
Tapi sepertinya dia tidak bisa menolak panggilan itu. Akhirnya Fajar memutuskan untuk mengangkatnya dengan ragu.
"Iya Om"
"Fajar, kamu masih di Swiss?" Tanya Helmi diseberang sana.
"Mmm..... Iy-iya Om" Fajar menjawab dengan ragu karena dia memberikan jawaban yang tidak sesuai fakta.
"Bagaimana pekerjaanmu disana? Lancar?"
"Alhamdulillah, semua pekerjaanku disini lancar Om. Oh ya, ada apa ya Om menghubungiku?"
"Jadi begini, kan sekarang usia kehamilan Shreya sudah memasuki tujuh bulan. Nah, Tantemu berencana ingin menggelar acara tujuh bulanannya disini, di Jakarta. Menurutmu bagaimana? Kamu setuju tidak, dengan rencana kami?"
Fajar termangu dengan tatapan kosong. Tidak terasa sudah sebulan wanita itu kembali ke Jakarta dan meninggalkannya. Dan sekarang kehamilannya pun sudah menginjak tujuh bulan. Bagaimana keadaan Zahra sekarang? Pasti perutnya sudah semakin besar seiring dengan bertambahnya usia janin kan?
Mendengar tentangnya membuat perasaan rindu dihati Fajar semakin memuncak, pada wanita dan bayi dalam kandungannya. Bayi yang tadinya dia pikir akan menjadi anak sambungnya. Namun takdir tidak berkata demikian. Wanita itu pergi darinya saat perasannya sudah sangat dalam.
"Hallo Fajar. Fajar, kamu masih disana kan?"
Fajar terkejut saat Helmi kembali bersuara.
"Mmm, iya Om, aku masih disini kok. Tadi Om bilang apa ya?" Fajar bertanya dengan linglung. Saking stress dan berkecamuk pikirannya, dia sampai tidak fokus mendengar suara pria paruh baya itu diseberang sana.
"Lho, memangnya suara Om tidak jelas ya? Tantemu ingin menggelar acara tujuh bulanan Shreya dirumah kami disini. Dia terlihat sangat antusias dengan kehamilan istrimu. Maklum, sampai sekarang istrinya Rahul masih belum ketemu juga. Dan kamu juga taukan kalau wanita itu juga sedang hamil? Sedang mengandung cucu kami.
__ADS_1
Karena itulah Tantemu sangat menyayangi Shreya dan calon anakmu. Mungkin dia merasa menemukan sosok menantu dan calon cucunya pada mereka. Jadi bagaimana menurutmu? Kamu setuju tidak, acaranya digelar dirumah kami?" Helmi memberi penjelasan dengan panjang lebar.
Fajar bisa mendengar nada sedih dari ucapannya saat menyebut nama Rahul, menantu dan cucunya. Membuat Fajar merasa tertampar. Perasaan bersalah menghantamnya, karena dia sudah membohongi pria yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri itu.
Entah bagaimana reaksi Om Helmi jika beliau tau, bahwa wanita dan janin yang dimaksud adalah menantu dan calon cucunya sendiri. Entah dia harus merasa sedih atau senang, karena fakta yang sesungguhnya masih belum mereka ketahui selain dirinya dan Rahul.
"Iy-iya Om, tentu saja aku setuju. Om lakukan saja apa yang kalian rencanakan untuk Shreya. Om dan Tante tidak perlu khawatir, aku sama sekali tidak keberatan kok" Fajar menjawab dengan hambar. Dia pasrah pada apapun yang sedang mereka rencanakan untuk menantu dan calon cucu yang selama ini mereka cari.
"Syukurlah kalau begitu. Lalu kapan kamu kesini?"
"Aku? Memangnya kenapa aku harus kesana?"
"Lho, kamu ini gimana sih? Kok malah bertanya? Ini kan acara untuk istri dan calon anakmu. Ya tentu saja kamu harus ikut serta dalam acaranya. Lagipula sudah sebulan kalian tidak bertemu. Memangnya kamu tidak merindukan istrimu?"
"Sesibuk-sibuknya kamu, masak tidak bisa meluangkan sedikit waktu saja untuk istrimu? Kan nanti setelah acaranya selesai, kamu bisa kembali lagi kesana. Atau.... Kalian berdua sedang ada masalah? Kok Om merasa kamu seperti berusaha menghindari Shreya ya?" Nada suara Helmi terdengar seperti menyimpan kecurigaan terhadapnya.
