
Rafael, Shifa, Aisyah dan Cello malam ini tidur di kantor Aisyah dengan menggunakan kasur lipat milik puskesmas, meja dan kursi kerja di geser di pinggir ruangan.
"Ais kamu di ujung dekat tembok, kemudian Shifa, aku baru paling ujung sini Cello" perintah Rafael setelah kasur lipat tertata rapi memanjang.
"Kok gitu, gue mau dekat tembok samping Aisyah" protes Cello dengan tersenyum devill.
"Enak di elo, rugi di Aisyah, belum boleh sebelum ijab qobul keluar dari mulut elo" kembali Rafael melarang permintaan Cello.
"Aku juga tidak bakalan mau kak El dekat kak Cello belum muhrim, ini selimutnya" Aisyah membagikan selimut yang baru di pinjamnya milik puskesmas.
"Sayang kamu kok tega nolak diriku?" protes Cello mengerucutkan bibirnya memandang wajah Aisyah.
"Maaf ya kak, harus di tolak dulu, sampai ada pak penghulu menjabat tangan mu" kata Aisyah.
"Boleh tidak berjabat tangannya di ganti Rafael saja?".
"Huss, gelo siak, gue bukan penghulu tetapi penghalang antara elo dan Aisyah ha ha ha".
"Sudah kak CL, kak El ayo tidur, aku sudah ngantuk nich" Shifa menutup mulutnya karena menguap.
"Ok honey tidurlah sudah malam".
Hanya dalam sekejap mereka tertidur dengan lelap berempat, sampai pukul satu malam Rafael terjaga, melihat yang ada di sebelahnya masih belum ada yang terbangun, perlahan Rafael keluar kantor dengan langkah kaki jinjit agar tidak membangunkan mereka.
Rafael hanya ingin memeriksa Papi Thora yang berada di kamar rawat inap, dibukanya pintu perlahan, suara napas yang teratur menandakan tidurnya nyenyak, baru kembali bergabung tidur di samping Shifa dan memeluknya dengan erat ikut terlelap kembali.
Pukul tiga pagi Papi Thora terjaga dari tidurnya karena mimpi sedang disuapi makan oleh putri kandungnya sendiri yaitu Shifa, walaupun hanya mimpi tetapi seolah nyata, hatinya menghangat, ada rasa damai, emosinya langsung stabil, senyum mengembang di bibirnya, pusingnya hilang seketika tetapi setelah sadar sepenuhnya duduk bersandar di dasboard tempat tidur hatinya mulai mengingat rasanya sama seperti saat disuapi oleh Fatma tadi saat makan malam.
Kembali mengingat pertemuan pertama dengan putrinya di lapas Nusa Kambangan, seperti cambuk dalam hidupnya, menjalani kehidupan di penjara hampir dua puluh tahun lamanya, saudara, Keluarga anak buah bahkan istrinya sendiri tidak di kenali nya sama sekali, tetapi sekarang ini putrinya juga harus mengalami perjalanan sejarah yang sama seperti dirinya.
Papi Thora merasa ada di persimpangan jalan harus kemana langkahnya saat ini, jalan yang mana yang akan di tempuhnya sedangkan anak buah dan tangan kanannya sendiri tidak pernah berterus terang dengan organisasi dan kehidupan pribadinya selama ini, hanya sering menandatangani berkas dan dokumen yang tidak dia mengerti, seperti kerbau yang di cocok hidungnya.
Selama ini hanya mendengar cerita dari asisten ataupun anak buahnya tentang sepak terjang organisasi yang di pimpinnya selama bertahun tahun, hanya berusaha menjadi pimpinan yang bertanggung jawab kepada seluruh keluarga besar organisasi yang mau tidak mau harus di laksanakan nya, tetapi setelah mendengar sendiri kemarahan putrinya yang baru pertama kali bertemu membuat hati dan pikiran Papi Thora berada di persimpangan jalan.
Hampir satu jam melamun, sudah hampir dua hari tidak diikuti oleh asisten dan anak buahnya yang selalu menghormatinya, Papi Thora mengambil handphone yang sudah hampir dua hari ini di matikan, Papi Thora memang amnesia tidak bisa mengingat masa lalunya, tetapi otaknya masih bisa berpikir karena teknologi canggih saat ini membuat langkahnya sangat berhati-hati, pasti asisten Agus akan melacak keberadaannya menggunakan handphone, ATM ataupun kartu kredit yang di pegangnya saat ini.
Tetapi sekarang hampir pukul empat pagi, pasti asisten Agus masih terlelap, sehingga perlahan Papi Thora mengaktifkan handphonenya kembali dan memesan tiket pesawat ke Singapura melalui online, berharap tidak akan terdeteksi oleh asisten Agus karena waktu masih enak enaknya terlelap dalam mimpi.
__ADS_1
Menjelang subuh Shifa dan Aisyah terbangun terlebih dahulu, sebelum pulang melakukan visit Papi Thora, ternyata masuk ke ruang rawat inap Papi Thora masih terlihat pucat seperti awal masuk puskesmas kemarin.
