Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
55. Tamu dari Lapas


__ADS_3

Shifa duduk di balkon kamar sambil memandangi foto keluarga lengkap dari uncle Mahfud Hamdhani dalam handphone barunya, handphone yang baru di belinya sendiri menggunakan ATM yang berisi uang dari peninggalan Mami Fatty, Mama Ara, Cello bahkan Rafael sudah mencoba membujuk Shifa bahwa mereka yang akan membelikan handphone tetapi semua Shifa tolak dengan halus, dengan alasan yang dia butuhkan hanya kasih sayang keluarga bukan materi yang banyak, walaupun membeli handphone melalui online tetapi Shifa cukup puas tanpa harus repot repot keluar rumah.


Sudah hampir dua Minggu ini Shifa bebas dari lapas tetapi belum sedetikpun Shifa keluar jauh dari rumah sendirian, hanya sekali ke markas mini di lantai tiga rumah Rafael itupun bersama Cello dan Rafael dengan pengawalan ketat bodyguard, sebagian besar harinya dihabiskan di salon Mama Ara saat Rafael tidak berada di sisinya.


Sore harinya setelah Shifa mandi, hanya melilitkan handuk di tubuhnya yang putih tanpa mengetuk pintu Rafael masuk kamar.


"Aaaaah kak El" teriak Shifa berlari kembali ke kamar mandi.


Rafael terkekeh melihat tingkah Shifa yang malu semakin ingin menggodanya, Shifa hanya mengintip dari balik pintu kamar mandi.


"Kak cepat keluar dulu, aku mau ganti baju" Shifa berteriak dengan suara lantang.


"Ngapain malas, ngapain malu sama suami sendiri" jawab Rafael duduk di atas tempat tidur sambil bermain handphone.


"Ya sudah, aku di kamar mandi aja terus" Shifa pura-pura merajuk dan mengunci pintu kamar mandi kembali.


Rafael langsung berlari mendekati kamar mandi mengetuknya dengan keras.


"Tok...tok...honey, nanti masuk angin ayo cepat keluar" khawatir Rafael mengetuk pintu dari luar.


"Kalau kak El tidak keluar kamar dulu, aku mau disini terus sampai pagi".


"Jangan dong honey, nanti kalau kamu sakit bagaimana?".


"Makanya kak El cepat keluar dulu!".


"Iya baiklah aku kasih waktu lima menit ok".


Rafael keluar kamar Shifa bersamaan dengan ada notifikasi pesan WA masuk dari senior Ani Marsiti bersama suaminya yang datang sengaja ingin menemui Shifa.


Setelah Rafael keluar kamar, Shifa buru-buru memakai baju karena hanya diberikan waktu lima menit, takut masuk tanpa mengetuk pintu tetapi setelah sepuluh menit berlalu tidak kunjung masuk kembali ke kamar, Shifa memakai makeup tipis dan natural, kemudian turun ke lantai untuk mencari keberadaan Rafael.


Setelah sampai ruang tamu mendengar Rafael sedang berbincang dengan perempuan yang suaranya tidak asing di telinganya sedang tertawa lepas bersama Cello dan satu lagi laki-laki yang tidak di kenalnya.


Mbak Ani, anda kah itu?" tanya Shifa sampai memiringkan tubuhnya untuk meyakinkan bahwa dia adalah temannya waktu tinggal di lapas.


Seketika mereka berhenti tertawa dan menengok melihat Shifa yang terlihat kaget dan syok.

__ADS_1


"Tuuh senior, orang yang dicari sudah datang" seloroh Rafael tersenyum.


"Senior, memang kak El dan kak Cello kenal dengan mbak Ani?" tanya Shifa lagi karena masih bingung apa yang sebenarnya terjadi.


"Honey, senior Ani adalah agen rahasia pemerintah seperti kita bertiga, bahkan beliau ini termasuk anggota senior dan sangat handal dalam tugas penyamaran' cerita Rafael


""Hai Shifa apa kabar?"Ani Marsiti langsung memeluk Shifa yang masih berdiri tertegun sampai tidak membalas pelukan Ani.


"Aku baik mbak, dia siapa mbak, bukankah kemarin anda cerita kalau suami mbak Ani meninggal?" tanya Shifa masih bingung.


"Kenalkan dia ini suamiku dalam dunia nyata, ha ha ha" jawab Ani Marsiti sekenanya.


Karena Shifa semakin bingung Rafael menceritakan secara singkat saat Ani Marsiti ditugaskan oleh agen rahasia pemerintah untuk menyelidiki kasus Shifa.


"Kenapa Mbak Ani waktu itu tidak cerita kalau mbak Ani hanya menyamar dalam lapas itu?" tanya Shifa setelah mulai faham siapa Ani Marsiti sebenarnya.


"Di lapas ada telinga dimana-mana Shifa, jadi saya harus ekstra hati-hati dalam bertindak" jawab Ani dengan jelas.


"Jadi saat mbak Ani membuat keonaran di kantin itu juga dalam rangka penyamaran?" tanya Shifa lagi karena penasaran.


