Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 53- Kejutan Ulang Tahun Tari


__ADS_3

Diperjalanan menuju rumah sakit, Fajar mampir dulu ketoko kue. Dia berniat untuk membeli kue kesukaannya, sebagai cemilan saat bekerja nanti.


"Dokter Fajar" Suara lembut seorang gadis yang terdengar familiar ditelinganya menyapa, saat Fajar sedang berdiri didepan etalase menunggu pesanannya. Fajar langsung menoleh dan berbalik untuk melihat gadis yang menegurnya.


"Ranty. Kamu disini?" Fajar membalas sapaan gadis itu dengan seulas senyum ramah.


"Apa kabar Dok? Sudah lama tidak bertemu" Ranty tersenyum lebar.


"Alhamdulillah kabar saya baik. Kamu sendiri apa kabar? Dan.... Sedang apa disini? Beli kue?" Tanya Fajar yang lantas melihat kotak berisi kue ditangan gadis itu.


"Iya Dok. Ini saya sedang membeli kue untuk Tari"


"Kue untuk Tari? Memangnya dia sedang ingin makan kue? Kok dia tidak bilang apa-apa pada saya?" Fajar mengernyitkan keningnya dengan bingung.


"Memangnya Dokter tidak tau, kalau hari ini Tari ulang tahun?"


"Ulang tahun?"


"Iya. Dokter tidak tau? Kan sekarang Dokter sudah menjadi suaminya. Masak hari ulang tahun istri sendiri tidak tau?" Ranty bertanya dengan heran.


"Iya, saya tidak tau" Fajar menjawab dengan malu dan gugup.


"Kalian masih belum saling membuka hati ya? Padahal tadinya saya pikir, setelah menikah, perasaan cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Ternyata... Belum ada tanda-tandanya ya Dok?" Keluh Ranty dengan sedikit kecewa.


Fajar terdiam menanggapi ocehan gadis itu. Hingga saat ini, hubungannya dengan istrinya memang masih terasa canggung dan kaku. Meskipun sekarang sikap wanita itu sudah berubah terhadapnya, tidak galak lagi seperti dulu.


Namun dia masih belum bisa memastikan, apakah wanita itu sudah memaafkan dan menerimanya atau tidak. Apalagi setelah kejadian kemarin, yang hingga saat ini dia masih belum meminta maaf atas sikap kasarnya.


"Mmm... Lalu sekarang, rencanamu apa, membeli kue itu? Kalian, ingin mengadakan pesta ulang tahunnya?" Fajar bertanya dengan gugup dan penasaran.

__ADS_1


"Mmm... Saya sih rencananya ingin mengadakan acara makan malam dikosan saya Dok, malam ini. Jadi saya mau ijin, mengundang Tari kekosan nanti malam. Bagaimana Dok?" Ranty tersenyum membujuk.


"Ya terserah kalian. Kenapa harus ijin pada saya?" Jawab Fajar kaku.


"Ya karena kan, sekarang Tari sudah menjadi istrinya Dokter. Jadi saya harus ijin dulu pada suaminya, kalau ingin mengajak istri orang" Jawab Ranty dengan sedikit menggoda.


"Dan kamu taukan, kalau saya tidak mungkin melarang Tari untuk bertemu dengan siapapun yang dia mau? Karena saya merasa tidak punya hak untuk itu"


"Kok Dokter bicaranya seperti itu? Kan kalian sudah menjadi suami istri. Jadi ya jelas Dokter punya hak penuh mau melarang, atau mengijinkan Tari. Tapi.... Terima kasih ya Dok, karena sudah mengijinkan. Kalau begitu, saya duluan"


"Iya"


Ranty pun berlalu. Meninggalkan Fajar yang termangu setelah mendengar ocehannya. Jadi hari ini Tari ulang tahun? Suami macam apa dirinya, yang tidak tau hari lahir istrinya sendiri?


Meskipun mereka masih belum menjadi pasangan yang sesungguhnya, namun dia tidak mungkin juga, terus bersikap seperti orang asing terhadap istrinya sendiri.


Biar bagaimanapun juga, mereka berdua sudah menikah. Kira-kira apa yang harus dia berikan untuk wanita itu dihari ultahnya?


