
Bagaimana caranya dia menyingkirkan perempuan itu dari pikirannya?! Lamunan Gerald terputus saat dia tersentak mendengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" Seru Gerald dengan malas dan kesal.
Pintu pun terbuka.
"Eh, dokter" Gerald terkejut melihat kehadiran dokter yang bertugas menanganinya memasuki ruangan itu.
"Selamat siang Pak Gerald" Sapa dokter lelaki itu dengan senyum ramah, sambil berjalan mendekati ranjang dimana Gerald duduk bersandar pada bantal yang diletakkan di punggungnya.
"Siang dok" Jawab Gerald dingin.
"Bagaimana keadaan anda sekarang? Sudah merasa lebih baik?"
"Ya beginilah Dok. Sebenarnya saya sangat bosan disini. Kira-kira kapan ya, saya boleh pulang? Pekerjaan saya masih banyak. Tapi kalau saya meninggalkan rumah sakit sebelum waktunya, saya pasti akan diomeli mama dan Oma saya habis-habisan"
Pria paruh baya itu tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengar ocehan dan Omelan pasiennya itu. "Pak Gerald yang sabar ya. Jika kondisi anda sudah membaik, kami pasti akan mengijinkan anda untuk meninggalkan rumah sakit ini. Tapi sebelumnya, ada yang harus saya sampaikan kepada anda. Ini mengenai kondisi anda pak" Ucapnya yang tampak ragu untuk berkata.
"Memangnya ada apa dengan kondisi saya? Kok sepertinya dokter serius sekali? Saya sudah merasa baikan kok" Tanya Gerald bingung.
Dokter mengeluarkan amplop putih dari dalam jas putihnya, lalu membuka dan mengeluarkan isinya. "Jadi begini pak, menurut hasil pemeriksaan medis yang kami lakukan, kecelakaan yang anda alami, mengakibatkan benturan yang lumayan keras pada bagian tengah ************ anda, yang membuat anda mengalami azoospermia testiculer...." Dokter menjelaskan sambil membaca surat yang telah dibentangkan ditangannya.
__ADS_1
"Dok, ini maksudnya bagaimana ya? Azoospermia? Apa itu? Saya tidak paham. Tolong jelaskan dengan jelas, jangan bertele-tele" Gerald mengernyit bingung dan sedikit kesal dengan penjelasan dokter yang menurutnya tidak jelas.
"Jadi begini pak, kondisi ini adalah saat dimana pria mengalami kerusakan pada struktur atau fungsi testinya, yang mengakibatkan seorang pria tidak bisa memiliki keturunan, karena tidak mampu membuahi sel telur yang dimiliki oleh pasangan anda, ketika melakukan hubungan suami istri" Dokter kembali menjelaskan dengan sabar dan sedetail mungkin.
"Maksud dokter, saya m*nd*l?" Seru Gerald dengan mata terbelalak.
"Kurang lebih.... Seperti itu pak...." Lirih dokter dengan ragu dan wajah menunduk. Takut jika penjelasannya akan membuat pasiennya shock dan tersinggung. Dan hal seperti itu sudah sering dialaminya, setiap kali menyampaikan hasil diagnosanya yang tidak bisa mereka terima.
"Dokter jangan bercanda ya! Jangan main-main! Anda taukan siapa saya, dan apa yang bisa saya lakukan jika anda berani mempermainkan saya?!" Gerald menekankan dengan tajam. Tatapannya yang begitu menakutkan membuat nyali dokter itu semakin menciut.
"Maaf Pak, tapi saya tidak pernah bermain-main atau bercanda. Kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh seperti tes hormon, USG, bahkan CT scan, dan hasilnya seratus persen anda menderita azoospermia, yang menyebabkan anda akan kesulitan untuk menghamili wanita...." Dokter kembali bersuara dengan pelan agar pria itu tidak semakin berang.
"Ba-baik Pak" Dengan tubuh yang mulai gemetar ketakutan, dokter mengangguk dengan cepat. Dia merasa ngeri harus berlama-lama berhadapan dengan lelaki temperamental ini.
