Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 69- Ijin


__ADS_3

"Mmm, ak-aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk merahasiakan masalah ini darimu, apalagi sampai membohongimu. Ak-aku hanya merasa bingung, harus bagaimana menceritakannya. Karena aku tau bagaimana hubunganmu dengan keluargamu. Aku hanya takut nanti kamu kepikiran dan khawatir jika tau. Dan.... Kamu akan melarangku untuk magang ditempat itu.


Aku minta maaf ya, aku sudah melanggar janji yang sudah kita sepakati untuk saling terbuka dalam segala hal. Ta-tapi kamu harus tau, sebenarnya semalam aku sudah berencana untuk mengungkapkan semuanya. Tapi aku malah terjebak hujan deras. Dan kebetulan yang masih ada disana hanya pak Gerald. Dan dia menawarkan untuk mengantarku pulang.


Tapi kami malah mengalami kecelakaan, dan kamu jadi keburu tau semuanya. Dan.... Sekarang kalau kamu memintaku untuk keluar dari perusahaan itu, aku pasti akan menurutinya. Aku tidak akan membantah perkataan suami yang sangat aku cintai" Tutur Tari sungguh-sungguh.


Fajar terdiam mendengar penjelasan Tari. Dia tidak menyangka kalau orang seperti Gerald bisa memuliki sedikit perhatian pada istrinya, hingga menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.


Padahal setaunya kakak tirinya itu bukanlah tipikal lelaki yang akan bersikap lembut dan penuh perhatian pada seorang wanita. Bagi Gerald, perempuan hanya sekedar pemuas hasratnya saja. Tidak akan lebih dari itu.


Iya, meski selama ini hubungan mereka tidak pernah berjalan dengan mulus layaknya kakak adik pada umumnya, melainkan layaknya musuh, namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi Fajar untuk mengetahui seperti apa sepak terjang kakaknya itu.


Memikirkan Gerald yang sedikit menaruh perhatian pada istrinya, membuat Fajar jadi sedikit khawatir, karena pria seperti Gerald terkadang sukar ditebak. Jujur sebenarnya dia ingin meminta Tari agar keluar saja dari perusahaan itu, karena dia tidak ingin istrinya sampai memiliki urusan apapun dengan keluarganya yang arogan itu.


Namun adilkah hal itu dia jadikan alasan untuk meminta Tari resign, sedangkan status istrinya disana sebagai karyawan magang?


"Apa selama ini kamu merasa nyaman magang ditempat itu? Apa Gerald.... Dan karyawannya ada yang memperlakukanmu dengan buruk, hingga membuatmu tidak betah berada disana?" Fajar menatap Tari dengan lekat dan bertanya dengan lembut.


"Mmm.... Sebenarnya semua karyawan disana memperlakukanku dengan baik seperti yang lainnya. Aku nyaman-nyaman saja dengan sikap mereka. Dan.... Kakak tirimu juga memang memiliki sikap yang angkuh dan arogan. Dan aku sangat tidak menyukainya. Tapi, dia bisa kok bersikap profesional, dengan tidak menyangkut pautkan masalah kerjaan dengan masalah pribadi kita" Jawab Tari jujur

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu"


"Ya sudah apanya?" Tari bertanya bingung.


"Ya.... Kalau Gerald dan karyawan yang ada disana tidak ada yang memperlakukanmu dengan buruk, aku rasa aku tidak punya alasan untuk menyuruhmu resign dari perusahaan itu. Lagipula statusmu disana kan sebagai karyawan magang. Dan itu sangat penting untuk kuliah dan masa depanmu. Hanya beberapa bulan saja. Yang penting kamu merasa nyaman dan tenang" Jawab Fajar.


Meski hatinya terasa berat untuk membiarkan Tari berada diperusahaan Gerald, namun dia tidak memiliki alasan yang tepat untuk meminta istrinya resign, sementara istrinya tidak memiliki masalah apapun disana. Dia tidak ingin perseteruannya dengan keluarganya sampai mengganggu pendidikan istrinya. Toh nanti dia juga masih bisa mengawasi Tari.


