
Seorang dokter muda Aisyah yang memiliki kemampuan otak yang cerdas tetapi dengan ketidak percayaan dirinya, anak panti asuhan yang sering mengalami perundungan, tidak berani meminta bantuan kepada kekasihnya sendiri dan lebih parahnya lagi lupa tidak menyimpan nomor handphone Rafael, padahal Shifa sudah berpesan untuk meminta bantuan kepada kekasihnya jika dia tidak bisa dihubungi, ini sudah lebih dari dua Minggu Aisyah tidak bisa menghubungi Shifa.
Frustasi dan putus asa seorang Aisyah saat ini membuat dia rela berlutut dan bersimpuh di depan Agnes saat bertemu pasangan itu di kedai kopi yang kebetulan Aisyah kunjungi dan kebetulan Kanno sedang berada di kamar mandi, masih mengenakan pakaian dokter Aisyah rela jongkok berlutut meminta bantuan satu-satunya orang yang bisa di harapkan karena Agnes bercerita berhasil menemukan keberadaan aunty Ara
"Kak Agnes tolong Shifa, dia dalam bahaya, tolonglah kak, saya frustasi kak, harus minta tolong kepada siapa, saya tidak berani minta bantuan kepada kak Cello, coba Kak Agnes baca pesan terakhir dari dia" Aisyah menunjukkan pesan WA terakhir dari Shifa sebelum lost Contact dengannya.
"Ais, ada apa ini, sebentar aku baca dulu pesan WA darinya" dengan cepat Agnes mengambil handphone Aisyah dan membacanya.
Kanno melihat dari kejauhan seorang Aisyah berlutut dengan tangis yang tersedu-sedu berlari kecil mendekati mereka berdua.
"Darling, ada apa mengapa Aisyah berlutut seperti ini, coba lihat semua orang memandangi kita?" tanya Kanno saat berdiri di samping Agnes.
"Ini darling bacalah pesan terakhir dari Shifa" Agnes memberikan handphone milik Aisyah kepada Kanno.
"Ais ayo bangun, jangan seperti ini" ajak Agnes membantu Aisyah bangun dan duduk di kursi kedai yang ada di sebelahnya.
"Apa maksudnya ini Aisyah?" tanya Kanno sambil mengembalikan handphone milik Aisyah.
"Ceritakan Ais, ada apa?" tanya Agnes lagi.
"Sebelum Shifa pulang ke Singapura, Shifa berpesan jika dia tidak bisa di hubungi, berarti dia di paksa oleh uncle Agus dan organisasi papinya untuk menggantikan posisi sebagai ketua mafia se-Asia tenggara, padahal sudah empat tahun terakhir ini Shifa berusaha pergi dari dunia hitam Papi nya" cerita Aisyah sambil mengeluarkan air mata tanpa henti.
"Satu lagi darling, satu bulan lalu dia minta tolong kepada aku mencarikan aunty nya yang bernama Amara Khadijah yang hampir empat tahun ini dia cari tetapi tidak pernah dia temukan" cerita Agnes kemudian.
Kanno jadi mengingat Cello merayu dan mengajak Rafael agar mencari tahu tentang siapa sebenarnya Shifa tetapi di tolak oleh Rafael, Cello yang belum berani bercerita tentang Shifa kepada Mama Ara, dan Cello yang selalu gelisah dan bingung harus melakukan apa.
Kanno juga mengingat Rafael yang satu Minggu lebih hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja, tidak memperhatikan penampilannya lagi, lebih banyak diam, tidak mau bercerita kepada siapapun, walaupun komandan Conan sudah bercerita kepada Papi Faro dan Mami Inneke tetapi Rafael masih diam seribu bahasa, karena rasa kecewanya saat mengetahui siapa sebenarnya Shifa.
"Darling tunggu disini sebentar, jangan biarkan Aisyah pergi dulu, tenangkan dia sebentar, aku mau menghubungi komandan" ucap Kanno meninggalkan mereka berdua berjalan menuju arah kamar mandi, bergegas menghubungi komandan Conan.
__ADS_1
"Halo komandan bisa saya minta tolong, ini mengenai masa depan Rafael, bisa tolong kumpulan kami versi lengkap?" pinta Kanno saat komandan Sudah menerima hubungan telepon itu.
"Maksudnya apa Kanno?" tanya komandan Conan tidak faham maksud dari Kanno.
"Tolong kumpulan Rafael beserta Papi Faro dan Mami Inneke, Cello dan Mama Ara dan Papa Mario kalau perlu Daddy dan mammy aku juga di markas" keterangan Kanno lagi.
"Kenapa harus aku, mengapa tidak kamu sendiri yang menghubungi mereka?"
"Kalau komandan yang memerintahkan pasti mereka semua akan datang termasuk Rafael, please komandan, aku punya informasi yang akurat tentang gadis yang di tuduh sebagai ketua mafia se-Asia tenggara itu dan bukti yang sangat jelas tentang dia"
"Baiklah satu jam lagi kita kumpul di markas besar, kalau bisa kamu datang duluan!" perintah komandan Conan dengan tegas.