Dia berbalik untuk segera angkat kaki dari kamar itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada seseorang berdiri diambang pintu.
Penasaran melihat lelaki itu masih berdiri mematung ditempatnya, Gerald ikut menatap kearah pintu mengikuti arah pandangan dokter itu. Betapa terkejutnya dia melihat orang yang sangat dikenalnya berdiri diambang pintu, dan menatapnya dengan tatapan heran dan bingung.
Gerald mendelik melihat kehadiran orang yang paling dibencinya ada dikamarnya. Perasaannya menjadi was-was. Sedang apa Fajar disini? Dan sejak kapan dia datang? Apa dia sudah berada disini sedari tadi dan mendengar semua yang dokter si*lan ini katakan tentang kondisinya?!
Jika iya, habislah dia dengan rasa malunya sendiri! Jika diagnosa itu benar, betapa dia memiliki kekurangan yang sangat fatal sebagai seorang pria! Dan kekurangan itu diketahui oleh musuh terbesarnya! Sial!! Dia tidak sudi siapapun tau tentang kondisinya yang sangat memalukan ini, apalagi sibedebah itu!!
__ADS_1
Dengan kasar Gerald menarik bahu baju dokter hingga membuat tubuh pria itu membungkuk mendekatinya.
"Dokter keluar sekarang. Dan jangan pernah coba-coba untuk membahas tentang diagnosa anda pada siapapun, atau anda akan tau akibatnya" Dengan setengah berbisik Gerald mengancam dokter itu dengan tatapan tajam.
Dokter itu menelan salivanya, saking takutnya dia hingga tidak mempunyai pilihan lain selain mengangguk, karena lelaki ini tampaknya serius dengan ancamannya.
"Iy-iya Pak, saya permisi" Dokter pun kembali membalikkan badannya, dan berjalan dengan langkah cepat menuju pintu keluar.
Sesampainya diambang pintu dia melemparkan senyum tegang pada Fajar, sebelum berlalu dari hadapan kedua lelaki sebaya itu.
Fajar menatap kedua lelaki itu dengan kebingungan. Hatinya bertanya-tanya penasaran, apa yang membuat dokter itu terlihat begitu ketakutan? Dan kenapa Gerald terlihat begitu marah? Apa yang dilakukan dokter itu hingga membuat Gerald sangat emosi? Pertanyaan itu terus berputar-putar dikepalanya.
Tadi dia melihat Gerald seperti berbisik sembari mencengkram baju dokter itu. Posisinya yang berdiri agak jauh dari mereka membuatnya tidak bisa mendengar apa yang Gerald katakan pada dokter itu. Sebenarnya apa yang terjadi pada kakaknya? Sepertinya masalahnya sangat serius hingga membuat Gerald begitu emosi.
"Ngapain kamu disini? Mau memata-mataku?" Sentak Gerald yang membuat Fajar kaget dan mengarahkan pandangan pada kakaknya yang menatapnya dengan tatapan tajam dan antipati.
Fajar menghela nafas berat mendengar tuduhan Gerald. Dia tau kedatangannya kesini tidak akan pernah mendapatkan sambutan yang baik dari kakaknya itu. Namun dia harus berusaha sabar. Kedatangannya kesini bukan untuk mencari ribut.
"Aku tidak ada waktu untuk memata-mataimu. Tapi aku kesini hanya untuk melihat kondisimu. Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi sebagai saudara, aku juga sangat mengkhawatirkanmu. Dan aku berharap kamu baik-baik saja, tidak terluka parah...." Fajar menjawab dengan tenang dan serius sambil berjalan mendekati ranjang dimana kakaknya berada.
"Berhentilah berbasa-basi, atau bersikap sok baik didepaku. Karena apapun yang kamu katakan, aku sama sekali tidak tersentuh sedikitpun. Karena bagiku, apapun kata-kata yang keluar dari mulutmu, tidak lebih dari sekedar sampah" Tukas Gerald dingin dan ketus.
__ADS_1