"Mmm.... Tidak kok Om. Mu-mungkin itu hanya perasaan Om saja. Aku dan Shreya baik-baik saja kok Om. Kami tidak ada masalah. Ya sudah, besok aku usahakan untuk kesana ya" Fajar mengiyakan permintaan Helmi dengan ragu.
"Nah, begitu dong. Ya sudah, kamu hati-hati ya, Om tunggu. Kamu tenang saja, Om tidak akan memberitau Shreya tentang kedatanganmu besok. Biar ini menjadi kejutan untuknya. Karena dia pasti sudah sangat ingin bertemu denganmu" Helmi berkata dengan ceria dan yakinnya.
"Iya Om. Sudah dulu ya" Fajar menutup panggilan suara itu dengan perasaan hampa.
Rindu? Mungkinkah wanita itu merasakan kerinduan saat jauh darinya? Dia yakin seratus persen jika perasaan itu tidak pernah ada.
Apalagi saat sekarang dia sudah kembali kesisi suami asli, yang sangat dia cintai dan dia rindukan setiap saat. Tidak seperti dirinya yang tidak lebih hanya sebagai orang ketiga diantara mereka.
__ADS_1
Sekarang Fajar jadi merasa resah sendiri. Dia sudah terlanjur berjanji akan datang kesana besok. Dan dia tidak mungkin mengingkarinya kan? Tapi bagaimana dengan Rahul? Bagaimana tanggapan lelaki itu saat melihat kehadirannya dirumahnya nanti? Apakah dia akan marah besar?
Masih segar dalam ingatannya insiden satu bulan yang lalu. Saat Rahul mendatanginya dengan kemurkaan yang mendalam. Menuduhnya telah menggoda dan mencuci otak istrinya sehingga melupakannya.
Bahkan pria itu sampai ingin menghajarnya saking emosinya. Sehingga siap tidak siap dia harus mengalah, dan mengembalikan apa yang memang sudah menjadi miliknya.
Dia melakukan itu semua bukan karena alasan takut. Melainkan karena dia masih memiliki hati nurani. Dan perasaan sebagai sesama lelaki, yang tentunya juga tidak akan bisa terima, andai istrinya didekati dan direbut oleh lelaki lain.
Fajar mengambil kembali botol minuman yang tadi dia simpan saat harus menjawab panggilan dari Helmi. Dia meneguk cairan itu dengan cepat hingga tandas setengah botol. Apapun yang terjadi dia tetap harus ke Jakarta besok.
Tidak ada pilihan lain, dia yang sudah terlanjur memulai sandiwara untuk berpura-pura menjadi suami Zahra. Jadi sekarang dia tidak bisa lari begitu saja dari skenario yang masih bersambung itu, hingga ingatan wanita itu sembuh.
Apa yang terjadi esok, sebaiknya dia pikirkan esok saja. Termasuk reaksi Rahul saat nanti melihat kehadirannya disana.
🍁🍁🍁🍁🍁
Keesokan harinya Fajar menempuh perjalanan ke Jakarta, dengan menggunakan mobil pribadinya. Sepanjang perjalanan pikirannya campur aduk antara gelisah, kecewa dan senang.
Dia senang karena setelah satu bulan berlalu, akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan Zahra. Wanita yang sangat dia cintai dan rindukan selama ini. Namun dia kecewa karena dia tidak tau apakah perempuan itu akan senang dengan kehadirannya.
Atau mungkin dia malah merasa cemas, karena kedatangannya bisa mengganggu kebersamaannya dengan Rahul! Serta sikap Rahul yang mungkin saja masih menyimpan amarah dan pikiran negatif, jika dia masih berani menunjukkan batang hidungnya dihadapan istrinya.
Huh... Entah drama apa yang akan terjadi dengan kedatangannya nanti. Dan dia sudah terjebak serta terjepit dalam skenario yang telah diciptakannya sendiri. Jadi sekarang tidak ada pilihan lain, selain dia tetap berada dalam drama yang endingnya tidak akan pernah berpihak padanya itu.
Fajar menatap bangunan besar dan megah itu dengan perasaan hampa. Dia memasuki rumah mewah itu dengan ragu.
__ADS_1