Mentari Untuk Fajar

Mentari Untuk Fajar
BAB 26- Aku Hamil!!


__ADS_3

Ranty mencoba menasehati dengan bijaknya. Dia merasa iba melihat sahabatnya yang akhir-akhir ini terlihat lemah dan tidak enak badan. Bahkan terkadang dia juga suka melihat Tari mual dan muntah.


"Tidak apa-apa kok Ran, aku sanggup kerja disana. Mungkin memang tubuhku saja yang sedang tidak vit. Kamu tidak perlu khawatir ya"


"Ya sudah kalau memang itu maumu. Ayo sarapan dulu" Ranty menarik kursi kemudian dia menghenyakkan pinggulnya. Bersiap-siap untuk menyantap sarapannya.


Begitupun dengan Tari yang ikut menarik kursi. Namun baru saja pinggulnya hendak menyentuh permukaan kursi kayu itu, tiba-tiba saja bau makanan yang ada diatas meja makan, terasa sangat menyengat hingga membuat perutnya bergejolak.


Ueek.... Ueek.... Ueek


Dia langsung bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Ranty yang menatapnya dengan wajah melongo bingung.


"Tar, kamu kenapa? Tari?" Seru Ranty yang kemudian ikut beranjak menyusul sahabatnya. Sesampainya dikamar mandi, dia menemukan Tari yang sedang memuntahkan isi perutnya.


Ranty mendekati Tari dengan perlahan-lahan, lalu memegang pundaknya dengan lembut.


"Tar, kamu tidak apa-apa?" Tanyanya dengan perasaan khawatir.


Tari menjauhi Ranty seraya menutup hidungnya. "Ran, tolong jangan terlalu dekat. Aku tidak tahan mencium bau tubuhmu. Kamu pakai parfum apasih? Kok baunya menyengat sekali" Tari merentangkan satu tangannya kedepan. Isyarat agar Ranty tidak mendekatinya.


Perkataan Tari membuat Ranty mencium bau tubuhnya sendiri dengan bingung. "Hah? Kamu kenapa jadi makin aneh begini sih? Inikan parfum favoritku. Dari dulu juga aku selalu pakai parfum ini kok. Tidak pernah aku ganti. Kenapa kamu baru protesnya sekarang?"


Tiba-tiba saja Ranty terkesiap. Dia mendekati Tari dan mencekal bahu wanita itu dengan kedua tangannya. "Tar, jujur padaku, kamu sedang tidak menyembunyikan apapun kan dariku?" Ranty menatap Tari dengan intens dan mencecarnya dengan perasaan gelisah.


"Ma-maksudmu? Memangnya apa yang aku sembunyikan?" Tari menjawab dengan tegang sembari memalingkan wajahnya. Tidak berani menatap wajah sahabatnya itu. Saking tegangnya dia sampai memundurkan langkahnya secara spontan.

__ADS_1


BRAK


Namun tanpa sengaja, kakinya malah melayang pada tong sampah yang berada dibelakangnya. Membuat tong plastik itu terjatuh, hingga isinya tumpah dan berserakan dilantai. Membuatnya terkesiap dan langsung menoleh kebelakang untuk melihat hasil dari kecerobohannya.


"Ya ampun Tari, hati-hati dong. Jadi jatuhkan?" Omel Ranty sembari mendekati tumpukan sampah itu. Kemudian dia berjongkok dan hendak membereskannya.


Namun tiba-tiba dia malah terpana, saat melihat beberapa benda kecil berwarna putih yang menjadi bagian dari sampah itu. Dia memungut ketiga benda itu, yang tak lain adalah tespek. Mata Ranty membulat melihat dua garis merah yang tampak pada ketiga benda itu.


Sementara Tari semakin terlihat tegang dan gelagapan. Tampaknya dia sudah bisa menebak pertanyaan apalagi yang akan dia terima dari perempuan itu setelah ini.


"Ta-Tari.... I-ini maksudnya apa? Ka-kamu hamil?" Cecar Ranty dengan shock dan bingung. Dia yakin jika ketiga benda itu adalah milik Tari. Karena hanya ada mereka berdua saja yang tinggal dirumah itu. Sedangkan dia tidak pernah merasa menggunakan alat tes kehamilan semacam itu.


