
Hari demi hari pergerakan Shifa di Jakarta semakin sempit, tetapi Shifa masih merahasiakan identitas dan keadaan dirinya kepada Rafael, hanya berkeluh kesah kepada Aisyah saja, dari apartemen, kampus dan panti asuhan saja rute Shifa akhir akhir ini ketika melakukan aktivitas nya.
Skripsi dan sidang sudah dilalui Shifa dengan lancar, walaupun dalam pengawasan uncle Agus tetapi tidak mempengaruhi semangat Shifa untuk malaksanakan tugas dengan penuh semangat, sekarang tinggal menunggu wisuda saja agenda penting Shifa saat ini di Jakarta.
Waktu luang hanya Shifa manfaatkan di apartemen atau di panti asuhan Kasih Bunda, dua orang bodyguard yang selalu mengawasi Shifa juga jarang beranjak dari lingkungan apartemen Wika City, terkadang di kopi shop, terkadang nongkrong bersama sekuriti dan terkadang nongkrong di basemen parkiran.
Wisuda Shifa dan Aisyah akan dilaksanakan satu Minggu lagi, Shifa bingung harus menghubungi siapa untuk mendampingi nya nanti, sedangkan malas bertemu dengan Papi Thora, ingin mengajak bibi pengasuh tidak mungkin karena beliau sudah tua dan tidak kuat untuk berpergian jauh.
Dengan terpaksa menghubungi uncle Agus walaupun hati ragu, mengirim pesan WA kepada tangan kanan papinya itu dengan hati yang gamang.
"Uncle Agus, satu Minggu lagi Shifa wisuda bisakah uncle Agus datang ke Indonesia untuk mewakili Shifa sebagai wali" pinta Shifa dalam pesannya.
Tidak menunggu lama pesan itu di read dan dengan cepat uncle Agus menjawab pesan dari Shifa.
"Sorry Shifa, saya dan Papi Thora sekarang berada di Eropa sampai satu bulan kedepan, kamu hubungi bibi pengasuh saja ya, biasanya beliau yang menjadi wali kamu atau bunda Panti asuhan, kalau perlu nanti uncle yang menghubungi mereka" balasan uncle Agus dalam tulisannya.
Shifa hanya menarik nafas dengan kasar, sambil berderai air mata Shifa membalas pesan WA uncle Agus lagi.
"Tidak usah uncle, biar Shifa sendiri yang menghubungi beliau, uncle Agus lanjutkan pekerjaan saja, terima kasih".
"Sorry Shifa, I and your Papi can't come to your graduation" tulis uncle Agus lagi.
"No problem uncle, I understand, don't worry I am ok" membalas tulisan uncle Agus dengan linangan air mata yang semakin deras.
Mami, saya sendiri lagi, saya merindukan Mami, kapan saya menemukan Aunty Ara, apakah saya di ditakdirkan selalu sendiri Mami" monolog Shifa berbaring di tempat tidur sambil memeluk guling terlelap sampai pagi.
Hari ini hari Sabtu, Aisyah dan Agnes berkunjung di apartemen Wika City milik Aisyah berencana untuk memasak bersama, karena rencananya malam Minggu nanti ketiga kakasih hati akan bergabung untuk merayakan kelulusan Aisyah dan Shifa.
"Ting tong....Ting tong".
Aisyah menekan bel pintu Shifa, tidak menunggu lama pintu terbuka.
"Assalamualaikum" ucap salam Aisyah dan Agnes bersamaan.
"Walaikum salam, ayo masuk, banyak betul belanjaannya, saya juga sudah belanja online tadi pagi".
"Tidak apa-apa, kebetulan aku habis gajian tenang aja" jawab Agnes berjalan masuk menuju ruang dapur.
__ADS_1
"Bagaimana Shifa apakah beberapa hari ini kamu tidak keluar rumah?" tanya Aisyah karena melihat Shifa yang sedikit kusut penampilannya.
"Aku malas keluar, jika sedang PMS pinggang dan perutku rasanya sakit sekali" jawab Shifa dengan lirih.
"Apa yang pertama kali kita masak?" tanya Agnes antusias membuka semua belanjaan yang di bawanya.
"Kita buat makanan penutup aja dulu, puding dan kue bagaimana?" tanya Agnes.
"Ok, let's do it!" pekik Shifa dan Aisyah bersamaan.
Membuat puding mangga dan cake red valfed dengan kompak dan saling bercanda, melanjutkan membuat menu utama kali ini mereka sepakat untuk membuat menu masakan Indonesia, ada rica-rica bebek kesukaan Kanno, rendang daging sapi kesukaan Cello dan satu lagi ikan bakar kesukaan Rafael.
Malam harinya satu persatu kekasih hati datang, yang pertama datang adalah Kanno dengan berpakaian santai disambut oleh Agnes dengan senyum mengembang.
"Welcome darling" sambut Agnes dengan bergelayut manja tangan Agnes melingkar di tangan Kanno.
"Hai Shifa, Ais apa kabar?" sapa Kanno sambil duduk di depan mereka dengan melambaikan tangannya.
