Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 45- Kamu Sangat Tampan


__ADS_3

"Tiba-tiba saja aku ingin makan yang asam-asam seperti rujak. Rasanya aku ingin makan sekarang juga" Kata Tari yang terlalu malu menatap suaminya.


Fajar tersenyum mendengar penjelasan istrinya. "Kamu ngidam? Ya sudah kalau begitu, kita mampir dulu kerestoran dekat sini ya. Aku tau kok, restoran rujak yang paling enak disekitar sini"


"Iya terima kasih"


"Tidak perlu. Aku tau kok itu keinginan bayinya. Dia juga bayiku. Dan aku juga akan melakukan apapun untuk anakku"


Perkataan Fajar membuat Tari merasa terharu. Ya Tuhan, kenapa semakin lama lelaki ini semakin membuatnya meleleh dengan sikap dan perlakuannya? Kalau begini terus, lama-lama dia benar-benar bisa jatuh cinta pada suaminya itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Fajar membawa Tari kesebuah restoran rujak yang sedang populer dikota itu. Tari tampak begitu antusiasnya saat melihat rujak buah yang dipesan oleh Fajar tersuguh dihadapannya. Air liurnya langsung mengalir dengan deras, sehingga dia harus menelannya.


Tanpa menunggu lama, dia langsung melahap irisan buah-buahan asam itu seperti orang kelaparan. Sehingga mulutnya belepotan dengan bumbu rujak.


"Sebentar" Fajar yang sedari tadi duduk didepan Tari dan memperhatikan istrinya yang mengunyah rujak itu dengan lahapnya, mengambil tissue dimeja lalu mengelap dan membersihkan bumbu rujak itu diarea bibir Tari.


Jantung Tari kembali berdegup kencang, saat tangan lelaki itu menari-nari diarea bibirnya. Pria yang telah menikahinya ini benar-benar memiliki ketampanan akut. Membuat Tari semakin tidak kuasa menatapnya.


Dia hanya berharap semoga pria itu tidak sampai mendengar suara detak jantungnya, yang berdegup cepat dan tak terkontrol ini. Dia tidak ingin suaminya ini sampai mengetahui perasaannya, yang semakin hari semakin tak terkendali ini.


"Kalau makan itu pelan-pelan. Jadi belepotan kan" Celetuk Fajar sambil meletakkan tissue dimeja. Senyum tipis tersungging dibibirnya.


Membuat Tari malu karena sudah bersikap seperti anak kecil yang tidak bisa makan dengan benar, hingga mulutnya sampai belepotan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari-hari berikutnya, Fajar kembali sibuk dengan pekerjaannya yang mengurus rumah sakit dan perusahaan. Dia meninggalkan Tari dalam pengawasan pelayan dan bodyguard dirumahnya.


Dan kesibukannya membuat Fajar jarang berada dirumah. Terkadang dia pergi pagi, saat Tari tertidur setelah menyiapkan sarapan. Dia juga pulang setelah wanita itu sudah terlelap.


Semua dilakukannya bukan lantaran dia membenci istrinya itu. Dia akui jika kehadiran perempuan itu dan bayinya, sedikit banyak sudah mengalihkan pikirannya dari Zahra. Dia juga sudah mulai merasa nyaman dengan keadaan seperti ini.

__ADS_1


Namun dia tidak tau, apakah perempuan itu sudah merasa nyaman dengannya dan pernikahan mereka atau tidak. Dia takut jika rasa benci dan trauma wanita itu terhadapnya masih meninggalkan bekas. Karena itulah, sebisa mungkin dia berusaha agar jarak diantara mereka tetap tercipta.


Namun tanpa dia ketahui, sikapnya itu justru malah membuat Tari merasa hampa. Setiap hari dia selalu merindukan suaminya itu. Berbagai pikiran negatif singgah dikepalanya. Apakah pria itu merasa terbebani dengan keberadaannya? Atau, hingga saat ini hatinya masih pada Zahra, sehingga tidak ada tempat untuknya?


Arrgghhh! Kenapa dia menjadi seperti ini? Seperti perempuan bodoh yang haus akan cinta dari pria yang telah memperkosanya!


Andai hubungan mereka normal layaknya pasangan suami istri pada umumnya, mungkin Tari sudah menghampiri suaminya itu kerumah sakit atau keperusahaannya. Membawakannya bekal dari hasil masakannya sendiri.


Namun sayangnya, mereka tidak memiliki hubungan spesial itu. Sehingga Tari harus bisa menahan diri untuk tidak bersikap terlalu jauh terhadap pria itu.


