Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
54. Kabar dari Brunei


__ADS_3

Menggunakan satu mobil milik Cello, mereka bertiga berangkat ke markas mini yang berada di lantai tiga rumah Papi Faro, setelah sampai halaman rumah Cello langsung berlari kecil masuk rumah setelah memberi salam langsung naik lift menuju lantai tiga.


Shifa masuk diarea halaman rumah Rafael, baru pertama kali menginjak rumah Rafael sedikit ragu-ragu, memperhatikan sekitar halaman dan bangunan yang sangat megah, ternyata rumahnya lebih besar dan lebih mewah dari rumah Mama Ara, berdiri terpaku di teras rumah saat Rafael mengajak masuk.


"Honey ayo masuk, ini rumahmu juga, jangan ragu" Rafael menautkan tangannya menarik Shifa untuk masuk rumah.


"Mami, Papi menantu sudah datang" teriak Rafael dari ruang tamu.


Mami dan para bibi hanya tersenyum mendengar teriakkan kencang Rafael dari dapur.


Yang berlari menyambut Shifa justru Najja karena kebetulan gadis manja itu sedang santai dan bermain di media sosial.


"Kak Shifa apa kabar?" dengan suara yang manja Najja berlari memeluk Shifa dengan erat, disambut pelukan hangat juga oleh Shifa.


"Alhamdulillah baik, cantik lagi ngapain?" tanya Shifa kemudian.


"Habis bangun tidur kak, belum mandi" jawab Najja jujur.


"Iih mana ada cantik tidak mandi, itu mah jorok" ledek El dengan merangkul pundak adiknya.


"Kak El syirik aja, yang penting kita cantik ya kak Shifa?" Jawab Najja lagi.


"Mami dimana?" tanya Rafael singkat.


"Lagi di dapur, ayo kak kita temui Mami!" Najja menggandeng tangan Shifa mendekati Mami yang sedang membantu bibi membuat camilan.


"Assalamualaikum Mami" ucap Shifa sambil mencium punggung tangan Inneke.


"Walaikum salam, cantiknya menantu Mami" dipeluknya Shifa dengan penuh kasih, diikuti oleh senyum Shifa yang mengembang.


"Najja juga cantik lo Mi" tidak mau kalah Najja juga ingin di puji.


"Iya Putri Mami juga cantik tetapi mandi dulu sana, mau jigong nich" canda Mami Inneke.


"Iya deh, kak Shifa aku mandi dulu ya" pamit Shifa berlari ke lift ingin ke kamar.


Datang Rafael dari depan karena saat mau masuk ke rumah tadi koper dan handphone masih ada di mobil.

__ADS_1


"Honey ayo kita ke kamar sebentar" ajak Rafael mendekati Shifa yang sedang berbincang dengan Mami Inneke.


"El, kamu mandi dulu sana, Shifa sama Mami mau langsung ke atas, semua sudah kumpul soalnya" ucap Mami.


"El sudah mandi Mi, sudah wangi nich".


"Emang mandi dimana, kamu nya aja baru datang?".


"Tadi pagi di kamar Shifa, tanya dia kalau tidak percaya!".


"El mandi berdua dengan Shifa?" tanya Mami kaget.


"Maunya gitu sih Mi, tetapi menantu Mami itu tidak mau" seloroh Rafael diikuti tatapan tajam oleh Shifa dan Mami Inneke.


"Ha ha ha..." Rafael tertawa lepas setelah di lempar serbet oleh Mami.


Sudah berkumpul tiga Elang Emas plus Shifa, Mami Inneke, Papi Faro dan komandan Conan yang sedang di markas mini yang berada di lantai tiga kediaman Papi Faro.


"Ayo komandan kita mulai aja" ajak Rafael sudah tidak sabaran.


"Sabar El ini lho baru di persiapkan" cabik Kanno mulai membuka leptopnya.


"Terus tapi ketemu kan Ndan?" tanya Rafael tidak sabaran.


"Dasar El, sabar dong!" kesal Cello melempar pulpoin tetapi tepat ditangkap olehnya.


"Mahfud Hamdhani dengan mudah di temukan oleh jenderal As'ari, tetapi aku belum sempat menemuinya" belum selesai melanjutkan ucapannya sudah di potong oleh Cello gantian.


"Kenapa belum ketemu mereka Ndan?" dengan penasaran Cello langsung memotong omongan komandan Conan.


"Yeee sendirinya tidak sabaran, dasar El, Cello sama saja" cabik Kanno ikut kesal disertai tawa dari yang lain.


"Mahfud Hamdhani ternyata anggota Polis Diraja Brunai Darussalam, dia sudah mengabdi di negara itu hampir sepuluh tahun, saat aku kesana dia sedang tugas di luar kota, mempunyai dua anak satu laki-laki berumur delapan tahun dan perempuan berumur lima tahun".