"Baik kak, kok sendirian?" tanya Aisyah cepat.
"Iya gue tadi dari rumah, tidak menghubungi mereka, gue kira aku datang terlambat malah pertama tidak tahunya" cabik Kanno sambil matanya menyapu ruang tamu tidak menemukan El dan Cello.
"Assalamualaikum" Rafael langsung masuk membuat sebagian yang sedang duduk tersentak kaget.
"Walaikum salam, kok tidak menekan bel pintu tau tau nongol aja bikin kaget" Kanno berceloteh sambil memegangi dadanya.
Rafael hanya nyengir tanpa merasa bersalah dan duduk di samping Shifa memeluknya dari samping.
"Dia kan tuan rumah, palingan sudah hafal kode rumahnya" ejek Cello melirik Aisyah yang duduk di depannya disamping Shifa.
"Enak aja baru calon tuan rumah" ngotot Agnes melempar tisu pada Cello.
"Ayo kita makan dulu semua sudah siap" ajak Shifa berdiri menggandeng Rafael menuju meja makan. Diikuti Kanno dan Agnes berjalan berdua dengan tangan Kanno yang merangkul pundak Agnes, dan Cello mengulurkan tangannya mengajak Aisyah mengajak bergabung dengan mereka.
"Dokter cantikku ayo" rayu Cello menunjukkan giginya yang putih tersenyum mengulum menarik tangan Aisyah dan di genggamnya dengan erat.
Duduk berdampingan, awalnya Shifa mengambilkan menu makanan kesukaan Rafael nasi dan ikan mas bakar serta sambal mangga dan lalapan.
__ADS_1
"Silahkan kak" ucap Shifa.
"Terima kasih" jawab Rafael singkat.
"Darling aku mau juga dong dilayani seperti Rafael" rayu Kanno kepada Agnes.
"Ok baiklah, hitung hitung latihan menjadi istri yang baik" celoteh Agnes mengambilkan menu makanan Kanno, diikuti senyuman manis olehnya.
Sedangkan Aisyah langsung ikut berdiri dan mengambil piring Cello dan mengambilkan makan kesukaannya walau tanpa diminta oleh Cello.
"Terima kasih calon istri Sholehah ku" Cello tersenyum mengusap lembut tangan Aisyah saat dia meletakkan piring berisi menu makan kesukaan di depan Cello.
Menikmati hidangan makan malam bersama tanpa ada suara hanya sesekali suara sendok dan garpu yang berdenting, kembali mengambilkan makanan manis sebagai makan penutup dengan lahap.
Dua pasang kekasih Cello dan Aisyah serta Kanno dan Agnes duduk berdampingan sambil bercanda dengan romantis, sedangkan Shifa merapikan meja makan dan mencuci piring, di tunggu oleh Rafael yang masih duduk di meja makan, sebetulnya Aisyah dan Agnes ingin membantu Shifa cuci piring tetapi Shifa melarangnya.
Selesai rapi ruang makan, Shifa duduk di samping Rafael yang sedang konsentrasi memandangi handphone dengan mata sendu.
"Kakak El!" panggil Shifa ragu-ragu.
"Yes honey, what happen with you" Rafael spontan mendongak menghadap Shifa yang tertunduk dengan raut wajah yang sedikit pucat dan mata sembab.
"Apakah saya bisa minta tolong pada kak Rafael?".
"Mengapa Shifa bicara seperti itu, kita ini pasangan bukan, seharusnya kita saling terbuka, jangan ragu jika menginginkan sesuatu katakanlah ada apa?".
"Apakah bisa dampingi saya saat wisuda nanti?".
"Dengan senang hati, apakah Papi dan uncle kamu tidak bisa hadir?".
"Papi dan uncle Agus sekarang berada di Eropa sampai satu bulan kedepan katanya, jadi....jadi---" air mata Shifa mulai meleleh tanpa terbendung lagi terisak mengingat bahwa dirinya selalu sendiri tanpa di dampingi oleh keluarga, dan mengingat almarhumah Mami Fatty lagi.
"Come on honey, kamu tidak sendirian, ada aku selalu mendampingi, ada Aisyah dan yang lain, don't cry please" Rafael memeluknya dengan erat, bisa merasakan kesedihan Shifa, di hari bersejarah bagi dirinya tetapi tidak seorang pun keluarganya yang memberikan dukungan.
Mendengar Rafael menghibur Shifa yang sedang terisak Aisyah dan Agnes yang sedari tadi mendengar percakapan mereka langsung berlari mendekati kekasih yang sedang berpelukan.
Aisyah mengusap lembut punggung Shifa yang masih dalam pelukan Rafael, sehingga Shifa sedikit mendorong Rafael agar melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Maaf kakak El, jadi merepotkan" ucap Shifa sambil mengusap air matanya.
"Shifa kamu tidak sendirian, kami semua selalu ada untuk kamu, berjanjilah jangan menangis lagi" nasehat Aisyah memeluknya dengan erat diikuti oleh Agnes juga memeluknya.