Tinggal dirumah itu lama-lama membuat Tari merasa bosan. Tidak ada hal yang bisa dilakukannya. Ingin bebersih dan beberes rumah, Bu Zaitun dan pelayan lain selalu melarangnya dengan alasan menjalankan pesan dari Fajar.


Padahal dia juga tidak mungkin akan melakukan hal yang dapat membahayakan keselamatan bayinya sendiri. Ingin rasanya dia melanjutkan kuliahnya lagi seperti dulu. Namun mau biaya darimana? Penghasilan saja dia tidak punya.


Disaat-saat seperti ini dia jadi merindukan Ranty. Sudah hampir dua bulan setelah pernikahannya dengan Fajar. Dan dia tidak pernah lagi bertemu dengan sahabatnya itu. Meskipun komunikasi mereka tetap dengan berjalan lancar melalui ponsel.


Dan untuk saat ini, sepertinya dia membutuhkan teman untuk bicara dan menghilangkan kejenuhannya.


Akhirnya Tari memutuskan untuk mengunjungi Ranty dikosannya yang baru dengan diantar supir. Lantaran Bu Zaitun tidak mengijinkannya untuk pergi sendirian, tanpa pengawasan orang rumah.


"Ran" Tari membalas pelukan sahabatnya dengan perasaan rindu.


"Aku kangen" Ranty melepaskan pelukannya.


"Sama aku juga"


"Setelah ditinggal nikah, aku jadi harus tinggal sendirian lagi deh" Ranty berkata dengan wajah cemberut.


"Maaf ya, sudah tidak bisa menemanimu lagi. Habis mau gimana lagi? Kan sekarang dia sudah menjadi suamiku. Jadi aku harus tinggal bersamanya kan"


"Tapi kok aku perhatikan, bumil wajahnya terlihat cerah sekali. Sangat berbanding terbalik dengan beberapa bulan sebelumnya. Apakah sudah mulai ada getaran dengan ayah sibayi?" Ranty tersenyum menggoda.


"Apaan sih? Memangnya kami berdua kesetrum? Ayo masuk" Gerutu Tari yang lantas berjalan masuk kedalam kosan dengan kesal, mendahului Ranty yang mengekornya dari belakang.

__ADS_1


Sesampainya didalam, mereka duduk diatas sofa. Saling melepas kangen sembari berbincang-bincang ngalor-ngidul.


"Jadi bagaimana, kondisi rumah tanggamu sekarang?" Ranty bertanya dengan kepo.


"Baik-baik saja" Tari berusaha agar nada suaranya tetap terdengar datar.


"Baik? Itu artinya, dia memperlakukanmu dengan baik?"


"Ya tentu saja"


"Itu artinya.... Kamu tidak menyesalkan, menikah dengannya?" Goda Ranty.


"Sudahlah, kenapa sih membahas dia terus? Tidak ada bahan obrolan lain apa? Mending kita jalan-jalan saja yuk"


"Jalan-jalan kemana?"


"Ya kemana saja. Yang penting keluar. Aku bosan dirumah itu terus. Tidak melakukan apa-apa. Sedikit saja aku bekerja, pasti langsung dilarang oleh Bu Zaitun. Katanya Tuan Fajar sudah berpesan Nyonya harus istirahatlah. Tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat-beratlah. Kasian bayinya" Gerutu Tari menirukan ucapan pelayan-pelayan dirumahnya.


"Wah, sepertinya suaminya sangat over protektif ya terhadapmu? Takut sekali istrinya kelelahan. Maklumlah, istrinya sedang hamil anaknya. Pasti kamu sangat bahagia ya, memiliki suami seperti dia?" Ranty masih belum puas menggoda Tari dengan senyumannya yang menyebalkan.


"Udah deh Ran, jangan ngeselin terus. Mending sekarang kamu temani aku jalan-jalan. Kamu sedang tidak ada kerjaan kan sekarang?"


"Iya sih, shiftku nanti malam. Ya sudah, ayo kita pergi"


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari ini Fajar pulang lebih awal dari biasanya. Yaitu sekitar jam setengah tujuh malam. Seperti biasa, kepulangannya disambut oleh Bu Zaitun dengan ramah dan sopan.


"Eh Tuan sudah pulang"


"Bu, dia kemana?" Tanya Fajar dengan mata yang tampak bergerilya kesekelilingnya.


"Maksudnya Nyonya Tari?" Bu Zaitun balik bertanya memastikan.

__ADS_1


"Iya"


__ADS_2