Sengaja komandan Conan berhenti sejenak takut ada yang motong ucapannya lagi, setelah tidak ada yang bertanya komandan Conan melanjutkan keterangannya, bersamaan Kanno menunjukkan foto dari Mahfud Hamdhani menggunakan seragam polisi yang di dapat dari Jenderal As'ari.


"Itu foto yang aku dapat dari Jenderal As'ari dari kantor distrik Diraja Brunai Darussalam" kata komandan Conan, sedangkan Kanno menunjukkan foto ada yang Mahfud Hamdhani sendiri, berdua bersama istrinya, dan bahkan berempat bersama kedua anaknya.

__ADS_1


Shifa menatap tajam wajah adik kandung dari Mami Fatty, antara bahagia terharu dan sedih jadi satu, wajah tampan dari Mahfud Hamdani karena seragam membuatnya semakin gagah, matanya tidak sanggup menahan air mata mengalir deras bak air hujan.


Yang biasa memandangi wajah Mami Fatty menggunakan hijab dengan anggun dan kulitnya putih, tetapi saat Shifa memandangi wajah uncle Mahfud, seperti melihat Mami dengan versi laki-laki, badan terlihat kekar, walaupun kulitnya sawo matang, tetapi tidak di pungkiri wajah itu sangat mirip dengan wajah Mami Fatty.


"Komandan, bolehkah aku minta foto itu di kirim ke hand--, eee tidak jadi aku belum punya HP" tambah mengalir air matanya sambil menundukkan kepalanya.


"Mulai lagi kan, kenapa air mata ini tidak habis habis sih, tenang aja semua pasti beres di tangan suami ganteng mu ini" hibur Rafael mengusap air mata Shifa dengan jarinya.


"Maaf, ini bukan air mata sedih, tetapi karena bahagia" jawab Shifa singkat.


"Yeeee halu aja lo El, suami ganteng dari Hongkong?" Cello protes karena ucapan Rafael.


"Aku lanjutkan ya, jenderal As'ari berencana akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kita Minggu depan, karena agen rahasia pemerintah Diraja Brunai Darussalam mengetahui Rafael adalah putra dari Faro Sanjaya Wiguna yang pernah berjasa pada kesultanan dan sering membantu agen rahasia disana, Rafael juga pernah ikut menyelamatkan pesawat tempur milik militer Diraja Brunai Darussalam waktu itu, mereka ingin membuat acara yang istimewa, tetapi jenderal As'ari tidak menjelaskan secara detail". keterangan lagi komandan Conan.


"Ada pertanyaan?" tanya komandan Conan setelah selesai menceritakan hasil pertemuan dengan Jenderal As'ari.


"Dimana uncle Mahfud tinggal, Ndan?" tanya Rafael setelah mendapatkan waktu untuk bertanya.


"Mereka tinggal di ibukota Bandar Seri Begawan" jawab komandan Conan.


"Seluruh anggota Elang Emas dan pasangan boleh ikut kan?" tanya Kanno cepat.


"Kalau yang itu terserah Rafael atau Papi-nya saja, bagaimana baiknya" jawaban lagi komandan Conan


"Kalau itu tergantung Papi aja, semua aku serahkan kepada Papi dan Mami, kalau bisa langsung lamaran ya Pi, kalau perlu langsung akad nikah" pinta Rafael sambil melirik Shifa yang masih duduk termenung masih menatap layar monitor ada keluarga utuh dari uncle Mahfud istri dan kedua anaknya.


"Eeee malah melamun setuju tidak?" Rafael dengan memeluk Shifa dari samping.


"Se.. setuju tentang apa kak El?" tanya Shifa dengan gugup.


"Pokoknya jawab aja setuju gampang kan?" ucap Rafael lagi.


"Mana bisa, harus jelas dong, karena kak El pikirannya jadi mesum akhir akhir ini" bisik Shifa di telinganya.


"Tau aja sih ha ha ha" dengan cepat Rafael menutup mulutnya karena mendapatkan tatapan horor dari Cello menempatkan dirinya sebagai kakak yang baik.


"Idiiih segitunya yang jadi kakak yang baik, maaf Kakak ipar" rayu Rafael dengan tersenyum devil dan melipatkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Shifa sambil berlinang air mata tetapi bibirnya tersenyum, tidak di pungkiri bersama keluarga yang baru di temukannya membuat kebahagiaan yang tidak pernah di pikirkan sama sekali, bertambah lagi mendapatkan kabar dari Brunei Darussalam di temukannya adik dari Mami Fatty, apalagi bersama Rafael kekasih tercinta, padahal saat berada di penjara, walaupun hanya setitik harapan tidak pernah dibayangkannya sama sekali.


Shifa juga tidak pernah menyangka jika orang yang di cintainya dan kakak sepupunya adalah orang yang bisa melakukan hal yang tidak semua orang bisa melakukannya, menjadi agen rahasia pemerintah apalagi, tersirat saja tidak pernah ternyata mereka bertiga adalah orang penting di negara ini, tiada henti Shifa mensyukuri nikmat Allah yang maha Agung.


__ADS_2