
"Jujur, aku sudah lelah dengan semua permasalahan yang terjadi dalam hidupku selama ini. Sekarang aku hanya ingin melanjutkan hidup, bersama wanita yang sudah aku nikahi. Dan sebentar lagi akan melahirkan anakku. Jadi.... Apakah sekarang kita bisa menjadi teman, bukan musuh lagi seperti sebelumnya? Saling terbuka dalam setiap hal. Tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi?"
Fajar berkata dengan serius. Lalu dia mengulurkan tangannya kedepan Tari yang menatap tangan itu dengan terpana.
"Mmm.... A-aku..." Tari hendak bicara, namun dia tampak ragu dan bimbang.
"Ada hal yang ingin kamu utarakan?"
"Mmm.... I-ini soal Kak Zahra. Bukankah kamu bilang kalau kita harus saling terbuka dalam segala hal, tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi lagi? Apa kamu tidak akan menceritakan padaku, tentang hubunganmu dengan menantu Om Helmi itu? A-aku pernah beberapa kali melihatmu menatap Kak Zahra dengan tatapan yang berbeda.
Aku juga pernah melihatmu mengigau menyebut namanya. Terlebih setelah hari itu, dimana aku menemukan foto-foto Kak Zahra diruang kerjamu. Dan kamu marah besar karena hal itu. Maaf sebelumnya, aku tau ini masalah pribadimu. Jadi, aku tidak akan memaksa kalau memang kamu tidak ingin menceritakannya. Lupakan saja"
Dengan ragu Tari mengutarakan masalah yang mengganjal dihatinya. Dia menunduk malu atas semua perkataannya yang panjang lebar.
Andai bisa, dia ingin sekali menarik kembali kata-katanya yang menampakkan betapa keponya dia dengan kehidupan lelaki itu. Dia hanya takut jika Fajar akan kembali tersinggung dan marah padanya.
Namun tanpa disangka, jawaban Fajar justru berbeda dari perkiraannya.
"Tidak. Aku sudah bilangkan, kalau kita akan saling terbuka. Jadi aku akan konsisten dengan ucapanku. Aku akan menceritakan semuanya, tentang hubunganku dengan Zahra, maupun almarhumah istriku"
Fajar pun menceritakan semuanya tentang awal pertemuan dengan istrinya, hingga wanita itu tewas dalam sebuah kecelakaan dan dalam keadaan hamil. Serta awal mula pertemuannya dengan Zahra, hingga akhirnya dia tau bahwa perempuan itu adalah istrinya Rahul, sahabatnya sendiri.
"Begitulah ceritanya. Saat aku tau bahwa Zahra adalah istrinya Rahul, hatiku hancur. Hingga aku begitu stress, dan akhirnya mencari pelampiasan pada minuman. Sehingga tanpa sadar, terjadilah malam itu. Malam dimana aku menodaimu, hingga kamu hamil seperti sekarang" Fajar bercerita dengan suara lirih dan tatapan menerawang.
Tari tertegun mendengar kisah hidup suaminya yang begitu memilukan. Tak hanya oleh masalah keluarga, tapi juga oleh masalah cinta yang selalu membuatnya kecewa dan sakit hati. Rasa iba dan empati menghantamnya.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang sudah terjadi. Aku tau ini sangat tidak adil untukmu. Andaikan pada malam itu aku bisa menahan diri untuk tidak minum, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Kalau malam itu tidak terjadi, mungkin saat ini kamu bisa melanjutkan hidupmu bersama lelaki yang kamu cintai. Tanpa harus berurusan denganku" Fajar menatap Tari dengan tatapan penyesalan dan rasa bersalah yang mendalam.
"Kita lupakan saja apa yang sudah terjadi. Anggap saja itu masa lalu, yang tidak perlu lagi untuk diungkit-ungkit. Bukankah kita sudah sepakat untuk memulai hubungan ini?" Tari berkata dengan lirih dan raut wajah yang datar.
Meskipun boleh jujur, perlakuan kasar yang diterimanya ketika lelaki itu melecehkannya hingga saat ini masih membuatnya merasakan trauma. Namun mungkin itulah hujan badai yang harus dilaluinya untuk bisa menikmati pelangi.
