
Br*ngs*k......bang sat" sumpah serapah orang yang mengejar Shifa dan Rafael dengan suara kesal.
Sampai di balik warung kaki lima yang tutup itu Shifa dan Rafael berhenti dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kak peluru pistol saya sudah habis" berbisik Shifa di samping Rafael yang sedang mengawasi mereka yang mengejar ternyata mereka berpencar tiga orang dari sebelah kanan dan tiga orang lagi datang dari sebelah kiri.
"Gue tahu kalian sudah tidak memiliki senjata, mau kemana hah?, kalian tidak akan bisa lolos dari kami?" congkak salah satu orang laki-laki yang tangannya penuh dengan tato.
"Kamu siap menghadapi mereka?" bisik Rafael berdiri memasang kuda-kuda, punggung Rafael menempel ke punggung Shifa, dia juga siap siap dengan kuda-kuda yang kuat.
"Siap kak, ayo kita kalahkan mereka!".
Dua lawan enam, Rafael dan Shifa berada di tengah, sedangkan lawannya memutari mereka berdua dengan seringai lawan yang berjumlah tiga kali lipat seolah merasa ada diatas angin.
"Hyaaaaaat..hug...hag"
Suara tendangan, pukulan, baik menggunakan kaki ataupun tangan Rafael dan Shifa sangat kompak membuat lawannya kewalahan.
"Buug..... arrgg awas Shifa belakang mu!"
"Tag....buuuk hyaat".
Rafael berteriak saat ada seorang laki-laki yang akan menyerang Shifa dari belakang, spontan Shifa berbalik badan, dengan memiringkan badannya 90° sambil menendang seolah menjemput tubuh lawan dan menendangnya dengan kuat.
"Hyaaaaaat,....."
"Aaauw ..aduh, pranggg" laki-laki itu terpental melayang membentur pintu warung kaki lima sampai pintunya lepas menimpa laki-laki itu,
"Sudah jatuh tertimpa pintu, emang enak, kerja bagus Shifa hebat juga tendangan kamu" celoteh Rafael sambil tetap melawan mereka dengan sekuat tenaga.
"Semangat kak tinggal lima lagi"
"Huhhk.... sekarang giliran ku... terimalah ini " jeeeeep hyaat" pukulan tangan bergantian dengan tendangan kaki kanan Rafael membuat lawan yang memiliki tato di tangannya itu tumbang terkena tendangan Rafael tepat di ulu hati, memegangi perutnya laki-laki itu menahan sakit yang teramat sangat.
__ADS_1
Sayangnya daerah tempat mereka berkelahi itu ada di gang yang buntu karena pembangunan gedung IH, sehingga mereka bertarung hampir setengah jam tidak satupun ada orang yang melintas.
Rafael mempercepat gerakan tangan dan kaki karena melihat Shifa sudah terengah-engah melawan mereka tanpa henti, tendangan kaki menggunakan pangkal kaki dalam jarak dekat saat lawan terjatuh membuat satu lagi lawan tumbang.
"Buuug....krraak..." suara tendangan kaki Rafael mengenai tulang kering lawan.
"Aaaaahhhhh kaki gue bang sat lo" teriaknya dengan kaki yang diluruskan.
Karena mendengar erangan orang yang ditendang oleh Rafael, Shifa menjadi lengah, ada satu lawan yang memegang kayu balok di ayunkan kearah Shifa dari belakang.
"Shifa....awas....!" Rafael mendorong tubuh Shifa kearah samping, dan Rafael pasang badan akhirnya Rafael lah yang terkena hantaman balok kayu tepat di punggungnya
"Aaaaah ssssst" desis Rafael menahan sakit dengan badan menunduk.
"Kakak El, are you ok?".
"I am Ok don't worry" sambil menahan sakit Rafael mencoba berdiri, bergegas berbalik badan dengan cepat memukul lengan laki-laki yang memegang balik kayu itu sampai terkapar di tanah.
Tinggal dua orang yang masih kuat menyerang Rafael dan Shifa tetapi mereka berdua juga muka sudah lebam dan ujung bibir sudah mengeluarkan darah, serta nafas yang tersengal-sengal karena terlalu lama bertarung, demikian juga keadaan Rafael tangan dan muka juga terluka serta lebam sudah tidak terhitung berapa kali terkena tendangan atau pukulan, mata sudah bengkak, diujung bibir mengeluarkan darah segar, apalagi Shifa kakinya membengkak, tangan kirinya lebam dahinya merah bibir juga mengeluarkan darah segar, wig yang semula dia pakai sudah terlempar entah kemana, sehingga rambut hitam panjang yang dibiarkan terurai.
"Shifa, mundur lah biar aku sendiri yang melawan mereka berdua, istirahat saja!" titah Rafael memasang kuda-kuda lagi, demikian juga kedua orang musuhnya berancang-ancang untuk menyerang lagi.