🍁🍁🍁🍁🍁


Sebenarnya dalam hatinya, Fajar ingin dia sendiri yang mengantar Tari. Bahkan dia juga ingin turut andil dalam perayaan hari kelahiran istrinya.


Namun dia berusaha menahan diri, karena dia takut membuat perempuan itu merasa risih dan tidak nyaman, jika terus diintili olehnya. Apalagi saat momen berkumpul bersama sahabatnya. Tari sampai dirumah ketika jam sembilan malam lebih.


"Eh, Nyonya sudah pulang?" Bu Zaitun tersenyum menyambut kepulanganTari dan membukakannya pintu.


"Iya Bu" Tari membalas teguran wanita itu dengan senyum lebar. Tampaknya dia sangat bahagia habis berkumpul, dan merayakan ulang tahunnya bersama sahabatnya.


"Nyonya Tari mau makan apa? Biar saya buatkan?" Bu Zaitun menawarkan dengan suara lembut.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot Bu. Aku sudah kenyang kok. Tadi habis makan banyak sekali dirumah Ranty" Jawab Tari dengan sumringahnya. Dia yang tidak pernah tau, bahwa ternyata saat itu Ranty telah menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya dikosannya. Padahal dia sendiri lupa, bahwa hari ini adalah hari jadinya.


"Oh, ya sudah kalau itu maunya Nyonya. Lebih baik sekarang Nyonya istirahat saja ya"


"Iya Bu. Aku kekamar dulu ya"


"Iya"


Tari berlalu dari hadapan wanita paruh baya itu dengan hati yang riang dan ceria.


Fajar yang sedari tadi berdiri dibalik dinding, untuk melihat dan mendengarkan percakapan dua wanita berbeda generasi itu secara diam-diam, ikut senang melihat senyum sumringah yang terpancar diwajah istrinya dihari ultahnya. Senyuman yang entah kenapa membuat hatinya terasa ringan dan damai.


Selama mengenal Tari bahkan sampai menikahinya, rasanya dia jarang sekali melihat wanita itu tersenyum. Sepertinya dia juga harus memberikan hadiah dan kejutan ulang tahun untuk istrinya itu. Ya.... Anggap saja sebagai hadiah persahabatan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam kembali berganti dengan pagi. Tari terbangun saat merasakan matanya sedikit silau, oleh pantulan cahaya yang menelusup melalui celah-celah. Dia membuka matanya dan melihat jam dinding, yang sudah menunjukkan angka delapan lewat 15 menit.


Dia yakin Fajar pasti sudah berangkat kerja. Tari menarik nafas kecewa. Padahal dihari ultahnya, dia juga ingin merayakannya bersama suaminya.


Tapi bagaimana bisa? Lelaki itu bahkan tidak tau hari ulang tahunnya kapan. Padahal ini adalah ultah pertamanya sebagai seorang istri. Tapi dia bukanlah istri yang dicintai oleh suaminya. Mengingat kenyataan itu selalu membuatnya merasa kecewa.


Ditengah-tengah pikirannya yang sedang melantur dengan kecewa, tiba-tiba saja dia tertegun melihat sebuah paper bag yang berada diatas kasur, disamping posisinya yang sedang duduk dengan sebagian tubuh yang masih terbalut selimut.


Tari menautkan alisnya dengan bingung. Kenapa bisa ada paper bag diatas ranjangnya? Milik siapa ini? Tapi jika ini milik orang lain, tidak mungkin ada dikamarnya kan?


Tari memperhatikan selembar kertas berwarna kuning yang berada diatas paper bag itu. Dengan penasaran dia meraih kertas itu, dan membaca tulisan yang dibuat dengan menggunakan tinta pena.


Selamat pagi. Semoga tidurmu semalam nyenyak. Sebelumnya aku minta maaf, atas apa yang terjadi tempo hari. Maaf karena aku sudah marah-marah padamu. Aku memiliki alasan kenapa bersikap seperti itu. Aku harap kamu bisa memaklumi sikapku. Oh ya, selamat ulang tahun ya. Semoga panjang umur. Dan semoga, apapun yang kamu inginkan, bisa terwujud. Semoga kamu suka dengan hadiah pemberianku. Karena nanti malam aku ingin mengajakmu makan malam untuk merayakan ulang tahunmu. Kalau kamu bersedia, tolong pakai gaun itu.

__ADS_1


Fajar


__ADS_2