Tari tidak menjawab. Dia hanya terdiam dengan wajah menunduk dan terlihat sendu. Air mata mulai menetes dari sudut matanya. Tubuhnya pun tampak bergetar.


Namun ekspresi Tari seperti menjadi jawaban dari pertanyaannya. Hal itu membuat Ranty terperangah. Gadis itu tidak membantah ataupun mengiyakan. Apa itu artinya....?! Saking shocknya tespek ditangannya sampai terjatuh. Ranty menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ya Tuhan. Bagaimana bisa?! Siapa lelaki itu?! Dan kapan kalian melakukannya?! Katakan padaku semuanya!" Seru Ranty dengan nada suara yang mulai terdengar sendu. Dia juga memegang kedua lengan Tari. Memaksa sahabatnya supaya mau membuka mulutnya.


"Aku tidak melakukannya Ran. Yang terjadi adalah pelecehan. Aku tidak bersalah" Seru Tari sembari melepaskan dirinya dari cekalan tangan Ranty. Tangisan yang sedari tadi dipendamnya kini pecah.


"Ka-kamu diperkosa?" Pengakuan Tari membuat Ranty semakin terkejut dan shock, hingga dia sampai bertanya dengan terbata-bata.


"Iya" Tari mengangguk dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Kapan semua itu terjadi? Siapa lelaki itu, dan kapan dia melakukannya? Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku tentang semua ini?!" Tanya Ranty dengan suara lirih dan sendu.

__ADS_1


"Karena aku tidak tau harus bagaimana menceritakan semuanya padamu. Aku begitu malu dan putus asa. Aku tidak tau harus mulai darimana. Semua ini salahku. Seandainya saja malam itu aku mendengarkanmu untuk tidak menemui Moza, mungkin aku tidak akan mengalami semua ini...." Seru Tari yang semakin terisak-isak.


"Jadi maksudmu, Moza ada hubungannya dengan semua ini?" Tuduh Ranty yang seakan mengerti apa maksud Tari.


"Aku tidak tau Ran. Aku tidak tau apakah dia terlibat atau tidak. Karena aku juga tidak punya bukti apapun untuk menuduhnya. Aku juga tidak mengenal lelaki itu. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku benar-benar bingung.


Hidupku benar-benar sudah hancur sekarang. Tidak ada lagi yang bisa aku banggakan dari diriku yang sudah hina dan kotor ini Ran. Aku bahkan merasa jijik dengan tubuhku sendiri sekarang"


Tari kembali menatap tubuhnya dengan pandangan jijik. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Dia terlihat sangat frustasi.


Membuat Ranty merasa iba dan prihatin melihatnya. Dia baru tau, ternyata selama ini Tari menanggung dan memendam penderitaan seberat itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Ini minum dulu. Supaya pikirannya bisa sedikit lebih tenang" Ranty menyodorkan segelas air putih pada Tari. Kemudian dia duduk diatas sofa disebelah sahabatnya itu.


Tari meneguk minuman itu dengan perlahan-lahan. Cairan bening itu membuat pikirannya menjadi sedikit lebih jernih dan tenang.


"Maaf ya, tadi aku bersikap terlalu keras padamu. Karena aku sangat terkejut atas apa yang terjadi. Selain itu aku juga kecewa, karena kamu menyembunyikan masalah sebesar ini dariku. Padahalkan kita sahabat. Kita juga tinggal serumah" Celoteh Ranty dengan suara lirih, dan raut wajah yang terlihat bersalah dan kecewa.


"Aku minta maaf ya, karena sudah tidak jujur padamu. Karena terus terang aku sangat frustasi dengan apa yang terjadi. Kejadian malam itu benar-benar membuatku trauma. Aku berusaha keras untuk melupakannya. Tapi sangat sulit. Setiap malam aku selalu bermimpi akan kejadian mengerikan itu, yang membuatku selalu ketakutan"


Tari berkata dengan sendu. Meratapi nasibnya yang sangat buruk dan malang. Tanpa dapat dicegah, air mata kembali menetes dan membasahi pipinya.


"Kamu harus sabar ya. Aku yakin kok kamu mampu melewati masa-masa sulit ini. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah.... Mencari solusi untuk masalah ini. Kita harus pikirkan cara terbaik sebelum perutmu semakin membesar" Ranty menggenggam tangan Tari dengan lembut. Berusaha menghibur dan menenangkannya.

__ADS_1


__ADS_2