Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
72. Dijemput Paksa


__ADS_3

Cello duduk berdampingan dengan Aisyah sarapan nasi uduk di kedai sederhana yang berada di belakang puskesmas dengan di temani segelas teh manis hangat.


Semenjak menjadi kekasih Aisyah, Cello memang menjadi lebih sederhana mau menikmati hidangan di tempat kecil yang penting bersih dan lezat.


"Sayang aku langsung pulang, ada meeting pukul pagi, sendiri tidak apa-apa kan ke puskesmas nya?".


"Iya kak Cello, semangat kerjanya, satu lagi jangan aneh-aneh pikirannya".


"Iya iya sayang, jangan marah lagi, aku belum bicara, masih di otak yang mau di ucapkan sudah terbaca memangnya, I love you".


"Iya ada layarnya di dahi kak Cello, I love you to, daaa Kakak Cello".


Belum sampai masuk area puskesmas ada ambulance yang standby di depan pintu puskesmas, banyak bodyguard yang berdiri di sekeliling ambulance, suara berisik dan teriakan di dalam puskesmas terdekat sampai di depan


"Dimana dokter saat ini mengapa tidak profesional sekali ha" seorang yang memakai seragam dokter marah marah.


"Puskesmas buka pukul delapan pagi dokter, ini bukan rumah sakit, bahkan dari kemarin dokter harus bertugas tanpa henti sampai sekarang hanya di tinggal sarapan Anda bilang tidak profesional" seorang perawat senior tersinggung karena ada dokter emosi tanpa alasan.


Aisyah bergegas masuk melihat ada tiga dokter lima perawat mendorong brankar kosong dan salah satu dokter memegang buku map rekam medis.


"Suster ada apa ini?" Aisyah berlari kecil mendekati rombongan.


"Dokter Ais, ini ada dokter yang marah tidak jelas" suster senior mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Tidak boleh begitu suster, permisi dokter saya dokter yang bertanggung jawab disini ada yang bisa saya bantu?".


"Begini dokter, kami tim medis tuan Thora Thanapon kami ingin--!


"Kita bicarakan di kantor saya Dok, mari ikut saya" Aisyah memotong perkataan dokter yang sedang marah marah tadi.


Tiga dokter mengikuti langkah panjang Aisyah menuju kantor, waktu baru menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit, semua bagian kepegawaian puskesmas belum ada yang buka.


"Silahkan duduk dokter, sebentar saya akan panggil kepala puskesmas, jika sudah datang, karena puskesmas beroperasi pukul delapan pagi" kembali Aisyah Keluar ruang kantornya.


Aisyah sambil berjalan ke kantor kepala puskesmas sambil menghubungi Cello untuk mengabarkan bahwa Papi Thora akan di jemput paksa oleh anak buahnya dan asistennya.


"Halo, sayang, ini aku baru setengah perjalanan kamu sudah kangen lagi?".


"Kak Cello bercanda aja, ada yang gawat nich!".


"Ada apa sayang?".


"Ini di puskesmas ada tim dokter papi Thora akan menjemputnya, aku harus bagaimana?".

__ADS_1


"Ya sayang aku hubungi komandan Conan, sabar ya, ulur waktu sedikit kalau bisa, ok".


Hanya dalam sepuluh menit Cello menghubungi Aisyah kembali mengabarkan jika anak buah komandan Conan sudah standby mengawasi puskesmas sejak kemarin bahkan ada Ani Marsiti yang berdiri didepan pintu kafe menyamar sebagai sekuriti, dan komandan Conan juga berpesan ikuti saja kemauan jika memang mereka akan memindahkan Papi Thora ke rumah sakit yang di kehendaki lebih baik di setujui, agar tidak menimbulkan kecurangan jika mereka sedang diawasi oleh pemerintah khususnya agen rahasia pemerintah.


Sehingga saat setelah kepala puskesmas sudah datang semua berjalan dengan lancar, setelah di tandatangani ijin Papi Thora keluar dari puskesmas dengan segera mereka memindahkan Papi Thora dari brankar tempat tidur puskesmas ke brankar dorong yang dibawa oleh tim dokter tetapi sayangnya Agus Martono tidak hadir saat penjemputan paksa Papi Thora Thanapon.


Papi Thora hanya pasrah dan diam seribu bahasa saat Tim dokter sedang memeriksa kesehatannya, hanya melirik dokter Aisyah yang berdiri mendampingi tim dokter yang sibuk memeriksanya.


Selesai diperiksa dan sudah bersiap untuk keluar puskesmas sekali lagi sebagai dokter penanggung jawab pasien Aisyah harus tanda tangan sebagai persetujuan pasien keluar dari puskesmas, sekilas membaca bahwa Papi Thora pindah dari puskesmas ke sebuah rumah sakit yang berada di Singapura, sekilas Aisyah memandangi wajah Papi Thora seolah ingin bertanya apakah dari puskesmas akan langsung ke bandara.