"Kamu serius?" Tanya Tari dengan tatapan berbinar-binar.


"Ya aku tidak mau saja, kuliahmu sampai bermasalah gara-gara permasalahan pribadiku dengan keluargaku" Jawab Fajar dengan seulas senyum lembut.


"Ya aku setuju. Tapi aku harus minta ijin dulu pada pak Gerald. Biar bagaimanapun juga kan, dia atasanku"


"Kamu tenang saja, biar nanti aku yang bilang padanya"


"Kamu mau menemuinya?"


"Ya. Sekalian aku juga mau melihat bagaimana kondisinya. Biar bagaimanapun juga kan, dia tetap kakakku. Aku juga sedih atas apa yang terjadi padanya. Apalagi kata dokter, kondisi dia lebih parah darimu" Jawab Fajar dengan suara yang terdengar prihatin.

__ADS_1


Jelas dia masih ingat betul bagaimana perkataan dokter semalam. Meski berusaha mengeraskan hatinya atas sikap mereka yang selalu membuatnya makan hati, namun dia tetaplah seorang manusia yang memiliki hati nurani. Yang memiliki rasa kasian dan empati terhadap kondisi kakaknya.


Kalau bukan demi menghindari konfrontasi yang pasti akan terjadi setiap kali pertemuannya dengan ketiga orang itu, mungkin dia sudah dari semalam menjenguk Gerald untuk melihat keadaannya yang jujur membuatnya khawatir. Namun sekarang dengan menemui Gerald untuk meminta ijin cuti Tari, dia bisa sekalian mengecek kondisi pria itu.


Tari menatap suaminya dengan kagum. Meski dia tau seperti apa retaknya hubungan Fajar dengan keluarganya yang selalu memandangnya layaknya seonggok sampah, namun dia bisa melihat sirat kekhawatiran dimatanya untuk kakaknya.


Dia semakin merasa beruntung bisa menjadi istri dari pria itu. Meskipun pernikahan mereka diawali oleh sebuah kecelakaan, namun mungkin itulah badai yang harus dilaluinya untuk bisa mencapai kebahagiaannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Gerald sedang berbaring sendirian dikamar besar dan mewah tempatnya diopname dari semalam. Oma dan mamanya sudah pulang sejak pagi karena ada beberapa pekerjaan yang harus mereka urus, sedikit menggantikan tugas Gerald yang saat ini masih belum bisa menghendelnya.


Sebenarnya Gerald sudah memaksa untuk pulang dan kembali keperusahaan, karena dia sudah tidak tahan lagi berada ditempat yang membosankan ini.


Namun Astrid dan Oma Violet bersikeras tidak ingin dia meninggalkan rumah sakit, karena dokter mengatakan bahwa saat ini kondisinya masih belum sepenuhnya stabil dan masih membutuhkan perawatan. Mau tidak mau Gerald harus menurut, karena malas mendengar kebawelan kedua perempuan itu.


Untuk sedikit menghilangkan rasa bosan dan jenuhnya, Gerald memutuskan untuk menonton televisi, menonton acara dan film-film action kesukaannya sembari makan buah-buahan yang telah diris-iris. Namun film-film itu hanya mampu menghiburnya selama beberapa jam saja, hingga akhirnya rasa bosan itu kembali melandanya.


Pikirannya tiba-tiba saja berkelana pada Tari. Bagaimana keadaan wanita itu sekarang? Apa dia dan bayinya baik-baik saja setelah kecelakaan itu? Entah kenapa akhir-akhir ini dia tidak bisa berhenti memikirkan perempuan itu. Apalagi setiap kali memikirkan bayi yang dikandungnya, yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


Dia ingin menemui perempuan itu untuk memastikan kondisinya. Tapi bagaimana caranya? Dia bahkan tidak tau dikamar berapa perempuan itu diopname. Bertanya pada Fajar, rasanya sangat tidak mungkin. Karena dia tidak sudi harus bicara dengan orang yang paling dibencinya itu! Arrgghhh! Apa yang harus dia lakukan?


__ADS_2