
Fajar berkata dengan senyum hangat seraya memandangi lautan lepas, dengan desiran ombak yang bergulung. Pria itu terlihat begitu nyaman dan menikmati suasana tempat itu.
"Bagaimana caranya?" Tari bertanya dengan bingung.
"Begini" Fajar meletakkan tangannya dikedua sudut bibirnya lalu berteriak sekeras-kerasnya.
"ARRGGHHH!!! ARRGGHHH!!!" Suara teriakan Fajar yang menggema memecah keheningan malam, dan mengalahkan suara deburan ombak membuat Tari harus menutup telinganya dengan wajah berkerut.
Puas dengan aksi berteriaknya, Fajar menatap Tari dengan tatapan lembut. Seakan-akan memberi isyarat untuk meniru aksinya barusan. Meski beranggapan bahwa kelakuan suaminya barusan terlalu aneh dan konyol, namun Tari tetap menirukannya.
"ARRGGHHH!!! ARRGGHHH!!! PAPA!!! AKU MEMBENCIMU!!! KENAPA PAPA LEBIH MEMPERCAYAI KEDUA WANITA LICIK ITU KETIMBANG AKU, ANAK PAPA SENDIRI?!! TANTE CLAUDIA, MOZA!!! AKU MEMBENCI KALIAN!!! KALIAN PEREMPUAN MUNAFIK, LICIK, DAN TIDAK TAU DIRI!!! KALIAN SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPKU!! MEREBUT SEMUA YANG AKU MILIKI!!! I HATE YOU!!!"
Tari berteriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan semua uneg-uneg dan emosi yang disimpan dalam hatinya.
Fajar yang menutup telinganya dari suara teriakan istrinya yang menggelegar, sedikit terkejut dan heran mendengar Tari menyebut-nyebut nama Moza. Karena kalau dia tidak salah, itu adalah nama karyawan magang diperusahaannya. Mungkinkah gadis itu adalah saudara tirinya Tari? Tapi belum tentu. Mungkin itu hanya kebetulan saja. Kan didunia ini perempuan yang bernama Moza tidak satu orang. Sudahlah, dia tidak perlu berpikir terlalu jauh dan mengada-ada.
🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa saat kemudian, Fajar dan Tari duduk bersebelahan dibibir pantai, diatas pasir putih yang nampak kecoklatan dengan posisi kedua tangan menopang lutut. Keduanya tampak sedang berbincang-bincang.
Saling berbagi cerita dan pahitnya kehidupan yang harus mereka jalani, sembari menikmati semilir angin yang dinginnya serasa menusuk kulit. Dengan mata yang memandangi ombak bergulung yang bolak-balik menerpa kaki mereka hingga basah, lalu kembali lagi ketengah-tengah lautan.
Suara deburannya serta kelap-kelip lampu kota dikejauhan, membuat suasana terasa begitu indah dan syahdu.
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah merasa baikan?" Tanya Fajar dengan nada lembut.
"Lumayan. Maaf ya, tadi aku sudah marah-marah padamu" Jawab Tari dengan sedikit rasa menyesal atas sikapnya yang sebelumnya.
"Tidak apa-apa, lupakan saja. Aku juga minta maaf, karena sudah mengajakmu kerestoran itu. Aku benar-benar tidak tau, kalau ternyata keluargamu juga ada disana" Ujar Fajar dengan seulas senyuman dan perasaan bersalah.
"Bukan salahmu kok. Aku saja yang masih belum siap untuk bertemu dengan mereka. Melihat wajah mereka membuat rasa sakit hatiku kembali terasa. Bayangan kelam itu langsung muncul begitu saja. Bagaimana aku dihajar, dimaki dan diusir layaknya seekor anjing.
Dan yang lebih menyakitkannya lagi adalah... Orang yang melakukan semua itu adalah Papaku sendiri. Satu-satunya orang tua yang masih aku miliki. Satu-satunya orang yang aku pikir adalah pelindungku. Tapi dia malah lebih mempercayai istri dan anak tirinya, ketimbang aku, anak kandungnya sendiri. Aku terbuang, karena fitnah dan jebakan dari kedua wanita itu.
Wanita yang aku pikir bisa mengobati kerinduanku, pada ibuku yang sudah tiada. Wanita yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Tapi ternyata, mereka malah menganggapku sebagai sampah yang harus disingkirkan. Aku tidak pernah tau apa kesalahan yang sudah aku lakukan pada mereka. Sehingga mereka tega menusukku dari belakang"
Panjang lebar Tari bercerita dan mencurahkan isi hatinya dengan tatapan menerawang kelautan seraya tersenyum getir.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku tau bagaimana rasanya, dibuang dan dikucilkan oleh keluarga sendiri" Fajar menatap Tari dan berkata dengan lirih serta penuh empati.
