
Claudia sudah bersusah payah mendekati dan mengambil hati Tristan. Membuat duda paruh baya itu jatuh hati padanya, hingga menikahinya. Dia juga telah bersusah payah mengambil hati Tari, dan membuat gadis polos itu yakin telah menemukan sosok ibu dalam dirinya.
Begitupun dengan Moza yang berhasil membuat Tari menemukan sosok kakak dalam dirinya. Namun sebenarnya tujuan dia menjerat Tari dan Papanya bukan semata-mata hanya karena harta. Tapi juga karena perasaan iri dan dengki terhadap Tari, yang memiliki kehidupan yang terlalu sempurna dan menjadi dambaannya.
Terlahir dari keluarga kaya raya, hidupnya bergelimang harta dan kemewahan. Memiliki Papa yang baik dan menyayanginya. Memanjakannya dengan harta dan kasih sayang. Dikampus pun semua orang menatapnya dengan takjub dan penuh kekaguman, seakan-akan dia adalah seorang bidadari dari khayangan.
Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang terlahir dari keluarga susah. Memiliki ayah yang berprofesi sebagai begal. Pecandu narkoba dan bahkan suka menyiksa dia dan Mamanya. Sehingga dia sangat bersyukur saat pria buas itu ditangkap, dan tewas dalam penjara.
Terlebih saat Mamanya menikah dengan Papanya Tari. Perasaan irinya terhadap Tari semakin bertambah besar, hingga dia ingin berada diposisi Tari. Dan dia yakin selangkah lagi keinginannya akan menjadi kenyataan, karena sekarang Tari sudah tersingkir. Sebentar lagi dia akan mendapatkan Papa Tristan sepenuhnya.
Begitupun dengan Darren, kekasih Tari yang sudah dipacarinya selama empat tahun. Darren adalah lelaki tampan, populer dan dambaan setiap wanita dikampusnya.
Dia juga berasal dari keluarga kaya raya. Orang tuanya seorang konglomerat. Sejak pertama kali Moza masuk diuniversitas itu, dia ingin sekali memiliki Darren dan mengalahkan wanita-wanita yang menyukainya.
Namun sialnya, dia tidak mungkin bisa mengalahkan Tari! Itu terlalu mustahil baginya! Tapi tidak untuk sekarang. Dia sangat yakin bahwa sebentar lagi Darren akan menjadi miliknya. Karena dia sudah berhasil mengalahkan Tari dengan cara yang licik.
"Iya dong Ma. Siapa dulu? Moza" Moza membanggakan dirinya.
"Anak kesayangan siapa?"
"Mama Claudia"
"Hehehe" Keduanya pun tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Tapi Ma, kira-kira sekarang bagaimana ya nasibnya Tari diluar sana? Dia tinggal dimana setelah diusir oleh Papanya sendiri dari rumah? Dikolom jembatan, atau dilampu merah? Aku jadi penasaran"
Moza mencoba menerka-nerka dengan tatapan menerawang penuh keceriaan. Membayangkan kehidupan Tari akan berubah drastis setelah ini, bahkan mungkin akan jauh lebih menyedihkan dari kehidupannya yang dulu membuat perasaan Moza melambung tinggi.
"Lalu, urusannya dengan kita apa sayang? Mau dia tidur dimana dan makan apa diluar sana, bahkan dia tidak makan sekalipun, itu derita dia. Yang paling penting adalah.... Dia sudah tersingkir dari rumah ini.
Dan sekarang yang harus kita jaga adalah, bagaimana mempertahankan emosi Papa Tristan supaya dia tetap marah dan yakin dengan keputusannya. Jangan sampai dia jadi lemah dan menyesali perbuatannya yang sudah mengusir Tari dari sini. Itu yang paling penting untuk kita pikirkan" Claudia memperingatkan dengan serius.