"Tidak kak... jangan khawatir, kita selesaikan berdua" Shifa juga memasang kuda-kuda akan bertarung satu lawan satu.
Tanpa diduga Kanno dan Cello datang dengan mengendarai motor, sebetulnya mereka berdua membawa mobil tetapi karena ada car-free day mereka tidak bisa menembus jalan itu dengan mobil, akhirnya meminjam motor polisi yang terparkir di pinggir jalan dengan kunci yang masih di tempatnya tetapi polisi itu sedang mengatur lalulintas agar lancar, sehingga polisi tidak menyadari jika motornya di bawa oleh Kanno dan Cello (bukan pinjam itu namanya Thor wk wk wk).
Bagi Kanno dan Cello dengan mudah bisa menemukan letak posisi Rafael dengan menggunakan GPS yang sekarang sudah dimodifikasi menjadi berbentuk jam tangan yang bermerk.
Melihat satu lawan satu dan partner Rafael adalah gadis yang disukai oleh Rafael, Kanno dan Cello tidak jadi membantu malah mereka berdua santai duduk diatas jok motor dan melipatkan tangannya di depan perutnya.
"Bro.... semangat, apa perlu kami yang menjadi wasitnya" Kanno teriak dengan senyum yang mengejek.
"Sudah serasi nich, pasangan coople Petarung, tahu gitu seharusnya kita tidak perlu kesini, ayo lanjut" teriak Cello juga ikut memprofokasi Rafael.
__ADS_1
"Diam lo bang sat, duduk manis aja lo disitu, ini urusan kami berdua" Rafael kesal karena diledek oleh dua sahabatnya.
Kembali Rafael dan Shifa melawan lagi orang laki-laki yang sudah kehabisan tenaga sehingga dengan mudah di lumpuhkan.
"Hyaat... Hug.... Bug"
"Bug...hag.... argghh".
Rafael dan Shifa kembali melawan dua orang laki-laki yang hampir kelelahan, sedangkan Kanno dan Cello dengan santai memborgol orang yang telah dilumpuhkan yang masih sadar menggunakan borgol polisi yang berada di dasboard motor polisi.
Akhirnya kedua orang laki-laki tumbang dengan beberapa kali tendangan bebas Rafael dan Shifa hampir bersamaan.
Shifa terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal seakan hampir habis, hampir satu tahun terakhir ini dia jarang melakukan aktivitas fisik yang menguras tenaga seperti saat masih tinggal di Singapura.
Rafael ikut duduk mensejajarkan tubuhnya didepan Shifa menggenggam kedua tangannya dengan begitu khawatir.
"Are you ok, Shifa?".
Dengan gugup Shifa menarik tangannya bertanya tidak berani menatap wajah Rafael yang terlihat khawatir, tetapi masih terlihat tampan walaupun ada lebam dan berdarah.
"Hmmm, I just tired, saya sudah lama tidak berlatih, penat sangat badan saya" kembali bahasa Melayu keluar dari mulut Shifa.
Mobil polisi dan ambulance datang bersamaan setelah Kanno menghubungi mereka, dan melarang agen rahasia datang agar rahasia mereka bertiga tidak terbongkar terutama dihadapan Shifa.
Dengan telaten Rafael menuntun Shifa masuk ambulance sambil melingkarkan tangannya di pinggang Shifa.
"Siut.....siut... romantis nich ye" goda Kanno dengan membunyikan siulan mulut.
Delapan orang yang sudah babak belur di beberapa tempat di angkut menggunakan mobil polisi dan dibawa ke kantor polisi, ambulance juga berjalan membelah jalanan ibukota dengan suara sirine yang menggema.
Sedangkan Kanno dan Cello mendapatkan sedikit masalah karena meminjam motor polisi tanpa ijin, keduanya juga dibawa ke kantor polisi, karena polisi tidak tahu siapa sebenarnya Kanno dan Cello, dengan menyeringai dan tersenyum lebar Kanno dan Cello menurut digelandang petugas polisi ke kantor polisi terdekat.
Dengan terpaksa menghubungi komandan Conan, dengan mengirim pesan WA, padahal barusan mereka melarang atasannya itu datang ke TKP, tiba secara bersamaan di kantor polisi terdekat, Kanno dan Cello dengan kedatangan komandan Conan.
__ADS_1
Hanya dalam waktu lima menit Kanno dan Cello bisa keluar dari kantor polisi setelah komandan Conan datang menemui pimpinan mereka, akhirnya mereka bertiga menyusul Rafael dan Shifa ke rumah sakit dimana mereka dirawat dengan menggunakan mobil milik komandan Conan, sedangkan mobil Kanno sudah tidak ada di jalan saat terjadi kemacetan tadi, mobil itu di derek oleh petugas derek dibawa ke kantor polisi, dengan terpaksa detektif Conan memerintahkan agen rahasia untuk mengambil mobil Kanno dan diantarkan ke rumah sakit