Jadi dia harus bisa melupakan peristiwa kelam itu, dan melanjutkan hidupnya bersama suami dan calon buah hatinya. Lagipula, lelaki yang dia cintai juga telah menghianati dan mencampakkannya.
Jadi tidak mungkin dia bisa melanjutkan hidupnya dengan lelaki brengs*k itu. Apalagi sekarang tempat lelaki itu sudah tergantikan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat Fajar dan Tari sampai dirumah.
"Jangan khawatir Bu. Dia hanya ketiduran saja. Mungkin kelelahan. Apalagi ini sudah malam. Aku akan membawanya kekamar" Fajar menjawab dengan seulas senyuman.
"Iya Tuan" Bu Zaitun mengangguk.
Fajar pun berlalu dari hadapan wanita paruh baya itu menuju kamar Tari. Sesampainya disana, dia langsung membaringkan tubuh istrinya diatas king size yang empuk. Wanita itu tampak tidak bergerak saking lelapnya dalam tidurnya.
Usai menyelimuti tubuh istrinya yang tertidur pulas, Fajar berbalik dan hendak melangkahkan kakinya untuk segera angkat kaki dari kamar itu. Namun tiba-tiba saja wanita itu mencekal tangannya.
"Pa, jangan pergi. Jangan tinggalkan Tari. Tari kesepian" Tari berbicara dengan suara yang terdengar sedih.
Fajar membalikkan badannya kembali menatap istrinya. Ternyata mata wanita itu masih terpejam, pertanda bahwa dia masih dalam keadaan tertidur. Rupanya dia sedang mengigau.
__ADS_1
Fajar berusaha melepaskan cengkraman tangannya dari Tari dengan satu tangannya yang lain. Namun cengkraman tangan perempuan itu begitu kuat.
"Pa, aku kangen. Hanya Papa satu-satunya orang tua yang aku miliki, setelah kepergian Mama"
Fajar merasa kasian melihat istrinya mengigau seperti itu. Tampaknya dibalik kemarahan dan kekecewaan yang besar, perempuan itu sangat merindukan papanya.
Apalagi setelah dia mendengar seperti apa ceritanya dari mulut Tari sendiri. Bagaimana hubungannya dengan papanya sendiri diluluh lantakkan oleh ibu dan saudara tirinya, yang tega memfitnahnya.
Fajar duduk diatas kasur disamping Tari. Dia menatap wajah istrinya dengan iba. Ternyata dibalik sikap keras kepalanya, wanita ini begitu rapuh dan membutuhkan orang yang bisa menguatkannya.
Disaat pikirannya sedang termenung memikirkan penderitaan hidup istrinya, wanita itu malah menarik lengannya. Hingga dia jatuh kedalam pelukan Tari, yang langsung memeluknya dengan erat.
Kali ini Fajar pun tidak bisa berbuat banyak untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman perempuan itu. Dia juga takut akan mengganggu tidur Tari jika terlalu keras memaksa melepaskan dirinya. Akhirnya lambat laun diapun ikut tertidur dalam pelukan istrinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tari tertidur dengan nyenyak sambil memeluk tubuh kekar yang menurutnya adalah papanya. Dia sangat menikmati tidurnya. Menikmati pelukan yang sangat dirindukannya. Andai ini mimpi, dia tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini. Sudah lama dia tidak merasakan pelukan hangat dari papanya.
Hingga akhirnya dia terbangun dan membuka matanya, yang sudah terpejam selama tujuh jam lebih. Pandangannya langsung jatuh pada sosok yang sedang tertidur disampingnya, dan dalam pelukannya.
Betapa terkejutnya dia mengetahui bahwa ternyata sosok itu bukanlah papanya. Melainkan suaminya yang sedang tertidur pulas. Dan mereka tidur dalam satu ranjang sambil berpelukan?!
"Ahhkk!!" Tari terperanjat bangun sambil menjerit saking shocknya. Teriakannya mengusik Fajar yang sedang terlelap dalam tidurnya, hingga lelaki itu tersentak bangun.
"Ada apa? Kamu kenapa?" Dengan matanya yang masih berat untuk terbuka, Fajar bertanya dengan cemas melihat Tari yang duduk bersandar pada kepala dipan, dengan ekspresi yang terlihat shock dan tegang.
__ADS_1