Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
68. Kemarahan Papi Thora


__ADS_3

Shifa langsung berlari menuju kantor tempat Rafael dan yang lainnya sedang memperhatikan Shifa melalui CCTV dengan air mata yang masih berlinang membasahi pipinya.


"Good job honey" dengan erat Rafael memeluk Shifa, menciumi seluruh wajahnya, sampai tangisan berhenti dan hatinya mulai tenang baru Shifa melepaskan pelukannya.


"Kak aku mau pakai hijab dulu, rasanya kurang nyaman memakai wig".


"Tentu ayo aku antar" berjalan dengan menautkan kedua tangannya mengambil koper miliknya dan menuju kamar mandi.


Pertama Shifa membersihkan riasan wajah pucat nya, membuka wig, berganti baju dan mengenakan hijab pashmina kembali dan di bantu oleh Rafael, mengenakan softlens biru seperti biasanya dan tidak lupa masker serta kacamata, kali ini Shifa masih diam seribu bahasa sehingga Rafael tidak menggoda seperti biasanya, padahal Shifa berganti baju tepat dihadapan Rafael.


"Sudah selesai, coba aku periksa sekali lagi" dengan teliti Rafael memperhatikan penampilannya saat ini.


"Bagaimana kak?".


"Ok sudah perfect"


Hampir setengah jam keduanya baru keluar dari kamar mandi, disertai tatapan tajam Kanno dan Cello, Rafael dan Shifa berjalan kembali mendekati mereka.


"El, Shifa cepat kemari lah!" teriak komandan Conan.


"Ada apa komandan?" tanya Rafael.


"Duduklah, coba kalian lihat, Kanno nyalakan proyektor ke dinding saja biar lebih mudah kita menganalisa" titah komandan Conan.


Kanno menyambungkan leptopnya ke proyektor yang terhubung langsung ke dinding di depan mereka.


Rafael, Shifa, Kanno, Cello dan komandan Conan langsung konsentrasi melihat layar monitor besar yang ada di depan mereka.


Berawal dari Shifa meninggalkan Uncle Agus dan Papi Thora saat di ruang tamu tahanan, saat itu Uncle Agus yang hanya mematung memandangi Shifa yang berlalu menjauhi mereka dengan wajah yang tak berekspresi tetapi Papi Thora menangis tersedu-sedu dan duduk menunduk membenamkan wajahnya di atas meja menangis hampir setengah jam berlalu.


Saat mereka keluar dari lapas, Papi Thora berjalan dengan pandangan mata yang kosong, antara lapas dan penyeberangan ada kendaraan yang di sediakan oleh pemerintah gratis, tetapi Papi Thora terus berjalan walaupun Uncle Agus mencoba mengajaknya menaiki kendaraan yang ada.


Sampai di pertengahan jalan setapak emosi Papi Thora berteriak kencang sambil bersujud dan menangis tersedu-sedu, saat Uncle Agus ingin membantu Papi Thora berdiri tetapi emosi Papi Thora tidak terkontrol lagi langsung menghajar uncle Agus dengan membabi-buta.


"Bug...bug...bug".


"Mengapa kamu tidak bercerita dari awal kalau Shifa di penjara seumur hidup".


"Bug....bug...hyaat....bug".


"Dasar bodoh kamu enak enakan bebas, putriku jadi kambing hitam karena perbuatan yang tidak aku lakukan"

__ADS_1


"Hyaat....bug...bug".


Uncle Agus tidak membalas pukulan dan tendangan yang di lakukan oleh Papi Thora, mulutnya sudah mengeluarkan darah, tangannya memar, bahkan kakinya terasa perih tak tertahankan saat Papi Thora menginjak tulang kering dengan keras.


"Bug...bug...bug"


"Kamu akan mati di tanganku kalau kamu tidak bisa kembalikan dia padaku".


"Breng sek kamu Agus, atau kamu membusuk saja disini selamanya".


Bergegas meninggalkan tempat itu Papi Thora berlari sekuat tenaga menuju tempat penyeberangan tanpa memperdulikan keadaan Uncle Agus, CCTV tentang Papi Thora berakhir saat dia menyeberang.


Sedangkan Uncle Agus tertatih-tatih berjalan dan menunggu kendaraan yang melintas, setelah kendaraan itu berhenti saat Uncle Agus meminta bantuan dan di naikkan keatas kendaraan meluncur ke penyeberangan dan berakhir pula tayangan CCTV yang ada di layar monitor.


Sepanjang melihat tayangan CCTV itu Shifa hanya menangis tersedu-sedu dalam pelukan Rafael, hatinya sangat gamang melihat tayangan itu, emosi Papi Thora yang memuncak, ketidak berdayanya Uncle Agus yang tidak berani melawan amarah Papi Thora, membuat Shifa semakin merasa gamang, sengaja di kambing hitamkan oleh Uncle Agus dan organisasi yang selama ini di pimpin oleh Uncle Agus.


"Kak El aku mau pulang".