"Kamu masih ingatkan, dengan Oma, kakak dan ibu tiriku yang waktu itu hadir dihari pernikahan kita" Tanya Fajar yang dijawab dengan anggukan kepala Tari.
"Kalau kamu masih ingat, kamu juga pasti masih ingatkan, seperti apa sikap mereka terhadapku?"
"Mereka.... Tidak menyukaimu?" Tari menatap Fajar dengan lekat.
Tentu saja dia masih ingat betul bagaimana sikap ketiga orang itu saat dihari pernikahan mereka dulu. Terutama Omanya yang begitu arogan dan tidak ragu menghina siapapun. Bahkan hingga saat ini dia masih merasa kesal, jika mengingat wanita sepuh itu.
__ADS_1
"Lebih tepatnya, mereka tidak pernah menganggapku. Karena aku adalah anak dari mantan baby sitter yang dinikahi oleh Andre Lazuardi. Sedangkan Tante Astrid, adalah anak dari orang terpandang dan berasal dari kalangan atas. Sehingga meskipun beliau sudah bermain serong, Oma Violet tetap menjadikannya sebagai menantu idamannya"
Fajar bercerita dengan tegar. Tidak tampak ada kesedihan dari nada suaranya, saat mengungkapkan kehidupan pahit yang diterimanya dari keluarganya sendiri.
"Kok Omamu jahat sekali? Hanya karena kasta, beliau sampai tidak mau mengakui dan menganggapmu sebagai cucu?! ! Ya Tuhan! Kok ada ya, nenek seperti itu?!" Tari jadi kesal dan emosi sendiri mendengar cerita suaminya. Berbeda dengan Fajar yang terlihat santai dan biasa saja
Fajar tersenyum simpul melihat kemarahan istrinya pada Omanya sendiri. Dia bukan tipe orang yang suka mencari pembelaan. Namun melihat wanita ini membelanya, entah kenapa membuatnya merasa sangat senang, hingga ingin sekali rasanya dia memeluk Tari dan menghujaninya dengan ciuman.
Namun rasanya pikiran seperti itu terlalu gila, mengingat mereka yang belum seutuhnya menjadi pasangan.
"Ya.... Awalnya aku juga sedih sih, dengan sikap mereka. Tapi setelah bertahun-tahun, aku sudah tidak peduli lagi. Karena aku sudah kebal. Lagipula aku juga tidak mau, hidupku sampai terpaku pada orang-orang yang tidak menganggapku. Mungkin itu memang sudah takdirku.
Jadi untuk apa aku meratapi sikap mereka? Lebih baik melanjutkan hidup dan melakukan hal yang berguna, ketimbang memikirkan hal yang tidak penting. Lagipula tanpa mereka aku juga bisa tetap hidup dan sukses
Tari menatap Fajar dengan kagum. Dia kagum dengan sikap bijak dan tegar lelaki itu dalam menghadapi sikap keluarga yang menyakitinya selama bertahun-tahun. Tidak seperti dirinya, yang hanya bisa menghadapi mereka dengan kemarahan dan kebencian. Dia jadi malu sendiri dengan sikapnya.
"Sekarang, kita sama-sama sudah saling berbagi cerita. Jadi...."
"Jadi?"
"Jadi.... Apakah perseteruan kita sudah cukup sampai disini? Apakah setelah ini, kita bisa mulai mencoba hubungan kita sebagai pasangan pada umumnya?"
Tari termangu mendengar pertanyaan suaminya. Lelaki itu ingin melanjutkan hubungan mereka sebagai pasangan pada umumnya?
__ADS_1
Apa itu artinya, dia ingin mereka menjalani hidup layaknya pasangan suami istri? Bukan dua orang asing yang terpaksa tinggal dalam satu rumah? Hati Tari terasa dag dig dug seolah ingin meloncat kegirangan.
Dia juga tidak menyangka, jika ternyata dia dan Fajar juga sama-sama memiliki kehidupan yang pahit dan hampir sama. Yaitu sama-sama terbuang dari keluarga sendiri. Apakah ini pertanda bahwa mereka berdua memang ditakdirkan untuk berjodoh? Hehe. Pikir Tari dengan malu.