Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 37- Ucapan Selamat Untuk Sepasang Mempelai


__ADS_3

Ditambah lagi, wanita itu adalah istri dari sahabatnya sendiri. Dia tidak bisa seperti ini terus. Ayolah Fajar, move on. Fajar berusaha menasehati dirinya sendiri.


Tari yang diam-diam melirik Fajar sekilas, merasa heran melihat sikap calon suaminya itu yang tampak gugup dan salah tingkah. Apa pria itu gugup karena pernikahan ini? Ya sudahlah, dia tidak usah memikirkan pria itu. Toh mereka berdua juga sama-sama terpaksa melakukan pernikahan ini.


Rombongan keluarga besar itu naik keatas pelaminan, dan menyalami sepasang mempelai itu.


"Selamat ya Nak, atas pernikahanmu" Helmi menyalami Fajar dan memeluknya, dengan senyum sumringah yang merekah diwajahnya.


"Terima kasih Om" Fajar membalas pelukan pria paruh baya itu dengan senyum terpaksa


"Selamat ya Nak, semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan. Dan pastinya.... Cepat diberi momongan" Lesti pun ikut menyalami Fajar dan memberikan doa, serta harapannya dengan bahagianya.


Namun tanpa dia sadari, perkataannya malah membuat Fajar dan Tari serasa tertampar, hingga mereka saling menatap sejenak dengan tegang.


Tari memegang perutnya yang masih rata dan terselubung dengan gaun pengantinnya. Andai saja mereka tau, bahwa momongan yang mereka maksud itu memang sudah ada. Bahkan momongan itulah yang membuat mereka terpaksa harus melakukan pernikahan ini.


"Terima kasih Tante. Oh ya kenalkan, ini Mentari, calon istriku" Fajar membalas jabatan tangan Lesti dengan senyum gugup. Kemudian dia menunjuk dan memperkenalkan Tari. Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dari pembahasan anak.


"Hallo sayang, kamu cantik sekali ya. Tante ucapkan selamat ya atas pernikahanmu" Lesti memeluk Tari dan mengelus-elus rambutnya dengan lembut dan penuh kehangatan.


"Terima kasih Tante" Tari membalas pelukan perempuan paruh baya itu dengan kikuk.


"Selamat ya bro" Rahul menjabat tangan Fajar dengan penuh kebahagiaan untuk sahabatnya, yang akhirnya akan melepas masa dudanya. Serta melepaskan perasaannya dari istrinya. Itu yang lebih penting dan sangat membahagiakannya.


"Terima kasih" .

__ADS_1


"Semoga sukses ya.... Malam pertamanya" Rahul berbisik nakal dan mengerlingkan matanya. Yang membuat Fajar tersenyum jengah dan kaku.


"Selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga.... Pernikahan kalian selalu dipenuhi dengan kebahagiaan" Zahra ikut menjabat tangan Fajar, dan menyampaikan doa serta harapannya atas pernikahan mereka.


"Terima kasih banyak. Doa yang sama juga untukmu dan keluargamu juga"


Tari memperhatikan adegan itu dengan sedikit heran. Entah mengapa dia merasa ada yang aneh melihat sikap Fajar terhadap wanita itu. Pria itu terlihat gugup dan salah tingkah. Tatapannya terhadap perempuan itupun terasa begitu dalam.


Dan perempuan yang bernama Zahra itu juga, tampak gugup dan tidak nyaman berhadapan dengan pria itu. Apa jangan-jangan, ada sesuatu diantara mereka berdua?


Ah sudahlah, bukan urusannya juga. Toh dia juga tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap calon suaminya itu. Malah dia sangat membencinya. Jadi apa pedulinya, jika pria itu melirik perempuan lain?


"Hai. Selamat ya atas pernikahanmu dan Fajar. Kenalkan, namaku Zahra" Tari tersentak saat Zahra mendekatinya, dan mengulurkan tangannya sembari tersenyum dengan cerianya.


"Aku Mentari, Kakak bisa memanggilku Tari" Tari membalas uluran tangan perempuan itu dengan perasaan kaku dan kikuk.


"Aku sudah mengundangnya Om. Tapi kalau mereka tidak mau datang, aku bisa apa?" Fajar menjawab dengan suara hambar.


Sikapnya membuat Tari kembali bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa pria itu terlihat tidak senang membicarakan keluarganya? Apakah hubungan mereka juga bermasalah, sama seperti dirinya dengan keluarganya?


