
Pukul tiga sore nanti adalah jadwal Shifa bertemu dengan Papi Thora dan Uncle Agus di lapas Nusa Kambangan, tetapi pagi ini Rafael dan Shifa masih berada di kamar hotel sedang melakukan cicilan entah sudah ke berapa tetapi belum juga lunas.
Hari ini hanya akan di habiskan untuk membayar cicilan dan berpamitan kepada keluarga uncle Mahfud, Keluarga jenderal As'ari, keluarga menteri Ramli dan keluarga Sultan.
Rencana awal akan di jemput oleh helikopter milik Papi Faro, tetapi ternyata Sultan sudah mempersiapkan pesawat kerajaan untuk mengantarkan Rafael dan Shifa langsung ke pulau Nusa Kambangan, begitu istimewa Rafael sebagai warga negara baru bagi Sultan.
Berpamitan dengan di antar menggunakan mobil kerajaan mendatangi satu persatu orang yang sangat di hormati nya, tepat pukul satu siang sudah selesai berpamitan, kini harus segera masuk ke dalam pesawat pribadi milik Sultan, perjalanan hanya satu jam sampai di Nusa Kambangan.
Tepat pukul dua siang Shifa dan Rafael tiba di pulau Nusa Kambangan di sambut langsung oleh kepala lapas, komandan Conan, Kanno dan Cello.
"Selamat datang bro, buueeh mukanya berseri seri secerah mentari pagi" Kanno memeluk sahabatnya yang baru turun dari pesawat.
"Bagaimana rasanya belah duren?" bisik Cello saat memeluk adik ipar dengan erat.
"Belah duren pala lo" jawab Rafael melepaskan pelukan Cello.
Cello spontan memandangi wajah Rafael yang tidak bisa di artikan tatapan matanya, dan menarik tangan Kanno kembali memeluk Rafael bersamaan Kanno juga di tarik dalam pelukannya bertiga.
"Emang elo belum belah duren?" kembali berbisik di telinga Rafael dan Kanno mendengarnya juga.
"Yang benar, elo beneran belum belah duren?" Kanno memastikan pertanyaan dari Cello saat masih berpelukan bertiga.
Rafael mendorong tubuh kedua sahabatnya dengan raut wajah yang cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
"Gara-gara ada tamu bulanan yang datang tanpa di undang, gue belum sempat belah duren, hanya merasakan DP dan cicilannya aja" jujur Rafael meninggalkan mereka berjalan menyusul Shifa yang baru turun dari tangga pesawat.
Cello dan Kanno tertawa lepas sambil menepuk-nepuk pundak Rafael.
"Sabar ya bro, berarti elo main solo dong di kamar mandi" ejek Kanno dengan tertawa lepas.
"Berisik lo, diam nanti Shifa dengar" Rafael mendekati Shifa dan di peluk pinggangnya berjalan mengikuti rombongan.
"Berapa kali cicilannya?" usil Kanno di telinga Rafael, mendapatkan tatapan tajam Rafael karena Shifa ada di sebelahnya.
"Diam gelo" Rafael menoyor dahi Kanno yang terus saja tertawa lepas tanpa henti.
"Kak CL, mana Ais?" tanya Shifa mendekati kakaknya ingin memeluknya.
"Dia ada di puskesmas seperti biasa" selorohnya sambil merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Shifa.
__ADS_1
Tetapi spontan di tarik kembali dalam pelukan Rafael "Jangan peluk bini gue, gue beri juga elo!".
"Elo yang gue beri, macam-macam sama adik gue" tetap saja Cello merangkul pundak adiknya walau Shifa dalam dekapan Rafael.
Akhirnya Shifa di apit antara Rafael dan Cello berjalan menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan ke lapas wanita yang berada di tengah pulau Nusa Kambangan.
Di kantor lapas sudah di persiapkan semua, rencana tentang pertemuan dengan Papi Thora dan Uncle Agus, masih ada sekitar satu jam lagi sebelum pertemuan itu akan dilakukan, dari tempat, situasi dan penampilan sudah di atur oleh komandan Conan.
Rafael tetap menempel duduk di samping Shifa saat komandan Conan menerangkan tentang apa yang harus di lakukan Shifa saat bertemu dengan tamunya nanti.
"Bagaimana Shifa sudah faham semua?" tanya komandan Conan kepada Shifa.
"Ok sudah faham, terima kasih atas semua bantuannya komandan" jawab Shifa.
"Ini seragam lapasnya, kamu bisa ganti baju di kamar mandi sebelah sana!" Komandan Conan memberikan seragam lapas dan menunjuk kearah kamar mandi yang berada di pojok kantor lapas.
"Baiklah terima kasih" Shifa berniat ingin berganti baju tetapi kembali duduk di samping Rafael.
"Kak El, aku maunya Papi Thora dan uncle Agus tidak tahu kalau aku memakai hijab sekarang, jadi aku harus bagaimana?".
