Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 8- Aku Harus Move On!!


__ADS_3

"Ya sudah kalau begitu. Kamu bisa mulai bekerja hari ini, sebagai masa percobaan. Jika kinerja kamu saya rasa memuaskan, maka saya akan mempertimbangkan untuk menjadikanmu sebagai karyawan tetap disini.


Tapi kalau tidak, dengan sangat terpaksa saya harus mencari pekerja lain. Karena saya tidak mau perusahaan ini terkena dampaknya karena mempekerjakan karyawan yang tidak becus" Wanita berpenampilan elegan bernama Retno itu menekankan dengan tegas.


Tari mengangguk setuju. "Iya Bu, saya janji akan berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Ibu. Terima kasih banyak Bu, atas kesempatannya"


"Iya sama-sama. Ranty, tolong kamu ajari temanmu ini ya" Bu Retno melirik Ranty yang sedari tadi berdiri disebelah Tari.


"Iya Bu, pasti" Ranty menjawab dengan antusiasnya.


"Ya sudah saya tinggal dulu" Bu Retno pun meninggalkan kedua gadis itu. Keduanya pun langsung meloncat kegirangan dan saling berpelukan saking senangnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Fajar membuka pintu kamarnya. Melihat Bu Zaitun yang sedang berkutat dengan pakaian-pakaian Fajar yang sedang dia kemasi kedalam koper dengan rapi. Besok pria itu akan menempuh perjalanan keluar negeri untuk menghadiri acara pernikahan salah satu rekan bisnisnya yang berada di Swiss.


Satu minggu setelah kepergian Zahra dan Rahul ke Jakarta, dia mendapat undangan pernikahan dari Swiss. Mungkin dia memang butuh perjalanan jauh dan suasana baru supaya bisa melupakan semua masalahnya.


Padahal tadinya pergi keluar negeri hanya alasan yang digunakannya untuk membuat Rahul bisa membawa pulang istrinya, tanpa menimbulkan kecurigaan wanita itu sendiri yang saat ini masih dalam keadaan amnesia. Namun sekarang alasannya menjadi kenyataan. Dan dia merasa sedikit lega.


"Tuan, semua barang-barang Tuan sudah saya masukkan kedalam koper. Apa ada lagi yang Tuan butuhkan?" Kata Bu Zaitun setelah dia selesai dengan pekerjaannya.


"Tidak perlu Bu. Ini sudah cukup kok. Terima kasih ya" Jawab Fajar dengan hambar.


"Iya Tuan. Kalau saya boleh tau, Tuan berapa lama disana?"


"Mungkin beberapa hari, beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun" Jawab Fajar tidak yakin.


"Bukankah Tuan disana.... Hanya untuk menghadiri pesta pernikahan rekan bisnis Tuan saja? Kok bisa selama itu?"

__ADS_1


"Ya.... Karena setelah itu aku juga akan mengurus masalah bisnis juga. Jadi pasti akan membutuhkan waktu selama berhari-hari, untuk bertemu dengan rekan bisnis serta membahas segala sesuatunya"


"Maaf Tuan, tapi apa Tuan yakin jika alasannya hanya karena urusan bisnis? Atau.... Ini hanya cara Tuan untuk melupakan Nyonya Shre.... Mmm.... Maksud saya Nyonya Zahra...." Tanya Bu Zaitun dengan gugup dan takut.


"Apa aku boleh minta sesuatu pada Ibu?" Fajar balik bertanya dengan datar.


"Apa Tuan? Katakan saja"


"Bisa tidak, kita tidak perlu membahas tentang wanita itu? Aku mohon, tolong bantu aku untuk move on darinya. Aku tau kalau Ibu sangat menyayangiku. Dan Ibu tidak ingin melihatku tersakiti kan? Satu-satunya cara supaya aku tidak sakit adalah.... Hanya dengan melupakan istrinya Rahul, dan melanjutkan hidupku"


Pinta Fajar dengan lirih dan raut wajah sendu. Membuat Bu Zaitun semakin merasa iba dan bersalah terhadapnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Fajar tiba di Swiss. Keesokan malamnya dia menuju hotel yang menjadi venue berlangsungnya acara pernikahan salah satu rekan bisnisnya, yang letaknya agak jauh dari hotel tempatnya menginap.


Adegan bahagia itu membuatnya kembali teringat kenangan bahagianya bersama Shreya dulu. Bagaimana mereka menjadi raja dan ratu sehari diatas pelaminan saat dulu mengucapkan janji sehidup semati. Namun masa-masa indah itu hanya bertahan selama beberapa tahun saja, sebelum semuanya berakhir akibat kecelakaan maut itu.