"Terima kasih komandan, you are the best" jawab Kanno senang.
Kembali Kanno bergabung dengan Agnes dan Aisyah.
"Aisyah, ikut aku, darling kita ke markas besar sekarang" perintah Kanno dengan tegas.
"Sudah saatnya dia tahu darling come on!" cabik Kanno berdiri meriah tangan Agnes berjalan keluar kedai diikuti oleh Asiyah dari belakang.
Hanya dalam waktu kurang dari satu jam Kanno, Agnes dan Aisyah sampai di markas besar agen rahasia, sebelum berkumpul dengan orang yang di minta datang komandan Conan meminta Aisyah dan Agnes duduk di ruang pribadi komandan sampai mereka di panggil.
Kanno meminjam handphone Aisyah tentang isi pesan WA antara Aisyah dan Shifa, bahkan surat wasiat dari Mami Fatty yang dulu diceritakan Shifa masih Aisyah simpan di handphonenya amanah tulisan tangan itu, memang setelah bercerita tentang wasiat dan amanah Mami Fatty Shifa sengaja mendokumentasikan dan di kirim ke Aisyah untuk menjadi bukti jika suatu saat nanti Shifa mengalami kesulitan.
Setelah semua Kanno pindahkan di flash disk dan dipelajari sebentar oleh komandan Conan dan Kanno baru satu persatu datang ke markas, yang pertama datang adalah Cello, mengatakan jika Mama Ara dan Papa Mario akan menyusul karena masih menghadiri undangan pernikahan kolega, kemudian datang Daddy Rendi dan mommy Erna dan terakhir Rafael, Papi Faro dan Mami Inneke.
Setelah semua duduk dengan rapi komandan Conan memerintahkan Kanno memanggil Aisyah dan Agnes untuk masuk keruangan utama disediakan dua kursi yang menghadap kearah mereka.
"Lo kok ada Aisyah dan Agnes" Cello heran memandangi Asiyah yang terus menangis terisak.
__ADS_1
"Elo diam disitu dulu Cello, Ais, darling duduk sini" perintah Kanno tegas, Cello hanya bengong memandangi Aisyah, sedangkan Rafael hanya bersandar di kursi dengan tatapan mata yang datar.
"Ais mulailah cerita" perintah komandan sambil menggerakkan mouse menunjukkan kertas surat dari laptop di teruskan ke proyektor yang ada di depan mereka.
"Tunggu sebentar maaf kami terlambat" teriak Papa Mario dan Mama Ara langsung duduk bergabung dengan mereka.
"Silahkan duduk bro, Ais mulailah!" titah komandan Conan lagi.
"Awalnya dari surat wasiat Mami Fatty untuk Shifa ada empat lembar silahkan baca sendiri surat itu" Ais mulai bercerita dan menunggu sampai mereka membaca hingga selesai empat lembar.
Dengan teliti mata mereka membaca surat itu satu persatu, yang paling menangis tersedu-sedu adalah Mama Ara dalam pelukan Papa Mario dan Aisyah yang melorot duduk bersimpuh di lantai.
"Kami hampir empat tahun mencari aunty Ara sampai putus asa, terakhir meminta bantuan kak Agnes tetapi setelah dia bisa menemukan kemungkinan beliau tetapi sekarang sahabat ku menghilang hiks hiks" semakin menjadi tangis Aisyah mengingat tidak tahu bagaimana keadaan Shifa sekarang.
Aisyah juga bercerita saat Shifa berpindah keyakinan, pernah mengunjungi Papi Thora di lapas, bercerita juga saat Shifa mendengar percakapan antara uncle Agus dengan asistennya
Dengan spontan Cello lari kedepan mendekati Aisyah dan memeluknya dengan erat, mata Mama Ara dan Papa Mario terbelalak melihat tingkah putranya yang memeluk gadis yang menggunakan seragam dokter itu.
Kemudian komandan Conan melanjutkan menunjukkan pesan WA terakhir Shifa sesaat sebelum dia lost Contact dengan Aisyah.
Tidak kalah kagetnya dengan Rafael matanya ikut merembes mengalir setelah membaca pesan terakhir dari Shifa yang secara langsung di tujukan untuknya.
Hati Rafael seperti tercabik-cabik, sudah berprasangka buruk terhadap Shifa sebelum mencari tahu kebenarannya, merasa bersalah hampir seminggu lebih tidak menjenguk dia, bahkan lebih menghindar padahal tahu betul dimana dia sekarang berada saat ini.
"Mami, Papi, El sangat mencintai gadis itu" memeluk Papi Faro dan Mami Inneke bersamaan Rafael dengan mata berlinang.
Papa Mario diikuti Mama Ara mendekati Cello yang memeluk Aisyah dengan erat dan menjewer telinganya dengan keras.
"Siapa dia mengapa tidak bercerita tentang dokter yang kamu peluk ini?" Papa Mario melotot tajam kearah Cello.
__ADS_1
"Aduh..aduh Papa ampun dia calon menantu Papa, Aisyah namanya" jawab Cello cengar-cengir dengan mengusap telinganya yang sakit melepaskan pelukan Aisyah.