
Namun Bu Zaitun tidak ingin ikut campur. Karena dia sendiri mengerti, kenapa tuan majikannya sampai bersikap seperti itu.
"A-aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu privasimu. A-aku hanya merasa bosan saja, seharian dirumah tidak melakukan apapun. Jadi aku memutuskan untuk beres-beres rumah. Aku tidak sengaja masuk kedalam ruangan ini. Aku pikir ruangan ini juga perlu untuk dibersihkan. Sekali lagi aku minta maaf"
Tari mencoba menjelaskan dengan suara bergetar, dan air mata yang mulai menitik.
Penjelasan dan air mata perempuan itu membuat Fajar seketika terdiam dengan wajah memerah.
Usai memberi penjelasan, Tari berjalan meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang terus menitik membasahi wajahnya. Fajar menatap kepergian istrinya dengan perasaan campur aduk antara marah, kesal, kasian dan bersalah lantaran sudah bersikap terlalu keras.
Namun dia juga marah dan kesal, atas sikap lancang wanita itu yang seenaknya masuk kedalam ruangannya, dan mengusik privasinya.
Fajar kembali memandangi foto dan berkas-berkas yang masih berserakan dilantai. Bu Zaitun berjalan mendekatinya secara perlahan-lahan.
"Biar saya saja yang membereskannya Tuan" Bu Zaitun menawarkan dengan suara lirih dan takut.
"Tidak usah Bu. Aku bisa sendiri kok" Tolak Fajar datar, yang lantas kembali berjongkok untuk memunguti dan membereskan benda-benda yang berserakan itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi kembali datang. Fajar yang sudah berpakaian rapi, tampak sedang menikmati sarapannya dimeja makan. Bu Zaitun muncul dengan membawa nasi goreng dalam piring saji, yang lantas diletakkan diatas meja didepan Fajar.
"Bu, dia belum bangun?" Fajar mencoba bertanya tentang Tari.
"Mmm, belum Tuan. Tadi saya sudah lihat kekamarnya. Tapi Nyonya Tari masih tertidur. Sepertinya.... Ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin Tuan" Bu Zaitun menjawab dengan ragu.
Pernyataannya membuat Fajar terdiam dan termenung. Perasaan bersalah menerjangnya, karena tidak bisa menahan amarah hingga bersikap sangat keras terhadap istrinya yang sedang hamil. Bahkan sampai membentaknya.
__ADS_1
Padahal kalau dipikir-pikir, dia juga bersalah karena telah bertindak seakan-akan memenjarakan wanita itu dirumahnya. Mungkin istrinya itu memang bosan, karena tidak memiliki kegiatan yang bisa menghilangkan kejenuhannya.
Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Haruskah dia menemui perempuan itu, dan meminta maaf atas sikap kasarnya semalam? Ah, rasanya dia terlalu malu karena selalu melakukan kesalahan, dan meminta maaf pada perempuan itu.
Tapi, apakah dia harus diam saja dan mereka tetap saling menghindar? Bagaimana jika nantinya Tari malah merasa takut padanya, dan beranggapan jika dia adalah lelaki dan suami yang kasar? Bagaimana jika hal itu sampai berakibat buruk terhadap kehamilannya?
Arrgghhh!! Dia benar-benar pusing memikirkan bagaimana harus memperlakukan istrinya sendiri.
Lebih baik sekarang dia berangkat saja kekantor dan rumah sakit. Mungkin suasana disana nanti bisa membuatnya berpikir dengan jernih, bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini.
"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu. Tolong Ibu jaga dia ya" Fajar meneguk jusnya, kemudian bangkit dari kursinya.
"Baik Tuan" Bu Zaitun mengangguk.
🍁🍁🍁🍁🍁
Perhatian Tari langsung tertuju pada pintu yang tiba-tiba dibuka dari luar, oleh seseorang yang ternyata adalah Bu Zaitun.
"Eh Nyonya sudah bangun?" Bu Zaitun menutup pintu. Perempuan paruh baya itu lantas berjalan mendekati Tari dengan membawa nampan berisi semangkuk sereal buah, dan segelas minuman strawberry soy smothi sebagai sarapan Tari.
