
Dan dia juga sangat mencintai lelaki yang sedang menjamah tubuhnya ini, sehingga rasanya berbeda? Tari tidak ingin berpikiran terlalu jauh. Apalagi saat itu dia juga sedang dalam keadaan takut, shock dan panik setengah mati. Sehingga yang ada dipikirannya adalah menghentikan aksi pelecehan yang merenggut keperawanannya.
Tari memutuskan untuk mengabaikan kejanggalan yang dirasakannya, karena kenikmatan yang diberikan suaminya terlalu sayang untuk dia lewatkan, hanya demi mengingat malam yang menyakitkan dimasa lalu.
Fajar semakin memperdalam ciumannya yang semakin lama semakin menjadi ciuman panas. Dia mulai ******* bibir Tari dan menjelajahi bibir penuh istrinya yang terasa sangat nikmat dan menggairahkan, namun rasanya sangat asing baginya.
Setelah menanggalkan pakaian Tari hingga membuat tubuh istrinya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun, Fajar membuka pakaiannya sendiri dan melemparkannya kesembarang arah.
Sebelumnya dia sudah berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter Jenar yang selama ini menjadi dokter obgynnya Tari, karena tidak ingin sampai membahayakan kondisi calon putrinya yang masih berada dalam kandungan istrinya.
Namun dokter itu tidak mempermasalahkan mereka untuk melakukannya, asalkan dia bisa menghindari beberapa posisi yang dapat membuat perut tertindih. Karena itulah Fajar berani mempersiapkan malam ini untuk mereka berdua.
Fajar mulai menyentuh bagian-bagian tubuh Tari yang sensitif, dan menyesap kenikmatannya yang masih terasa sangat asing baginya. Padahal dia sudah pernah mencicipi tubuh perempuan ini saat dulu dia melecehkannya, hingga mengandung anaknya.
Tapi kenapa dia merasa seperti belum pernah mencobanya sama sekali? Apa mungkin karena dulu dia sedang berada dalam pengaruh alkohol? Bahkan hingga saat ini tidak ada sekilas bayangan pun tentang malam itu yang diingatnya. Entahlah, dia kurang tau.
Tari mendesah nikmat. Dia memasrahkan tubuhnya pada suaminya. Tari terkulai lemah setelah mencapai puncak kenikmatan.
"I love you my husband" Lirih Tari.
"I love you to my wife" Balas Fajar. Dia mengecup kening istrinya.
Meski ini pertama kalinya dia menyentuh istrinya dalam keadaan sadar, setelah menikah beberapa bulan yang lalu. Namun dia senang karena keperawanan perempuan itu sudah lama menjadi miliknya, meski dulu dia melakukannya dalam keadaan tidak sadar.
Fajar pun jatuh tertidur sambil mendekap tubuh Tari yang sudah lebih dulu terlelap.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi kembali datang. Tari terbangun saat hidungnya mencium aroma makanan yang terasa sangat dekat dengannya. Dia mengucek-ucek matanya, lalu menatap tubuhnya yang polos dibalik selimut.
Awalnya dia terkejut mendapati dirinya tidak mengenakan pakaian apapun. Namun didetik berikutnya, dia teringat malam panjang yang dia lalui bersama suaminya semalam.
__ADS_1
Tari tersenyum lebar mengingat malam indah dan menyenangkan itu. Dia merasa seperti pengantin baru yang baru saja menghabiskan malam pertama bersama suami tercintanya.
"Good morning my wife" Sebuah suara bariton tiba-tiba saja mengejutkannya hingga membuat Tari terperanjat bangun.
"Kamu?" Seru Tari yang terkejut melihat Fajar ada didepannya. Pria itu sudah terlihat tampan dan rapi, dalam balutan kemeja berwarna tosca dan celana hitam yang dikenakannya. Aroma parfum tercium dari tubuhnya. Sangat berbeda dengan Tari yang masih sangat berantakan dengan wajah bantalnya.
"Iya, aku suamimu. Ada yang aneh?" Tanya Fajar dengan santainya.
"Kamu kapan bangun? Kok sudah rapi?" Tanya Tari dengan alis bertaut.
"Dari sejam yang lalu"
"Apa?!! Kamu sudah bangun dari sejam yang lalu, tapi tidak membangunkanku?!!" Seru Tari dengan suara kencang saking terkejutnya. Membuat Fajar sedikit tersentak mendengar suara teriakan istrinya yang terasa memekakkan telinganya.