"Yap, tepatnya itu rencana Rafael dan komandan Conan" jawab Ani lagi dengan menunjuk kearah Rafael.


"Peace honey, peace!" Rafael menunjukkan dua jarinya tanda untuk berdamai.


Sambil bercerita tentang kisah di lapas dan cerita tentang hal yang lain sambil bercanda mereka terlihat akrab bersahabat, datang Cinta berjalan terseok-seok dari arah salon dan rumah kecantikan dengan tangan berdarah menetes dari lengannya yang di bantu oleh salah satu pegawai salon, dan diikuti pegawai salon lainnya yang berlarian menyusul Cinta.


"Mima ada apa?" Teriak Cello, Shifa dan Rafael bersamaan.


"Ini kenapa, kok bisa tangannya terluka?" tanya Ani Marsiti dan suaminya juga dengan kompak.


"Di salon ada teman Mima yang mengamuk membawa parang?" cerita salah satu pegawai salon yang memapah Cinta.


"Shifa obati luka Mima, dan jangan lupa panggil Mama Ara, cepat!" perintah Rafael sambil berlari meninggalkan ruang tamu diikuti oleh Cello, Ani Marsiti dan suaminya.


Sampai di salon ada seorang waria sedang memegang parang memiting leher salah satu sekuriti dengan mendekatkan parang di leher sekuriti dan sekuriti yang lain sedang berjaga jaga agak jauh dari waria itu agar tidak bertindak nekat.


"Sis, sabar dulu semua bisa kita bicarakan dengan baik baik, jangan sampai orang lain yang tidak bersalah menjadi korban" sekuriti mencoba menenangkan waria itu.

__ADS_1


"Gue kagak perduli, gue hanya mau Mima, mana dia mengapa malah lari ngibrit?" tanya waria itu dengan suara khas seorang wanita jadi-jadian yang sedang emosi.


"Baiklah baiklah gue panggilkan Mima, tetapi lepaskan dulu teman gue, itu lihat lehernya terluka" rayu sekuriti lagi.


"Siapa sebenarnya dia Pak?" tanya Rafael berbisik mendekati sekuriti yang sedang bicara bernegosiasi.


"Berondong ganteng gue dengar ya, gue ini gebetannya Mima, dimana dia, dia harus bertanggung jawab?" masih marah waria itu tetap menempelkan parang di leher sekuriti.


"Bertanggung jawab apa sis, bisa kita bicarakan bukan?" rayu suara Shifa yang datang tiba-tiba mendekati waria itu.


Waria itu menatap tajam wajah Shifa sesuai dengan cerita Tante yang kemarin datang ke salon saat akan menghadiri ulang tahun suaminya.


"Oooo rupanya elo gadis bermata biru anak hasil selingkuhan Mima?" cabik waria lagi.


"Gara-gara elo, gue dicampakkan sama Mima, sini gue beri" tambah waria itu dengan mengacungkan parangnya.


Semua tersentak kaget dan menahan tawa karena di bilangnya Shifa adalah anak hasil selingkuhan Mima Cinta.


"Apa lo kata, Shifa anak hasil selingkuhan Mima, emang Mima bisa berojolin anak lewat mana?" celoteh Cello cengengesan.


"Dengar ya sis, Shifa itu bini gue, siapa yang bilang kalau dia anak selingkuhan Mima?" tanya Rafael lebih merasa geli dengan tingkah konyol dari teman dari Mima Cinta.


"Jadi Mima kagak selingkuh dari gue?" tanya waria itu sambil melepas tangan yang tadi melingkar di leher sekuriti yang dipakai sebagai sandera.


"Elo ya, udah bikin gue terluka, malah mau menggorok leher sekuriti, sini parangnya elo aja yang gue tebas leher elo aja" celoteh Mima sambil mendekati waria itu dengan tatapan yang marah.


"Mima jangan!!!" teriak semuanya saat Cinta mendekati waria itu merebut parang yang di pegangnya sambil mendorongnya.


"Maaf Mima, gue emosi, gue cemburu gara gara kemarin si tante cerita kalau elo memiliki anak selingkuhan" waria itu dengan memelas.


"Kalau elo kagak enyah dari sini, gue gorok beneran ya lehernya, cemburu emang elo apanya gue, gebetan juga kagak, elo bukan selera gue, sono enyah Lo!" perintah Cinta sambil memegang parang.


"Ada-ada saja sih kelakuan teman elo Mima!" Celoteh Cello tertawa terbahak bahak sambil meninggalkan salon itu.


"Tapi Mima, maafin gue dulu" masih ingin merayu Mima waria yang sedang cemburu.


"Eeeee, tidak enyah juga, memang minta di gorok betulan ya!" Cinta berjalan mendekati waria sableng yang nekat karena cemburu.

__ADS_1


"Aaaaa...ampun Mima, baiklah gue pergi" dengan lari terbirit-birit waria itu meninggalkan salon.


Semua jadi menggelengkan kepalanya karena tingkah konyol waria yang cemburu buta bisa membahayakan orang lain, untung walaupun ada luka tetapi tidak parah dan tidak sampai ke pihak kepolisian, bisa diatasi sendiri.


__ADS_2