"Ibu? Ibu sedang apa disini?"
Bu Zaitun meletakkan nampan itu diatas nakas disamping tempat tidur Tari. "Ini Nyonya. Saya membawakan sarapan untuk Nyonya. Dimakan ya. Ini sudah jam sembilan. Tadi saya pikir, Nyonya tidak mau keluar kamar, karena Nyonya masih merasa sedih dan marah, dengan sikap Tuan Fajar kemarin" Ucap Bu Zaitun dengan ragu.
"Kok Ibu bicaranya seperti itu? Bagaimana mungkin aku marah? Kan memang aku yang salah. Aku sudah lancang masuk kedalam ruangannya, dan mengganggu privasinya. Jadi wajar, kalau dia sampai marah padaku. Toh hubungan kami juga.... Tidak seperti suami istri pada umumnya" Tari berkata dengan sedih dan wajah yang menunduk.
"Nyonya bicara seperti itu.... Apakah Nyonya sudah mulai memiliki perasaan lebih terhadap Tuan Fajar? Dan Nyonya merasa cemburu, melihat Tuan Fajar masih menyimpan foto Nyonya Zahra, dan istrinya yang sudah meninggal dalam arsip itu?" Bu Zaitun bertanya dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Bu, A-aku...." Ucapan Bu Zaitun membuat Tari jadi gelagapan dan bingung harus menjawab apa.
"Saya harap Nyonya bisa bersabar ya, menghadapi Tuan Fajar yang masih belum bisa move on dari masa lalunya. Saya yakin kok, cepat atau lambat, Nyonya pasti bisa mendapatkan hatinya. Ini hanya masalah waktu saja. Semuanya butuh waktu dan proses Nyonya. Sekarang Nyonya makan dulu ya"
Bu Zaitun memberikan wejangan dengan bijaknya. Kemudian dia mengambil mangkuk sereal dalam nampan dan menyerahkannya pada Tari.
Sembari menyantap sarapannya, Tari terus memikirkan perkataan kepala pelayan itu. Cepat atau lambat? Mungkinkah saat itu akan terjadi untuk dia mendapatkan cinta dari suaminya?
Mungkin lelaki itu sudah berhasil membuatnya jatuh cinta dan melupakan dibrengs*k Darren. Tapi, mungkinkah dia bisa membuat suaminya jatuh cinta padanya, dan melupakan Zahra? Ya Tuhan, kenapa dia jadi insecure seperti ini?
🍁🍁🍁🍁🍁
Malam kembali datang. Tari duduk didepan meja makan dan menatap hidangan makan malam yang sama sekali tidak menggugah seleranya. Malah aroma makanan itu semakin lama semakin terasa menyengat indra penciumannya.
"Nyonya, Nyonya makan dulu ya. Kan Nyonya belum makan malam. Kasian nanti bayinya kelaparan" Melihat Tari yang tak kunjung menyendok makanan kedalam piringnya, akhirnya Bu Zaitun mencoba membujuk dan berinisiatif menyendok nasi, serta lauknya kedalam piring didepan nyonya mudanya itu.
"Tapi aku tidak ingin makan ini Bu. Dari baunya saja sudah membuatku merasa mual" Tari mendorong piring yang telah diisi makanan oleh Bu Zaitun agar menjauh darinya. Dia juga menutup mulut serta hidungnya, karena tidak tahan dengan bau makanan itu.
"Lalu, Nyonya mau makan apa? Biar saya buatkan"
"Aku mau makan nasi lengko Cirebon Bu" Tari menjawab dengan malu.
"Nyonya ngidam? Ya sudah kalau begitu, biar saya suruh supir atau bodyguard untuk mencarikannya ya. Nyonya tunggu disini" Bu Zaitun tersenyum cerah, sebelum dia berlalu untuk memenuhi keinginan wanita itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih. Dan Fajar masih harus tetap stay dikantornya. Hari ini jadwalnya lumayan padat. Sehingga dia tidak bisa pulang cepat seperti kemarin.
__ADS_1
Padahal dia sangat ingin bertemu dengan Tari, dan menyelesaikan pertikaian yang terjadi diantara mereka. Namun dia tetap harus berkutat dengan pekerjaannya.