
"Kamu bukannya istrinya Fajar?" Tanya Oma Violet ketus dan tajam.
"Iya Oma. Senang bertemu kalian disini. Oma dan Tante apa kabar?" Jawab Tari dengan seulas senyuman, berusaha untuk bersikap ramah dihadapan mertuanya itu. Sekalipun mereka menatapnya dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Tadinya kabar saya sangat baik sekali. Tapi begitu melihat muka kamu, kabar saya langsung buruk! Sama seperti setiap kali saya melihat muka suami kamu itu" Ketus Oma Violet dengan wajah garangnya. Yang membuat Tari hanya bisa menelan salivanya dan menarik nafas panjang. Berusaha sabar menghadapi nenek suaminya yang arogan itu.
"Lagian kamu ngapain sih disini? Heran ya, kenapa kamu selalu saja muncul dimana-mana? Dulu dihotel, lalu kemarin saat anak saya kecelakaan, kamu juga ada disana. Senenarnya apa sih yang kamu rencanakan? Apa selain menjerat Fajar dengan kehamilanmu, kamu juga sudah lama merencanakan untuk menjerat Gerald juga? Makanya sekarang kamu ada disini? Sebenarnya tipu muslihat apa yang sedang kamu rencanakan untuk menjebak anak saya? Kamu pikir saya sudi, putra saya satu-satunya, sampai memiliki pasangan, wanita penghibur seperti kamu?"
Timpal Astrid dengan tatapan mendominasi, wanita itu menghakimi Tari dengan segala tuduhan kejamnya yang tidak beralasan.
Membuat Tari terkejut dan mendelik marah mendengarnya. Hingga tanpa sadar tangannya mengepal. Sungguh dia tidak habis pikir, orang berpenampilan elegan dan terpandang seperti mereka ternyata memang tidak memiliki attitude, dengan merendahkan orang lain sesuka hati. Apa mereka pikir dengan sikap angkuh dan tinggi hati itu bisa membuat mereka terlihat sempurna?!
Dari sifat Mama dan Omanya, tidak perlu ditanya lagi darimana Gerald mewarisi sifat itu. Untung saja tidak dengan Fajar. Mungkin karena dia tidak pernah dekat dengan mereka selama ini.
Bukan hanya Tari saja yang merasa berang dengan sikap dan perkataan Astrid terhadap Tari. Namun Tristan juga.
Meski mengakui perkataan wanita itu tentang putrinya benar adanya. Karena dia sendiri juga merasa malu dengan kelakuan liar anaknya selama ini, hingga sampai mengusirnya dari rumah. Namun sebagai seorang ayah, tentu saja dia tidak bisa terima jika ada orang lain yang menghina anaknya.
__ADS_1
"Bu Astrid!" Hingga tanpa sadar Tristan berteriak dengan suara lantang hingga tubuhnya gemetar. Membuat semua orang tersentak dan menatapnya dengan jantung yang berdegub kencang.
Astrid dan Oma Violet menatap Tristan dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada Tristan hingga dia terlihat sangat marah, bahkan sampai berteriak segala pada Astrid yang sedang menghina Tari.
Sadar dengan tindakan spontanitasnya, Tristan pun menjadi gugup dan tegang. Sadar bahwa sikapnya pasti membuat kedua wanita itu merasa aneh dan heran.
"Mmm..... Ma-maaf.... Saya tidak bermaksud untuk membentak-bentak anda. Tapi saya rasa, tidak pantas ibu bicara sekasar itu. Bukankah sebagai orang terhormat dan terpandang, seharusnya ibu bisa menjaga attitude? Kalau begini, sama saja dengan anda mempermaukan nama besar Lazuardi" Tristan berkelit dengan gugupnya. Dia merutuki kebodohannya sendiri, yang tidak bisa mengendalikan emosinya melihat putrinya dihina oleh orang lain.