"Kita pulang sekarang, pakai maskernya" Rafael berdiri tetap merangkul pinggang Shifa yang masih terisak.


"Tunggu El, helikopter milik Papi Faro masih OTW kemari, Kanno, Cello rapikan peralatan kita, nanti kita lanjutkan di markas mini saja" titah komandan Conan menutup leptopnya.


"Siap Ndan" Cello dan Kanno menjawab bersamaan.


Menunggu hampir setengah jam sampai helikopter itu tiba, Shifa masih termenung tanpa kata, pandangan matanya kosong, tetap terdiam dalam pelukan Rafael.


"Shifa, are you ok?" tanya Cello Setelah selesai merapikan semua peralatan, sangat khawatir karena adiknya tidak berhenti menangis.


"Hhhmm" Shifa hanya mengangguk tanpa kata melepaskan pelukan Rafael.


"Dengarkan aku, kamu tidak sendirian sekarang, ada El suamimu, ada aku dan seluruh keluarga besar mendukungmu, please positif thinking ok" kata El duduk di sebelah Shifa mengusap punggungnya memberi dukungan dan semangat.


Shifa hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Datang dengan sedikit berlari komandan Conan "Ayo helikopter sudah datang, jangan lupa bawa peralatan kita".


Helikopter landing tepat di lapangan belakang lapas wanita sehingga hanya berjalan lima menit sudah langsung naik semua dari siap terbang kembali ke Jakarta.


Di tengah perjalanan komandan Conan memberi pesan kepada Rafael dan Shifa.


"Shifa, Rafael untuk sementara kalian harus tinggal di rumah Papi Faro, karena hanya disana Shifa akan aman dan tidak mudah di temukan oleh anak buah Agus Martono, dan tetap seperti ini prosedur jika kalian ingin keluar rumah, kalau perlu bukan hanya masker tetapi seperti cadar agar kalian aman, kalian faham?".

__ADS_1


"Siap komandan" jawab Rafael dengan tegas dan diikuti anggukkan kepala oleh Shifa.


Dalam setengah jam helikopter sudah mendarat lagi di basemen atas rumah Papi Faro dan langsung di sambut oleh Papi Faro dan Mami Inneke.


Turun dari helikopter, Shifa langsung berlari mendekati Mami Inneke.


"Mami...!!" Shifa kembali terisak menangis dalam pelukan Mami Inneke sampai beberapa saat.


"Semua akan baik-baik saja nak, bersabarlah, kedepannya akan banyak cobaan yang akan kita hadapi, tetapi tenanglah kami semua ada bersamamu" nasehat Mami Inneke membelai punggung Shifa.


"Terima kasih Mami, maaf baju Mami basah" Shifa melepaskan pelukannya berjalan turun bersama yang lain menuju lantai dasar.


Langsung menikmati hidangan makan malam bersama yang sudah di persiapkan oleh Mami Inneke bersama para bibi pembantu tanpa harus membersihkan badannya terlebih dahulu.


Selesai makan malam sebagian besar naik ke lantai empat, tetapi belum berkumpul seperti perintah komandan Conan tadi, mereka membersihkan badannya berganti baju dan beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah, satu jam lagi baru akan mulai berkumpul sekalian menunggu kedatangan Mama Ara dan Papa Mario yang akan bergabung.


Rafael mengajak Shifa masuk kamar pribadinya, ini pertama kalinya Shifa masuk, kamar yang bernuansa putih dan terlihat maskulin adalah kesan pertama saat Shifa masuk.


"Honey, Wellcome to our private room".


Shifa hanya tersenyum duduk di kursi depan meja rias sambil memandangi makeup yang sudah lengkap tertata rapi di meja dengan merk yang biasa dipakainya setiap hari.


"Kak ini kok ada makeup yang lengkap disini, siapa yang membelinya?".


"Itu Mami, Aisyah dan Agnes yang mempersiapkan semuanya, coba lihat tidak cuma makeup saja lo, kemari lah!".


Rafael menunjukkan dan membuka lemari pakaian disana sudah komplit dari pakaian tidur, pakaian rumah, hijab, gaun dan keperluan sampai pakaian dalam sudah rapi di tempatnya, sepatu, tas, jam tangan dan aksesoris lainnya bahkan semua dengan merk terkenal juga sudah tersedia sesuai selera dan keinginan Shifa.


"Terima kasih sayang, ini terlalu berlebihan, tidak sebanyak ini harusnya, lagian aku juga punya uang untuk membeli kebutuhanku sendiri".


"Ini tanda cinta dari suami dan keluargaku honey, mulai sekarang apapun keinginan istriku adalah perintah bagiku ok".


"Ayo kita mandi dulu, nanti kita harus berkumpul lagi di lantai empat".


"Kak El jangan sekarang mandi barengnya, nanti aja please".


"Kapan dong, aku maunya sekarang".


"Nanti kalau tamu bulanan ku sudah selesai ok, please".


"Baiklah sana mandi duluan, aku tunggu disini".

__ADS_1


"Hhhmmm".


__ADS_2