"Selamat pagi Tuan, anda sudah sehat?" ucap Aisyah tersenyum melihat Papi Thora termenung.
"Selamat pagi dokter, ya saya sudah lumayan sehat terima kasih".
"Apakah hari ini saya boleh pulang Dokter?".
"Belum bisa Tuan, tunggu dua atau tiga hari lagi baru boleh pulang minimal tensi anda bisa normal seperti sedia kala.
"Tapi dokter, saya---!!!".
"Kenapa Tuan bukankah kemarin sudah berjanji akan mengikuti semua yang saya katakan demi kesehatan anda".
"Ini Tensi anda masih 150/90 masih termasuk tinggi, apakah sekarang masih pusing?".
"Tidak dok" jawabnya singkat.
Papi Thora hanya menunduk lesu, bergumam sendiri tadi sudah membeli tiket ke Singapura untuk penerbangan siang hari, sia-sia sudah.
Setelah pemeriksaan rutin Aisyah dan Shifa keluar dari ruang rawat inap membangunkan Cello dan Rafael yang masih terlelap tidur, pukul delapan pagi Rafael harus menghadiri rapat penting di kantor bersama Papi Faro.
"Hhmm sebentar lagi honey".
"Kalau kak El tidak bangun, aku mau pulang duluan nanti pulang sendiri ya".
"Honey, tunggu boleh minta cicilannya dulu dong, biar mata jadi on lagi?"
"Di rumah aja cicilannya, lihat Aisyah dan kak CL sudah bangun juga, nanti aku kasih dobel cicilan kalau sampai rumah".
Dengan senyum mengembang Rafael bangun, wajahnya langsung berseri-seri setelah akan mendapatkan cicilan dobel.
Cello yang baru mengerjap mendengar percakapan antara Rafael dan Shifa mengerutkan keningnya teringat cicilan yang pernah di ceritakan Rafael.
"Sayang, apakah aku juga boleh minta cicilan dobel seperti Rafael?".
"Tidaaaak" teriak Shifa dan Rafael bersamaan.
__ADS_1
Cello jadi tertawa terbahak-bahak, karena tahu betul apa yang di maksud Rafael dan Shifa tetapi bagi Aisyah yang tidak tahu menahu tentang pembicaraan mereka kasi menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan Cello yang tertawa lepas.
"Cicilan apa sih kak?" tanya Aisyah heran melihat ekspresi wajah Shifa yang mulai pucat.
"Kamu belum waktunya tahu Ais, dilarang tanya" Rafael menjawab sambil memukul Cello dengan bantal.
"Shifa ada apa sih, kok bangun tidur kak Cello tertawa segitunya?" tanya Aisyah yang belum faham apa maksud pembicaraan mereka.
Shifa mendekati Aisyah dan berbisik di telinganya yang di maksud dengan cicilan, seketika Aisyah membelalakkan matanya mendengar ucapan Shifa.
"Kak Cello kurang kerjaan, pokoknya aku marah sama kamu ya!" dengan mengerucutkan bibirnya Aisyah berlalu meninggalkan mereka bertiga lari ke kamar mandi.
"Sayang maaf, aku hanya bercanda, mau kemana?" teriak Cello ingin menyusul Aisyah.
"Shifa, kamu ngomong apa sama Aisyah, kenapa dia bisa se-marah itu?".
"Ngomong jujur yang di maksud cicilan oleh kak El, jangan salahkan aku, Kak CL yang salah kok, salah sendiri minta cicilan juga" Shifa membela diri dan tidak mau di salahkan,
Keluar dari kamar mandi sudah rapi dan memakai baju dokter duduk di singgasananya memeriksa berkas pasien rawat inap Puskesmas, hampir setengah jam Aisyah masih mendiamkan Cello sampai Rafael dan Shifa berpamitan untuk pulang Asiyah masih manyun walaupun berkali kali Cello meminta maaf.
"Ais aku pulang dulu, da da kak CL selamat berjuang" seloroh Shifa berpamitan diikuti gelak tawa oleh Rafael.
"Hhmm hati-hati" jawab Aisyah dengan lirih.
Keluar puskesmas masih mengenakan baju perawatan lengkap dengan penyamarannya ke parkiran untuk mengambil mobil yang di parkiran halaman puskesmas.
Tanpa menoleh Aisyah fokus dengan berkas data pasien saat Cello keluar dari kamar mandi dengan badan sudah wangi dan rapi.
"Sayang jangan marah, aku cuma bercanda, please".
"Sayang, memang Shifa ngomong apa, mengapa kamu marah begini, dosa lo sayang mendiamkan marah sama suami!".
Aisyah hanya menatap tajam kearah wajah Cello yang sendu tanpa mau menjawab sepatah katapun.
"Sayang, aku lapar ayo sarapan dulu, jangan marah lagi".
"Makanya kak lain kali kalau ngomong itu di saring dulu, jangan minta yang belum saatnya si lakukan dosa besar tau" akhirnya Aisyah berbicara tetapi masih dengan nada yang marah.
__ADS_1
"Iya ampun sayang, lain kali tidak minta yang aneh aneh lagi, ayo sarapan".