Moza dan Mamanya akan kembali mengusiknya. Dia sudah lelah berurusan dengan kedua wanita ular itu. Dia hanya ingin menjalani hidup bahagia bersama suami dan calon putrinya.
"Queenku baik-baik saja kan? Apa princess rewel?" Tanya Fajar lembut sembari mengelus-elus perut buncit Tari, saat dia melihat istrinya duduk termenung diatas ranjang dengan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
"Tidak kok. Aku baik-baik saja. Bayinya juga. Kamu tidak usah khawatir" Jawab Tari dengan seulas senyum simpul.
"Bagaimana aku tidak khawatir, kalau melihat istriku termenung seperti ini? Ada masalah dikantor? Apa Gerald menyulitkanmu" Tuduh Fajar menduga.
"Tidak kok. Ini tidak ada hubungannya dengan Gerald. Dia tidak melakukan apapun padaku"
"Lalu, siapa yang mengganggumu, hingga membuatmu kepikiran seperti ini?"
"Tadi siang aku bertemu Papa. Dia datang kekantor" Lirih Tari dengan tatapan menerawang.
"Lalu? Apa Papamu marah-marah, dan kalian bertengkar lagi?" Tanya Fajar yang seketika menjadi serius dan khawatir mendengar cerita istrinya.
"Tidak. Kami hanya lunch dan mengobrol saja direstoran dekat perusahaan itu. Dan disana kami bertemu Moza dan Gerald"
"Moza dan Gerald? Apa yang mereka lakukan berdua disana?" Fajar menjadi penasaran mendengar nama kedua orang itu.
Tari menggidikkan bahunya. "Entahlah. Aku juga tidak ada waktu untuk bertanya. Dan aku juga tidak mau terlalu berpikir jauh tentang mereka. Tapi yang jelas, tadi Papa memperkenalkanku sebagai putrinya dihadapan Gerald. Dan Papa juga menyebut Moza sebagai putri sambungnya"
"Kamu serius, Papamu mengakuimu sebagai putrinya didepan umum?" Fajar bertanya dengan senang.
"Lalu kenapa kamu malah murung seperti ini? Seharusnya kan kamu senang, akhirnya hubunganmu dan papamu sudah kembali membaik. Dan beliau mungkin sudah sadar sangat menyayangimu. Karena kamu adalah putri kandungnya. Bukankah ini adalah hal yang sangat membahagiakan? Karena kamu bisa mendapatkan Papamu kembali" Dia heran melihat Tari yang murung dan tidak terlihat ceria.
"Menurutmu aku harus bahagia, karena Papa sudah mulai luluh dan mengakuiku?" Tanya Tari meminta pendapat suaminya.
__ADS_1
"Ya tentu saja. Kamu harus bahagia. Memangnya apalagi yang kamu pikirkan selain Papamu?" Jawab Fajar dengan cepat.
"Aku hanya takut, sampai berurusan lagi dengan ibu tiriku dan Moza. Semua yang mereka lakukan sudah sangat menghancurkan hidupku. Dan membuatku trauma. Hingga aku tidak mau lagi memiliki urusan apapun dengan mereka" Tutur Tari yang mulai tidak tenang, bila mengingat bagaimana hidupnya hancur karena kelicikan ibu dan saudara tirinya.