Papi Thora juga memandang sendu kearah Aisyah, setelah dia mengingat masih punya hutang kepada pasangan suami istri perawat yang tadi malam membelanjakan baju dan perlengkapannya langsung menghentikan saat perawat dari tim dokter Papi Thora.


"Tunggu sebentar" ucap Papi Thora membuat mereka langsung menghentikan langkahnya.


"Saya ingin berbicara dengan dokter Aisyah secara pribadi, apakah kalian bisa meninggalkan kami sejenak?".


"Baik Tuan, kami keluar sebentar permisi" jawab salah satu Dokter mewakili timnya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Aisyah setelah tim dokter keluar dari ruangan Papi Thora.


"Dokter dimana pasangan suami istri perawat tadi malam?".


"Jaya dan Fatma sudah pulang Tuan, karena mereka tugas malam".


"Saya mempunyai hutang kepada mereka, bagaimana bisa saya bisa bayar kepada mereka, boleh saya minta nomor rekening anda, Dokter?".


"Tetapi Dokter, anda sudah terlalu banyak membantu saya, saya tidak ingin merepotkan terus menerus".


"Saya sudah menganggap anda seperti ayah saya sendiri Tuan, tidak perlu sungkan".


"Saya merasa tersanjung jika diijinkan memiliki putri seperti anda Dokter".


Aisyah hanya tersenyum simpul diikuti oleh Papi Thora juga ikut tersenyum merasa bahagia memiliki teman sekaligus putri seorang dokter yang baik hati.


"Sejak dari lahir saya tinggal di panti asuhan Tuan, tidak memiliki siapapun di dunia ini, sayalah yang akan bangga dan tersanjung jika anda menganggap saya sebagai putri anda".


"Baiklah, Dokter Aisyah saya pamit, tolong jangan lupa nanti tanyakan kepada Jaya dan Fatma, sampaikan salam dan terima kasih atas bantuannya".


"Baiklah nanti saya sampaikan, jaga kesehatan anda, semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi".


"Terima kasih, sampai jumpa di lain kesempatan".


Setelah rombongan Papi Thora Keluar dari rumah sakit, Aisyah mengubungi Shifa dengan menggunakan VC.

__ADS_1


"Halo kakak ipar" Shifa tersenyum melihat wajah Aisyah yang kaget dipanggil kakak ipar.


"Kamu tuuh ya sekarang sudah ketularan suamimu".


"Ha ha ha bisa saja, apakah Papi Thora sudah keluar puskesmas?".


"Kamu sudah tahu, padahal aku baru mau cerita, tidak asyik ah, tidak bisa melihat sahabatku nangis bombai karena di tinggal Papi-nya pulang kampung".


"Lebay, barusan kak El sudah cerita, mau dia pulang atau tidak itu tidak ngaruh Ais, kita sudah ada di persimpangan jalan, akan susah untuk bertemu".


"Oya tadi Papi Thora bingung bagaimana cara membayar hutang baju tadi malam"


"Terus Ais jawab apa?".


"Nanti aku yang akan membayar hutangnya, terus dia titip salam untuk kamu dan kak El".


"Walaikum salam, aku catat ya hutangnya".


"Idih tega banget sih, seharusnya aku juga ikut di belikan baju bukan harus bayar baju".


"Bercanda Kakak ipar, mau berapa banyak bajunya nanti aku bilang kepada kak CL?".


"Ogah, jangan minta dia, bikin malu aja, sudah ah aku mau pulang da da adik ipar cantik".


Selesai VC dengan Shifa Aisyah berencana untuk pulang, hari ini kebetulan Aisyah tidak bertugas, hanya karena adanya Papi Thora di puskesmas dia bersedia merawat beliau karena notabene ayah kandung dari sahabatnya.


"Baru berjalan keluar pintu puskesmas ternyata Cello berlari dari parkiran mendekati kekasih hati yang baru keluar dari puskesmas.


"Kak Cello katanya ada meeting, kok sudah sampai di sini lagi ada apa?".


Cello Hanya tersenyum karena melihat Aisyah kaget sudah ada didepannya lagi padahal baru satu jam berpisah.


"Aku tidak bisa konsentrasi inget kamu terus, takut ada anak buah Papi Thora buat ulah disini, jadi meeting aku tinggal aja".


"Ini aku baik-baik saja, aku mau pulang, kak Cello kerja lagi sana, nanti Papa Mario marah kak Cello tidak profesional".


"Eeee ngusir suami dosa tahu, aku kesini atas perintah Papa Mario sayang, Papa juga khawatir dengan keadaan kamu".


"Waduh betulkah itu?".


"Iya sayang, Papa sangat khawatir, apalagi aku lebih khawatir lagi, ayo kita pulang".


"Tapi tadi aku sudah pesan ojek online kak, bagaimana jadinya?".

__ADS_1


"Gambang nanti aku bayar dia, bilang ternyata sudah di jemput oleh suami, beres kan?".


"Mulai lagi jangan aneh-aneh kak Cello, jangan ketularan kak Rafael, suami halu".


__ADS_2