
Sudah hampir satu Minggu ini Shifa mengikuti organisasi sosial yang mengadakan bakti sosial menggalang dana untuk bencana alam, sebenarnya ada udang di balik batu bagi Shifa mengikuti organisasi sosial itu agar dia mendapatkan rekomendasi untuk belajar dan mencari data aunty Ara di catatan sipil bagian kependudukan.
Karena saat berkunjung disana ketika mau Menganti kartu identitas dalam penggantian status agamanya Shifa mendengar jika organisasi sosial itu selalu bekerja sama dengan catatan sipil dan kependudukan dengan baik.
Betul saja setelah satu Minggu bergabung, Shifa mengutarakan maksud ingin menyelesaikan tugas dari dosen disana, organisasi sosial itu langsung memberikan rekomendasi, dan disinilah Shifa sekarang, berkutat pada dokumen kependudukan lama yang dia susun ulang sesuai abjad nama dan tahun penerbitan,
Dengan dokumen yang berjumlah beribu-ribu banyaknya ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan, sudah hampir satu Minggu ini Shifa dibantu oleh Aisyah baru bisa menyelesaikan dua pertiga dari dokumen itu, sedangkan waktu liburan tinggal satu Minggu lagi.
Saat memasuki Minggu ketiga hari Senin Shifa bertekad harus selesai dalam dua hari dan bisa menemukan dokumen aunty Ara.
"Bismillah ayo semangat Shifa, pasti bisa" Shifa mengepalkan tangannya dengan semangat.
"Aisyah ayo semangat" sekali lagi Shifa memekikkan semangat.
"Yes ayo semangat".
Mereka berdua mulai lagi menyusun dan memeriksa satu persatu dokumen berharap bisa menemukan hari ini, sudah tinggal sepuluh persen saja saat waktu menunjukkan makan siang.
"Ayo istirahat dulu Shifa, kita makan dulu" ajak Aisyah sambil mengembalikan dokumen yang sudah rapi.
Tetapi belum sempat Shifa menjawab ajakan Aisyah, ada notifikasi pesan WA masuk di handphone Shifa, bergegas Shifa melihatnya, ternyata dari Rafael sudah hampir satu Minggu ini Rafael rutin mengirim pesan WA hanya sekedar mengingatkan untuk tidak telat makan ataupun istirahat.
"Dari siapa, si doi kah?" tanya Aisyah setelah Shifa membaca pesan Rafael dengan senyum senyum sendiri.
"Iya... cuma mengingatkan untuk makan tepat waktu" jawab Shifa jujur.
"Perhatian banget sih, aku juga mau diperhatiin begitu" goda Aisyah dengan mengedipkan matanya.
"Memang dari kemarin Cello tidak mengirimkan pesan WA pada Ais?".
"Kirim sih, cuma tidak banyak aku jawab, aku tidak mau kecewa lagi, lebih baik berdamai dengan hati saja" Seloroh Aisyah dengan raut wajah yang sedih.
Belum sempat Shifa membalas pesan dari Rafael hanya sempat di read saja masuk lagi pesan darinya.
__ADS_1
"Kenapa tidak di jawab cuma di read aja, lagi ngapain?" tulis Rafael lagi dalam tulisannya.
Shifa malah tersenyum manis karena kiriman pesan itu, mengapa sekarang perhatian banget sih gumamnya, akhirnya Shifa menjawab tulisan Rafael.
"Shifa lagi makan siang di kantin kantor catatan sipil kak, berdua sama Aisyah" klik langsung dikirimkan ke Rafael.
Ternyata sepertinya sudah di tunggu oleh Rafael karena langsung warna biru dan cebtrang dua.
"Apakah begitu rumit mengurus identitas perpindahan agama, ini sudah dua Minggu kok masih di kantor catatan sipil?" tanya Rafael lagi dalam tulisannya.
"Yang itu sudah selesai Minggu lalu kak, ini hanya kebetulan saja lagi ada disekitar sini, sekalian makan siang, kakak juga jangan lupa makan siang dan jaga kesehatan" balasan pesan Shifa kemudian.
Tidak menunggu waktu istirahat selesai, setelah makan siang Shifa dan Aisyah memulai lagi memeriksa dan merapikan dokumen dengan teliti, sampai hampir dua jam berkutat dengan dokumen itu Shifa membaca nama Achara Thanapon diluar map.
"Alhamdulillah, akhirnya perjuangan saya tidak sia-sia, Mami... Shifa berhasil mencari data aunty Ara, semoga Mami bahagia di surga, Aamiin" gumam Shifa melompat kegirangan dan berjalan mendekati Aisyah dengan raut wajah yang berbinar.
"Ais, ini sudah ketemu coba lihat!" Shifa mendekati Aisyah dengan membawa satu map yang warna kertasnya sudah mulai agak menguning.
