
Saat semua tertawa lepas mendengar celotehan anak-anak panti yang ceria, Rafael melirik Shifa yang tertunduk dengan mata berkaca-kaca, merangkul pundaknya dari samping.
"Are you ok my heart?" tanya Rafael dengan suara lembut dan khawatir.
"Hhmm I am just remember my almarhumah Mami" dengan linangan air mata Shifa kembali terisak, dengan spontan Rafael memeluknya kembali dengan erat.
Beberapa saat Shifa terus terisak dalam pelukan Rafael, sedangkan semua hanya bisa memandangi adegan mesra itu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan saya, membuat semuanya khawatir, hari ini adalah hari meninggalnya almarhum Mami" ucap Shifa sambil masih terisak.
Memang kebetulan yang aneh, hari ini baru saja Shifa teringat tanggal meninggalnya almarhumah Mami Fatty bersaman kebebasan Papi Thora, sehingga membuat hati Shifa semakin merasa sendiri padahal berada di antara kekasih dan sahabat yang selama ini begitu dekat dengannya.
"Sorry, semua akan baik-baik saja, sekarang ada aku, tenanglah" bujuk Rafael dengan tetap memeluk kekasihnya dengan erat.
"Yang sabar ya nak, semoga almarhumah Mami Khusnul khatimah, diampuni dosanya dan diterima di sisi Allah SWT Aamiin" gantian bunda memeluk Shifa mengelus pundaknya dengan lembut.
"Aamiin terima kasih Bun" tambah terisak Shifa menangis mendengar doa bunda Aulia.
Bergantian Aisyah dan Agnes juga memeluk Shifa memberikan dukungan, nasehat dan doa untuk almarhumah Mami tercinta, dengan refleks Rafael menarik tangan Cello saat dia juga ingin memeluk Shifa untuk memberikan dukungan.
"Jangan peluk cukup doa dari situ saja, enak aja, tuuuh peluk Aisyah aja" cabik Rafael kesal tetapi semua jadi tersenyum melihat sikap Rafael.
"Tidak usah jealous, dia itu sudah gue anggap seperti adik gue sendiri" ketus Cello tetap mendekati Shifa ingin memeluknya.
"Tetap aja, walaupun kakak dan adik di larang berpelukan" tetap Rafael menahan tubuh Cello agar tidak memeluk Shifa.
"Kakak El, apaan sih" dengan sedikit senyum Rafael memukul lengan Rafael perlahan.
"Naah gitu dong senyum" Rafael mengacak rambut panjang Shifa.
"Shifa dimana makam almarhumah Mami kamu, seharusnya kamu bisa ziarah kesana?" tanya Kanno setelah suana kembali menghangat.
"Di Malaysia kak, saya pun belum pernah berziarah kesana" kata Shifa pelan.
Semua tampak kaget dengan kejujuran Shifa, termasuk Rafael yang tidak mengetahui nya sama sekali.
"Coba ceritakan mengapa belum pernah berziarah ke makam almarhumah Mami, padahal itu orang tua kamu?" tanya Rafael penasaran.
"Mami meninggal saat saya umur tujuh tahun, saya mengetahui jika almarhumah Mami makamnya ada di Malaysia saat saya lulus SMU, saya mendapatkan informasi tentang Mami dari bibi pengasuh" cerita Shifa hanya sepotong dari amanah dan wasiat Mami.
__ADS_1
Waktu semakin larut, Rafael, Cello, Kanno pamit pulang sedangkan Agnes dan Shifa di pinta untuk menginap oleh bunda Aulia, ini juga menguntungkan bagi Shifa karena ingin meminta bantuan kepada Agnes.
Di kamar Aisyah yang hanya berukuran kecil apalagi di tambah dobel bad untuk Shifa dan Agnes, sambil berbaring bertiga Shifa mulai meminta bantuan kepada Agnes.
"Kak Agnes bisakah saya minta bantuan untuk mencari aunty ku yang tinggal di Jakarta?".
"Tinggal mencari di data kependudukan pemerintah beres itu, seperti menjentikkan jari pasti ketemu" seloroh Agnes dengan tetap berbaring.
"Kak, saya sudah mencarinya selama empat tahun terakhir ini, tetapi tidak pernah menemukannya, padahal aunty saya tinggal di Jakarta" keterangan Shifa lagi.
"Kok bisa, apa masalahnya?" tanya Agnes tambah heran dan penasaran.
"Kata Shifa, beliau di lindungi oleh agen rahasia pemerintah dan agen rahasia Eropa" Aisyah ikut memberikan keterangan kepada Agnes.
Saat Agnes mendengar agen rahasia, membuat Agnes mengingat paman Conan dan ketiga kekasih yang baru saja pulang, tetapi karena harus merahasiakan identitas mereka Agnes akan berusaha menolong Shifa dengan caranya sendiri.
"Baiklah akan saya bantu dengan cara saya sendiri, tetapi jika lama jangan protes ya" jawab Agnes tegas.
"Iya kak, jangan bilang sama pasangan kita ya kak terutama kak El?" pinta Shifa lagi.