"Iya Mama benar. Pokoknya Mama tenang saja. Biar nanti aku yang pikirkan cara, bagaimana agar Tari tetap terlihat buruk dimata Papa Tristan. Supaya dia tidak bisa kembali lagi kerumah ini"
"Tapi ingat ya, kamu harus tetap berhati-hati. Jangan bertindak gegabah dan ceroboh. Jangan sampai rencanamu nanti malah menjadi boomerang untuk dirimu sendiri"
"Iya Ma, Mama tenang saja. Aku pasti akan bertindak dengan hati-hati dan matang"
🍁🍁🍁🍁🍁
Vera bisa memahami perasaan lelaki itu. Karena dia sendiri pun masih sangat terkejut dan shock dengan insiden tadi pagi. Dimana dia harus menjadi saksi dari perseteruan atasannya, dengan suami dari perempuan yang dicintainya.
Bagaimana pria itu membuat keributan dirumah sakit itu. Meraung-raung dengan penuh amarah, meminta kembali istrinya yang sudah dia cari dengan susah payah selama ini.
Perasaan bersalah menerjang Vera, karena sejak awal dialah yang memberikan ide untuk membohongi wanita itu tentang suaminya. Hingga akhirnya dokter Fajar menanggapi idenya, dengan mengusulkan dirinya untuk menjadi suami palsu perempuan itu.
Dia juga yang sejak awal selalu mendorong dan memanas-manasi Dokter Fajar untuk gencar menaklukkan hati wanita itu. Dia beranggapan bahwa ini memang sudah takdirnya. Wanita itu dikirim Tuhan untuk menggantikan Nyonya Shreya, istri Dokter Fajar yang sudah tiada.
__ADS_1
Dia pikir ini hanya masalah waktu saja dan cepat atau lambat, hati wanita itu akan terbuka untuk Dokter Fajar. Namun ternyata ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan. Tidak disangka situasinya malah menjadi serumit ini, saat suami asli wanita itu datang dan meminta istrinya dikembalikan.
Entah apa yang akan terjadi pada kehidupan Dokter Fajar setelah ini. Mungkinkah dia akan kembali terpuruk seperti saat kehilangan Nyonya Shreya dan calon bayinya dulu, setelah kisah cintanya harus berakhir dengan kepiluan untuk kedua kalinya?
Dulu dia ditinggal mati oleh istri dan calon anaknya. Sekarang ditinggal karena sudah ada lelaki lain yang terlebih dahulu memiliki wanita itu.
"Dok, Dokter baik-baik saja?" Vera bertanya dengan nada pelan dan ragu. Dia tau jika saat ini atasannya itu sedang frustasi dan perasaannya sedang sensitif. Dia takut jika pertanyaannya akan menyinggung perasaan lelaki itu.
"Apa maksudmu? Tentu aku baik-baik saja. Aku ini Dokter, bukan pasien" Jawab Fajar dengan dingin sembari terus menatap berkas ditangannya tanpa menoleh kearah asistennya itu.
"Lalu.... Bagaimana dengan Ibu Shreya? Apa Pak Rahul benar-benar sudah....?" Vera kembali bertanya dengan hati-hati dan gugup.
"Namanya Zahra, istrinya Rahul. Jadi tentu saja dia berhak membawa istrinya kemana pun yang dia mau. Karena dia bukan Shreya, istriku" Tukas Fajar menekankan dengan tegas.
"Maaf Dok, saya tidak bermaksud...."
"Sudahlah, lakukan saja pekerjaanmu dengan fokus. Setelah ini kita masih ada operasi"
Vera harus mengatupkan mulutnya dengan rapat. Tidak berani berkata sepatah katapun lagi. Karena dia sadar jika saat ini atasannya sedang tidak ingin bicara atau mendengarkan siapapun. Dia paham jika lelaki itu pasti sedang sangat membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sesuai dengan janjinya, hari itu Ranty mengajak Tari keperusahaan katering tempatnya bekerja dan memperkenalkan Tari pada atasannya.
__ADS_1
"Kamu yakin, bisa bekerja disini?" Tanya wanita berusia sekitar 30 tahunan yang merupakan pemilik perusahaan katering itu. Perempuan itu menatap Tari dari atas hingga kebawah dengan tatapan menilai. Tari mengenakan wrap blouse berwarna kuning dipadukan dengan rok tutu panjang berwarna peach. Serta sepatu flatshoes berwarna hitam.
"Iya Bu, saya akan berusaha untuk bekerja dengan sebaik mungkin disini" Jawab Tari dengan penuh percaya diri sembari memperlihatkan senyuman termanisnya.