Andai hubungan mereka terjalin dengan normal atas dasar cinta seperti pasangan pengantin pada umumnya, mungkin dia juga akan diperkenalkan dengan keluarga calon suaminya. Namun sayangnya, pernikahan mereka terjadi akibat kecelakaan.


"Pa, sepertinya itu mereka" Tiba-tiba Rahul menyikut lengan Papanya, dan menunjuk tiga orang yang sedang berjalan diantara para tamu, menuju pelaminan tempat mereka semua berdiri saat ini.


"Hallo semuanya. Ternyata sedang berkumpul disini?" Kicau Oma Violet memperlihatkan senyumannya.

__ADS_1


Fajar sama sekali tidak merasa bahagia dengan kedatangan keluarganya. Karena dia tau, bahwa mereka tidak datang sebagai keluarga. Melainkan hanya sebagai tamu yang menganggapnya orang asing. Yang tidak akan pernah merasa sedih, ataupun bahagia untuk setiap suka dukanya.


Kehadiran mereka membuat suasana seketika menjadi kaku dan hening. Semua terdiam dan saling pandang. Kecuali Tari dan Zahra yang merasa kebingungan. Karena mereka tidak tau apapun dengan masalah yang terjadi diantara keluarga besar itu.


"Selamat ya Fajar, atas pernikahan kalian" Gerald mengulurkan tangannya dengan sikap yang tampak bersahabat terhadap Fajar.


"Terima kasih sudah datang" Fajar menyambut uluran tangan Gerald dan mencoba untuk menyesuaikan sikap mereka.


"Oh ya Fajar, kamu tidak ingin memperkenalkan calon istrimu pada kami?" Tanya Oma Violet seraya menunjuk Tari yang berada disebelah Fajar.


"Kenalkan namanya.... Mentari Senja Pratama. Kalian bisa memanggilnya dengan panggilan Tari. Tari, kenalkan ini.... Oma Violet, Tante Astrid dan Gerald. Mereka adalah Oma, kakak dan ibu tiriku" Fajar memperkenalkan Tari pada keluarganya dengan ekspresi datar dan hambar.


"Tapi tunggu dulu. Bukankah kamu... Pelayan dihotel waktu itu? Yang sempat ribut dengan Gerald?" Sembari menunjuk dengan jari telunjuknya, Astrid menatap Tari dengan lekat dan alis bertaut. Mencoba mengingat dan memastikan wajah yang terasa familiar baginya itu.


"Iya Tante" Jawab Tari dengan nada datar.


Dia juga tidak menyangka ternyata pria angkuh dan sombong dan keluarganya yang sempat berkonfrontasi dengannya, ketika dia masih bekerja sebagai pelayan katering dulu, adalah keluarga calon suaminya sendiri. Benar kata orang, dunia ini memang sempit.


"Kalian.... Saling mengenal?" Fajar menatap keempat orang itu secara bergantian dengan bingung.


"Tentu saja. Kami pernah bertemu dihotel. Waktu itu Tari sempat bersitegang dengan Gerald. Dia bersikap dengan sangat tidak sopan. Menyiram tamu undangan dengan sop, dan mempermalukannya dihadapan banyak orang. Padahal dia disana hanya berprofesi sebagai seorang pelayan. Tapi malah bersikap melebihi bos dan pemilik acara. Bukan begitu sayang?"


Oma Violet berceloteh panjang lebar. Nada suaranya lembut, namun terdengar sangat sinis dan merendahkan Tari. Bahkan wanita sepuh itu melempar senyum mencemooh pada calon cucu menantunya itu.


Membuat semua orang terkejut mendengarnya. Dan mereka menatap Tari dengan tatapan bertanya-tanya.

__ADS_1


"Iya Oma benar sekali. Tapi semua yang terjadi, tentunya ada sebab dan akibat bukan? Jika tamu yang aku temui bersikap sopan, tentu aku juga akan bersikap demikian. Begitu pula sebaliknya. Jika tamu itu tidak memiliki attitude padahal dia adalah orang yang terpelajar dan berpendidikan tinggi, lalu bagaimana dengan aku yang hanya seorang pelayan?


Lagipula aku juga tidak mungkin diam saja, melihat sahabatku diperlukan seperti seekor hewan oleh tamu yang tidak berattitide itu, hanya karena dia seorang pelayan. Bukankah pelayan juga manusia? Dan mereka juga berhak untuk dihargai? Seharusnya sebagai orang yang lebih tua dan dihormati, Oma bisa mengajarkan hal itu pada yang lebih muda. Bukan begitu Oma?"


__ADS_2