"Kenapa memangnya?".
"Ok deh ini akan menjadi rahasia kita bertiga"
Karena pesan Uncle Agus sama sekali tidak Shifa jawab, hanya di read saja olehnya, membuat uncle Agus meradang, dan mengirim dua orang untuk mengawasi gerak-gerik Shifa, kemudian hampir satu Minggu ini Shifa selalu diikuti dua orang laki-laki berbadan tegap, anggap saja bodyguard membuatnya semakin susah untuk bepergian, sedangkan Minggu besok sudah janjian akan akan menghabiskan waktu berdua dengan Rafael.
Walaupun tiap hari Rafael selalu mengirimi pesan WA ataupun vedio call, tetapi hari Minggu adalah harinya untuk bertemu dan melepas rindu, Rafael mengajak Shifa jalan jalan ke kebon raya Bogor, sehingga membuat Shifa memutar otak agar dua orang bodyguard suruhan uncle Agus tidak mengikutinya.
Wig pirang sebahu milik Shifa sudah di ketahui oleh uncle Agus, akhirnya Shifa memesan wig di salon langganannya dengan wig warna classic blue, menggunakan kaca mata hitam, riasan wajah yang menor dan menggunakan pakaian yang seksi dan sedikit terbuka, sepatu haighill berjalan berlenggak lenggok bak peragawati keluar apartemen menaiki mobil online yang baru saja di pesannya menuju sebuah hotel yang sudah dia reservasi satu hari sebelumnya.
Hanya melirik dua bodyguard yang sedang duduk di kopi shop menyesap kopi, dalam hati hanya berdebar kencang semoga tidak mengenali penyamarannya, sampai masuk mobil online tetapi dua bodyguard itu tidak beranjak dari tempat duduknya berarti benar benar Shifa berhasil lolos dari pengawasan uncle Agus.
Sampai di hotel Shifa langsung meminta kunci kamar kepada resepsionis dan masuk kamar tetapi sebelumnya Shifa mengawasi gerak-gerik orang yang ada di sekitar lobi hotel, sekitarnya aman Shifa bergegas masuk kamar hotel.
Menghapus riasan wajah, melepas wig dan berganti baju kembali keluar hotel dan memesan mobil online kembali menuju ke perpustakaan kampus, Shifa mengirim pesan WA kepada Rafael untuk di jemput di perpustakaan kampus saja.
Duduk di teras perpustakaan hanya lima menit Rafael sudah membunyikan klakson
"Tin...tin..tin.. come on my heart".
__ADS_1
Shifa langsung berlari mendekati mobil Rafael dengan tersenyum dan membuka pintu mobil duduk di sebelah Rafael, melajukan mobilnya menuju Kebun Raya Bogor.
Setelah memarkirkan mobilnya berjalan di antara pepohonan yang menjulang tinggi tangan saling bertautan tersenyum menikmati keindahan alam dengan udara yang sejuk.
"Kita duduk disana yok" menunjuk jalan setapak yang ada bangku panjang di pinggir jalan.
"Bagaimana apakah berniat mengunjungi makam almarhumah Mami ke Malaysia, aku bersedia menemani?" tanya Rafael setelah mereka berdua duduk bersebelahan.
"Belum kak El, saya akan menyelesaikan skripsi dan setelah lulus dari kampus mungkin baru akan saya pertimbangkan untuk kemana".
"Baiklah, kalau berniat kesana bilang aja ya".
"Hhmm bunda bilang yang penting doanya anak Sholehah terus menerus tanpa henti, betul kan kak".
"Yap itu yang terpenting, tetapi jangan lupakan aku juga kayak kemarin!".
"Maksudnya kak, kok saya tidak faham".
"Itu saat seharian aku tidak bisa menghubungi kamu, pas hari meninggalnya almarhumah Mami".
Shifa hanya mengerutkan keningnya, padahal baru sehari tidak menghubungi, biasanya saat di berpamitan bekerja ke luar kota bahkan berhari-hari tanpa ada kabar Shifa tidak pernah mempermasalahkan nya.
"Kok malah melamun?" tanya Rafael menggenggam tangan Shifa.
"Baru satu hari aja kak, biasanya kakak berhari hari tidak ada kabar juga" Shifa mengerucutkan bibirnya.
"Itu beda my heart"
"Coba apa bedanya, saya menunggu kak El tanpa kabar, sama aja".
"Beda dong, karena kalau aku itu bekerja untuk masa depan kita, kamu faham maksudku kan?"
"Apakah kak El serius dengan saya?".
"Eee my heart ngomong apa sih serius lah, aku tidak pernah main main dengan mu".
"Tapi kak El belum tahu siapa sebenarnya saya, saya takut suatu saat nanti kak El akan meninggalkan saya jika---" belum melanjutkan ucapannya sudah di tutup mulutnya oleh Rafael.
"Siapapun kamu, memiliki masa lalu seperti apapun, aku siap menerima dengan hati yang tulus, because I love you so much, you know that?" Shifa hanya menganggukkan kepalanya dan merasa lebih tenang hatinya.
__ADS_1