"Gampang itu honey, kamu tinggal pakai wig saja, yang penting aurat tetap tertutup, ayo aku bantu ganti baju" ajak Rafael dengan menggandeng tangannya ke kamar mandi.
Rafael tersenyum dan memiringkan kepalanya "Janji ya bayar cicilannya dobel".
"Hhhmm, sana sudah kak El duduk lagi".
Shifa masuk ke kamar mandi sambil menarik koper yang berisi baju ganti dari Brunei Darussalam karena wig berada di koper itu, memakai seragam tahanan wig rambut pirang sebahu, melingkarkan syal di lehernya, tidak menggunakan softlens biru seperti biasanya, menghapus makeup yang ada di wajahnya, Shifa sengaja berpenampilan apa adanya, jam tangan, cincin kawin bahkan kalung pemberian dari kak CL juga di lepas semuanya, sepatu juga dia ganti dengan sendal jepit.
Hampir setengah jam di kamar mandi, Shifa baru selesai dan keluar dengan membuka pintu kamar mandi ternyata Rafael sudah berdiri di depan pintu ingin mengetuk pintu, di urungkan karena pintu sudah di buka.
"Kok lama banget sih honey?".
Memandangi wajah Shifa yang sangat polos tanpa makeup, walaupun menggunakan wig tetapi aurat tertutup dengan adanya syal yang melingkar di lehernya.
Shifa hanya tersenyum melihat Rafael yang cemas "Tadi aku buang air besar dulu kak El, ini kak tolong bawa kopernya, cincin kawin ada di dalam maaf untuk sementara aku lepas dulu".
"No problem honey, sekarang ini kamu juga masih belum aku makan" gerutu Rafael sambil menarik koper milik Shifa.
"Jangan mulai lagi kak, sabarlah sedikit lagi" tangan Shifa bergelayut manja di lengan Rafael.
__ADS_1
Rafael terus memandangi wajah Shifa yang polos, bersih walaupun hanya memakai seragam tahanan, Rafael jadi teringat saat Shifa berada di lapas Jakarta.
"Kok melihat aku seperti itu kak, apakah penampilanmu jelek?".
"Tidak honey, aku lebih suka dengan penampilan kamu saat ini, polos tanpa makeup, kecuali seragam nya saja, coba seragamnya di lepas buuiih lebih suka lagi".
"Maksudnya tanpa seragam, aku pakai baju seperti biasanya begitu?".
"Bukan begitu honey, maksudnya tanpa baju sama sekali" bisik Rafael di telinga Shifa.
Dengan spontan tangan Shifa menyapit pinggang Rafael, gemas dengan suami yang semakin hari semakin mesum saja pikirannya.
"Auw auw auw, honey kenapa kepiting ada di pinggang, sakit tau!" dengan mengusap pinggangnya sendiri Rafael meringis menahan sakit tetapi merapatkan tubuhnya dengan tubuh Shifa.
"Makanya jangan mesum terus, bagaimana kata orang jika melihat aku tidak mengenakan baju?" protes Shifa melepaskan pelukannya.
"Sembarangan maksudnya bukan disini honey, tetapi saat kita di kamar berdua, untung orang dong lihat istri cantikku tanpa mengenakan baju, aku saja belum pernah lihat" cabik Rafael mengerucutkan bibirnya kesal sudah tiga hari ini selalu berakhir bersolo ria di kamar mandi.
"Oooo kirain" Shifa membulatkan bibirnya ber-o ria dan tersenyum devill.
"Jangan berpikiran macam-macam, aku tidak mungkin mengijinkan apapun yang ada pada dirimu dilihat orang lain, itu hanya khusus milikku seorang, kau faham itu".
"Iya sayang, jiwa dan ragaku ini hanya milik suamiku tercinta, kak El puas sekarang, jangan menggerutu terus" sambil mengelus pipi dan kembali bergelayut manja di lengan Rafael berjalan kearah kantor lapas Nusa Kambangan.
Kembali duduk bergabung dengan komandan Conan, Cello dan Kanno untuk meminta pendapat tentang penampilannya saat ini.
"Bagaimana penampilan aku, apakah sudah seperti napi pada umumnya?" tanya Shifa duduk di depan Cello.
"Sempurna, tinggal mukanya saja yang tidak cocok sebagai seorang napi" Kanno menunjuk ke wajahnya sendiri.
"Maksud elo gimana sih?" tanya Rafael sedikit bingung.
"Coba lihat muka Shifa berseri seri, raut wajah yang bahagia dan selalu tersungging senyuman manis di bibirnya" ikut Cello memberikan pendapatnya.
"Naaaah itu maksud gue" Kanno mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Shifa jadi termenung, teringat hidup tiga bulan di lapas wanita yang ada di Jakarta, badan tidak terawat, pikiran tidak tenang, jarang mendapatkan asupan makanan yang bergizi muka pucat.
"Aku faham, sebentar aku ambil makeup di koper" Shifa langsung berlari kembali ke kamar mandi setelah kotak makeup ada di tangan.
__ADS_1