Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
46. Done


__ADS_3

Tinggal Teteh yang masih bisa berdiri, karena selama ini emosi Shifa selalu di pendam, di tahannya dalam hati ini seperti pelampiasan kemarahan Shifa tanpa disadarinya "Kau yang terakhir rasakan ini hyaaaaaat" tendangan terakhir Shifa mengenai kaki yang tadi di injak Ani Marsiti.


"Aaaargh kaki gue, kurang ajar lo, bang sat!" pekik Teteh memegangi kakinya yang pertama di injak Ani sekarang ditambah di tendang oleh Shifa dengan keras.


Teteh mengerang kesakitan, menahan sakit yang teramat sangat demikian juga anak buah Teteh juga meringis menahan rasa sakit karena tendangan kaki Shifa yang kuat.


Ruang makan menjadi ajang pelampiasan kemarahan Shifa tanpa disadarinya, emosinya sangat meledak-ledak, seperti bom yang yang menggelar karena lama tidak di picu sumbunya, seperti singa betina yang kehilangan induknya semua terkena tendangan dan amukan Shifa, para napi hanya berdiri melihat perkelahian itu tanpa berani melerai, sedangkan Ani Marsiti pura-pura pingsan dan tergeletak di samping meja hanya sesekali melirik aksi Shifa yang begitu brutal.


Setelah semua tumbang dan tergeletak tidak berdaya baru petugas lapas datang dengan berlari mendekati Shifa yang baru menyadari apa yang telah dia lakukan.


"Apa yang kamu lakukan hah, apakah kamu ingin di hukum lebih berat lagi?" tanya salah satu petugas lapas.


Shifa baru sadar apa yang telah dilakukan barusan, di pandangi nya satu persatu korban yang tergeletak di lantai sekitar dia berdiri terpaku, dan melihat sekeliling para napi yang berdiri tanpa berani melerai.


"Cepat bereskan tempat ini, bawa ke klinik korban yang terluka" perintah petugas lapas lainnya.


Tanpa menjawab sepatah katapun Shifa mendekati Ani Marsiti yang tergeletak di samping meja dan menepuk pipinya dengan lembut.


"Mbak Ani, mbak bangunlah semua sudah aman ayo bangunlah".


Mata Ani Marsiti mengerjap, menyapu area itu dengan tatapan mata yang sayu, ruang yang berantakan dengan meja dan kursi banyak yang rusak Ani Marsiti langsung terduduk lemas.


"Shifa apa yang terjadi, kemana Teteh dan anak buahnya, apakah mereka sudah pergi?" tanya Ani Marsiti dengan panik.


"Sudahlah jangan dipikirkan, yang penting mbak Ani selamat".


"Shifa ayo kamu ikut, untuk sementara kamu akan di tempatkan di ruang gelap sebagai hukuman apa yang barusan kamu lakukan!".


Shifa langsung gelandang ke ruang gelap oleh dua petugas lapas, sesekali Shifa melihat ke belakang melihat mbak Ani Marsiti yang masih terlihat bingung.


"Shifa maafkan aku, ini semua karena salahku, jadi kamu yang di hukum, maafkan aku" cabik Ani berkaca-kaca melihat Shifa di tarik paksa petugas.

__ADS_1


"Tidak apa-apa mbak, jaga diri baik-baik ya!"


Ada tatapan mata yang tajam dari salah satu napi wanita yang selama ini mengawasi gerak-gerik Shifa dari kejauhan, Ani Marsiti selalu melirik wanita berwajah Melayu itu menunduk dengan memegang sesuatu, seperti sedang menulis pesan WA kepada seseorang.


Ani Marsiti berdiri dengan mata tertunduk karena tatapan mata dari napi yang lain dan wanita Melayu kepadanya, berjalan menuju kamar mandi umum yang tidak jauh dari ruang makan, masuk ke salah satu kamar mandi yang kosong dan menguncinya dari dalam baru mengirim pesan WA kepada Rafael dan komandan Conan.


"Done, tugas sukses, mohon cepat bergerak sekarang, jemput aku besok jangan lupa dan mungkin pihak lawan juga sudah mengetahui aksi Shifa dari laporan wanita Melayu itu" tulis Ani Marsiti dengan cepat.


Setelah keluar dari kamar mandi Ani Marsiti langsung di gelanggang ke kantor lapas dengan pengawalan ketat petugas lapas, di interogasi oleh petugas yang sedang bertugas saat itu.


"Ini awalnya gara-gara ulah kamu, apa itu benar?" tanya salah satu petugas lapas.


Ani Marsiti hanya menunduk, di lapas ini yang mengetahui jika dia adalah agen rahasia pemerintah hanya kepala lapas saja, sehingga dia hanya bisa berpura-pura tidak berdaya seperti saat meminta bantuan kepada Shifa.


