
"Untung saja ya Tar, Dokter Fajar mau mempertanggung jawabkan perbuatannya padamu. Jadi masalah kita bisa selesai. Kita tidak perlu pusing lagi memikirkan bagaimana nasib bayi itu. Dia akan tumbuh bersama kedua orang tuanya. Entah apa yang akan terjadi, seandainya dia sampai lari dari tanggung jawabnya. Untung saja hal itu tidak terjadi" Ranty berceloteh dengan lega.
"Entahlah Ran, aku tidak tau apa aku harus merasa bahagia karena pria itu mau bertanggung jawab, atau aku harus merasa sedih dan kecewa dengan keadaan seperti ini. Aku harus menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai. Lelaki yang sudah menghancurkan harga diri dan kehormatanku.
Lelaki yang sudah meninggalkan luka dan trauma yang mendalam dihatiku. Aku tidak tau, apakah aku bisa bahagia hidup bersama lelaki itu nantinya" Tutur Tari dengan lirih dan tatapan menerawang cemberut.
"Aku tau ini memang berat. Aku sangat mengerti itu. Hamil diluar nikah adalah bencana bagi setiap wanita. Tidak ada satupun wanita yang ingin berada diposisimu. Tapi kamu tetap harus bersyukur, karena lelaki yang telah menghamilimu mau bertanggung jawab. Bahkan dia mau membiayaimu hingga hari pernikahan kalian.
Banyak lho diluar sana, wanita yang diruda paksa. Tapi pelakunya malah kabur begitu saja. Bahkan ada juga yang sampai menyuruh wanitanya untuk menggugurkan kandungannya. Tapi Dokter Fajar? Dia malah mencarimu kan?
Bahkan dia dengan sukarela ingin menikahimu dan menjaga kalian. Kamu beruntung, karena Dokter Fajar berbeda dengan pria kebanyakan yang hanya mau enaknya saja, tapi tidak mau bertanggung jawab.
Lagipula saat melakukannya, dia juga sedang dalam keadaan mabukkan? Berarti dia tidak sepenuhnya bersalah, karena berada dalam pengaruh alkohol. Kita ambil hikmahnya saja ya. Mungkin Dokter Fajar itu memang jodoh yang telah Tuhan siapkan untukmu" Ranty berceramah dengan bijaknya.
Membuat Tari terdiam dan mencoba untuk mencernanya. Benarkah seperti itu? Benarkah pria itu memang jodohnya yang dipertemukan dengan cara seperti ini. Apakah memang sudah saatnya dia untuk belajar berdamai dengan hidup dan takdir, yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Kalau dipikir, pria itu tidak lari dari tanggung jawabnya. Dia mengakui bahwa dirinyalah yang bersalah dihadapan semua orang. Padahal sebagai orang yang terhormat dan terpandang, hal itu bisa saja merusak reputasinya.
Bahkan kalau bukan karena pria itu, mungkin saja saat ini dia sudah tidak ada lagi didunia ini. Bisa saja dia sudah tiada karena kebodohannya sendiri, yang nekat ingin mengakhiri hidup.
🍁🍁🍁🍁🍁
Gerald sedang bersantai bersama Mama dan Omanya sambil bercengkrama ria, dan menonton acara televisi diruang keluarga, ketika seorang pelayan wanita menemui mereka dan membungkukkan badannya dengan hormat.
"Maaf Nyonya, Tuan, diluar ada tamu"
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Astrid.
"Katanya, namanya Fajar. Dan ingin bertemu dengan kalian bertiga"
"Fajar? Mau ngapain anak itu disini?" Gerutu Oma Violet.
"Kok dia bisa ada disini ya Ma? Apa selama ini dia tinggal dikota ini juga?" Terka Astrid seraya berpikir dengan bingung.
"Iya Ma, memang selama ini dia tinggal di Magelang. Kemarin aku pernah bertemu dengannya dicafe dan...." Timpal Gerald yang seketika tidak bisa menyelesaikan ucapannya yang hampir saja keceplosan.
"Dan?" Astrid menatap putranya dengan kening mengernyit.
"Dan.... Dan aku mencuekinya lah Ma. Ngapain juga aku mempedulikannya?" Kilah Gerald dengan gugup.
