Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
12. Ikrar


__ADS_3

Duduk di sekretariat kemahasiswaan memutar pulpoin dengan tangan kiri sambil melamun, dan bergumam sendiri kenapa terasa sakit begini tidak mendapatkan perhatian darinya, terasa sakit sendiri padahal tadi pagi saat akan berangkat ke kampus sangat bahagia ingin segera bertemu dan melihat senyum manisnya walaupun dilarang oleh Mami dan Papi berangkat ke kampus, tetapi karena rasa rindu yang menggebu tetap nekat, walaupun berangkat harus nebeng Cello ke kampus tidak sesuai ekspektasi, hanya rasa kecewa yang ada dalam dada.


Tetapi setelah mendengar protes dari Cello baru menyadari tidak sepenuhnya salah dari dia, hampir tiga Minggu tidak mengabarinya sama sekali, bahkan untuk say hello tidak sempat dilakukannya apalagi pergerakan tangan kanan sekarang masih terbatas.


"Mengapa sangat menyiksa begini, apa yang harus gue lakukan, arrgh kenapa wajahnya susah sekali hilang dari pelupuk mata" gumam Rafael sambil membanting pulpoin yang tadi diputarnya, untung hanya sendirian di ruangan.


Datang Kanno dan Cello dengan suara berisiknya menyadarkan dari lamunannya, Rafael hanya menarik nafas dalam-dalam tanpa membuka suara.


"Masih galau bro, samperin sana ke apartemennya, kalau dia cuek nyesel lo nanti" nasehat Cello dengan melempar kertas yang sudah diremas menjadi bola kecil.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Cello, Rafael mempunyai ide untuk pulang dari kampus akan pergi ke apartemennya dengan membawakan makan malam.


"Ayo gue mau masuk kelas, elo mau disini terus meratapi nasib?" celoteh Kanno meninggalkan Rafael yang dari tadi hanya melamun tidak seperti biasanya banyak bicara.


Mengikuti kelas dari pagi sampai pukul tiga sore mata kuliah Rafael akhirnya selesai, tanpa mencari informasi jam berapa Shifa pulang, Rafael langsung memesan taksi online ke apartemen Wika City dan berpamitan kepada Kanno dan Cello untuk pulang duluan.


Sampai di lobi apartemen Wika City, tanpa sengaja setelah turun dari taksi membawa menu untuk makan malam, Rafael melihat Shifa berjalan beriringan dengan seorang laki-laki menggunakan setelan jas, masker, topi dan kacamata hitam, Rafael hanya melihat dari kejauhan tanpa berani mendekat.


Saat didepan pintu lift, laki-laki itu melingkarkan tangannya di pinggang Shifa, dan Shifa juga tidak menolaknya, langkah Rafael jadi berhenti, yang awalnya ingin memberikan kejutan kepada si pujaan hati, tetapi Rafael jadi sakit hati, akhirnya berbalik badan kembali ke jalan raya memesan mobil online kembali ke rumah.


Rasa kecewa tanpa kata terasa lebih menyakitkan, tadi pagi saat bertemu hanya sekedar menyapa sudah terasa sesak di dada, sekarang lebih menyesakkan lagi terasa dihati.


Sampai di rumah Papi Faro belum pulang, Mami Inneke sedang berada di butik peninggalan almarhumah Oma Meera yang telah meninggal lima tahun lalu, hanya ada si manja Najja yang sedang berenang di kolam renang, Rafael naik ke lantai empat, masuk ke laboratorium mini, tetapi hanya duduk termenung disana tanpa melakukan apapun, hatinya masih terbayang bayang siapa sebenarnya laki-laki yang bersamanya tadi.

__ADS_1


Mata tajamnya hanya mengingat siluet laki-laki yang kemungkinan berumur sama dengan Papi Faro walaupun memakai masker, kacamata hitam dan topi, tetapi mengapa harus sesakit ini, apa ini namanya gumamnya dalam hati.


Hari demi hari setelah peristiwa itu Rafael hanya mengagumi gadis pujaan hati dari jauh saja, saat merindu hanya dipendamnya dalam hati, apalagi sekarang Rafael memasuki sekripsi menjadikan sedikit menyibukkan diri tidak terlalu memikirkan pujaan hati.


Demikian juga dengan Shifa selalu menyibukkan dirinya dengan kegiatan kampus, bakti sosial, menggalang dana untuk pembangunan Panti asuhan Kasih Bunda, dan mengumpulkan informasi tentang aunty Ara serta mempelajari tentang agama Islam.


Tanpa terasa tiga bulan berlalu tanpa kata, hanya memandangi wajah dari kejauhan jika Shifa merindukan pujaan hati, hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Shifa setelah mempelajari agama Islam dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, Shifa akan mengikrarkan dua kalimat syahadat di Panti asuhan Kasih Bunda dan akan dibimbing oleh seorang ustadz yang sering berkunjung dan juga donatur tetap Panti asuhan itu.