Hingga akhirnya dia bertemu dengan Zahra. Satu-satunya wanita yang bisa membuatnya kembali merasakan perasaan cinta. Menyembuhkan hatinya yang terluka, dan membuatnya move on dari keterpurukannya.


Namun masa-masa itu pun hanya bertahan sesaat, sebelum akhirnya Rahul menyadari bahwa wanita itu adalah istrinya yang selama ini dia cari.


Fajar menggelengkan kepalanya. Kenapa begitu sulit menyingkirkan perempuan itu dari pikirannya?! Bahkan ditengah-tengah keramaian seperti ini, pikirannya tetap tidak bisa teralihkan dari istri sahabatnya itu!


Tidak-tidak! Dia tidak bisa seperti ini terus! Dia harus bisa move on dan melanjutkan kehidupannya. Dia yakin dia pasti bisa. Ini hanya masalah waktu saja. Saat ini dia sedang berada diacara pesta pernikahan yang dipenuhi dengan senyuman penuh kebahagiaan. Jadi dia juga harus bisa seperti itu.


Jika dia tidak bisa merasa bahagia untuk dirinya sendiri, setidaknya dia bisa turut berbahagia untuk sepasang pengantin baru diatas pelaminan mewah dan megah dihadapannya.


Sembari menyembunyikan perasaan sedihnya, dan memasang senyum lebar diwajah tampannya, Fajar berjalan dengan gaya coolnya berbaur dengan tamu undangan lainnya menuju pelaminan dimana kedua mempelai berada.

__ADS_1


"Hello Mr Michael. Selamat ya atas pernikahanmu. Aku doakan semoga pernikahan kalian selalu dipenuhi dengan kebahagiaan hingga maut memisahkan. Dan yang pastinya cepat diberikan momongan"


Fajar menjabat tangan pengantin pria yang merupakan rekan bisnisnya, dan mengucapkan selamat untuk hidup baru yang akan mereka tempuh dalam bahasa Inggris.


"Thank you Mr Fajar. Doa yang sama juga untukmu. Terima kasih sudah jauh-jauh datang untuk menghadiri acara istimewa kami. Saya sangat senang lantaran kalian sekeluarga bisa hadir disini" Mr Michael menanggapi ucapan Fajar dengan cerianya.


"Sekeluarga? Maksudnya?" Fajar mengernyit bingung.


"Memangnya anda tidak tau kalau Nyonya Violet, Nyonya Astrid dan Tuan Gerald juga ada disini. Bahkan mereka sudah datang sedari tadi" Mr Michelle menunjuk area tempat duduk yang diperuntukkan untuk para tamu undangan.


Fajar mengikuti arah pandangan pria itu. Dia terperangah melihat sosok tiga orang yang sedang duduk bercengkrama sembari menikmati hidangan pesta dalam satu meja. Ketiga orang itu tak lain adalah Oma, ibu dan kakak tirinya. Yaitu kakak satu ayah dengannya.


Fajar menghela nafas berat. Dia lupa bahwa ketiga orang itu selama ini tinggal di Swiss. Akibat terlalu memikirkan Zahra, dia sampai melupakan ibu, anak dan mantan istri dari almarhum ayahnya.


Fajar kembali menatap kedua mempelai.


"Oh.... Ya sudah kalau begitu, aku kesana dulu ya"


"Iya. Silahkan dinikmati hidangannya"


Fajar melangkahkan kakinya menuruni panggung pelaminan, dan mendekati tiga orang yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Meskipun dia tau bahwa mereka tidak akan menyambutnya dengan baik ataupun senang hati.


Tapi mau bagaimana lagi? Mereka tetap keluarganya. Setidaknya dia sudah menunjukkan itikad baiknya. Sekalipun mereka tidak menerimanya. Dia tidak akan ambil pusing dengan hal itu karena sudah terlalu kebal.


Fajar menarik kursi kemudian dia duduk didepan ketiga orang itu. Bergabung dalam satu meja dengan mereka yang tampak terkejut, dan langsung memasang wajah cemberut serta tatapan tidak suka melihat kehadirannya.


"Hai Oma, Tante, Kak" Fajar menyapa dengan datar lantaran dia sudah hafal sikap mereka terhadapnya.


"Tidak perlu sok akrab. Saya bukan Oma kamu" Kata Oma Violet dengan ketus.

__ADS_1


__ADS_2