Hampir saja dia berbuat bodoh dan membongkar rahasianya sendiri, bahwa dia sudah pernah bertemu dengan Fajar dicafe sebulan yang lalu, dan menjadikan adik tirinya itu sebagai kambing hitam yang telah melecehkan wanita ****** itu.
"Itu pasti Oma. Bagiku dia bukan siapa-siapa kok. Malah aku sangat membencinya" Jawab Gerald dengan tegas dan jujur.
"Bagus itu"
"Lalu sekarang bagaimana? Kita perlu menemuinya atau tidak?" Tanya Astrid menimpali.
"Ya sudah, suruh dia masuk saja" Titah Oma Violet dengan sikap mendominasi.
"Baik Nyonya" Pelayan itu mengangguk dan kembali membungkukkan badannya, sebelum dia meninggalkan ruangan itu untuk menjalankan perintah dari nyonya besarnya itu.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, , Fajar muncul diruangan itu. Dia berdiri dihadapan mereka.
"Selamat siang semuanya. Oma, Tante, Gerald" Dengan santainya Fajar menyapa ketiga orang yang sedang duduk dan menatapnya dengan tatapan antipati itu.
"Tidak perlu berbasa-basi. Karena kami tidak punya banyak waktu untukmu. To the poin saja, mau ngapain kamu kesini?" Ucap Oma Violet dengan ketus.
"Aku hanya ingin memberikan ini untuk kalian" Fajar meletakkan kartu undangan pernikahannya diatas meja didepan mereka, tanpa merasa terpengaruh dengan sikap ketus Omanya itu yang sudah biasa dia terima, hingga membuatnya kebal.
"Undangan pernikahan?" Oma Violet mengambil undangan itu dan membacanya dengan alis bertaut.
"Iya, aku akan segera menikah. Kalau kalian bersedia untuk datang, silahkan. Tapi kalau tidak, aku juga tidak akan pernah memaksa. Lagipula undangan ini juga hanya sebagai formalitas saja kok. Karena semua orang tau, kalau kalian adalah keluargaku. Jadi aku tidak mau, jika namaku sampai buruk hanya karena aku tidak mengundang keluarga yang aku miliki"
Celoteh Fajar dengan santainya. Karena dia tau tidak ada yang bisa dia harapkan dari ketiga orang itu, sekalipun hanya mereka keluarga yang dia miliki didunia ini.
Namun mereka serasa orang asing baginya. Sangat berbeda dengan keluarga Om Helmi yang selalu bersikap ramah dan hangat terhadapnya, layaknya keluarga sendiri.
Gerald masih diam menyimak pembicaraan orang-orang itu. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ternyata apa yang dikatakan Moza memang benar adanya. Mereka berdua akan segera menikah.
Padahal tadinya dia berpikir jika gadis itu akan melaporkan Fajar pada pihak berwajib, sebagai tersangka pelecehan seksual.
Tidak disangka, ternyata endingnya malah pernikahan yang tidak penting itu. Tapi ya sudahlah, dia tidak perlu ikut campur. Yang penting dia sudah sangat puas pada malam itu.
Sekarang biarkan saja adik tiri yang sangat dibencinya itu, yang mempertanggung jawabkan perbuatannya untuk mengurus perempuan yang sudah dia rusak, dan dia taburi benihnya yang tidak pernah dia inginkan itu.
"Jadi kamu ingin menikah lagi? Memangnya kamu tidak takut jika istrimu sampai meninggal lagi, karena terkena kutukan akibat menikahi seorang pria pembawa sial, anak dari wanita pelakor? Dengan kata lain, penghancur rumah tangga orang? Seharusnya kamu belajar dari pengalaman masa lalumu. Papamu saja meninggal, karena terkena sial yang dibawakan oleh ibumu"
__ADS_1
Celoteh Astrid disertai dengan senyum mencemooh. Sedangkan Gerald dan Oma Violet ikut tersenyum sinis menanggapinya.
Mendengar hinaan yang dilontarkan terhadap ibunya yang sudah tiada, membuat Fajar seketika langsung menjadi berang dan mengepalkan tangannya.