Sebetulnya satu Minggu yang lalu Ustad menyarankan agar pengucapan dua kalimat syahadat dilakukan di masjid yang didirikan oleh ustadz tetapi Shifa menolaknya, karena takut diketahui oleh uncle Agus, semua kegiatan Shifa masih dilakukan secara sembunyi sembunyi, walaupun tidak seketat mengawasi Shifa saat di Singapura, tetapi masih sesekali diikuti oleh anak buah dari uncle Agus.


Shifa sering bercerita kepada uncle Agus jika memiliki sahabat yang kuliah di kampus yang sama dan seorang yatim-piatu tinggal di sebuah panti asuhan, anak buah uncle Agus tidak selalu mengawasi Shifa jika dia berkunjung atau menginap di panti asuhan Kasih Bunda.


Acaranya dilakukan di aula panti asuhan yang biasa untuk menerima tamu dalam jumlah banyak, tepatnya ada di samping rumah utama panti, sehingga tidak terlalu mencolok kegiatan itu dari luar, hanya terlihat panti asuhan sedang menerima rombongan yang sedang memberikan sumbangan kepada panti.


Menggunakan baju gamis panjang warna putih dan kerudung putih membuat Shifa semakin bersinar wajah cantiknya, aura batinnya semakin mantap dengan apa yang sedang dilakukan saat ini.


Hanya dihadiri oleh ustadz, pegawai MUI, anak panti, bunda Aulia, Aisyah dan Pak RT beserta istrinya yang menjadi saksi bersejarah bagi hidup Shifa.


'Bagaimana apakah sudah bisa kita mulai?" tanya ustadz setelah semua berkumpul dan duduk menghadap kearah meja kecil yang sudah disiapkan.


"Siap Pak ustadz" jawab Shifa dengan yakin.


Acara diawali pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Aisyah, nasehat dari Ustadz baru ke acara inti yaitu janji dan lafal dua kalimat syahadat yang sangat menggetarkan hati terutama bagi Shifa.

__ADS_1


Selesai di bimbing oleh ustadz dan disaksikan seluruh saksi yang hadir, air mata Shifa tidak bisa dibendung lagi menganak sungai saat dia di panjatkan oleh ustadz dan diberikan surat keterangan dari MUI jika sudah resmi memeluk agama Islam.


"Anakku Shifa, apakah berniat mengganti nama setelah kamu memeluk agama Islam?" tanya pegawai MUI yang berlumur setengah abad.


"Tidak perlu pak, karena nama saya adalah amanah dari Mami yang beragama Islam, bagaimana menurut pak ustadz?" tanya Shifa menoleh kepada ustadz yang berada di hadapannya hanya terhalang meja kecil saja.


"Saya setuju tidak perlu ganti nama, Shifa dalam Al-Qur'an artinya penyembuh atau obat, semoga Shifa menjadi wanita yang bisa menjadi penyembuh hati bagi orang yang ada disekitarnya yang tersesat.


"Aamiin ya rabbal Alamin" jawab mereka serempak.


"Mami, baru dua ini amanah yang saya laksanakan, Pertama saya sudah tidak menggunakan uang dari Papi, yang kedua saya sudah kembali fitrah seperti wasiat Mami, semoga Mami tenang dan bahagia di sisi Allah SWT Aamiin" doa Shifa dengan tulus.


Prosesi selesai hanya dalam satu jam, baru menikmati hidangan yang sudah di sediakan, dengan bercanda ria dan ucapan selamat dari semua yang hadir, hati Shifa sangat lega karena tidak ada kendala sedikitpun dan tidak ada yang tahu tentang peristiwa itu baik uncle Agus ataupun keluarga besar dari Papi baik di Singapura ataupun di Thailand.


"Bagaimana sudah lega sekarang?" tanya Aisyah kepada Shifa setelah selesai menikmati hidangan dan duduk di meja makan.


"Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur bisa melaksanakan satu persatu amanah dari Mami, terima kasih telah membantu dan mendukung saya" saling berpelukan Aisyah dan Shifa dengan erat.


"Itulah gunanya saudara, saling membantu dan mendukung dalam setiap kebaikan" jawab Aisyah tersenyum manis.


"Prioritas apa yang akan Shifa laksanakan setelah ini?".


"Liburan semester tinggal satu bulan lagi, sebaiknya kita mempersiapkan diri untuk ke Singapura untuk menjalankan rencana untuk mencari informasi kependudukan disana sekalian saya nak ganti kartu identitas terutama tentang perpindahan agama" jawab Shifa panjang.

__ADS_1


"Asiap....." Aisyah dengan semangat empat lima meletakkan tangannya hormat kepada Shifa kemudian tertawa bersama.


__ADS_2