"Om Tristan benar Ma" Timpal Gerald yang tiba-tiba muncul dan ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
"Mama tidak sepantasnya bicara seperti itu, pada karyawanku. Apalagi ditempat seperti ini. Yang mama lakukan ini bisa membuat nama baik Lazuardi group menjadi buruk didepan karyawan yang lain" Ucapnya yang sependapat dengan Tristan.
"Ya.... Lebih tepatnya, dia karyawan magang disini" Jawab Gerald santai.
"Astaga Gerald! Kamu serius, menerima wanita seperti dia sebagai karyawan magang diperusahaan kita? Kamu lupa siapa perempuan ini? Dan apa yang sudah dia lakukan padamu dulu? Kamu lupa, bagaimana sombongnya dia mempermalukanmu dan keluarga kita? Padahal saat itu dia hanya pelayan katering rendahan. Tapi kelakuannya melebihi ratu. Dan sekarang dia bisa menjadi seperti ini juga karena berhasil membodohi Fajar"
Astrid berkata dengan menggebu-gebu dan tak habis pikir. Masih dengan sikap arogannya menghina dan merendahkan Tari.
__ADS_1
Tari semakin geram dengan mulut pedas wanita paruh baya itu. Ibarat sambal, mungkin sudah masuk level sepuluh! Kalau tidak ingat bahwa sekarang dia sedang hamil, atau wanita itu sebaya dengan mendiang ibunya, mungkin saat ini dia sudah menampar dan merobek mulut berbisanya itu!
Meski kembali gusar mendengar ucapan kasar Astrid terhadap putrinya, namun Tristan tidak berani untuk ikut campur atau bersuara lagi, karena takut keceplosan.
Tidak tahan lagi berada ditempat itu hanya untuk menerima hinaan dan cacian dari keluarga arogan itu, Tari akhirnya angkat bicara setelah menarik nafas dalam-dalam.
"Maaf sebelumnya. Tapi saya rasa, sepertinya saya tidak ada urusan apapun disini. Karena sama seperti suami saya, saya juga hanya orang luar yang tidak perlu harus tau atau terlibat dalam permasalahan keluarga terhormat kalian. Tapi sebelumnya saya ingin meluruskan beberapa hal. Dan terserah kalian mau menerimanya atau tidak. Yang pertama, keberadaan saya disini, murni hanya sebatas karyawan magang, yang sedang berjuang untuk kelangsungan pendidikan dan masa depan saya. Bukan untuk menggoda atau menjerat siapapun. Karena saya tidak ada kepentingan untuk itu. Yang kedua, saya sangat mencintai suami saya. Bagi saya, dia adalah pria terbaik yang dikirim Tuhan untuk menjadi pasangan hidup saya, dan ayah dari anak saya. Jadi saya tidak ada alasan untuk meninggalkan dia demi lelaki lain. Jadi saya harap, Oma dan Tante.... Mmm, maksud saya, ibu Violet dan ibu Astrid tidak perlu khawatir, kalau saya akan mengganggu pak Gerald. Itu tidak akan pernah terjadi. Baik, silahkan lanjutkan acara temu kangen kalian. Saya permisi"
Tari berlalu dari hadapan orang-orang itu dengan kekesalan hati, meski dia sedikit puas karena sudah menjawab segala tuduhan dan hinaan mereka dengan panjang lebar.
Ucapannya yang terdengar sombong membuat Oma Violet dan Astrid kembali mendelik tajam. Mereka semakin muak pada wanita itu.
Sedangkan Gerald merasa sangat sakit hati, mendengar ucapan Tari yang mengatakan bahwa dia sangat mencintai suaminya, dan tidak akan pernah berpaling demi dirinya!
Benarkah segitu cintanya wanita itu pada adik tirinya? Bagaimana jika dia tau bahwa suami yang dicintainya itu, bukanlah ayah dari anaknya?
Dan benarkah dia sudah memiliki perasaan pada wanita itu? Perasaan ingin memiliki? Karena itulah dia merasa tidak terima mendengar kata-kata cinta yang keluar dari mulut wanita itu untuk lelaki lain? Apalagi lelaki itu adalah orang yang sangat dibencinya!
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