"Astaga, gak usah teriak-teriak bisa tidak sih? Itu suara berapa oktaf? Perempuan hamil itu harus tenang, harus kalem. Tidak boleh teriak-teriak. Kasian tau princess, pasti dia terkejut dan shock dengan kelakuan ibunya" Seloroh Fajar sambil mengusap-usap telinganya.
"Ah.... Udah diam ah. Nyerocos mulu. Dasar suami ngeselin. Bangun sendirian, istrinya gak dibangunin" Gerutu Tari dengan kesalnya.
"Kamu bilang apa? Kamu bilang aku ngorok?" Teriak Tari mendelik marah mendengar perkataan suaminya yang mencelanya.
"Aauuw! Aduh-aduh, sakit sayang. Lepasin dong" Seru Fajar mengaduh saat tangan Tari mendarat dipinggangnya dan memberinya cubitan keras.
"Jangan harap. Ini akibatnya karena berani menyebutku tukang ngorok" Seru Tari dengan galaknya.
"Kan memang kenyataannya begitu. Kamu tukang ngorok. Masak aku harus bohong" Fajar masih saja belum kapok menjahili istrinya, sekalipun Tari masih mencubitnya dengan keras seperti kepiting yang menjepit mangsanya.
"Ih!! Rasakan ini" Ucapan Fajar membuat Tari semakin merajuk, sehingga dia semakin memperkeras cubitannya.
"Aduh. Kamu tidak mau melepaskanku?" Tanya Fajar dengan sikap yang masih menyebalkan.
"Tidak" Jawab Tari dengan tegas dan keras kepala
__ADS_1
"Baiklah kalau itu maumu" Fajar menatap Tari dengan tatapan mesum sebelum dia merengkuh tubuh istrinya, dan menciumi wanita itu secara bertubi-tubi.
"Aauuw. Aduh, lepasin" Kini giliran Tari yang mengaduh dan meminta dilepaskan dari cengkeraman suaminya, yang mengecup seluruh tubuhnya dengan rakus tanpa ampun.
"Jangan harap. Ini akibatnya karena berani melakukan kekerasan pada suamimu sendiri" Fajar tidak mengindahkan perintah Tari. Dia terus saja mendekap dan menciumi tubuh istrinya yang masih dalam keadaan polos.
"Aauw!!" Pekik Tari yang tiba-tiba saja memegang perut bulatnya dan meringis. Melihat Tari yang tampak kesakitan, Fajar langsung melepaskan istrinya.
"Sayang, kamu kenapa? Princess kesakitan?" Fajar bertanya dengan khawatir sembari memegang dan mengelus-elus perut istrinya.
"Aauuw!" Tari kembali mencubit pinggang Fajar dengan keras, hingga membuat lelaki itu kembali memekik saat dia sedang lengah, akibat bualan Tari yang berpura-pura kesakitan.
"Hahaha!" Tari tertawa terpingkal-pingkal karena puas menjahili suaminya dengan telak.
"Oh.... Mau main curang?" Fajar menatap istrinya sembari mengangguk-anggukkan kepalanya dengan geram dan gemas.
"Rasain" Ledek Tari menjulurkan lidahnya. Membuat Fajar tersenyum gemas melihat kelakuan istrinya itu. Candaan seperti ini membuat pagi harinya terasa sangat berwarna.
"Oh ya, kamu bawa apasih?" Tari mengalihkan pembicaraan dan perhatiannya pada makanan yang berada dalam piring, dalam nampan diatas nakas disebelah ranjangnya. Makanan yang aromanya sedari tadi menggugah selera makannya. Namun karena terlalu sibuk meladeni banyolan suaminya, perhatiannya sampai teralihkan.
Fajar mengambil piring berisi makanan itu dan menyodorkannya kedepan Tari. "Ini aku buatkan sosis gulung telur, khusus untuk ratu dan putriku" Ucapnya yang mengelus-elus perut besar Tari diakhir kalimatnya.
"Ini kamu buat sendiri?" Tari menatap makanan dalam piring itu serta Fajar dengan tatapan tidak percaya. Rasanya dia ragu jika makanan itu adalah asli hasil karya suaminya.
"He em" Fajar mengangguk dengan tenangnya.
"Serius?" Goda Tari.
"Kenapa? Kamu pikir aku tidak bisa membuatkan makanan seperti ini? Jangan meremehkanku ya. Mentang-mentang aku tampan" Ucap Fajar menyombongkan diri.
"Huh, dasar narsis" Gerutu Tari.
__ADS_1