Dalam dokumen itu pergantian dari nama Achara Thanapon menjadi Amara Khadijah, tetapi pergantian agama di lakukan dua tahun sebelumnya, alamat rumah utama yang selama ini Shifa tinggali bersama uncle Agus dan keluarganya.
"Ini alamat rumah Papi yang selama ini saya tempati Ais, apakah tidak ada alamat yang di Jakarta?" dengan sedikit kecewa karena hanya mendapatkan petunjuk nama saja sedangkan alamatnya tidak ada.
"Tidak apa Ais, yang penting namanya sudah kita dapatkan, ayo kita kita selesaikan dokumen ini biar cepat selesai" semangat lagi Shifa tersenyum sudah mendapatkan informasi yang dicarinya.
Baru berjalan setengah jam Shifa dan Aisyah melanjutkan pekerjaannya ada telepon masuk dari organisasi sosial yang meminta Aisyah bertemu dengan seorang napi yang meminta khusus untuk menemui di klinik lapas karena dengan alasan obat yang di berikan saat bakti sosial waktu itu sudah habis.
"Shifa bagaimana ini Papimu ingin bertemu denganku?" tanya Aisyah bingung.
"Temui saja, bilang sekalian pamit mau melanjutkan pendidikan di Jakarta, sendiri aja ya kesananya nanti naik taksi online aja biar cepat" pinta Shifa sedikit khawatir.
"Kamu tidak ingin berjumpa dengannya lagi?"
"Tidak, aku masih belum sanggup bertemu dengannya lagi, kamu saja sendiri temui Papi, kita bagi tugas saya selesaikan disini, ingat jangan lupa di rekam biar saya mengetahui percakapan kalian".
__ADS_1
"Baiklah aku ke lapas sekarang, kita bertemu di rumah bibi pengasuh saja nanti sore, aku berangkat ya Shifa".
"Ya hati hati Ais" pesan Shifa.
Dalam satu jam Aisyah sampai di lapas, menemui pegawai lapas, ternyata orang yang mencarinya berada di klinik lapas sedang menunggunya.
"Tuan ada apa anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Aisyah saat sudah berada di dalam klinik berada di rawat inap klinik itu.
Rupanya sugesti positif yang dilakukan Aisyah tentang diketahuinya tentang amnesia dan cara mengatasinya kemarin membuat hati Thora Thanapon lebih positif mengatasi masalah yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Dokter Ais, terima kasih setelah pertemuan pertama kemarin, saya semakin optimis, saya mendengar anda akan kembali ke Indonesia, makanya saya bersikeras ingin bertemu sekali lagi"
"Apa yang bisa saya bantu tuan?".
"Saya minta petunjuk, setelah saya bercerita tentang kebenaran amnesia saya kepada dokter kemarin, kegelisahan saya sedikit demi sedikit mulai hilang, setelah ini apa yang harus saya lakukan, saya sudah mulai melakukan apa yang menurut saya benar, bukan mengikuti program yang dibuat oleh asisten saya".
"Maaf tuan saya lebih muda dari anda, mengapa anda minta petunjuk dari saya, seharusnya anda lebih bijak dari saya yang masih mencari jati diri" jawab Aisyah hati hati takut orang yang ada di depannya merasa tersinggung.
"Ini bukan hanya masalah umur dokter, tetapi saya ingin mendapatkan petunjuk agar hati saya tidak selalu gelisah, karena menurut cerita dari asisten, saya ini bukan orang baik dimasa lalu".
"Oooo seperti itu, kalau menurut saya, lebih baik tuan ikuti kata hati, masa lalu bisa dijadikan pelajaran hidup yang berharga, maksud saya begini tuan, jika anda merasa gelisah karena masa lalu anda tidak baik sebaiknya sekarang anda mulai mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik, mendekat kepada yang maha kuasa, belajar lebih dalam tentang agama, mungkin hati anda akan lebih damai" nasehat Aisyah panjang lebar.
"Terima kasih, boleh saya minta satu permintaan lagi?".
"Silahkan tuan!".
"Saya boleh minta resep dokter seperti yang kemarin, jadi jika habis obatnya saya bisa membelinya".
"Tentu saya tuliskan sekarang"
Dengan cepat Aisyah mengambil buku resep yang ada didalam tasnya, mengisi dengan tulisan dokter yang susah dibaca oleh orang awam, setelah selesai diserahkan kepada Papi Thora.
"Ini resepnya, saya pamit tuan, semoga anda selalu bahagia, permisi" Aisyah berdiri membungkukkan badannya tanda hormat.
__ADS_1
"Terima kasih, apakah boleh saya minta nomor handphone anda dokter?".
"Maaf tuan, sebaiknya anda menghubungi organisasi saja, ini sudah menjadi peraturan organisasi, selamat sore" Aisyah keluar dari klinik lapas pulang ke kediaman bibi pengasuh Shifa menggunakan mobil online.