"Iya Bu, aku yang salah, tetapi aku tidak sengaja, saat itu aku terpeleset jadinya bubur kacang hijau yang aku pegang mengenai pipi dan perutnya si Teteh" cerita Ani Marsiti seolah olah dia yang ketakutan.


"Terus mengapa sekarang kamu ulangi lagi, saat bertemu dengan Teteh terjatuh lagi?".


Kamu ini ngeles aja, yang jelas ini semua gara-gara kamu".


Dengan geram para penjaga lapas ingin memukuli Ani Marsiti karena selalu bisa menjawab pertanyaan yang akan menyudutkan dirinya dengan mengangkat tangan kanannya.


Datang dengan tergesa-gesa kepala lapas di dampingi oleh wakilnya masuk di kantor melihat para pegawai lapas sedang mengintrogasi Ani Marsiti.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak kepala lapas dengan suara yang menggelegar di kantor itu.


Semua menengok kearah datangnya kepala lapas dan wakilnya, tidak jadi memukul Ani Marsiti ditariknya kembali tangannya kesamping, Ani Marsiti langsung tersenyum dengan datangnya dua orang itu, pasalnya dia tidak harus berpura-pura lagi dengan petugas lapas.


"Kalian bubar biar kami yang menangani kasus ini" perintah kepala lapas setelah duduk di kursi singgasananya.


"Tapi Pak, wanita ini yang----!" jawab salah satu petugas lapas yang tidak melanjutkan ucapannya sudah di potong oleh wakil kepala lapas.

__ADS_1


"Tidak ada tapi tapian, tinggalkan tempat ini!" titahnya lagi.


"Siap laksanakan" jawab mereka kompak dan bergegas keluar kantor dengan hati yang kecewa.


"Senior anda tidak apa-apa?" tanya kepala lapas setelah tinggal bertiga yang ada didalam kantor itu.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja".


"Tugas anda besok tinggal sekali lagi, hanya mengembuskan isyu kepada para napi yang lain karena kesalahan Shifa fatal sekarang dia dipindahkan ke pulau Nusa Kambangan pukul lima sore".


"Baik Pak, kapan saya di jemput oleh agen besok Pak?".


"Setelah selesai makan malam, baru di jemput langsung oleh suamimu sendiri, tenang aja akan ada bonus pribadi dari Rafael sebagai tanda terima kasih" jawab ketua lapas dengan tersenyum puas.


"Waaaah betulkah apa itu?"


"Kamar hotel untuk honeymoon katanya" seloroh wakil kepala lapas.


"Kami juga dapat, sampai ketemu di hotel besok malam" kembali kepala lapas tersenyum lebar.


Sedangkan yang di dalam ruang gelap penjara, Shifa sedang meredamkan emosinya dengan pus-up sudah entah berapa kali, penyesalan dalam hati karena sudah melampiaskan emosinya yang meledak-ledak hampir tiga bulan di penjara hanya diam dan diam, penyesalan mengapa orang yang tidak bersalah terkena imbas dari ketidak adilan yang dia dapatkan, penyesalan karena mereka tidak mengetahui apa sebenarnya yang ada dalam kegundahan hatinya.


Shifa hanya mengingat betapa bersalahnya dia, hampir seluruh anggota dan ketua geng lapas itu terluka dan mengalami patah atau retak tulang, bagaimana keadaan mereka sekarang, bagaimana keadaan mbak Ani sekarang, hanya bertanya tanya sendiri tanpa ada yang memberi jawaban pasti.


Tadi siang tidak ikut mengantri makan siang, makan malam belum sempat dinikmatinya, perut terasa keroncongan, di ruang isolasi gelap tanpa penerangan hanya ada minum air mineral di samping tikar kecil yang di gelar disana, terpaksa hanya meminum air putih sebanyak banyaknya untuk mengganjal perut yang terasa perih, lambungnya tidak bisa diajak kompromi, rasa lapar menderanya tetapi hanya ada air saja.


Setelah keringat bercucuran emosi mereda, merebahkan tubuhnya di atas tikar kecil tanpa ada bantal dan selimut hanya tangan yang di letakkan di bawah kepala sebagai penopang kepalanya, mata menerawang hanya ada cicak yang merayap samar terlihat, buku dan ganti baju juga tidak sempat dibawanya hanya yang melekat di badannya.


"Kak El bagaimana kabarmu, aku sangat merindukanmu, apakah kakak bahagia, apakah kakak sering menghilang tanpa kabar, sekarang aku yang menghilang, bagaimana perasaan mu, berbahagialah kak carilah penggantiku, demi kebahagiaan kak El, aku rela kak, apakah sekarang kak El sudah mendapatkan penggantiku?" Monolog Shifa dengan linangan air mata.


"Ais, bunda aku rindu tawa kalian, aku rindu nasehat kalian, aku rindu kejahilan kalian, kapan kita bisa berjumpa lagi, kapan kita bersama lagi, akankah ada harapan untuk kita bertemu lagi" kembali Shifa bermonolog sendiri.

__ADS_1


__ADS_2